Kamis, 17 Maret 2011

Makalah Aves


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang Masalah

Burung adalah anggota kelompok hewan bertulang belakang (vertebrata) yang memiliki bulu dan sayap. Fosil tertua burung ditemukan di Jerman dan dikenal sebagai Archaeopteryx.Jenis-jenis burung begitu bervariasi, mulai dari burung kolibri yang kecil mungil hingga burung unta, yang lebih tinggi dari orang. Diperkirakan terdapat sekitar 8.800 – 10.200 spesies burung di seluruh dunia; sekitar 1.500 jenis di antaranya ditemukan di Indonesia. Berbagai jenis burung ini secara ilmiah digolongkan ke dalam kelas Aves. Nama kelas aves berasal dari bahasa latin, dan nama ilmu yang mempelajari burung ortinology berasal dari bahasa yunani, yaitu ornis Meskipun burung berdarah panas, ia berkerabat dekat dengan reptil. Bersama kerabatnya terdekat, suku Crocodylidae alias keluarga buaya, burung membentuk kelompok hewan yang disebut Archosauria. Diperkirakan burung berkembang dari sejenis reptil di masa lalu, yang memendek cakar depannya dan tumbuh bulu-bulu yang khusus di badannya. Pada awalnya, sayap primitif yang merupakan perkembangan dari cakar depan itu belum dapat digunakan untuk sungguh-sungguh terbang, dan hanya membantunya untuk bisa melayang dari suatu ketinggian ke tempat yang lebih rendah.
Burung masa kini telah berkembang sedemikian rupa sehingga terspesialisasi untuk terbang jauh, dengan perkecualian pada beberapa jenis yang primitif. Bulu-bulunya, terutama di sayap, telah tumbuh semakin lebar, ringan, kuat dan bersusun rapat. Bulu-bulu ini juga bersusun demikian rupa sehingga mampu menolak air, dan memelihara tubuh burung tetap hangat di tengah udara dingin. Tulang belulangnya menjadi semakin ringan karena adanya rongga-rongga udara di dalamnya, namun tetap kuat menopang tubuh. Tulang dadanya tumbuh membesar dan memipih, sebagai tempat perlekatan otot-otot terbang yang kuat. Gigi-giginya menghilang, digantikan oleh paruh ringan dari zat tanduk. Kesemuanya itu menjadikan burung menjadi lebih mudah dan lebih pandai terbang, dan mampu mengunjungi berbagai macam habitat di muka bumi. Ratusan jenis burung dapat ditemukan di hutan-hutan tropis, mereka menghuni hutan-hutan ini dari tepi pantai hingga ke puncak-puncak pegunungan. Burung juga ditemukan di rawa-rawa, padang rumput, pesisir pantai, tengah lautan, gua-gua batu, perkotaan, dan wilayah kutub. Masing-masing jenis beradaptasi dengan lingkungan hidup dan makanan utamanya. Maka dikenal berbagai jenis burung yang berbeda-beda warna dan bentuknya. Ada yang warnanya cerah cemerlang atau hitam legam, yang hijau daun, coklat gelap atau burik untuk menyamar, dan lain-lain. Ada yang memiliki paruh kuat untuk menyobek daging, mengerkah biji buah yang keras, runcing untuk menombak ikan, pipih untuk menyaring lumpur, lebar untuk menangkap serangga terbang, atau kecil panjang untuk mengisap nektar.
Ada yang memiliki cakar tajam untuk mencengkeram mangsa, cakar pemanjat pohon, cakar penggali tanah dan serasah, cakar berselaput untuk berenang, cakar kuat untuk berlari dan merobek perut musuhnya.

B. Rumusan Masalah

1.      Apa karakteristik hewan aves?
2.      Bagaimana peranan aves bagi manusia?


C. Tujuan Pembahasan

1.      Mengetahui karakteristik hewan aves
2.      Mengetahui peranan aves bagi manusia



BAB II
PEMBAHASAN

A.     Aves



a)      Karakteristik aves

Burung merupakan hewan yang tubuhnya diselaputi oleh bulu-bulu. Anggota depannya berubah menjadi sepasang sayap. Burung merupakan hewan yang paling banyak diketahui dan mudah di kenali, karena burung banyak diketahui disekitar manusia dan aktif pada siang hari. Burung memiloiki ciri yang khas yaitu memiliki bulu yang menutupi dan mellindungi tubuhnya sehingga dapat mempertahankan suhu tubuh yang berbeda dengan suhu lingkungannya.
Selain itu bulu burung sangat berperan saat waktu terbang, selain burung tidak ada hewan lain yang memiliki bulu. Dengan memiliki kemampuan terbang butung dapat menghuni habitat yang tidak dapat di huni oleh hewan lainnya.
Hampir setiap bagian dari anatomi burung yang khas te rmodifikasi dalam beberapa hal untuk meningkatkan kemampuan terbang, dan tulang-tulang burung memiliki struktur internal yang menyerupai sarang lebah yang membuat mereka kuat namun ringan.

b)      Ukuran
burung yang paling besar yang masih aada yaitu burung unta afrika dengan tinggi 210 cm, dan burung kondor amerika yan memiliki bentang sayap mencapai 300 cm, dan burung yang paling kecil yaitu burung helena dari cuba dengan panjang 5,5 cm dan berat 0,1 ons. Tidak ada burung yang berukuran sebesar ikan dan mamalia terbesar, baik burung yang suda punah ataupun yang masih hidup.

c)      Struktur Eksternal

Aves memiliki kepala yang terpisah, leher panjang yang fleksibel dan tubuh terbentuk melentung. Dua anggota tubuh bagian depan berupa sayap, melekat aga tinggi di punggung dilengkapi bulu panjang, sayap terlipat seperti hurup Z pada saat istirahat, dan membuka jika digunakan untuk terbang, dan pada setiap kaki bagian bawah terdiri dari sedikit otot denggan tendon dan di tutupi kulit bersisik yang mengalami kornifikasi, dan dilengkapi empat jari yang di bagian ujungnya terdapat cakar keras dan pada ekor yang pendek terdapat sejumlah bulu yang panjang. Mulut berbentuk memanjang dan meruncing dilapisi zat tanduk, pada bagian atas mandibula terdapat dua lubang hidung, mata berukuran besar berukuran lateral, masing-masing dilengkapi dengan kelopak atas dan bawah, dibawahnya terdapat membran nikatin yang dapat bebas digerakan menutupi mata. Di belakang mata aga ke bawah terdapat lubang telinga, yang tersembunyi di balik bulu, dan struktur khas di kepala yaitu jengger median dan gelambir lateral, dan dikaki terap taji dan taji ini hanya ditemukan pada ayam, merak, dan beberapa burung tertentu, dan di bagian bawah ekor terdapat anus.
d)      Penutup tubuh dan bulu


Bulu adalah ciri khas kelas aves yang tidak dimiliki oleh vertebrata lain. Hampir seluruh tubuh aves ditutupi oleh bulu, yang secara filogenetik berasal dari epidermal tubuh, yang pada reptile serupa dengan sisik. Secara embriologis bulu aves bermula dari papil dermal yang selanjutnya mencuat menutupi epidermis. Dasar bulu itu melekuk ke dalam pada tepinya sehingga terbentuk folikulus yang merupakan lubang bulu pada kulit. Selaput epidermis sebelah luar dari kuncup bulu menanduk dan membentuk bungkus yang halus, sedang epidermis membentuk lapisan penyusun rusuk bulu.Sentral kuncup bulu mempunyai bagian epidermis yang lunak dan mengandung pembuluh darah sebagai pembawa zat-zat makanan dan proses pengeringan pada perkembangan selanjutnya (Jasin, 1984).

Berdasarkan susunan anatomis bulu dibagi menjadi: Filoplumae, Bulu-bulu kecil mirip rambut tersebar di seluruh tubuh. Ujungnya bercabang-cabang pendek dan halus. Jika diamati dengan seksama akan tampak terdiri dari shaft yang ramping dan beberapa barbulae di puncak. Plumulae, Berbentuk berbentuk hampir sama dengan filoplumae dengan perbedaan detail Plumae, Bulu yang sempurna. Barbulae, Ujung dan sisi bawah tiap barbulae memiliki filamen kecil disebut barbicels yang berfungsi membantu menahan barbula yang saling bersambungan. Susunan plumae terdiri dari: Shaft (tangkai), yaitu poros utama bulu, Calamus, yaitu tangkai pangkal bulu ,rachis yaitu lanjutan calamus yang merupakan sumbu bulu yang tidak berongga di dalamnya. Rachis dipenuhi sumsum dan memiliki jaringan. Vexillum, yaitu bendera yang tersusun atas barbae yang merupakan cabang-cabang lateral dari rachis. Lubang pada pangkal calamus disebut umbilicus inferior, sedangkan lubang pada ujung calamus disebut umbilicus superior. Bulu burung pada saat menetas disebut neossoptile, sedangkan setelah dewasa disebut teleoptile. Menurut letaknya, bulu aves dibedakan menjadi: Tectrices, bulu yang menutupi badan. Rectrices, bulu yang berada pada pangkal ekor, vexilumnya simetris dan berfungsi sebagai kemudi. Remiges, bulu pada sayap yang dibagi lagi menjadi:
§         Remiges primarie yang melekatnya secara digital pada digiti dan secara metacarpal pada metacarpalia.
§         Remiges secundarien yang melekatnya secara cubital pada radial ulna.
§         Remiges tertier yang terletak paling dalam nampak sebagai kelanjutan sekunder daerah siku.
§         Parapterum, bulu yang menutupi daerah bahu.
§         Ala spuria, bulu kecil yang menempel pada ibu jari (Jasin, 1984)



e)      Fungsi bulu

§         Dapat mencegah hilangnya panas tubuh dengan menggoyang-goyangkan bulu mereka dalam cuaca dingin.
§         Sementara, saat cuaca panas, burung mempertahankan kesejukan tubuh dengan melicinkan bulu-bulu mereka.
§         Penutup tubuh.
§         Bulu di bagian bawah dan bulu yang terletak di sepanjang sayap dan ekor memiliki bentuk yang berbeda. Bulu-bulu ekor yang besar digunakan untuk mengemudi dan mengerem.
§         Untuk memperindah tubuh.
§         Plumae berfungsi agar dapat terbang.
§         Plamulae berfungsi Sebagai isolator.
§         Filoplumae Berfungsi sebagai sensor.
§         Mengangkat tubuh burung di udara.
§         Menahan panas sehingga tubuh burung dapat menjaga panas tubuhnya.
§         Untuk melindungi kulit dari serangga.
§         Untuk menghangatkan telur pada saat mengerami.


f)        Struktur rangka



Burung memiliki struktur tulang yang beradaptasi untuk terbang.Adaptasi
tulang burung adalah sebagai berikut: Burung memiliki paruh yang lebih ringan dibandingkan rahang dan gigi pada hewan mamalia.Burung memiliki sternum (tulang dada) yang pipih dan luas,berguna sebagai tempat pelekatan otot terbang yang luas.
Tulang-tulang burung berongga dan ringan .Tulang-tulang tersebut sangat kuat karena memiliki struktur bersilang. Sayap tersusun dari tulang-tulang yang lebih sedikit dibandingkan tulang-tulang pada tangan manusia.Hal ini berfungsi untuk mengurangi berat terutama ketika burung terbang. Tulang belakang bergabung untuk memberi bentuk rangka yang padat,terutama ketika mengepakkan sayap pada saat terbang. Burung juga memiliki tulang-tulang yang khas yang sesuai untuk terbang. Anggota depan berubah fungsi menjadi sayap.Tulang dan dada membesar dan memipih sebagai tempat melekatnya otot-otot dan sayap. Hal ini memungkinkan burung untuk terbang.Berikut gambar struktur rangka pada burung (aves):
Berikut fungsi rangka pada aves :

·        Tengkorak : Melindungi otak dan isi kepala
·        Tulang leher : Untuk menghubungkan ke tempurung kepala.
·        Tulang lengan : Untuk menggerakkan sayap.
·        Tulang hasta : Tulang sayap yang menghubungkan dengan tulang
·        lengan.
·        Tulang pengumpil : Tulang sayap yang menghubungkan dengan tulang lengan.
·        Korakoid : Penghubung tulang dada.
·        Tulang dada : Tempat melekatnya oto untuk terbang.
·        Tulang rusuk : Tulang yang melindungi isi perut.
·        Pelvis : Penghubung tulang ekor
·        Tulang ekor : Tulang penghubung dengan kloaka.
·        Tulang kering : Penghubung tulang paha kebetis.
·        Tulang paha : Untuk persendian.


g)      Sistem otot

Pada kelas Aves dan mamalia, otot anggota badan lebih besar karena di gunakan untuk berbagai aktivitas. Pergerakan sayap pada saat terbang di bantu oleh otot pectoral yang ada di bagia dada. Otot pectoralis major beeermula di bagia luar sternum dan berlajut ke ventrolateral dan humerus, kontraksinya akan menggerakan sayap dan mengangkat tubuh burung, pada vertebrata darat, kaki depan di angkat menggunakan otot di permukaan dorsal, tapi pada unggas, gerakan ini di bantu otot ventral yaitu pectoralis minor, otot pectoralis minor berawal dari sternum (medial dan pectoralis major) kemudian mengecil menjadi tendon ke bagian dorsal dan melekat pada bagian dorsal posterior dari tulang humerus. Otot pectoralis minor dan mayor terdapat baik disayap kanan maupun kiri. Dan otot femur terutama di gunakan untuk berlari, otot kaki relatife tipis dan berfungsi untuk hilangnya panas tubuh dari bagian yang tidak di tutupi bulu, dan jari tersebut dapat digerakan dengan bantuan tendon yang terhubung ke otot pada bagian atas kaki.










h)      Sistem pencernaan



Lidah pada burung berbentuk runcing dan panjang dengan lapisan zat tanduk. Pada rongga mulut bagian atas terdapat lipatan palatal. Dilanjutkan dengan faring, kemdian saluran esophagus yang dilapisi otot memanjang ke bagian bawah leher tempat terdapatnya tembolok yang berfungsi sebagai tempat penyimpan makanan.

Alat dan fungsi pada aves adalah sebagai berikut:

·        Paruh : Mengambil makanan.
·        Kerongkongan : Saluran makanan menuju tembolok.
·        Tembolok : Menyimpan makanan sementara.
·        Lambung kelenjar : Mencerna makanan secara kimiawi.
·        Lambung pengunyah : Menghancurkan makanan.
·        Hati : Membantu mancerna makanan secara mekanis.
·        Pankreas : Menghasilkan enzim.
·        Usus halus : Tempat pencernaan sari makanan yang diserap oleh kapiler darah pada dinding usus halus.
·        Usus besar : Saluran sisa makan ke rectum.
·        Usus buntu : Memperluas daerah penyerapan sari makanan.
·        Poros usus : Tempat penyimpan sisa makanan sementara.
·        Koloaka : Muara 3 (tiga) saluran,yaitu :
·        Pencernaan usus.
·        Saluran uretra dari ginjal
·        Saluran kelamin


i)        Sistem Pencernaan burung

Pada mulut terdapat paruh yang sangat kuat dan berfungsi untuk mengambil makanan. Makanan yang diambil oleh paruh kemudian masuk kedalam rongga mulut lalu menuju kerongkongan.Bagian bawah kerongkongan membesar berupa kantong yang disebut tembolok. Kemudian masuk ke lambung kelenjar. Disebut lambung kelenjar karena dindingnya mengandung kelenjar yang menghasilkan getah lambung yang berfungsi untuk mencerna makan secara kimiawi. Kemudian makan masuk menuju lambung pengunyah. Disebut lambung pengunyah karena dindingnya mengandung otot-otot kuat yang berguna untuk menghancurkan makanan. Didalam hati,empedal sering terdapat batu kecil atau pasir untuk membantu mencerna makanan secara mekanis. Kemudian, makanan masuk menuju usus halus.Enzim yang dihasilkan oleh pankreas dan empedu dialirkan kedalam usus halus.Hasil pencernaan berupa sari- sari makanan diserap oleh kapiler darah pada dinding usus halus.Burung mempunyai dua usus buntu yang terletak antara lambung dan usus.Usus buntu berguna untuk memperluas daerah penyerapan sari makanan. Sisa makanan didorong ke usus besar kemudian kedalam poros usus (rektum) dan akhirnya dikeluarkan melalui kloaka.

Sistematis pencernaan makanan pada burung :


Mulut / paruh → Kerongkongan → Tembolok → Lambung kelenjar →
Lambung pengunyah → Hati → Pankreas → Usus halus → Usus besar →
Usus buntu → Poros usus (rectum) → Kloaka.



j)        Sistem sirkulasi

Sistem sirkulasi burung Peredaran darah burung adalah dari paru-paru mengangkut oksigen masuk ke serambi kiri, kemudian ke bilik kiri. Dari bilik kiri darah di pompa ke seluruh tubuh melalui aorta. Disel sel tubuh darah melepaskan O2 dan mengikat CO2. Darah yang mengandung banyak CO2 ini masuk serambi kanan
melalui pembuluh balik.Selanjutnya darah masuk bilik kanan, kemudian di pompa masuk ke paru-paru. Didalam paru-paru darah melepaskan CO2 dan
mengikat O2.

Berikut gambar system peredaran darah




 
Bagan sirkulasi pada burung

Paru-paru → Serambi kiri → Bilik kiri → Seluruh tubuh → Serambi kanan
→ Bilik kanan → Paru-paru

k)      Reproduksi

Burung berkembang biak dengan cara bertelur dan pembuahannya terjadi di dalam tubuh. Contoh avesantar lain burung elang, burung merati burung merak, burung hantu, burung gagak, ayam dan jenis burung lainnya. Sebagian besar burung membangun sarangnya untuk menyimpan telur dan mengeraminya, jumlah telur yang di letakan dalam sarangnya yang bervariasi tergantung spesiesnya, ada yang hanya 1,3, atau ada yang sampai 14 butir. Masa inkubasi (pengeraman) pada burung berbeda-beda. Burung burung darat yang kecilnya masa inkubasinya kurang lebih 14 hari, ayam peliharaan 21 hari, burung kuau 21 hari, bebek dan rajawali masa inkubasinya 28 hari, sedangkan burung unta 42-60 hari. Anak-anak burung yang bersifat atricial membutuhkan kurang lebih seminggu setelah menetas untuk meninggalkan sarang. Semua anak-anak burung memerluka pemeliharaan setelah ditetaskan yang berupa pemberian makan penjagaan atau perlindungan dari sinar matahari dan hujan.

B. Peranan burung bagi manusia

Burung berperan dalam proses penyerbukan beberapa jenis tumbuhan. Dan selain itu daging dan telur burung merupakan sumber lemak dan protein yang di butuhkan manusia. Keindahan kicau dan warna jenis burung tertentu menyebabkan manusia tertarik untuk memeliharanya. Dahulu, bulu burung cendrawasih dijadikan sebagai hiasan oleh kepala suku-suku masyarakat di papua. Begitu juga, kemampuan terbang beberapa jenis burung misalnya merpati dimanfaatka sebagai bentuk hiburan atau kegiatan yang di perlombakan. Dan sejak jaman dulu burung telah digunakan manusia untuk berbagai kebutuhan. Burung-burng pemeliharaan seperti, ayam, itik, bebek, kalkun,angsa dan puyuh. Burung-buring kecil membantu dalam membasmi hama serangga pada tanaman dan ada juga burung yang berukuran besar seperti elang dan burung hantu menjaddi preator bagi tikus sawah. Selain memberi manfaat pada manusia tap juga ada yang merugikan. dan beberapa jenis burung memajan biji-bijian, tabaman muda , dan buah-buahan yang sengaja ditanam oleh manusia , selain itu burung juga bias menjadi vector penyakit seperti penyakit flu burung.

BAB III
KESIMPULAN

Nama kelas aves berasal dari bahasa latin, dan nama ilmu yang mempelajari burung ortinology berasal dari bahasa yunani, yaitu ornis Meskipun burung berdarah panas, ia berkerabat dekat dengan reptil. Bersama kerabatnya terdekat, suku Crocodylidae alias keluarga buaya, burung membentuk kelompok hewan yang disebut Archosauria. Diperkirakan burung berkembang dari sejenis reptil di masa lalu, yang memendek cakar depannya dan tumbuh bulu-bulu yang khusus di badannya. Pada awalnya, sayap primitif yang merupakan perkembangan dari cakar depan itu belum dapat digunakan untuk sungguh-sungguh terbang, dan hanya membantunya untuk bisa melayang dari suatu ketinggian ke tempat yang lebih rendah. Burung masa kini telah berkembang sedemikian rupa sehingga terspesialisasi untuk terbang jauh, dengan perkecualian pada beberapa jenis yang primitif. Bulu-bulunya, terutama di sayap, telah tumbuh semakin lebar, ringan, kuat dan bersusun rapat. Bulu-bulu ini juga bersusun demikian rupa sehingga mampu menolak air, dan memelihara tubuh burung tetap hangat di tengah udara dingin. Tulang belulangnya menjadi semakin ringan karena adanya rongga-rongga udara di dalamnya, namun tetap kuat menopang tubuh. Tulang dadanya tumbuh membesar dan memipih, sebagai tempat perlekatan otot-otot terbang yang kuat. Gigi-giginya menghilang, digantikan oleh paruh ringan dari zat tanduk. Burung berperan dalam proses penyerbukan beberapa jenis tumbuhan. Dan sejak jaman dulu burung telah digunakan manusia untuk berbagai kebutuhan. Burung-burng pemeliharaan seperti, ayam, itik, bebek, kalkun,angsa dan puyuh. Burung-buring kecil membantu dalam membasmi hama serangga pada tanaman dan ada juga burung yang berukuran besar seperti elang dan burung hantu menjadi preator bagi tikus sawah.
DAFTAR PUSTAKA

Campbel, Reece, Mitcaell, JILID 2. 1925 / 1974. Biologi Edisi Kelima Ciracas Jakarta: erlangga.

Sudjadi bagod, laila siti. 2006. Biologi sains dan kehidupan surabaya: yudhistira
Kurniati tuti. Dkk. 2009, zoologi vertebrata. prodi pendidikan biologi Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan Uin Sgd Bandung.

http://1.bp.blogspot.com/.59gmopf.o/ saogtjtyudt/AA BY/ 67cuegiPJHS/sl600-h/ Bird.jpg.kistinnah idun, endang srilestari. 2009.

Biologi BSE makhluk hidup dan lingkungannya: departemen pendidikan nasional 2009.













































































































































































































































































Aves merupakan kelas tersendiri dalam kingdom animalia, aves atau burung memiliki ciri umum yaitu berbulu dan kebanyakan diantara mereka bisa terbang. Kelas aves adalah satu-satunya kelompok hewan yang memiliki bulu, (jangan salah mamalia berambut, bukan berbulu). Hal ini merupakan keunikan tersendiri dari kelompok hewan tersebut. Berikut adalah uraian singkat tentang kelas aves,
Ciri Morfologi Aves
a) Struktur Bulu
Bulu adalah ciri khas kelas aves yang tidak dimiliki oleh vertebrata lain. Hampir seluruh tubuh aves ditutupi oleh bulu, yang secara filogenetik berasal dari epidermal tubuh, yang pada reptile serupa dengan sisik. Secara embriologis bulu aves bermula dari papil dermal yang selanjutnya mencuat menutupi epidermis. Dasar bulu itu melekuk ke dalam pada tepinya sehingga terbentuk folikulus yang merupakan lubang bulu pada kulit. Selaput epidermis sebelah luar dari kuncup bulu menanduk dan membentuk bungkus yang halus, sedang epidermis membentuk lapisan penyusun rusuk bulu.Sentral kuncup bulu mempunyai bagian epidermis yang lunak dan mengandung pembuluh darah sebagai pembawa zat-zat makanan dan proses pengeringan pada perkembangan selanjutnya (Jasin, 1984).
Berdasarkan susunan anatomis bulu dibagi menjadi:
  • Filoplumae, Bulu-bulu kecil mirip rambut tersebar di seluruh tubuh. Ujungnya bercabang-cabang pendek dan halus. Jika diamati dengan seksama akan tampak terdiri dari shaft yang ramping dan beberapa barbulae di puncak.
  • Plumulae, Berbentuk berbentuk hampir sama dengan filoplumae dengan perbedaan detail.
  • Plumae, Bulu yang sempurna.
  • Barbae
  • Barbulae, Ujung dan sisi bawah tiap barbulae memiliki filamen kecil disebut barbicels yang berfungsi membantu menahan barbula yang saling bersambungan.
Susunan plumae terdiri dari :
· Shaft (tangkai), yaitu poros utama bulu.
· Calamus, yaitu tangkai pangkal bulu.
· Rachis, yaitu lanjutan calamus yang merupakan sumbu bulu yang tidak berongga di dalamnya. Rachis dipenuhi sumsum dan memiliki jaringan.
· Vexillum, yaitu bendera yang tersusun atas barbae yang merupakan cabang-cabang lateral dari rachis.
Gambar Struktur Bulu Burung
(sumber: Harunyahya.com)
Lubang pada pangkal calamus disebut umbilicus inferior, sedangkan lubang pada ujung calamus disebut umbilicus superior. Bulu burung pada saat menetas disebut neossoptile, sedangkan setelah dewasa disebut teleoptile.
Menurut letaknya, bulu aves dibedakan menjadi:
  • Tectrices, bulu yang menutupi badan.
  • Rectrices, bulu yang berada pada pangkal ekor, vexilumnya simetris dan berfungsi sebagai kemudi.
  • Remiges, bulu pada sayap yang dibagi lagi menjadi:
  • remiges primarie yang melekatnya secara digital pada digiti dan secara metacarpal pada metacarpalia.
  • Remiges secundarien yang melekatnya secara cubital pada radial ulna.
  • Remiges tertier yang terletak paling dalam nampak sebagai kelanjutan sekunder daerah siku.
  • Parapterum, bulu yang menutupi daerah bahu.
  • Ala spuria, bulu kecil yang menempel pada ibu jari (Jasin, 1984).
Pada burung heron terdapat bentukan bulu yang khusus yang disebut sebagai bulu powder/ bulu bubuk. Bulu ini hampir sama dengan bulu pada umumnya tetapi barbulaenya terpisah menjadi bubuk halus seperti bedak. Fungsi bulu ini belum jelas, tetapi pada saat burung melumasi bulu dengan cara menjilatinya, bulu bubuk membantu mengisolasi panas tubuh dan membantu menghangatkan telur saat pengeraman.
Burung Hantu
Semi plumae adalah kumpulan bulu barbula yang letaknya tersembunyi di bawah bulu-bulu luar. Bistle adalah bulu perasa berupa shaft yang memanjang melebihi bulu luar, ditemukan pada kepala burung Caprimulgids dan burung penangkap serangga flycatchers (Sukiya, 2003). Bristle yang menutupi lubang hidung terdapat pada burung pelatuk. Hal ini merupakan bentuk adaptasi burung pelatuk agar partikel-partikel kayu tidak masuk saluran pernafasan. Bristle pada burung hantu dan caprimulgids membantu mendeteksi posisi sarang, tempat bertengger dan benda yang menghalangi. Fungsi bristle didukung oleh adanya getaran dan tekanan reseptor didekat folikel bulu (Sukiya, 2003).
Bentuk bulu ekor burung pada saat tidak terbang bermacam-macam, antara lain berbentuk persegi, bertakik, bercabang, bulu sebelah luar memanjang, bulu ekor dengan raket, bulu tengah panjang, bundar, berbentuk cakram, berbentuk tingkatan, dan berujung runcing (Sukiya, 2003).

























MAKALAH BIOLOGI TENTANG KERAGAMAN HEWAN VETEBRATA DAN INVETEBRATA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan Negara yang memiliki keragaman hayati yang melimpah baik flora maupun fauna. Kekayaan keragaman hayati ini membiarkan keuntungan yang besar bagi masyarakat. Di antaranya dapat memenuhi kebutuhan manusia juga mengandung protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral. Protein sebagai salah satu sumber pembangun tubuh dapat berasal dari tumbuhan (nabati) dan hewan (hewani). Protein yang berasal dari hewan mempunyai kandungan yang sempurna dibandingkan dengan protein nabati. Oleh karena itu pengadaan sumber protein hewani harus diupayakan.
B. Batasan Masalah
Adapun batasan Masalah dalam karya tulis ini adalah:
1. Pengertian dan perbedaan hewan Vertebrata dan hewan Invertebrata.
2. Filum : yang termasuk hewan Vertebrata dan hewan Invertebrata.
3. Sistem pencernaan pada hewan Vertebrata dan Invertebrata

C. Tujuan Yang Ingin Dicapai
Adapun Tujuan penulis dalam penulisan karya tulis ini adalah
1. Sebagai salah satu syarat mengikuti UN/UAM
2. Untuk mengetahui berbagai macam hewan vertebrata dan hewan invertebrate
3. Untuk menambah wawasan tentang keanekaragaman hewan vertebrata dan invertebrate

D. Metode Yang Digunakan
Metode deskriftif dengan teknik study kepustakaan atau literature, yaitu pengetahuan yang bersumber dari beberapa media tulis baik berupa buku, litelatur dan media lainnya yang tentu ada kaitannya masalah-masalah yang di bahas di dalam Karya tulis ini.


BAB II
KERAGAMAN HEWAN VERTEBRATA DAN HEWAN INVETEBRATA

A. Hewan Vertebrata
1. Pengertian
Hewan vertebrata yaitu hewan yang bertulang belakang atau punggung. Memiliki struktur tubuh yang jauh lebih sempurna dibandingkan dengan hewan Invertebrata. Hewan vertebrata memiliki tali yang merupakan susunan tempat terkumpulnya sel-sel saraf dan memiliki perpanjangan kumpulan saraf dari otak. Tali ini tidak di memiliki oleh yang tidak bertulang punggung. Dalam memenuhi kebutuhannya, hewan vertebrata telah memiliki system kerja sempurna peredaran darah berpusat organ jantung dengan pembuluh-pembuluh menjadi salurannya.
Ciri-ciri tubuh hewan yang bertulang belakang:
1. Mempunyai tulang yang terentang dari balakang kepala sampai bagian ekor.
2. Mempunyai otak yang dilindungi oleh tulang-tulang tengkorak.
3. Tubuh berbentuk simetris bilateral.
4. mempunyai kepala, leher, badan dan ekor walaupun ekor dan leher tidak mutlak ada contohnya pada katak.
Ciri alat tubuh hewan yang bertulang belakang sebagai berikut:
1. Mempunyai kelenjar bundar, endoksin yang menghasilkan hormon untuk pengendalian. Pertumbuhan dan proses fisiologis atau faal tubuh
2. Susunan saraf terdiri atas otak dan sumsum tulang belakang
3. Bersuhu tubuh panas dan tetap (homoiternal) dan bersuhu tubuh dingin sesuai dengan kondisi lingkungan (poikiloternal)
4. Sistem pernapasan/terpirasi dengan paru-paru (pulmonosum) kulit dan insang operculum
5. Alat pencernaan memanjang mulai dari mulut sampai ke anus yang terletak di sebelah vertran (depan) dan tulang belakang
6. Kulit terdiri atas epidermis (bagian luar) dan endodermis (bagian dalam)
7. Alat reproduksi berpasangan kecuali pada burung, kedua kelenjar kelamin berupa ovalium dan testis menghasilkan sel tubuh dan sel sperma
Hewan bertulang belakang (vertebrata) ini terdiri atas kelas yaitu:
1. Kelas Pisces (Ikan)
2. Kelas Amphibi (Latin amphi = dua, bia = hidup)
3. Kelas Reftilia (Bahasa latin repare = merangkak/merayap)
4. Kelas Aves (Burung)
5. Kelas mamalia (Bahasa latin mamae artinya kelenjar buah dada, mamalia artinya hewan menyusui)

2. Filum-Filum Hewan Vertebrata
a. Kelas Pisces (Ikan)
Ciri utama Pisces sebagai berikut:
- Hewan berdarah dingin yang hidup di dalam air
- Bernapas dengan insang (operculum) dan di bantu oleh kulit
- Tubuh terdiri atas Kepala
- Rangka tersusun atas tulang sejati
- Jantung terdiri atas satu serambi dan satu bilik
- Tubuh ditutupi oleh sisik dan memiliki gurat sisi untuk menentukan arah dan posisi berenang
Pisces dapat di bagi menjadi beberapa ordo antara lain:
2. Ordo Apodes
Familia (1) : Angulidae
Species : Ikan panjang (Arguilia vulgaria)
Familia (2) : Muruenidae
3. Ordo Acthopterygi
Familia (1) : Parsidae
Species : Kakap (Lataes carca lifer)
Familia (2) : Muruenidae
4. Ordo Heterostonata
Species : Ikan lidah
5. Ordo Labysinthici
Famili : Analamtidal
Species : ikan bandeng (lates carca lifer)
Familia : scombridae
Species : tongkol (enthymus palamys)
6. Ordo Masacop Terygii
Famili (1) : chipeidae
Species : ikan bandeng (chonos-chonos)
Famili (2) : ikan salam (salmosalor)
7. Ordo Ostariophysi
Familia (1) : analamtidal
Species : kakap (lates carca lifer)
Famili : scmbridae
b. Kelas Amphibia
Ciri-ciri amphibia sebagai berikut:
- Dapat hidup di air dan di darat ataupun tempat-tempat yang lembab
- Disebut juga hewan yang mempunyai tempat hidup (habitat) di dua alam
- Hewan bernafas dengan paru-paru dan kulit. Telur dan berudu katak hidup di air kemudian setelah dewasa hidup di darat, berudu berbentuk seperti ikan yangbernafas dengan insang dan kulit, setelah masanya tumbuh kaki yang susut oleh kehidupan dan akhirnya ekor menghilang sementara itu insang berangsur-angsur menghilang dan digantikan oleh paru-paru kemudian katak menjadi dewasa.
- Jantung beruang tiga yaitu dua serambi dan satu bilik.
- Berkembang biak dengan bertelur dan pembuahan sel telur oleh sperma terjadi di luar tubuhnya (fertilisasi eksternal).
Amphibi dapat dibagi menjadi beberapa ordo:
1. Ordo bymnofora / opoda (amphibia tidak berkaki tetapi memiliki ekor) Species : ular, cacing (ichtyo phisgentmosus)
2. Ordo anura/solienta (amphibia tidak berekor tetapi memiliki kaki)
Famili : Ranidae
Species : Katak buduk, katak hijau (Kamacun crivoras)
Familia : hyhidae
Species : katak pohon (hyla SP)
3. Ordo wodela / candata (amphibia yang berekor dan berkaki)
Familia : pretidae
Species : aning lumpru (necturus onaculanu)
Familia : crypto bran chidae
Species : solomonder air (ripto bronchus akeganiesis)
c. Kelas reftilia (hewan melata)
Ciri-ciri hewan melata adalah sebagai berikut:
- Kulit kering bersisik dari zat tanduk karena zat kertin
- Bernafas dengan paru-paru
- Berdarah dingin (porkoliokonal) yakni yang suhu tubuhnya dipengaruhi oleh suhu lingkungan
- Umumnya bersifat avivar (bertelur), contoh kadal, dan vivipar beranak, contohnya ular.
- Jantung terdiri dari empat ruang yaitu dua serambi dan dua bilik yang masih belum sempurna.
Reptilia dapat dibagi menjadi beberapa ordo antara lain:
1) Ordo crocodilian
Familia : crocodylidae
Species : buaya sedang (crocodyeus bifocatus), buaya besar (crocodyes porosus)
2) Ordo chelonian
Familia (1) : crocodylidae
Species : penyu (chelaina nydas)
Familia (2) : tryony chidae
Species : kuya (try ony x cartilaginews)
Familia (3) : testudinidae
Species : kura-kura (euora ambirinesis)
3) Ordo cacerilia
Familia (1) : cacertidae
Species : cicak (hemidacty frenatus)
Familia (2) : geckonocdae
Species : tokek (gecko monarchis)
Familia (3) : henoermatidae
Species : kadal (heloderma SP)
Familia : varanidae
Species : komodo (voronus komodensis)
biawak (voronus salvator
4) Ordo Aphidia
Contoh; ular sawah, ular kobra dan sebagainya
d. Kelas aves (burung)
Ciri utama aves sebagai berikut:
- Alat penglihatan, alat pendengaran dan alat suara sudah berkembang dengan baik
- Berdarah panas (homoioteral)
- Jantung terdiri dari empat ruang 2 serambi dan 2 bilik yang sudah berkembang dengan baik
- Pembuahan sel telur dan sperma / fertilisasi terjadi di dalam tubuh induk (fertilisasi internal)
- Terdapat sepasang testis, Sedangkan ovarium hanya satu dan tumbuh dengan baik di sebelah kiri.
Aves dapat dibagi menjadi beberapa ordo antara lain:
1) Ordo colombiforines
Familia : columbidal
Species : perkutut (geopilia striata)
2) Ordo coraciiformes
Familia : arcedinadae
Species : telengket (harcy concholm)
3) Ordo grana cares
Familia (1) : ardidae
Species : bangau (reptotilas javanicus)
Familia (2) : rassidal
Species : mordar (parphyrio albus)
4) Ordo nato tores
Familia (1) : laridae
Species : dara laut
Familia (2) : pamilirostros
Species : bebek / itik (anus koshos)
Familia (3) : sphe niscidae
Species : pinguin (aptenodytes SP)
5) Ordo rapaces
Familia (1) : fontanida
Species : alap-alap (falco papuanus)
Familia (2) : strigi dae
Species : burung hantu (suba kukua)
e. Kelas Mamalia
Ciri-ciri utama hewan mamalia sebagai berikut:
- Umumnya hidup di daratan, tetapi ada pula yang hidup di air seperti ikan paus, lumba-luma
- Berdarah panas
- Pada kulit terdapat kelenjar keringat dan kelenjar minyak
- Otak berkembang dengan baik
- Fertilisasi internal
- Bernafas dengan paru-paru
- Terdapat 4 ruang jantung yang sempurna
Macam-macam ordo hewan mamalia antara lain:
1) Ordo dactyla
Species : Topis (clocidura marina)
Badak Jawa (rhino cerassoondaicus)
2) Ordo insectivore
Species : cecurut (cocidura mosina)
Tupai (tupaja javarita)
3) Ordo phalidata
Species : trenggiling (tubuh bersisik)
4) Ordo chiroptera
Species : kelelawar (micro chiroptera SP)
Kalong (megachiroptera SP)
5) Ordo marsupiala
Species : kucing (fell is catus)
Singa (fell is lion)
Harimau (fell is tigris)
Serigala (canislupus)
6) Ordo marsopialia
Species : kanguru (macropus)
Kuskus (plalanger)
7) Ordo prosboscidae
Species : gajah (elephan indicus)
Gajah Africa (loxoder africanus)
8) Ordo artidactyea
Species : kerbau (bubalus-bubalus)
Banteng (basssonduicus)
Kambing (capra faleoheri)

3. Sistem Pencernaan Pada Hewan Vertebrata
Proses pencernaan makanan dapat terjadi secara mekanik dan kimia. Pencernaan mekanik adalah proses yang mengubah makanan menjadi bagian-bagian yang kecil. Sedangkan pencernaan secara kimia adalah suatu proses pengubahan makanan dengan bantuan enzim pencernaan.
a. Sistem Pencernaan pada ikan
Misalnya, ikan mas mempunyai saluran pencernaan yang terdiri atas mulut, kerongkongan, lambung, usus dan anus. Ikan mempunyai lidah yang pendek terdapat pada dasar mulut, lidah itu tidak dapat digunakan seperti lidah pada hewan lainnya. Ikan mas tidak mempunyai kelenjar ludah tetapi mempunyai kelenjar lendir dari mulutnya. Lambung merupakan pelebaran dari saluran pencernaan
b. Sistem pencernaan pada amphibia
Sebagai contohnya adalah katak mempunyai saluran pencernaan yang terdiri atas mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, kloaka.
Untuk membantu menelan makanan, yaitu makanan tersebut dicampur dengan ludah yang dihasilkan oleh kelenjar ludah. Pencernaan makanan berlangsung di dalam lambung katak mempunyai kelenjar pencernaan yaitu hati dan pankreas.
c. Sistem pencernaan pada reptilian
Seperti dicontohkan kadal yang mempunyai saluran pencernaan yang terdiri atas mulut, kerongkongan, lambung, usus dan kloaka. Kadal mempunyai hati dan pancreas sebagai kelenjar pencernaan.
Lambung pada reptilia bentuknya sesuai dengan bentuk badannya, misalnya lambung kura-kura berbentuk agak bulat.
d. Sistem pencernaan pada burung
Sebagai contoh burung merpati mempunyai saluran pencernaan yang terdiri atas mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, dan kloaka. Burung mempunyai hati dan pancreas, keduanya merupakan kelenjar pencernaan yang berada di luar saluran pencernaan.
e. Sistem pencernaan pada mamalia
Hewan mamalia misalnya sapi mempunyai lambung yang tersusun dari empat bagian yaitu perut besar (rimen), perut jala (reticulum) perut kilab (omosum), dan perut masam (obomasum). Makanan yang berupa rumput dan sebangsanya dari mulut melewati kerongkongan masuk ke dalam perut besar, dari perut besar makanan kembali ke mulut untuk dimumah, setelah dimumah makanan ditelan dan masuk ke dalam perut jala, kemudian ke perut kilab dan akhirnya ke perut masam.

B. Hewan Invertebrata
1. Pengertian
Hewan Invertebrata adalah yang tidak bertulang belakang, serta memiliki struktur morfologi dan anatomi lebih sederhana dibandingkan dengan kelompok hewan bertulang punggung/belakang, juga sistem pencernaan, pernapasan dan peredaran darah lebih sederhana dibandingkan hewan invertebrata.
2. Filum-filum hewan invertebrate
a. Filum frotozoa
Frotozoa merupakan hewan bersel satu yang hidup di dalam air, protozoa memakan tumbuhan dan hewan, frotozoa berkembang biak secara reproduksi unseksual atau vegetatif
dengan cara membelah diri dan dengan cara seksuan / generatif konjugasi.
Filum frotozoa terbagi menjadi beberapa kelas:
1) Kelas hewan berambut getar (cikata)
2) Kelas hewan berkaki semu (rhizopoda)
3) Kelas hewan berspora (sporozoa)
4) Kelas hewan berbulu cambuk (flogellato)
b. Filum forifera (hewan berfori)
Forifera merupakan hewan air dan hidup di laut bentuk tubuh seperti tumbuhan yang melekat pada suatu dasar laut, jadi forifera dapat berpindah tempat dengan bebas, tubuh forifera seperti tabung yang memiliki banyak pori (lubang kecil pada sisinya dan mempunyai rongga di bagian dalam) forifera dapat berkembang biak dengan cara generatif dan vegetatif.
Forifera terdiri dari tiga kelas:
1) Kelas corcorea
Terdiri dari zat kapur (spikula) dan hidup di laut yang dangkal, contoh; seghpha SP, charsarina SP
2) Kelas hexactinelida
Terdiri atas zat kersik dan hidup di laut yang dalam. Contohnya pnerorepa SP
3) Kelas demospangia
Tubuh lunak bahkan tidak mempunyai rangka, contoh spongia SP
c. Filum coelentrata (hewan berongga)
Coelentrata berasal dari kata coilos (berongga) dan entron (usus) coelentrata mempunyai dua macam bentuk yakni bentuk pasif yang menempel pada suatu dasar dan tidak berpindah.
Coelentrata terdiri dari 3 kelas;
1) Kelas anthozoa
2) Kelas hydrozoa
3) Kelas scyphozoan
d. Filum platyhelminthes (cacing pipih)
Kata platyhelminthes berasal dari bahasa Yunani, kata plays (pipih) dan hemlines (cacing). Platyhelminthes adalah yang mempunyai pipih. Hewan golongan ini mempunyai tubuh
simetris bilateral, (kedua sisi sama), tubuh lunak dan tidak bersegmen (ruas) tetapi tidak mempunyai peredaran darah.
Platyhelminthes terbagi ke dalam tiga kelas yaitu:
1) Kelas turbellaria (cacing berambut getar)
2) Kelas trematoda (cacing isap)
3) Kelas cestroda (cacing pita)
e. Filum Mollusca (hewan lunak)
Sesuai dengan namanya, hewan lunak mempunyai tubuh lunak yang dilindungi oleh cangkang dari bahan kalsium (kapur) mollusca bersifat hermoporit, mempunyai sistem pencernaan, sistem pernapasan, dan sistem pengeluaran
Mollusca dibedakan menjadi 4 kelas;
1) Kelas lamilli brancuiata (golongan karang dan tiram)
2) Kelas gastropoda (golongan siput)
3) Kelas cephalopoda (golongan cumi-cumi)
4) Kelas amphineura
f. Filum enchinodermata (hewan berkulit duri)
Kata di atas berasal dari bahasa Yunani echimos (landak) dan derma (kulit) semua hewan yang termasuk filum echinodermata biasanya hidup di laut, bentuk tubuhnya simetris radial (sisi tubuh melingkar sama). Mempunyai sistem ameudakral (sistem pompa air). Rangka dalam berkapur dan memiliki banyak duri yang menonjol. Daya generasinya amat besar.
Filum enchinodermata terdiri dari 5 kelas yaitu:
1) Kelas bintang laut (asteroidal)
2) Kelas landak laut (echinoidal)
3) Kelas bintang laut (opiuroidal)
4) Kelas lilin laut (crinoidal)
5) Kelas teripong (holothuroidae)
g. Filum antropoda
Filum ini mempunyai Jumlah species yang paling besar dibandingkan filum-filum lain. Tubuh dan kaki beruasa-ruas dan simetris bilateral, rangka luar mengandung zat kimia. Antropoda mempunyai peredaran darah, tetapi darahnya tidak berwarna, pertumbuhannya lama mengalami metamorfosis (perubahan bentuk).
Filum antropoda terdiri atas:
1) Kelas serangga (insecta)
2) Kelas laba-laba (arachoidae)
3) Kelas udang-udangan (erustacea)
4) Kelas lipan (mynapoda)

3. Sistem Pencernaan Pada Hewan Invertebrata
a. Sistem pencernaan pada hewan protozoa
Misalnya pada amoeba merupakan hewan bersel satu segala aktivitas hidupnya terjadi di dalam sel itu sendiri. Demikian juga pencernaan makanan terjadi di dalam sel, disebut pencernaan indra sel.
Pada waktu amoeba mendapatkan makanan segera amoeba membentuk kaki semu yang mengarah kepada makanan selanjutnya dikelilingi kaki semu kemudian makanan tersebut dibawa ke protoplasma. Dalam protoplasma yang mengandung makanan yang menghasilkan enzim pencernaan. Dalam rongga makanan tersebut terjadi pencernaan makanan. Makanan yang telah dicerna yang berupa sari makanan diserap dari sisa-sisa makanan dan dikeluarkan dari dalam tubuh.
b. Sistem pencernaan pada golongan hermes
Misalnya pada cacing tanah mempunyai saluran pencernaan yang terdiri atas mulut, kerongkongan, tembolok, empedal, usus dan anus. Bagian depan kerongkongan agak membesar disebut paring yang berfungsi untuk mengisap makanan dari mulut dan membasahinya dengan lendir. Makanan cacing tanah berupa humus yang terdapat di tanah yang bersifat asam, dikelilingi kerongkongan terhadap tiga pasang kelenjar yang menghasilkan zat kapur yang dapat menetralkan sifat asam makanannya.
c. Sistem pencernaan pada hewan insecta
Serangga misalnya belalang mempunyai tembolok berfungsi untuk menyimpan makanan sementara di sebelah bawah tembolok terdapat kelenjar ludah yang menghasilkan ludah. Ludah tersebut dialirkan melalui saluran induk ke dalam rongga mulut. Dari tembolok makanan masuk ke dalam empedal dan dalam empedal makanan dihancurkan, selanjutnya makanan diteruskan ke dalam lambung. Di bagian depan lambung terdapat enam pasang usus buntu yang berfungsi sebagai kelenjar pencernaan. Makanan yang tidak dicerna diserap di dalam lambung. Sisa-sisa makanan dari usus melalui peletum dikeluarkan melalui anus.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
- Hewan vertebrata yaitu hewan yang memiliki tulang belakang yang struktur tubuh yang lebih sempurna dari pada invertebrata. Vertebrata memiliki tali yang mirip sum-sum tempat berkumpulnya sel-sel saraf dan menjadi perpanjangan kumpulan saraf dari otak
- Hewan invertebrata yaitu hewan yang tidak memiliki tulang belakang serta memiliki struktur morfologi dan anatomi lebih sederhana dibandingkan dengan kelompok hewan bertulang belakang/pinggang.

B. Saran
- Bagi kita dan generasi akan datang sudah sepatutnya untuk memelihara menjaga dan melestarikan kenanekaragaman hewan yang terdapat di Negara kita dan khususnya di lingkungan kita.
- Kepada para pembaca kalau ingin lebih mengetahui tentang bahasan ini bisa membaca buku atau majalah-majalah yang memuat tentang keanekaragaman hewan

DAFTAR PUSTAKA

Soedjono, dkk. 1996. Biologi SMU II. PT. Multi Adiwitata, Banding
Wahono, Lili, dkk., 1994. Biologi SLTP I. Banding; PT. Sarana Panca Karya
Rustam, Nuryani dan Otang Hidayat, 1994, Biologi SLTP II. Jakarta; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan




BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
      
Keanekaragaman hayati merupakan beraneka macam makhluk hidup di bumi ini . Keanekaragaman hayati dapat terjadi pada berbagai tingkat kehidupan, mulai dari organisme tingkat rendah sampai organisme tingkat tinggi. Misalnya dari mahluk bersel satu hingga mahluk bersel banyak dan tingkat organisasi kehidupan individu sampai tingkat interaksi kompleks, misalnya dari spesies sampai ekosistem. Begitu banyak macam keanekaragaman hayati yang ada, seperti di Kalimantan Tengah yang termasuk mempunyai berbagai macam keanekaragaman hayati. Perlu kita ketahui di Kalimantan Tengah ini banyak keanekargaman hayati yang belum kita ketahui seluk-beluk dan asal mulanya. Di dalam makalah ini akan dijelaskan dengan rinci tentang salah satu keanekaragaman hayati yang ada di Kalimantan Tengah ini yaitu burung Tingang/Enggang Gading.

B. MASALAH
           
Masalah yang di bahas dalam makalah ini yaitu:
  • Bagaimana bentuk dan postur tubuh dari Tingang Gading?
  • Bagaimana perilaku, makanan dan suara dari burung tersebut?
  • Berapa banyak spesies burung Tingang tersebut?
  • Apa saja peranan burung Tingang Gading tersebut?
  • Bagaimana nilai etika dan estetika burung Tingang Gading bagi Kalimantan Tengah? 
C. TUJUAN
 Makalah ini bertujuan agar bisa mengetahui bagaimana cara melestarikan keanekaragaman hayati, memanfaatkan sumber daya genetik secara berkelanjutan dan memastikan pembagian keuntungan secara adil dan merata dalam  pemanfaatan tersebut.

D. MANFAAT
Manfaat dari pembuatan makalah ini yaitu untuk memahami dan mengetahui tentang keanekaragaman hayati terutama yang ada di sekitar kita dengan pendekatan klasifikasi dan mengenal manfaat pengetahuan keanekaragaman tersebut.

E. METODE PENULISAN
Metode penulisan ini adalah metode yang melakukan penyimakan secara cermat, terarah, dan teliti terhadap sumber data primer yaitu berupa buku dalam rangka memperoleh data yang diinginkan, dan terhadap sumber data sekunder sasarannya berupa artikel di internet.
Hasil penyimakan terhadap sumber data primer dan sumber data sekunder tersebut kemudian ditampung dan dicatat untuk digunakan dalam penyusunan makalah ini sesuai dengan maksud dan tujuan yang ingin dicapai.



BAB II
PEMBAHASAN

A. Burung Tingang/Enggang Gading
      
 Burung ini dikenal oleh masyarakat asli di Kalimantan Tengah terutama suku dayak sebagai burung yang memiliki keelokan dan keindahan. Pada umumnya burung ini menjadikan inspirasi dari beberapa gerakan atau nama tarian dari masyarakat dayak di Kalimanatan Tengah.
            Burung Tingang/Enggang Gading (bahasa Inggris: Hornbill) adalah sejenis burung yang mempunyai paruh berbentuk tanduk lembu tetapi tanpa lingkaran, kadang kala dengan kask pada bagian atas mandibel. Biasanya paruhnya itu berwarna garang. Nama sainsnya adalah “Buceros” sesuai dengan bentuk paruhnya, dan berarti “tanduk lembu” dalam bahasa Yunani.
Dalam klasifikasi ilmiah, burung Tingang Gading ini merupakan sekelompok burung berparuh tanduk yang masuk dalam keluarga Bucerotidae. Ada sekitar 57 spesies dalam keluarga burung ini yang 10 di antaranya endemik Afrika, sebagian lagi endemik Asia, dan sisanya tersebar di wilayah lain.
Burung Tingang Gading dicirikan oleh ukuran tubuh yang besar, kurang lebih dua kali ayam kampung dan memiliki paruh yang sangat besar menyerupai tanduk sehingga dinamakan hornbill, yang berarti ‘paruh tanduk’. Dari kejauhan, burung ini dapat dikenali melalui suara yang parau lantang. Burung dengan ukuran tubuh yang sangat besar ini memiliki suara yang keras serta beberapa jenisnya memiliki warna tubuh yang mencolok,  dan burung ini merupakan burung yang sangat jarang dijumpai. Kelompok burung Tingang (Bucerotidae) mempunyai paruh besar dan kokoh tetapi ringan serta bersifat arboreal.

B. Klasifikasi & Deskripsi Burung Tingang Gading
Klasifikasi Ilmiah Burung Enggang Gading adalah sebagai berikut:
Kerajaan: Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Coraciiformes
Famili : Bucerotidae
Genus : Buceros
Spesies : Buceros vigil Forster
Burung tinggang gading disebut demikian karena di antara ekornya yang panjang terselip semacam dua tangkai gading dengan panjang sekitar 50 sentimeter. Burung berukuran besar ini bernama latin Buceros vigil.Tingang gading memang termasuk burung raksasa yang bisa terbang.
Dalam identifikasi ukuran, rata-rata panjang tubuhnya antara 60 – 160 cm, ditambah dengan ekor 50 sentimeter. Walau besar, Tingang punya bobot tubuh yang ringan antara 100 gram – 8 kg. Umumnya burung jantan memiliki ukuran tubuh lebih besar dari burung betina. Jenis kelamin Tingang yang telah dewasa dapat diketahui berdasarkan perbedaan warna balung atau cula, warna sayap, paruh dan mata. Diantara Burung Tingang/Enggang lainnya, Tingang gading adalah burung yang ukurannya terbesar dari Tingang lainnya, kepalanya dan paruhnya besar, tebal dan kokoh dengan tanduk yang menutup bagian dahinya. Orang mancanegara menyebutnya ”helmeted hornbill’ atau ”ivory hornbill” karena memang kekhasannya adalah bagian atas kepalanya yang dilingkupi kulit mirip helm. ”Helm” ini berwarna merah menyala sampai ke bagian leher, menyerupai jengger ayam. Pola warna bulu-bulunya biasanya varian hitam dan coklat tua ( Bulu berwarna coklat, hitam, putih, atau hitam dan putih). Itu pun masih dihias pola lurik atau garis putih, kuning, atau krem pada bulu di area tubuh bawah, sayap, dan ekor.
Tingang betina memiliki warna bulu yang lebih unik lagi, yakni biru sampai biru pucat. Paruh berwarna merah atau kuning, sangat besar dan melengkung dan sebagian besar burung ini mempunyai cula. Kulit dan bulu di sekitar tenggorokan berwarna terang. Sayap kuat, ekor panjang, kaki pendek dan jari-jari kaki besar.

C. Makanan, Prilaku dan Suara
  1. Makanan
               Burung Tingang Gading bukanlah burung “vegetarian” (herbivora). Ia suka menyantap berbagai menu. Dalam daftar makanan hariannya terdiri dari aneka buah            
( terutama buah beringin/ara dan palem ), serangga, reptil dan burung kecil bahkan tupai.
           Walaupun burung Tingang Gading bukanlah pemburu yang handal, tetapi Tingang cukup mahir mengejar mangsanya. Buah adalah salah satu favorit bagi burung Tingang, namun daging ular, kadal, bahkan hewan pengerat akan dilahapnya.

             Ada satu yang unik dalam “pertempuran” Tingang dengan ular. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa saat memangsa ular berbisa, Tingang cukup hati-hati. Kemampuan memangsa ini dikembangkannya menjadi teknik makan yang unik. Saat mematuk ular berbisa, ia menempatkan kepala ular di dekat ujung paruhnya. Ini untuk menjauhkan patukan ular ke kepala atau bagian tubuh lainnya. Setelah menempatkan mangsa sedemikian rupa, ia akan mulai melakukan putaran paruh agar bagian atas ular berada di bawah (terbalik). Lantas dengan perhitungan dan kehati-hatian, ia mematuki kepala dan tubuh ular sampai hancur dan daging segar pun segera dilahap.
  1. Perilaku Unik
               Tingang Gading suka bersarang di lubang-lubang pohon besar. Namun berbeda dengan kebanyakan burung lainnya, dalam masa mengerami, tingang gading betina akan mengurung diri selama masa mengerami dan tingang gading jantan akan setia melayani istrinya, karena tingang dikenal sebagai burung yang setia pada pasangan (monogami).
                  Saat musim bertelur, tingang gading betina akan bertelur di lubang-lubang pohon sebagai sarang. Biasanya ia akan menempatkan 1 – 5 telur dalam satu kali musim bertelur. Setelah semua telur ditempatkan sedemikian rupa, maka tingang gading betina akan menutup lubang pohon dengan lumpur dan meterial lain. Ia kemudian mengurung diri di lubang gelap yang sempit sambil mengerami telurnya. Tingang gading jantan akan membantu menutup lubang dengan membiarkan sedikit celah sempit. Celah ini digunakan jantan untuk menyuplai makanan bagi tingang gading betinanya.
           Pada beberapa spesiesnya, “beton” penutup lubang akan dibiarkan tertutup selama 100 hari (± 3 bulan). Setelah masa mengerami selesai dan anak-anak tingang telah lahir, tingang gading betina bersama bayi-bayinya akan memecah tembok pelindung itu dan terbang keluar.

                  Karena sistem perlindungan seperti ini, sarang-sarang Tingang Gading cenderung terlindungi dari kemungkinan serangan predator dan hewan “pemburu” telur.
  1. Suara
               Suara enggang gading cukup keras/lantang dan bergema jauh saat musim kawin tiba. Mereka juga senang berkomunikasi antar satu kelompok dengan kelompok lain dari habitat yang berbeda dengan mengeluarkan suara melengking tinggi.
D. Habitat dan Persebaran.                                                               
    Burung tingang gading menyukai habitat hutan yang lebat dengan banyak pohon buah-buahan. Burung tingang gading bertengger di pohon yang tinggi dengan ketinggian ±1500 mdl. Burung tingang juga dapat hidup rukun dengan primata di sebuah pohon yang berbuah.
Burung Tingang Gading persebarannya berada di hutan hujan tropis di Kalimantan dan Sumatra serta Malaya Peninsula.

E. Peranan
Burung Tingang memiliki beberapa peranan dalam ekosistem.  Menurut (M. Yusuf. 2008) dalam (Departemen Kehutanan, 1993) hasil penelitian menunjukkan satwa ini merupakan pemakan buah dan sangat menggemari buah Ara (Ficus sp.) dimana buah ini merupakan pohon kunci bagi kelestarian satwa liar. Kelompok burung Tingang (Bucerotidae) yang tergolong satwa pemakan buah, berperan dalam penyebaran biji di hutan. Biji-biji tersebut tersebar melalui kotorannya karena sistem pencernaan Tingang tidak merusak biji buah. Selain itu, pergerakan Tingang keluar dari pohon penghasil buah membantu menyebarkan biji dan meregenerasi hutan secara alamiah. Binatang ini juga sebagai navigator bagi orangutan dalam mencari makan.

F. Ancaman dan Status Konservasi
Tingang Gading memang burung yang istimewa. Tercatat sebagai keturunan burung yang hidup sejak ribuan tahun lalu. Sejak lama Tingang memang sudah menjadi salah satu burung yang “dipuja” dibanyak kebudayaan kuno, termasuk suku Dayak di Kalimantan. Tingang pada beberapa kebudayaan kuno menjadi bagian ritual religi yang melambangkan kebebasan, kesucian dan loyalitas. Kini ia termasuk dalam daftar hewan yang dilindungi karena terancam punah.
Pada masyarakat Dayak Kenyah-Kayan, burung ini biasa diburu untuk diambil paruhnya sebagai hiasan atau cincin kawin bagi pasangan yang menikah. Gading yang tersembul di ekor juga menjadi sasaran. Tidak ketinggalan juga dagingnya yang konon enak dimakan serta bulunya yang indah untuk ornamen. Tak heran populasi burung ini kian hari kian menyusut.
Seksi Sub balai Konservasi Sahat, S. mengatakan bahwa Tingang Gading (Buceros vigil) merupakan salah satu spesies burung endemik yang habitatnya di Kalimantan dan Sumatera. Keberadaan hewan lindung ini sudah amat jarang sehingga dilindungi, karena perkembang biakannya sangat lambat.
Sesuai dengan keputusan Menteri Pertanian dan Kehutanan Burung Tingang Gading ini menjadi satwa lindung. Sehingga tidak seorang pun boleh membunuh, menangkap atau memelihara burung yang tergolong satwa lindung ini, dengan ancaman hukuman kurungan dan denda ratusan juta rupiah bagi yang melanggar. Selain pengawasan peredaran dan konservasi, melestarikan hutan dan lingkungan juga merupakan upaya konservasi. Karena burung yang sangat setia dengan pasangannya ini menyenangi habitat yang banyak hutan lebat dan banyak pohon buah buahan. Burung yang di Indonesia hanya ada di Kalimantan, dan Sumatera ini kian lama kian menyusut sebab banyak diburu oleh kolektor hewan langka.
            Burung Tingang Gading termasuk hewan yang dilindungi berdasarkan Peraturan Perlindungan Binatang Liar No. 226 tahun 1931, UU No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang dipertegas dengan SK Menteri Kehutanan No. 301/Kpts-II/1991 tentang Inventarisasi Satwa yang dilindungi UU dan No. 882/Kpts-II/1992 tentang Penetapan Tambahan Beberapa Jenis Satwa yang dilindungi UU. Departemen kehutanan mengungkapkan burung Tingang Gading tergolong spesies yang mendekati punah dan atau langka.

G. Nilai Etika dan Estetika
Dalam budaya Kalimantan, burung enggang (tingang) merupakan simbol “Alam Atas” yaitu alam kedewataan yang bersifat “maskulin”. Di Borneo, burung tingang sakti dipakai sebagai lambang daerah atau simbol organisasi seperti di Lambang Negeri Sarawak, Kalimantan Tengah, Simbol Universitas Lambung Mangkurat dan sebagainya. Burung Tingang diwujudkan dalam bentuk ukiran pada budaya Dayak, sedangkan dalam budaya Banjar, burung tingang diukir dalam bentuk tersamar (didistilir) karena budaya Banjar tumbuh di bawah pengaruh  agama Islam yang melarang adanya ukiran makhluk bernyawa.
Di kalangan masyarakat etnik Dayak eksistensi Tingang Gading lebih merasuk ke relung waktu dan jiwa lebih dalam lagi. Mereka sudah menganggap Tingang Gading sebagai sumber spirit. Oleh karena itu dalam sudut mitologi Tingang Gading ini mereka ibaratkan dewa, atau sumber kepercayaan.. Nilai universal paling menonjol dari Tingang Gading adalah cinta kasih, rasa sayang, dan kesetiaan.
Melihat kekayaan makna biologis, morfologis hingga filosofis dan religiusnya Tingang Gading wajar banyak dipilih sebagai symbol atau maskot daerah dan instansi bahkan Tingang  Gading juga dijadikan inspirasi bagi seniman untuk membuat puisi. 
 BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Burung Tingang Gading adalah salah satu spesies keanekaragaman hayati yang ada di daerah Kalimantan Tengah. Burung Tingang Gading bagi masyarakat asli Kalimantan Tengah terutama suku Dayak adalah burung mempunyai keelokan dan keindahan. Burung Tingang/Enggang Gading ini mempunyai ciri yang khas dan unik dalam perilaku, suara, tempat tinggal dan ciri-ciri fisiknya serta sangat berbeda dari burung-burung yang lainnya dengan mempunyai paruh berbentuk tanduk lembu tetapi tanpa lingkaran, kadang kala dengan kask pada bagian atas mandibel dan paruhnya itu berwarna garang.
Burung ini berperan sebagai pohon kunci bagi kelestarian satwa liar. Kelompok burung Tingang (Bucerotidae) yang tergolong satwa pemakan buah, berperan dalam penyebaran biji di hutan dan binatang ini juga sebagai navigator bagi orangutan dalam mencari makan. Burung Tingang Gading sudah termasuk dalam daftar hewan yang dilindungi karena terancam punah.
B. Saran
       Begitu banyak keanekaragaman yang ada di sekitar kita, tanpa kita ketahui keanekaragaman itu begitu indah. Seperti burung Tingang Gading ini yang mempunyai keindahan tersendiri. Sebelum keanekaragaman tersebut punah sebaiknya kita melestarikan dan memanfaatkan untuk saling menguntungkan antara kita dengan keanekargaman hayati tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Nurhayati, Nunung.2009.Biologi Bilingual (kelas X SMA). Bandung: Yrama Widya.
Eddyyayorin.2008. Burung Tingang/Rangkong Sebagai Spesies Panji-Panji Alternatif Di SM Sungai Lamandau.Web: A Community for Inspiring Conservation.
http://www.id.wikipedia.org/enggang-rangkong.htm
Sulistyowati,Endah.2009. How Biology Make U Enjoy.Web:WordPress.com
Romansa.2009.Kepak Sayap Burung Tingang.Web:LiputanKITA.com
Rudy,Gunawan.2008.Panglima Burung.Web:WordPress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar