Senin, 06 Juli 2026

argumentasi seputar perselingkuhan

Berikut adalah bedah argumentasi seputar perselingkuhan dari berbagai perspektif:

1. Argumentasi / Rasionalisasi yang Sering Digunakan Pelaku

Orang yang berselingkuh sering kali menggunakan serangkaian alasan psikologis untuk membenarkan tindakan mereka, baik kepada diri sendiri maupun kepada pasangannya. Beberapa argumen yang paling umum meliputi:

  • Kebutuhan yang Tidak Terpenuhi: "Pasangan saya tidak lagi memenuhi kebutuhan emosional/seksual saya." Pelaku berargumen bahwa mereka dipaksa mencari di luar karena merasa diabaikan, kesepian, atau tidak dihargai di dalam hubungan.
  • Pemisahan antara Cinta dan Seks: "Saya tetap mencintai pasangan saya, ini hanya fisik dan tidak berarti apa-apa." Pelaku mencoba memisahkan tindakan fisik dari komitmen emosional, dengan argumen bahwa selama mereka tidak jatuh cinta pada selingkuhan, mereka tidak benar-benar "mengkhianati" pasangannya.
  • Faktor Situasional dan Kelemahan Sesaat: "Saya sedang mabuk, stres berat, atau ada kesempatan dan saya khilaf." Argumen ini memposisikan perselingkuhan sebagai "kesalahan" atau "kecelakaan", bukan keputusan yang direncanakan.
  • Pencarian Jati Diri (Konsep Esther Perel): Psikoterapis Esther Perel mencatat bahwa banyak orang berselingkuh bukan karena mereka tidak mencintai pasangannya, tetapi karena mereka merasa kehilangan diri mereka sendiri. Mereka mencari versi lain dari diri mereka yang lebih muda, lebih bebas, atau lebih bersemangat melalui orang baru.
  • Pembalasan Dendam: "Pasangan saya pernah menyakiti saya / berselingkuh lebih dulu." Perselingkuhan digunakan sebagai alat untuk menghukum pasangan atau menyeimbangkan "skor" dalam hubungan.

2. Sanggahan terhadap Argumentasi Tersebut (Mengapa Tidak Dapat Dibenarkan)

Meskipun alasan-alasan di atas mungkin menjelaskan mengapa seseorang berselingkuh, argumen-argumen tersebut gagal secara etis dan moral untuk membenarkan tindakan tersebut. Berikut adalah sanggahannya:

  • Selingkuh adalah Pilihan, Bukan Keadaan: Jika kebutuhan dalam hubungan tidak terpenuhi, seseorang memiliki pilihan lain yang etis: berkomunikasi, pergi ke konselor pernikahan, atau mengakhiri hubungan secara baik-baik. Selingkuh adalah pilihan untuk mendapatkan kebutuhan tanpa harus menghadapi konflik atau keberanian untuk berkomitmen/berpisah.
  • Pelanggaran Kesepakatan (Konsensus): Hubungan monogami dibangun di atas kesepakatan eksplisit maupun implisit. Perselingkuhan adalah pelanggaran terhadap kepercayaan dan kontrak hubungan tersebut. Tidak peduli seberapa "kosong" sebuah hubungan, berbohong dan mengkhianati kesepakatan adalah tindakan manipulatif.
  • Menghindari Tanggung Jawab: Menggunakan alasan "khilaf" atau "mabuk" adalah bentuk infantilisme (kekanak-kanakan). Orang dewasa yang sehat mampu mengendalikan impuls dan memikirkan konsekuensi jangka panjang dari tindakan mereka.
  • *Ilusi "Tidak Berarti Apa-apa": Bagi banyak orang, seks dan keintiman fisik sangat terikat dengan emosi. Mengatakan "itu tidak berarti apa-apa" sering kali merupakan mekanisme pertahanan diri (denial) pelaku untuk mengurangi rasa bersalah mereka.

3. Dampak Psikologis Perselingkuhan

Argumen terkuat melawan perselingkuhan terletak pada dampak destruktifnya. Perselingkuhan bukan sekadar "kesalahan" biasa, melainkan sebuah Trauma Pengkhianatan (Betrayal Trauma).

  • Kehancuran Realitas: Pasangan yang diselingkuhi sering kali mengalami guncangan psikologis berat. Mereka tidak hanya kehilangan kepercayaan pada pasangannya, tetapi juga mempertanyakan realitas masa lalu mereka ("Apakah semua kenangan kita bohong?").
  • Dampak Kesehatan Mental: Korban perselingkuhan sering mengalami kecemasan parah, depresi, gangguan stres pascatrauma (PTSD), dan penurunan harga diri yang drastis.
  • Dampak pada Anak dan Keluarga: Jika ada anak yang terlibat, perselingkuhan yang berujung pada perceraian atau lingkungan rumah tangga yang toxic dapat memberikan dampak psikologis jangka panjang bagi perkembangan anak.

4. Perspektif Sosiologis dan Modern

Di era modern, muncul juga argumen yang menantang konsep monogami tradisional.

  • Monogami Seumur Hidup Tidak Alami: Beberapa orang berargumen bahwa manusia secara biologis tidak dirancang untuk monogami seumur hidup, dan tingkat perceraian yang tinggi adalah bukti bahwa institusi monogami tradisional sedang gagal.
  • Solusi Etis: Argumen ini tidak membenarkan perselingkuhan, melainkan mendorong pada Ethical Non-Monogamy (ENM) atau Polyamory. Dalam hubungan terbuka atau poliamori, semua pihak tahu dan menyetujui (konsensual) bahwa mereka boleh memiliki pasangan lebih dari satu. Kuncinya adalah kejujuran dan transparansi, bukan pengkhianatan.

Kesimpulan

Secara psikologis, perselingkuhan dapat "dipahami" sebagai gejala dari masalah yang lebih dalam dalam sebuah hubungan atau krisis identitas pribadi. Namun, secara etika dan moral, perselingkuhan tidak dapat dibenarkan.

Cara paling sehat dan berintegritas untuk menangani hubungan yang bermasalah bukanlah dengan mencari pelarian di luar, melainkan dengan:

  1. Berani melakukan komunikasi yang jujur dan rentan dengan pasangan.
  2. Mencari bantuan profesional (konselor hubungan).
  3. Jika hubungan sudah tidak bisa dipertahankan, memiliki keberanian moral untuk mengakhirinya secara terhormat sebelum memulai hubungan dengan orang lain.

 


KEYAKINAN TERHADAP KARMA DAN PENILAIAN MORAL: MENGAPA BANYAK ORANG PERCAYA SETIAP PERBUATAN AKAN KEMBALI?

 


Pernahkah Anda mendengar ungkapan, "Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai?" Kalimat sederhana ini hidup dalam banyak budaya dan sering dikaitkan dengan konsep karma. Bagi sebagian orang, karma bukan sekadar kepercayaan agama atau filosofi, tetapi juga cara memahami hubungan antara tindakan dan akibatnya.

Dalam kajian psikologi, para peneliti tertarik bukan untuk membuktikan apakah karma benar-benar bekerja sebagai hukum alam, melainkan untuk memahami bagaimana kepercayaan terhadap karma memengaruhi cara orang berpikir, mengambil keputusan, dan menilai perilaku moral.

Orang yang meyakini adanya karma sering kali percaya bahwa setiap tindakan, baik maupun buruk, pada akhirnya akan membawa konsekuensi. Keyakinan ini dapat menjadi dorongan untuk bertindak lebih jujur, lebih berhati-hati, dan lebih bertanggung jawab.

Misalnya, ketika seseorang menemukan dompet berisi uang, ia memiliki beberapa pilihan. Ia bisa mengambil uang itu, mengembalikannya, atau mengabaikannya. Orang yang percaya pada karma mungkin lebih terdorong untuk mengembalikan dompet tersebut karena meyakini bahwa berbuat baik pada akhirnya akan menghasilkan kebaikan pula. Sebaliknya, melakukan kecurangan dianggap berpotensi membawa akibat yang tidak diinginkan di kemudian hari.

Namun, bukan berarti hanya orang yang percaya pada karma yang berbuat baik. Banyak orang bertindak jujur karena nilai moral, empati, pendidikan, atau keyakinan agama mereka. Kepercayaan terhadap karma hanyalah salah satu faktor yang dapat memengaruhi perilaku.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat seseorang yang berbuat tidak adil lalu berkata, "Suatu saat dia akan menerima akibatnya." Ungkapan ini menunjukkan bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk melihat adanya keadilan. Ketika keadilan tidak langsung terlihat, sebagian orang merasa lebih tenang dengan keyakinan bahwa pada akhirnya setiap tindakan akan memiliki konsekuensi.

Dari sudut pandang psikologi, keyakinan seperti ini juga dapat membantu seseorang menghadapi rasa kecewa atau ketidakadilan. Daripada terus menyimpan dendam, mereka memilih melepaskan kemarahan dan percaya bahwa hidup memiliki caranya sendiri dalam menghadirkan akibat dari setiap pilihan.

Namun, keyakinan terhadap karma juga memiliki sisi yang perlu disikapi dengan bijaksana. Jika dipahami secara berlebihan, seseorang bisa terburu-buru menganggap bahwa setiap musibah yang dialami orang lain adalah "balasan" atas perbuatannya. Padahal kenyataannya, kehidupan jauh lebih kompleks. Sakit, kehilangan pekerjaan, atau kegagalan tidak selalu terjadi karena seseorang pernah melakukan kesalahan moral.

Karena itu, para ahli mengingatkan agar konsep karma tidak digunakan untuk menghakimi orang lain. Kita tidak pernah mengetahui seluruh perjalanan hidup seseorang. Menyimpulkan bahwa setiap penderitaan adalah hukuman dapat membuat kita kehilangan empati.

Yang lebih bermanfaat adalah menggunakan keyakinan tersebut sebagai cermin untuk diri sendiri. Alih-alih sibuk menunggu orang lain menerima akibat dari tindakannya, kita dapat bertanya kepada diri sendiri, "Apakah keputusan yang kuambil hari ini sudah sesuai dengan nilai yang kupegang?"

Dalam hubungan, misalnya, kejujuran membangun kepercayaan. Kebohongan merusaknya. Ini adalah konsekuensi yang dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang berbohong kepada pasangannya, kepercayaan bisa hilang. Ketika seseorang berlaku setia dan terbuka, hubungan cenderung memiliki fondasi yang lebih kuat.

Hal yang sama berlaku di tempat kerja. Orang yang bertanggung jawab biasanya lebih mudah mendapatkan kepercayaan. Sebaliknya, kebiasaan mengingkari janji dapat membuat reputasi seseorang menurun. Banyak konsekuensi dalam hidup muncul bukan karena kekuatan gaib, melainkan karena tindakan kita memengaruhi cara orang lain merespons kita.

Pada akhirnya, terlepas dari apakah seseorang percaya pada konsep karma atau tidak, ada satu pelajaran yang dapat dipetik: setiap pilihan membawa akibat.

Perkataan yang kita ucapkan dapat melukai atau menguatkan.

Kejujuran dapat membangun kepercayaan.

Pengkhianatan dapat menghancurkannya.

Kebaikan dapat menginspirasi orang lain untuk berbuat baik.

Karena itu, daripada sibuk menghitung kesalahan orang lain, lebih bijaksana jika kita memulai dari diri sendiri. Jadikan setiap keputusan sebagai kesempatan untuk menunjukkan integritas, empati, dan tanggung jawab.

Sebab dunia mungkin tidak selalu memberikan balasan secara instan. Namun, tindakan kita hari ini akan membentuk karakter, reputasi, hubungan, dan arah kehidupan kita di masa depan.

Dan itulah alasan mengapa banyak orang percaya bahwa hidup akan selalu mengajarkan sesuatu dari setiap pilihan yang kita buat.

KENAPA KARMA PERSELINGKUHAN SERING TERASA SANGAT MENYAKITKAN?


Pernahkah Anda melihat seseorang yang rela mempertaruhkan keluarga, kepercayaan, bahkan masa depannya demi sebuah perselingkuhan? Pada awalnya, semuanya mungkin tampak berjalan mulus. Hubungan rahasia terasa penuh gairah, perhatian datang tanpa henti, dan kehidupan seolah menjadi lebih berwarna.

Namun waktu memiliki caranya sendiri untuk mengungkap setiap pilihan yang kita buat.

Banyak orang menyebut akibat dari perselingkuhan sebagai "karma". Terlepas dari bagaimana setiap orang memaknai istilah tersebut, ada satu hal yang sering terjadi dalam kehidupan: setiap tindakan membawa konsekuensi. Pilihan yang kita ambil hari ini dapat membentuk kehidupan kita di kemudian hari.

Perselingkuhan bukan hanya soal hadirnya orang ketiga. Perselingkuhan adalah ketika kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun dipertaruhkan dalam waktu yang singkat. Dan ketika kepercayaan runtuh, yang hancur bukan hanya sebuah hubungan, tetapi juga rasa aman, harapan, dan keyakinan banyak orang.

Pada awal perselingkuhan, semuanya mungkin terlihat menyenangkan.

Ada perhatian yang terasa baru.

Ada pujian yang membuat hati berbunga.

Ada percakapan yang terasa lebih hangat.

Ada perasaan kembali muda dan kembali diinginkan.

Semua itu bisa menciptakan ilusi bahwa hubungan tersebut lebih baik daripada hubungan yang sedang dijalani.

Namun, ilusi memiliki satu kelemahan.

Ia tidak mampu bertahan ketika berhadapan dengan kenyataan.

Hubungan rahasia biasanya hanya memperlihatkan sisi terbaik masing-masing. Tidak ada pembagian tanggung jawab sehari-hari, tidak ada tekanan mengurus rumah tangga, tidak ada masalah keuangan yang harus dihadapi bersama. Karena itulah hubungan itu bisa tampak begitu sempurna.

Tetapi hidup tidak hanya terdiri dari momen-momen indah.

Cepat atau lambat, kenyataan mulai mengetuk pintu.

Rahasia menjadi semakin sulit disimpan.

Kebohongan semakin banyak.

Rasa bersalah mulai muncul.

Kecemasan perlahan mengambil alih.

Seseorang mulai takut setiap kali ponselnya berbunyi.

Takut ketika pasangannya mulai curiga.

Takut ketika anak-anak mulai bertanya.

Takut ketika keluarga mulai mengetahui kenyataan.

Hidup yang tadinya terasa penuh kegembiraan berubah menjadi kehidupan yang dipenuhi kewaspadaan.

Di sinilah banyak orang mulai merasakan konsekuensi dari pilihannya.

Bukan karena hidup sedang membalas dengan cara yang ajaib, melainkan karena setiap keputusan memiliki dampak yang nyata.

Kepercayaan yang hilang sulit dibangun kembali.

Sekali seseorang merasa dikhianati, luka itu bisa bertahan sangat lama.

Bahkan setelah permintaan maaf diucapkan, bayangan pengkhianatan sering kali masih membekas.

Ada pasangan yang memilih bertahan, tetapi membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk kembali percaya.

Ada keluarga yang tidak pernah benar-benar pulih seperti sebelumnya.

Ada anak-anak yang tumbuh dengan luka karena melihat rumah yang dulu terasa aman berubah menjadi penuh pertengkaran.

Dampaknya tidak berhenti di situ.

Pelaku perselingkuhan pun sering menghadapi pergulatan batin yang berat.

Ada yang kehilangan rasa hormat terhadap dirinya sendiri.

Ada yang menyadari bahwa kesenangan sesaat telah mengorbankan begitu banyak hal.

Ada yang akhirnya hidup dengan penyesalan ketika melihat orang-orang yang pernah mereka sakiti memilih pergi.

Ironisnya, hubungan yang lahir dari perselingkuhan juga tidak selalu berakhir bahagia.

Ketika sebuah hubungan dimulai dengan kebohongan, muncul pertanyaan yang sulit dihindari.

"Jika dulu ia bisa mengkhianati pasangannya, apakah suatu hari ia juga bisa mengkhianatiku?"

Keraguan itu bisa menjadi bayangan yang terus mengikuti.

Kepercayaan yang rapuh membuat hubungan baru dipenuhi rasa curiga.

Bukan karena cinta tidak ada, tetapi karena fondasinya sudah retak sejak awal.

Di sinilah banyak orang menyadari bahwa kebahagiaan yang dibangun di atas luka orang lain sering kali sulit memberikan ketenangan yang utuh.

Namun, penting juga untuk diingat bahwa tidak semua orang yang pernah berselingkuh akan mengalami jalan hidup yang sama. Kehidupan setiap orang berbeda, dan kita tidak bisa memastikan bahwa semua orang akan menerima akibat yang identik.

Yang dapat dipastikan adalah, setiap pilihan memiliki konsekuensi. Semakin besar dampak sebuah tindakan terhadap orang lain, semakin besar pula kemungkinan konsekuensi yang harus dihadapi, baik dalam hubungan, keluarga, maupun ketenangan batin.

Karena itu, sebelum mencari kebahagiaan di luar hubungan, ada baiknya seseorang bertanya kepada dirinya sendiri.

Apakah aku sedang mencari solusi, atau hanya pelarian?

Apakah masalah ini bisa diselesaikan dengan komunikasi yang jujur?

Apakah aku siap menerima akibat dari keputusan yang akan kuambil?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering kali mampu mencegah penyesalan yang jauh lebih besar.

Jika sebuah hubungan memang sudah tidak dapat dipertahankan, mengakhirinya dengan jujur dan penuh tanggung jawab adalah pilihan yang lebih menghormati semua pihak daripada memulai hubungan baru melalui pengkhianatan.

Kejujuran mungkin menyakitkan untuk sesaat.

Namun kebohongan yang dipelihara terlalu lama hampir selalu meninggalkan luka yang lebih dalam.

Pada akhirnya, hidup mengajarkan bahwa setiap keputusan membawa hasilnya sendiri.

Kejujuran melahirkan ketenangan.

Kesetiaan membangun kepercayaan.

Tanggung jawab menjaga martabat.

Sebaliknya, pengkhianatan sering kali meninggalkan jejak yang panjang, bukan hanya bagi orang yang disakiti, tetapi juga bagi orang yang melakukannya.

Karena itu, sebelum mengambil satu langkah yang mungkin terlihat indah hari ini, pikirkanlah dampaknya untuk hari esok.

Sebab hubungan yang kokoh tidak dibangun oleh gairah sesaat, melainkan oleh kepercayaan, komitmen, rasa hormat, dan keberanian untuk tetap setia ketika godaan datang.

Itulah pelajaran yang paling berharga: bukan tentang menunggu "karma" datang, melainkan memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, dan pilihan yang bijaksana hari ini dapat menyelamatkan banyak hati dari luka yang tidak perlu di masa depan.

https://youtu.be/6YsiKfRYhWc

Jika tidak dapat Hatinya, Ambil Hikmahnya


Tidak semua orang yang datang dalam hidup kita ditakdirkan untuk tinggal.

Ada yang hadir hanya sebentar, meninggalkan senyum, mengajarkan harapan, lalu pergi tanpa pernah benar-benar menjadi milik kita. Pada saat itu, hati terasa hancur. Kita bertanya-tanya, mengapa harus bertemu jika akhirnya berpisah? Mengapa harus berharap jika akhirnya dikecewakan?

Pertanyaan-pertanyaan itu wajar. Sebab ketika hati terlibat, logika sering kali kehilangan suaranya.

Kita ingin memiliki. Kita ingin mempertahankan. Kita ingin semua berjalan sesuai keinginan. Namun hidup tidak selalu mengikuti rencana yang telah kita susun.

Ada kalanya kita mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh, tetapi perasaan itu tidak berbalas. Ada kalanya hubungan yang telah diperjuangkan bertahun-tahun berakhir tanpa penjelasan yang memuaskan. Ada pula saat kita harus merelakan seseorang yang sebenarnya masih ingin kita peluk.

Rasa sakit itu nyata.

Tidak ada kata-kata yang mampu menghapusnya dalam semalam.

Namun, di balik setiap kehilangan selalu ada pelajaran yang sedang menunggu untuk ditemukan.

Itulah sebabnya, jika tidak dapat hatinya, ambillah hikmahnya.

Karena hikmah adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dirampas oleh siapa pun.

Mungkin orang itu pergi agar kita belajar bahwa cinta tidak bisa dipaksa.

Mungkin ia meninggalkan kita agar kita memahami bahwa harga diri lebih penting daripada terus mengejar seseorang yang tidak lagi ingin berjalan bersama.

Mungkin perpisahan itu mengajarkan bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki.

Sering kali kita terlalu fokus pada apa yang hilang, sampai lupa melihat apa yang sebenarnya sedang kita dapatkan.

Kehilangan seseorang mungkin membuat kita lebih dewasa.

Pengkhianatan mungkin membuat kita lebih bijaksana dalam memilih siapa yang layak dipercaya.

Kegagalan mungkin membuat kita lebih kuat menghadapi tantangan berikutnya.

Semua itu adalah hikmah yang tidak selalu terlihat pada hari pertama.

Kadang-kadang kita baru memahami alasan sebuah peristiwa bertahun-tahun kemudian.

Saat hati masih terluka, kita hanya melihat air mata.

Namun ketika luka mulai sembuh, kita mulai melihat pelajaran.

Tidak sedikit orang yang berkata, "Andai dulu aku tidak mengalami itu, mungkin aku tidak akan menjadi pribadi seperti sekarang."

Kalimat itu lahir bukan karena mereka melupakan rasa sakit, melainkan karena mereka berhasil menemukan makna di baliknya.

Hidup bukan tentang menghindari kehilangan.

Hidup adalah tentang belajar bertumbuh dari setiap kehilangan.

Bayangkan sebuah pohon yang diterpa badai.

Beberapa rantingnya patah.

Daunnya berguguran.

Dari kejauhan, pohon itu tampak rusak.

Namun akar yang kuat tetap bertahan di dalam tanah.

Beberapa waktu kemudian, tumbuh tunas-tunas baru yang bahkan lebih segar daripada sebelumnya.

Begitu pula manusia.

Hati kita mungkin pernah patah.

Kepercayaan kita mungkin pernah dihancurkan.

Harapan kita mungkin pernah runtuh.

Tetapi selama kita tidak kehilangan kemauan untuk bangkit, kehidupan selalu memberi kesempatan untuk tumbuh kembali.

Yang sering membuat seseorang terjebak bukanlah kehilangan itu sendiri, melainkan penolakan untuk menerima kenyataan.

Kita terus bertanya, "Mengapa dia?"

Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah, "Apa yang bisa kupelajari dari semua ini?"

Pertanyaan pertama membuat kita terjebak di masa lalu.

Pertanyaan kedua mendorong kita melangkah ke masa depan.

Jangan biarkan seseorang yang memilih pergi juga membawa pergi masa depanmu.

Jangan biarkan satu kegagalan membuatmu menutup hati untuk semua kemungkinan baik yang masih menunggu.

Karena setiap akhir selalu membuka ruang bagi awal yang baru.

Mungkin hari ini kamu merasa tidak cukup berharga karena ditolak.

Padahal penolakan seseorang tidak pernah menentukan nilai dirimu.

Nilai dirimu tidak bergantung pada siapa yang memilih bertahan atau pergi.

Nilai dirimu terletak pada karakter, ketulusan, usaha, dan keberanianmu untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik.

Belajarlah mengikhlaskan tanpa membenci.

Belajarlah melepaskan tanpa menyimpan dendam.

Belajarlah memaafkan, bukan karena orang lain selalu pantas dimaafkan, tetapi karena hatimu pantas mendapatkan ketenangan.

Memaafkan bukan berarti menganggap apa yang terjadi itu benar.

Memaafkan berarti memilih untuk tidak terus membawa beban yang hanya menyakitimu sendiri.

Saat kamu berhenti mengejar seseorang yang memang bukan untukmu, kamu sedang memberi ruang bagi hal-hal yang lebih baik untuk datang.

Hidup memiliki cara yang unik dalam mempertemukan kita dengan orang-orang.

Ada yang datang membawa kebahagiaan.

Ada yang datang membawa pelajaran.

Keduanya sama-sama berharga.

Karena kebahagiaan membuat kita bersyukur.

Sedangkan pelajaran membuat kita bertumbuh.

Jangan pernah merasa hidupmu gagal hanya karena satu kisah cinta tidak berjalan sesuai harapan.

Sebab hidupmu jauh lebih besar daripada satu bab yang menyedihkan.

Masih ada halaman-halaman baru yang belum ditulis.

Masih ada mimpi yang belum diwujudkan.

Masih ada orang-orang baik yang belum kamu temui.

Masih ada kebahagiaan yang belum sempat kamu rasakan.

Pada akhirnya, setiap pertemuan memiliki tujuan.

Jika seseorang memang ditakdirkan menjadi pasangan hidupmu, jagalah ia dengan penuh syukur.

Namun jika ia hanya ditakdirkan menjadi guru dalam perjalanan hidupmu, terimalah pelajarannya dengan lapang dada.

Karena tidak semua orang yang datang harus dimiliki.

Sebagian datang untuk mengubah cara kita berpikir.

Sebagian datang untuk menguatkan hati.

Sebagian datang agar kita belajar menghargai diri sendiri.

Dan ketika suatu hari nanti kamu menoleh ke belakang, mungkin kamu akan tersenyum sambil berkata, "Aku memang tidak mendapatkan hatinya. Tetapi aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: kebijaksanaan, kedewasaan, dan kekuatan untuk mencintai hidupku sendiri."

Jadi, jika hari ini kamu kehilangan seseorang yang sangat kamu cintai, jangan biarkan kehilangan itu merampas harapanmu.

Karena selama kamu masih mampu mengambil hikmah dari setiap peristiwa, tidak ada pengalaman yang benar-benar sia-sia.

Jika tidak dapat hatinya, ambillah hikmahnya.

Sebab hati bisa pergi, tetapi hikmah akan tinggal, membimbing setiap langkahmu menuju kehidupan yang lebih bijaksana, lebih tenang, dan lebih bermakna.


https://youtu.be/HkKMB1tN7UA

SELINGKUH ITU ISTANA PASIR—INDAH, TAPI MUDAH HANCUR

 

SELINGKUH ITU ISTANA PASIR—INDAH, TAPI MUDAH HANCUR

Bayangkan seorang anak yang membangun istana pasir di tepi pantai. Dari kejauhan, istana itu tampak megah. Menara-menara berdiri kokoh, dindingnya rapi, bahkan dihiasi kerang-kerang yang indah. Siapa pun yang melihatnya mungkin akan kagum.

Namun, hanya dibutuhkan satu ombak untuk menghancurkan semuanya.

Begitulah perselingkuhan.

Dari luar, ia sering terlihat indah. Ada perhatian yang terasa lebih hangat, kata-kata yang lebih manis, pertemuan yang dipenuhi debaran, dan perasaan seolah menemukan kembali cinta yang telah lama hilang. Semuanya tampak sempurna.

Tetapi keindahan itu berdiri di atas fondasi yang rapuh.

Perselingkuhan ibarat istana pasir. Indah dipandang, tetapi tidak dibangun untuk bertahan menghadapi kenyataan.

Banyak orang mengira perselingkuhan dimulai karena cinta. Padahal, kenyataannya sering kali jauh lebih rumit. Ada yang merasa kesepian meski tinggal serumah. Ada yang haus akan perhatian. Ada yang lelah menghadapi konflik yang tak kunjung selesai. Ada pula yang mencari pengakuan karena merasa dirinya tidak lagi dihargai.

Saat seseorang hadir dan memberikan perhatian yang selama ini dirindukan, hati yang sedang rapuh menjadi mudah terbuka.

Pada awalnya, semuanya terasa menyenangkan.

Pesan singkat yang dinanti.

Panggilan telepon yang membuat tersenyum.

Pertemuan yang selalu ingin diulang.

Perasaan kembali muda.

Kembali dicintai.

Kembali merasa berarti.

Namun, semua itu sering kali hanya menampilkan sisi terbaik dari masing-masing orang. Tidak ada tagihan yang harus dibayar bersama. Tidak ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Tidak ada anak yang menangis di tengah malam. Tidak ada masalah keuangan yang harus dipikirkan.

Yang terlihat hanyalah momen-momen indah.

Karena itu, banyak orang keliru menganggap hubungan tersebut lebih membahagiakan daripada hubungan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.

Padahal, mereka sedang membandingkan kenyataan dengan fantasi.

Dan fantasi hampir selalu tampak lebih indah.

Lambat laun, istana pasir itu mulai diuji oleh ombak kehidupan.

Rahasia menjadi semakin sulit disimpan.

Kebohongan harus terus dibuat.

Rasa bersalah mulai menghantui.

Kepercayaan mulai retak.

Ketakutan semakin besar.

Takut ketahuan.

Takut kehilangan pasangan.

Takut kehilangan selingkuhan.

Takut dihakimi keluarga.

Takut menghancurkan masa depan anak-anak.

Hidup yang awalnya terasa penuh gairah berubah menjadi kehidupan yang dipenuhi kecemasan.

Di sinilah banyak orang mulai menyadari bahwa mereka tidak sedang membangun rumah, melainkan hanya istana pasir.

Ia memang indah.

Tetapi tidak memiliki fondasi.

Hubungan yang sehat dibangun dengan kejujuran, komitmen, tanggung jawab, kesabaran, dan kemampuan menyelesaikan konflik bersama.

Sebaliknya, perselingkuhan sering kali tumbuh dari kebohongan, kerahasiaan, dan pelarian dari masalah.

Bagaimana mungkin bangunan yang didirikan di atas kebohongan mampu bertahan menghadapi badai kehidupan?

Ketika perselingkuhan akhirnya terbongkar, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh dua orang.

Pasangan yang dikhianati kehilangan rasa percaya.

Anak-anak bisa kehilangan rasa aman.

Keluarga besar ikut terluka.

Sahabat-sahabat terpecah.

Bahkan pelaku perselingkuhan sendiri sering kehilangan ketenangan hidupnya.

Ada yang kehilangan keluarga.

Ada yang kehilangan nama baik.

Ada yang kehilangan pekerjaan.

Ada yang kehilangan orang yang selama ini paling tulus mencintainya.

Dan yang paling menyakitkan, ada yang kehilangan rasa hormat terhadap dirinya sendiri.

Banyak orang berkata, "Kalau memang saling mencintai, mengapa hubungan itu akhirnya gagal?"

Jawabannya sederhana.

Karena cinta saja tidak cukup.

Hubungan membutuhkan kepercayaan.

Tanpa kepercayaan, cinta dipenuhi kecurigaan.

Tanpa kejujuran, cinta dipenuhi ketakutan.

Tanpa komitmen, cinta mudah goyah ketika godaan datang.

Perselingkuhan mungkin memberikan kebahagiaan sesaat, tetapi kebahagiaan yang dibangun dengan menyakiti orang lain jarang mampu bertahan lama.

Seperti istana pasir yang tampak megah saat matahari bersinar, semuanya bisa berubah hanya dalam hitungan detik ketika ombak datang.

Hidup selalu menguji setiap pilihan yang kita buat.

Pilihan yang benar mungkin terasa berat di awal, tetapi membawa ketenangan di akhir.

Sebaliknya, pilihan yang tampak menyenangkan di awal sering kali meninggalkan penyesalan yang panjang.

Jika hubungan sedang mengalami masalah, jangan mencari pelarian pada orang lain.

Carilah keberanian untuk berbicara.

Belajarlah mendengarkan.

Berusahalah memahami pasangan.

Jika memang tidak bisa dipertahankan, akhirilah hubungan dengan cara yang jujur dan penuh tanggung jawab, bukan dengan pengkhianatan.

Karena rasa sakit akibat kejujuran biasanya akan sembuh seiring waktu.

Namun luka akibat pengkhianatan sering membekas jauh lebih lama.

Pada akhirnya, setiap orang bebas memilih jalan hidupnya.

Tetapi setiap pilihan juga membawa konsekuensi.

Perselingkuhan mungkin menawarkan pemandangan yang indah untuk sesaat.

Namun tanpa fondasi kejujuran, rasa hormat, dan tanggung jawab, semua itu hanyalah istana pasir.

Terlihat megah dari kejauhan.

Mengagumkan untuk sementara.

Tetapi ketika ombak kenyataan datang, tidak ada yang tersisa selain penyesalan dan puing-puing kepercayaan yang telah hancur.

Karena hubungan yang benar-benar kuat bukanlah hubungan yang paling romantis di awal, melainkan hubungan yang mampu tetap berdiri ketika diterpa badai kehidupan.

Dan fondasi terkuat dari sebuah hubungan bukanlah gairah sesaat, melainkan kejujuran, kesetiaan, saling menghormati, dan keberanian untuk tetap memilih satu sama lain setiap hari.


https://youtu.be/rFcLAMp65ns

KENAPA ORANG SELINGKUH AKHIRNYA KEHILANGAN DIRI SENDIRI?

 KENAPA ORANG SELINGKUH AKHIRNYA KEHILANGAN DIRI SENDIRI?

Pernahkah Anda bertanya, mengapa banyak orang yang berselingkuh justru terlihat semakin tidak bahagia? Mereka mungkin mendapatkan sensasi baru, perhatian dari orang lain, atau pelarian dari masalah. Namun, di balik semua itu, perlahan mereka mulai kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga: diri mereka sendiri.

Perselingkuhan sering kali terlihat seperti jalan keluar. Ketika hubungan terasa hambar, penuh konflik, atau kebutuhan emosional tidak terpenuhi, hadirnya orang baru bisa memberikan perasaan yang selama ini dirindukan. Mereka merasa kembali dihargai, diinginkan, dan diperhatikan.

Namun, yang mereka rasakan hanyalah euforia sementara.

Masalah yang sebenarnya tidak pernah benar-benar selesai. Perselingkuhan hanya menutupi luka, bukan menyembuhkannya.

Lalu, mengapa seseorang bisa kehilangan dirinya sendiri setelah berselingkuh?

Karena sejak langkah pertama menuju perselingkuhan, mereka mulai hidup dalam dua kehidupan.

Di depan pasangan, mereka berpura-pura semuanya baik-baik saja. Di belakang, mereka menyimpan rahasia yang terus membebani pikiran. Mereka harus mengingat kebohongan yang dibuat, menutupi jejak, mengatur waktu, bahkan menciptakan cerita baru agar tidak terbongkar.

Semakin banyak kebohongan, semakin jauh mereka dari kejujuran.

Dan ketika seseorang terlalu lama hidup dalam kepura-puraan, perlahan ia mulai lupa seperti apa dirinya yang sebenarnya.

Mereka kehilangan ketenangan.

Mereka kehilangan rasa aman.

Mereka kehilangan harga diri.

Yang lebih menyakitkan, banyak pelaku perselingkuhan sebenarnya tidak lagi mengenali dirinya sendiri. Mereka berkata dalam hati, "Aku dulu bukan orang seperti ini."

Awalnya hanya ingin mencari perhatian.

Lalu menjadi ketergantungan.

Kemudian berubah menjadi kebiasaan.

Hingga akhirnya mereka terjebak dalam kehidupan yang penuh rasa takut.

Takut ketahuan.

Takut kehilangan pasangan.

Takut kehilangan selingkuhan.

Takut dihakimi keluarga.

Takut mengecewakan anak-anak.

Ironisnya, semakin banyak yang ingin dipertahankan, semakin banyak pula yang mulai hilang.

Perselingkuhan juga menggerus integritas.

Integritas adalah keselarasan antara apa yang diyakini, diucapkan, dan dilakukan. Saat seseorang terus-menerus melanggar nilai yang sebenarnya ia pegang, muncul konflik batin yang sangat melelahkan.

Di luar mungkin masih tersenyum.

Tetapi di dalam, hati dipenuhi rasa bersalah.

Tidak semua orang langsung merasakannya. Ada yang mampu menekan rasa bersalah selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Namun hati manusia tidak bisa terus-menerus berbohong kepada dirinya sendiri.

Cepat atau lambat, beban itu akan muncul dalam bentuk stres, kecemasan, emosi yang mudah meledak, sulit tidur, kehilangan fokus, bahkan depresi.

Perselingkuhan juga membuat seseorang kehilangan identitasnya sebagai pasangan.

Dulu ia mungkin dikenal sebagai sosok yang setia.

Sebagai ayah yang bertanggung jawab.

Sebagai ibu yang penuh kasih.

Sebagai suami atau istri yang dipercaya.

Tetapi ketika kepercayaan itu hancur, bukan hanya hubungan yang rusak. Gambaran tentang dirinya sendiri ikut runtuh.

Yang lebih menyedihkan lagi, banyak orang mengira perselingkuhan terjadi karena cinta.

Padahal sering kali bukan.

Perselingkuhan lebih sering lahir dari kekosongan emosional, ego yang ingin dipuaskan, kebutuhan akan validasi, luka masa lalu yang belum selesai, atau ketidakmampuan menghadapi konflik dengan sehat.

Artinya, orang ketiga bukan penyebab utama.

Ia hanya menjadi tempat pelarian.

Sayangnya, pelarian tidak pernah benar-benar menyelesaikan persoalan.

Karena ke mana pun seseorang pergi, dirinya sendiri akan selalu ikut.

Jika luka di dalam hati tidak disembuhkan, maka hubungan baru pun suatu hari akan menghadapi masalah yang sama.

Inilah sebabnya mengapa banyak hubungan hasil perselingkuhan akhirnya juga penuh konflik, kecurigaan, dan ketidakpercayaan.

Seseorang yang pernah mengkhianati, sering kali hidup dengan rasa takut akan dikhianati.

Lingkaran itu terus berulang.

Namun, masih ada harapan.

Kehilangan diri bukan berarti tidak bisa menemukan diri kembali.

Langkah pertama adalah berani mengakui kesalahan tanpa mencari pembenaran.

Langkah kedua adalah menghadapi akar masalah yang selama ini dihindari.

Langkah ketiga adalah membangun kembali karakter, bukan hanya memperbaiki citra.

Meminta maaf memang penting.

Tetapi perubahan nyata jauh lebih penting daripada ribuan kata penyesalan.

Kepercayaan memang sulit kembali.

Namun seseorang tetap bisa menjadi pribadi yang lebih baik jika benar-benar bersedia berubah.

Pada akhirnya, perselingkuhan bukan hanya tentang mengkhianati pasangan.

Perselingkuhan adalah saat seseorang mulai mengkhianati nilai-nilai yang dulu ia yakini.

Dan ketika seseorang mengkhianati dirinya sendiri, kebahagiaan yang dicari di luar tidak akan pernah mampu mengisi kekosongan di dalam.

Karena kebahagiaan sejati selalu lahir dari hati yang jujur, karakter yang utuh, dan keberanian untuk tetap setia, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang sedang melihat.




PRIA INI TAK BERHENTI SELINGKUH, HANYA MENGUBAH CARANYA

 

Evolusi Sang Pengkhianat: Pria Ini Tak Berhenti Selingkuh, Hanya Mengubah Caranya

Ada sebuah ilusi yang sering kali dipercayai oleh para wanita yang terlanjur mencintai terlalu dalam: “Setelah dia ketahuan dan menangis memohon ampun, dia pasti akan berubah.”

Namun, kenyataan sering kali menyajikan tamparan yang jauh lebih dingin. Bagi sebagian pria, kata "tobat" bukanlah sebuah titik berhenti, melainkan sebuah tombol restart untuk menyusun strategi yang lebih rapi. Pria tipe ini tidak pernah benar-benar menyembuhkan penyakit di dalam jiwanya; dia hanya meningkatkan sistem pertahanannya. Dia tidak berhenti berselingkuh—dia hanya mengubah caranya.

Fase Klasik: Ketika Jejak Masih Ceroboh

Pada awalnya, perselingkuhannya adalah jenis yang klise dan amatir. Jenis perselingkuhan yang dengan mudah terendus karena kecerobohannya sendiri.

Ada pesan teks yang lupa dihapus di tengah malam, ada aroma parfum asing yang tertinggal di kerah kemeja, atau mutasi rekening yang mencurigakan untuk makan malam romantis yang tak pernah kamu nikmati. Ketika rahasia itu terbongkar, dunia seolah runtuh. Dia akan bersujud, menangis, menyalahkan setan, dan bersumpah demi langit dan bumi bahwa itu adalah kekhilafan pertama dan terakhirnya.

Kamu, dengan hati yang hancur namun penuh harap, memilih untuk memaafkan. Kamu memperketat pengawasan. Kamu memeriksa ponselnya setiap malam, melacak lokasinya setiap jam, dan menghafal setiap nama di daftar kontaknya.

Kamu mengira, dengan mengurungnya di dalam sangkar pengawasan, dia telah aman. Namun, di sinilah letak kekeliruan terbesarnya. Pengawasanmu tidak membuatnya jera; pengawasanmu justru mendidiknya menjadi pembohong yang lebih cerdas.

Seni Membohongi Diri Sendiri dan Evolusi Digital

Ketika cara lama sudah tidak aman, dia mulai memutar otak. Keinginan untuk mencari validasi di luar rumah tidak pernah padam, maka metodenya yang dipaksa bermutasi. Dia mulai memasuki fase perselingkuhan yang lebih canggih, lebih halus, dan nyaris tidak meninggalkan jejak fisik.

Dia tidak lagi menggunakan aplikasi pesan biasa yang biasa kamu periksa. Dia beralih ke ruang-ruang tersembunyi:

  • Fitur Tersembunyi: Pesan yang otomatis terhapus dalam hitungan detik setelah dibaca, atau menyembunyikan kontak wanita dengan nama rekan kerja pria atau nama toko bangunan.

  • Melalui Ruang Kerja: Dia memanfaatkan dalih profesionalisme. Kedekatan yang awalnya berkedok meeting larut malam, proyek penting, atau makan malam bersama klien, perlahan bergeser menjadi hubungan emosional yang intens.

  • Mikro-Selingkuh (Mic-Cheating): Dia mulai bermain di area abu-abu. Saling melempar komentar penuh sandi di media sosial melalui akun sekunder, memberikan perhatian-perhatian kecil yang "tampaknya tidak bersalah" kepada wanita lain, atau menjadi pendengar setia bagi masalah rumah tangga orang lain hingga batas itu kabur.

Jika dulu dia berselingkuh secara fisik yang kasar, kini dia beralih ke perselingkuhan emosional yang rapi. Dia membagi jiwanya, tawanya, dan rahasia terdalamnya dengan orang lain, sementara di rumah, dia menyisakan tubuh yang lelah dan sikap yang dingin untukmu.

"Dia tidak lagi membawa pulang aroma parfum wanita lain. Kini, dia membawa pulang sebuah ponsel yang bersih dari dosa, namun penuh dengan kebohongan yang tertata rapi."

Ketika "Menjadi Baik" Adalah Bagian dari Skenario

Perubahan cara yang paling manipulatif adalah ketika dia mendadak berubah menjadi pasangan yang sangat ideal di rumah. Ini adalah strategi pengalihan isu psikologis yang sangat rapi.

Untuk menutupi rasa bersalahnya—atau untuk mencegahmu curiga—dia mulai membanjirimu dengan kebaikan. Dia menjadi lebih rajin membantu di rumah, tidak pernah lupa memberi hadiah pada hari jadi, bahkan sangat royal secara finansial. Dia membangun narasi di kepalamu bahwa "Pria sebaik ini tidak mungkin berselingkuh lagi."

Dia membiarkanmu merasa menang dan memegang kendali, padahal di belakang layar, dia sedang menertawakan kenaifanmu. Kebaikan yang dia berikan bukan lahir dari rasa cinta yang murni, melainkan dari "pajak" rasa bersalah yang dia bayar agar petualangan rahasianya di luar sana tetap berjalan mulus.

Akhir dari Sebuah Topeng

Menghadapi pria yang seperti ini adalah seperti menggenggam belut yang licin. Setiap kali kamu berhasil menutup satu celah, dia akan menemukan seribu jalan tikus lainnya. Karena bagi dia, perselingkuhan bukan tentang siapa wanitanya, melainkan tentang sensasi dari proses berbohong dan tidak ketahuan itu sendiri. Itu adalah candu bagi egonya yang rapuh.

Sadarlah, bahwa kamu tidak bisa mengubah seseorang yang menganggap perilakunya sebagai sebuah pencapaian, bukan sebuah kesalahan. Kamu tidak bisa menyembuhkan orang yang terus-menerus mencari cara untuk menusukmu dari belakang tanpa membuatmu berteriak.

Hingga pada akhirnya, kamu harus berhenti menjadi detektif dalam hubunganmu sendiri. Jangan habiskan energimu untuk melacak cara-cara barunya berselingkuh. Karena sedalam apa pun dia menyembunyikan bangkai, bau busuknya akan tetap tercium. Dan ketika hari itu tiba, pilihanmu bukan lagi memaafkan caranya yang baru, melainkan meninggalkan permainannya untuk selamanya.




PERNIKAHAN HANCUR BUKAN KARENA BERTENGKAR... TAPI KARENA DIAM!

 

Pembunuh Senyap: Ketika Keheningan Meruntuhkan Pernikahan

Banyak orang mengira bahwa badai terbesar dalam sebuah pernikahan adalah pertengkaran hebat. Kita membayangkan piring yang pecah, teriakan yang menggema di sudut-sudut rumah, atau makian yang terlontar saat emosi berada di ubun-ubun. Kita berpikir, selama rumah tangga kita tenang, sepi dari adu argumen, dan tampak damai di permukaan, maka semuanya baik-baik saja.

Namun, itu adalah kekeliruan yang paling fatal.

Pernikahan hancur bukan karena pasangan saling bertengkar. Pertengkaran, seburuk apa pun bentuknya, sering kali masih menyisakan satu hal: kepedulian. Seseorang yang marah dan berargumen berarti masih memiliki energi untuk memperbaiki situasi, masih ingin suaranya didengar, dan masih berharap pasangannya mengerti.

Penghancur pernikahan yang sesungguhnya bukanlah ledakan kemarahan, melainkan diam. Keheningan yang dingin, rapat, dan mematikan.

Fase Pertama: Dari "Mengalah" Menjadi "Masa Bodoh"

Semuanya biasanya dimulai dengan niat yang terdengar bijak: "Sudahlah, daripada ribut, lebih baik diam."

Satu pihak memilih mengalah, memendam kekecewaan, dan menelan bulat-bulat rasa tidak nyaman demi menjaga apa yang mereka sebut sebagai "kedamaian rumah tangga". Namun, kedamaian yang dibangun di atas tumpukan kekecewaan yang dipendam adalah kedamaian palsu.

Lama-kelamaan, diam yang awalnya berfungsi sebagai rem darurat, berubah menjadi sebuah kebiasaan. Ketika ada masalah, alih-alih duduk bersama dan mengurai benang kusut, masing-masing pihak mulai menarik diri.

  • Tidak ada lagi pertanyaan, "Bagaimana harimu?" yang tulus.

  • Tidak ada lagi teguran ketika ada hal yang mengganjal.

  • Pintu kamar mulai tertutup rapat, dan ruang tamu hanya menjadi tempat persinggahan dua orang asing yang kebetulan berbagi alamat rumah yang sama.

Di titik ini, komunikasi bukan lagi macet, melainkan mati. Ketika seseorang memutuskan untuk diam secara permanen, mereka sebenarnya sedang berkata: "Aku sudah tidak percaya lagi bahwa berbicara denganmu akan mengubah keadaan."

Dinding Transparan yang Memisahkan Dua Hati

Ketika diam telah menguasai rumah, terciptalah sebuah dinding transparan yang tidak terlihat namun sangat tebal di antara suami dan istri. Mereka bisa makan di meja yang sama, tidur di ranjang yang sama, bahkan saling bersentuhan secara fisik, tetapi jiwa mereka terpisah ribuan kilometer.

Napas diam ini sangat berbahaya karena ia bekerja seperti rayap. Tidak berisik, tidak terlihat, tahu-tahu fondasi rumah tangga sudah keropos dan siap ambruk hanya dengan satu sentuhan kecil.

Dalam keheningan itu, pikiran mulai berkelana. Karena tidak ada konfirmasi atau obrolan jujur dari pasangan, masing-masing mulai membuat narasi sendiri di dalam kepalanya:

  • "Dia sudah tidak mencintaiku lagi."

  • "Dia egois dan tidak pernah mau mengerti."

  • "Sia-sia aku bicara, toh tidak akan didengar."

Asumsi-asumsi liar ini tumbuh subur dalam sepi. Ruang kosong yang ditinggalkan oleh komunikasi yang mati lambat laun akan diisi oleh rasa benci, dendam yang mengakar, dan rasa asing yang mendalam.

"Pertengkaran adalah tanda bahwa kita masih bertarung untuk hubungan ini. Diam adalah tanda bahwa salah satu atau kedua belah pihak sudah siap untuk menyerah."

Seni Membohongi Diri Sendiri dalam Sepi

Yang paling ironis dari fase "diam" ini adalah bagaimana pasangan sering kali menipu diri mereka sendiri. Mereka mengira mereka sedang bersikap dewasa karena tidak ada lagi keributan di dalam rumah. Di depan anak-anak, mereka tampil kompak bak aktor yang profesional. Di depan keluarga besar, mereka adalah pasangan yang harmonis tanpa cacat.

Namun, di balik layar, mereka sedang mengalami apa yang disebut dengan emotional divorce atau perceraian emosional. Secara hukum dan status mereka masih menikah, tetapi secara hati, mereka sudah lama bercerai.

Mereka tidak lagi saling menyakiti dengan kata-kata, tetapi mereka saling membunuh dengan ketiadaan kata. Dan rasa sakit akibat diabaikan, dicuekin, dan dianggap "tidak ada" oleh orang yang paling kita sayangi, sering kali jauh lebih menyiksa daripada luka akibat bentakan.

Akhir dari Sebuah Jarak

Ketika pernikahan hancur karena pertengkaran, biasanya ada sebuah pemicu besar yang jelas yang bisa ditunjuk. Namun, ketika pernikahan hancur karena diam, kehancuran itu terjadi begitu sunyi.

Hingga akhirnya, tiba suatu hari di mana salah satu pihak berkemas, melangkah keluar dari pintu rumah, dan tidak pernah kembali lagi. Tidak ada tangisan, tidak ada drama, tidak ada argumen terakhir. Hanya ada suara pintu yang tertutup, meninggalkan ruangan yang sejak lama memang sudah kosong.

Kita harus sadar bahwa hubungan yang sehat membutuhkan keberanian untuk menjadi rentan, dan kerentanan itu diwujudkan lewat kata-kata—bahkan kata-kata yang sulit dan memicu air mata sekalipun.

Jangan takut pada riak pertengkaran selama itu bertujuan untuk mencari jalan keluar. Takutlah pada rumah yang sepi, di mana dua orang di dalamnya telah kehilangan hasrat bahkan hanya untuk sekadar saling menyapa. Karena pada akhirnya, musuh terbesar dari cinta bukanlah kebencian, melainkan sikap masa bodoh yang dibungkus oleh keheningan.




PASANGAN YANG BAIK BELUM TENTU SETIA


Topeng Kesempurnaan: Ketika "Baik" Saja Tidak Cukup

Kita sering mendikte isi kepala kita dengan sebuah rumus sederhana: Jika dia memperlakukanku dengan baik, maka dia tidak akan pernah menyakitiku.

Dia adalah pasangan yang nyaris tanpa cela. Tutur katanya lembut, perhatiannya tidak pernah absen, dan dia selalu ada di garda terdepan saat kita membutuhkan bantuan. Di mata keluarga dan teman-teman, dia adalah definisi dari "pasangan idaman". Tidak ada badai, tidak ada bentakan, semua terlihat begitu tenang.

Namun, di sinilah letak jebakan terbesarnya. Kebaikan adalah tentang bagaimana seseorang memperlakukanmu, sedangkan kesetiaan adalah tentang bagaimana seseorang menghormati komitmen saat kamu tidak ada.

Paradoks Kebaikan dan Kesetiaan

Menjadi orang baik itu mudah ketika semuanya berjalan lancar. Memberi hadiah, menemani berbelanja, atau sekadar menjadi pendengar yang baik adalah tindakan lahiriah yang bisa dipelajari siapapun.

Tetapi kesetiaan? Itu adalah urusan batin.

"Banyak orang yang mampu menjadi pasangan yang luar biasa di siang hari, namun gagal menjaga hatinya di malam hari saat celah godaan itu terbuka."

Mengapa pasangan yang baik bisa tidak setia?

  • Haus akan Validasi Baru: Seseorang bisa sangat baik kepada pasagannya, namun tetap memiliki ego yang rapuh yang selalu butuh makan dari kekaguman orang asing.

  • Kehilangan Batasan (Boundaries): Karena sifatnya yang terlalu ramah dan "baik" kepada semua orang, mereka sering kali lupa membangun benteng. Rasa segan berubah menjadi rasa nyaman, dan kenyamanan yang salah tempat melahirkan pengkhianatan.

  • Seni Membohongi Diri Sendiri: Pasangan yang baik sering kali merasa "berhak" melakukan kesalahan kecil karena mereka merasa sudah memberikan banyak hal baik di dalam rumah. Mereka menukar kebaikan-kebaikan kecil untuk memaklumi satu dosa besar: perselingkuhan.

Ketika Kenyataan Menampar Logika

Rasanya jauh lebih menyakitkan dikhianati oleh orang yang "baik" ketimbang orang yang sejak awal sudah terlihat kasar. Ketika orang yang kasar berselingkuh, kita tidak terkejut. Namun, ketika dia yang selalu mengecup keningmu sebelum tidur ternyata membagi hati dengan yang lain, duniamu seolah runtuh tanpa aba-aba.

Kamu mulai mempertanyakan dirimu sendiri, “Kurangku apa? Dia sangat baik padaku.”

Jawabannya adalah: Ini bukan tentang kurangmu, melainkan tentang tidak cukupnya dia.

Kebaikan tanpa kesetiaan hanyalah sebuah ilusi kenyamanan. Itu seperti tinggal di rumah yang megah dan indah, namun fondasinya rapuh dan siap runtuh kapan saja dihantam badai bernama godaan.

Akhir dari Sebuah Refleksi

Pada akhirnya, kita harus belajar memisahkan antara sikap yang manis dan karakter yang kokoh.

Sikap manis bisa dimanipulasi, tetapi karakter diuji oleh jarak, waktu, dan kesempatan. Jangan terbuai dengan dia yang selalu memperlakukanmu bak ratu atau raja di depan layar, jika di belakang layar, dia justru sibuk mencari penonton baru.

Karena pada tingkat tertinggi sebuah hubungan, setia sudah pasti baik, tetapi baik... belum tentu setia.

https://youtu.be/vha7Wv2D2hk




Strategi Peningkatan Ketrampilan Kewirausahaan

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah

Meningkatkan mutu pendidikan adalah sebuah keharusan, untuk membuktikannya membutuhkan adanya upaya perbaikan di semua sektor yang mendukung dunia pendidikan itu sendiri. Persepsi tentang posisi guru dalam dunia pendidikan adalah sebagai garda terdepan dan sentral terlaksananya proses pembelajaran, maka berkaitan dengan kinerja guru diperlukan adanya totalitas dan dedikasi sebagai pendidik dan pencetak bekal-bekal sumber daya manusia yang seutuhnya.

Kegiatan belajar mengajar merupakan proses komunikasi, yang berarti proses penyampaian pesan dari nara sumber melalui saluran atau media tertentu kepada penerima pesan. Maka dari itu kegiatan belajar mengajar yang diharapkan terjadi adalah proses yang dapat mengembangkan potensi-potensi siswa secara menyeluruh dan terpadu, oleh sebab itu dalam proses pembelajaran, guru tidak hanya dituntut menyampaikan materi pembelajaran saja tetapi harus mampu mengaktualisasi peran strategisnya dalam upaya membentuk watak siswa melalui pengembangan kepribadian dan nilai-nilai yang berlaku. Belajar mengajar merupakan suatu proses yang rumit, karena tidak hanya sekedar menyerap informasi dari guru, melainkan melibatkan berbagai kegiatan maupun tindakan yang harus dilakukan oleh siswa dan guru.

Pendidikan merupakan salah satu mata pelajaran wajib yang ada di semua jenis dan jenjang pendidikan. Penyelanggaraan Pendidikan ini bisa diperoleh melalui tiga jalur yaitu formal, informal, dan nonformal. Pendidikan formal adalah pendidikan yang diperoleh melalui sekolah, sedangkan pendidikan informal adalah pendidikan yang diperoleh melalui pelatihan-pelatihan, dan pendidikan non formal merupakan pendidikan yang diperoleh melalui keluarga dan masyarakat. Realita sekarang masih banyak guru yang belum bisa menciptakan suasana belajar yang bervariasi, dan kondusif. Seorang guru hanya menyampaikan materi pembelajaran dengan strategi tertentu saja, yaitu strategi pembelajaran konvensional yang pada umumnya menggunakan metode ceramah di dalam proses pembelajarannya. Mayoritas guru terutama guru Pendidikan dalam menyampaikan materi yang begitu banyak, mereka hanya menekan pada ranah kognitif saja, sedangkan ranah afektif dan psikomotorik terabaikan. Oleh karena itu, seorang guru harus mempunyai wawasan yang luas tentang pemilihan strategi pembelajaran, sehingga lebih mudah dalam mencapai tujuan pembelajaran karena strategi pembelajaran merupakan sarana interaksi guru dengan siswa di dalam kegiatan belajar mengajar.

Dalam praktek pembelajaran di kelas, guru lebih menekankan kepada tujuan yang bersifat material, sehingga guru berperan aktif dan siswa berperan pasif. Pola pelayanan pembelajaran seperti ini sangat tidak efektif, karena siswa kurang diaktifkan, selain itu siswa juga tidak dapat berkembang. Untuk itu diperlukan strategi pembelajaran yang mampu mengimbangi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dalam usaha peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Sebagai konsekuensi logis dari ketidaktepatan penggunaan strategi. pembelajaran ini sering timbul kebosanan, kurang dipahami yang akhirnya menimbulkan ketidaksukaan siswa terhadap mata pelajaran tersebut. Untuk menghindari hal tersebut dan kepatuhan yang terpaksa dari siswa, guru hendaknya cukup cermat dalam memilih dan menggunakan strategi pembelajaran terutama yang banyak melibatkan siswa secara aktif (Zaini, 2017).

Keberhasilan siswa dalam belajar dapat dilihat melalui tiga ranah yaitu ranah kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (tingkah laku). Seorang guru perlu menciptakan suasana belajar yang bervariasi, dan kondusif salah satunya dengan melalui penerapan strategi pembelajaran aktif. Strategi ini bila diterapkan secara tepat memungkinkan siswa dan guru sama-sama aktif dan kreatif, menekankan agar siswa mampu mengintegrasikan gagasan baru, dan menekan kemampuan intelektual, informasi verbal, strategi kognitif, keterampilan motorik, dan sikap. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dirasa cukup penting untuk diambil sebuah judul mengenai “Strategi Peningkatan Keterampilan dan kewirausahaan”.

 

 

B.  Rumusan Masalah

1.      Apa yang dimaksud dengan Strategi Kewirausahaan.

2.      Apa yang dimaksud dengan Konsep Dasar Pendidikan Keterampilan.

3.      Apa yang dimaksud Hakikat Pembelajaran.

C.  Tujuan Penulisan

1.      Untuk mengetahui Strategi Kewirausahaan.

2.      Untuk mengetahui Konsep Dasar Pendidikan Keterampilan.

3.      Untuk mengetahui Hakikat Pembelajaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.       Strategi Kewirausahaan

1.         Definisi Strategi

Kata strategi berasal dari bahasa Yunani “Strategos” (stratos = militer dan ego = pemimpin) yang berarti “generalship” atau sesuatu yang dikerjakan oleh para jenderal perang yang membuat rencana untuk memenangkan perang. Konsep ini relevan dengan situasi pada zaman dahulu yang sering diwarnai perang, dimana jenderal perang yang dibutuhkan untuk memimpin suatu angkatan perang. Dalam pengertian umum, strategi adalah cara untuk mendapatkan kemenangan atau mecapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Sedangan difinisi lain menurut para ahli dalam buku Triton yang berjudul manajemen strategis yaitu:

a.    Menurut Jhonson dan Scholes strategi adalah suatu arah dan cakupan organisasi yang secara ideal untuk jangka yang lebih panjang, serta menyesuaikan sumber dayanya dengan lingkungan yang berubah-ubah dan secara khusus dengan pasarnya, pelanggan dan kliennya untuk memenuhi harapan stakeholder.

b.    Menurut Chandler `starategi merupakan penetapan tujuan dasar jangka panjang dan sasaran perusahaan, penerapan serangkaian tindakan dan alokasi sumber daya yang penting untuk melaksankan sasaran ini.

c.    Sedangkan menurut Amstrong ada tiga pengertian startegi. Yang pertama, strategi merupakan cara untuk mencapai tujuan dengan memperhatikan alokasi sumber daya perusahaan untuk jangka panjang serta membandingkan sumber daya dan kapabilitas dengan lingkunga eksternal, kedua, strategi merupakan perspektif dimana faktor keberhasilan dapat dibicarakan, serta keputusan strategis bertujuan untuk membuat dampak yang besar serta jangka panjang kepada perilaku dan keberhasilan organisasi. Ketiga, strategi pada dasarnya adalah mengenai penetapan tujuan strategis dan mengalokasikan atau menyesuaikan sumber daya dengan peluang sumber daya, sehingga dapat mencapai kesesuaina strategis antara tujuan strategis dan basis sumber dayanya (Susanto; 2017)

Berdasarkan dari pemaparan di atas, maka pengertian strategi dapat disimpulkan sebagai bahwa Strategi merupakan suatu upaya bagaimana tujuan-tujuan perencanaan dapat dicapai dengan mempergunakan sumber- sumber yang dimiliki oleh suatu lembaga atau perusahaan, disamping diusahakan pula untuk mengatasi kesulitan- kesulitan serta tantangan yang ada. Sedangkan strategi bisnis adalah tindakan yang diambil oleh perusahaan atau organisasi secara terus menerus guna mencapai tujuan perusahaan atau organisasi dan memfasilitasi perubahan yang dibutuhkan oleh perusahaan atau organisasi guna untuk mencapai tujuan perusahaan atau organisasi. Adapun 6 tahapan umum dalam merumuskan strategi yaitu:

a.       Seleksi yang mendasar dan kritis terhadap permasalahan

b.      Menetapkan tujuan dasar dan sasaran strategis

c.       Menyusun perencanaan tindakan

d.      Menyusun rencana penyumberdayaan

e.       Mempertimbangan keunggulan

f.       Mempertimbangkan keberlanjutan.

2.      Bentuk-bentuk strategi

Menurut Hadari Nawawi, terdapat beberapa bentuk- bentuk strategi yang dapat dipilih dan ditetapkan secara teoretis ada 7 (tujuh) antara lain, sebagai berikut:

 

 

 

a.      Strategi Agresif

Strategi yang mengatur suatu tindakan dengan cara mendobrak penghalang, rintangan atau ancaman untuk mencapai keunggulan atau prestasi yang ditargetkan oleh perusahaan.

 

b.      Strategi Konservatif

Strategi ini membuat program-program dan mengatur tindakan (action) dengan cara berhati-hati, disesuaikan dengan kebiasaan yang berlaku.

c.       Strategi Difensif

Strategi yang melakukan tindakan untuk mempertahankan kondisi keunggulan prestasi yang sudah dicapai.

d.      Strategi Kompetitif

Strategi yang mengatur suatu tindakan (action) untuk mewujudkan keunggulan yang melebihi organisasi lainnya yang sama posisi dan jenjangnya.

e.       Strategi Inovatif

Strategi ini dilakukan dengan membuat program-program yang bertujuan agar organisasi selalu tampil sebagai pelopor.

f.       Strategi Diversifikasi

Strategi ini dilakukan dengan membuat program-program dan mengatur atau tindakan (action) berbeda dari strategi biasa yang dilakukan sebelumnya.

g.      Strategi Preventif

Strategi yang dilakukan untuk mengoreksi dan memperbaiki kekeliruan, baik yang dilakukan oleh organisasi sendiri maupun yang diperintahkan oleh organisasi di atasnya (Djamarah; 2014).

3.      Formulasi strategi

Formulasi strategi adalah menentukan aktivitas- aktivitas yang berhubungan dengan pencapaian tujuan. Dalam melakukan formulasi strategi ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan diantaranya adalah:

a.       Harus dipahami visi, misi, dan objective perusahaan sehingga kita akan mengetahui ke arah mana perusahaan akan dibawa serta bagaimana caranya untuk menuju ke arah tersebut.

b.      Harus dipahami adalah tentang posisi perusahaan pada saat ini. Posisi perusahaan itu bisa berupa pangsa yang dikuasai, posisi laba atau rugi perusahaan, dan kondisi internal satu perusahaan.

c.       Kemampuan untuk mengdentifikasikan faktor-faktor lingkungan internal maupun eksternal yang sedang dihadapi oleh perusahaan.

d.      Mencari alternatif solusi yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi secara lebih efisien di masa yang akan datang.

4.      Peranan Strategi

Dalam lingkungan organisasi atau perusahaan, strategi memiliki peranan yang sangat penting untuk mencapai tujuan, karena strategi memberikan arah tindakan, dan cara bagaimana tindakan tersebut harus dilakukan agar tujuan yang diinginkan tercapai. Strategi memiliki tiga peranan penting dalam mengisi tujuan manajemen, yaitu:

a.       Strategi sebagai pendukung untuk pengambilan keputusan Strategi sebagai suatu elemen untuk mencapai kesuksesan.

b.      Strategi sebagai sarana koordinasi dan komunikasi.

c.       Strategi sebagai target Konsep strategi akan digabungkan dengan visi dan misi untuk menentukan perusahaan yang berada dalam masa yang akan datang.

 

 

2.Kewirausahaan

a.       Pengertian kewirausahaan

Menurut etimologi, kewirausahaan berasal dari kata wira dan usaha. Wira berarti pejuang, pahlawan, manusia unggul, teladan, berbudi kuhur, gagah berani, dan berwatak agung. Dan usaha berarti penciptaan kegiatan atau berbagai aktivitas bisnis. Sedangkan pengertian kewirausahaan menurut para ahli sebagai berikut:

a.       menurut Instruksi Presiden RI No.4 Tahun 1995, kewirausahaan merupakan semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha dan kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi, dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang baik dan memperoleh keuntungan yang lebih besar.

b.      Zimmerer mendefinisikan kewirausahaan sebagai satu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki usaha. Pendapat tersebut mengandung maksud untuk sehingga untuk mencari atau menciptakan satu peluang yang baru agar lebih baik dari sebelumnya (Winardi; 2015).

c.       Menurut Suryana dalam bukunya kewirausahaan (entreprenership) adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilai, kemampuan (ability), dan perilaku seseorang dalam menghadapi tantangan hidup dan cara memperoleh peluang denga berbagai risiko yang mungkin di hadapinya.

       2.      Menurut Gitosardjono terdapat enam hakikat kewirausahaan diantaranya yaitu:

1.      Kewirausahaan adalah kemampuan menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda

2.      Kewirausahaan adalag satu nilai yang dowujudkan dalam perilaku yang dijadikan sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, strategi, proses, dan hasil bisnis

3.      Kewirausahaan adalah satu proses dalam mengerjakan sesuatu yang kreatif dan inovatif yang bermanfaat dalam memberikan nilai lebih

4.      Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreativitas dan keinovasian dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki, serta mengembangkan kehidupan usaha

5.      Kewirausahaan adalah suatu nilai yang dibutuhkan untuk memulai sebuah usaha dan mengembangkan usaha yang diyakini akan sukses

6.      Kewirausahaan adalah usaha menciptakan nilai tambah dengan jalan mengkombinasikan semua sumber daya secara kreatif dan inovatif untuk untuk memenangkan persaingan (Winardi; 2015).

Berdasarkan beberapa definisi yang Telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa kewirausahaan merupakan kamauan dan kemampuan seseorang dalam menciptakan kegiatan usaha dengan berfikir kreatif dan inovatif dengan memanfaatkan sumber daya yang ada serta berani mengambil risiko dan bertujuan untuk memberikan pelayanan yang baik dan memperoleh keuntungan yang besar. Sedangkan berkewirausahaan yaitu upaya-upaya yang berkaitan dengan penciptaan kegiatan, usaha, serta aktivitas bisnis atas dasar kemauan sendiri dan mendirikan usaha bisnis dengan kemauan dan kemampuan sendiri.

Jadi, kewirausahaan merupakan suatu kemapuan dalam menciptakan nilai tambah melalui proses pengelolaan sumber daya secara kretif dan inovatif. Menurut Zimmerer (Sari; 2017), nilai tanbah tersebut diciptakan dengan cara-cara sebagai berikut:

a.       Pengembangan teknologi baru.

b.      Penemuan pengetahuan baru.

c.       Perbaikan produk dan jasa yang sudah ada.

d.      Penemuan cara-cara yang berbeda untuk menghasilkan barang dan jasa yang lebih banyak dengan sumber daya yang lebih sedikit.

Adapun istilah Wirausahawan yang berarti orang- orang yang mempunyai sifat kewirausahaan dan pada umumnya memiliki keberanian dalam mengambil risiko usaha. Terdapat hal-hal mengenai wirausaha, diantaranya:

a.    Orang yang memulai dan mengoperasikan sebuah usaha atau bisnis

b.    Orang yang dapat memenuhi kebutuhan pasar atau konsumen

c.    Orang yang berani mengambil risiko yang mampu memberikan daya dorong bagi perubahan, inovasi dan kemajuan.

Seorang kewirausahawan harus memiliki lemampuan yang kreatif dan inovatif dalam menemukan dan menciptakan berbagai ide. Setiap pikiran dan langkah wirausahawan adalah bisnis bahkan mimpi seorang pembisnis sudah merupakan ide untuk berkreasi dalam menemukan dan menciptakan bisnis-bisnis baru.

b.      Jenis-jenis kewirausahaan

Menurut Indriyo Gito Sudarmo ada beberapa macam jenis bisnis, untuk memudahkan mengetahui pengelompokannya maka dapat dikelompokkan sebagai berikut:

    1.          Ekstraktif, yaitu bisnis yang melakukan kegiatan dalam bidang pertambangan atau menggali bahan- bahan tambang yang terkandung di dalam perut bumi.

    2.          Agrobisnis, yaitu bisnis yang menjalankan bisnisnya dalam bidang pertanian.

    3.          Industri, yaitu bisnis yang bergerak dalam bidang industri.

    4.          Jasa, yaitu bisnis yang bergerak dalam bidang jasa yang menghasilkan produk produk yang tidak berwujud (Sudjana; 2017)

c.       Fungsi wirausaha

Setiap wirausaha mempunya fungsi pokok dan fungsi tambahan, diantaranya sebagai berikut:

1.          Membuat keputusan-keputusanpenting dan mengambil tujuan dan sasaran perusahaan.

2.          Memutuskan tujuan dan sasaran perusahaan

3.          Menetapkan bidang usaha dan pasar yang akan dilayani.

4.          Menghitung skala usaha yang diinginkannya.

5.          Mengendalikan secara efektif dan efisien

6.          Menentukan permodalan yang diinginkannya

7.          Memilih dap menetapkan kriteria pegawai dan memotivasinya

8.          Mencari dan menciptakan berbagai cara baru

9.          Mencari terobosan baru dalam mendapatkan masukan, serta mengolahnya menjadi barang dan jasa yang menarik.

10.          Memasarkan barang dan jasa tersebut untuk memuaskan pelanggan dan sekaligus dapat memperoleh dan mempertahankan keuntungan maksimal.

11.          Fungsi tambahan

12.          Mengenali Iingkungan perusahaan dalam rangka mencari dan menciptakan usaha.

13.          Mengendalikan lingkungan ke arah yang lebih menguntungkan

14.          Menjaga lingkungan usaha agar tidak merugikan masyarakat dan lingkungan (Adityangga; 2015).

d.      Karakteristik kewirausahaan

Para ahli mengemukakan karakteristik kewirausahaan dengan konsep yang berbeda-beda Geoffrey G. Meredith mengemukakan terdapat enam karakteristik kewirausahaan yaitu:

    1.          memiliki kepercayaan diri yang kuat dan selalu optimis

    2.          berorientasi pada tugas dan hasil

    3.          berani mengambil risiko dan menyukai tantangan

    4.          berjiwa kepemimpinan dan mudah beradaptasi dengan orang lain

    5.          memiliki sifat inovatif, kreatif, dan fleksibel

    6.          memiliki visi dan perspektif terhadap masa depan (Adityangga; 2015).

Adapun ciri-ciri umum kewirausahaan dapat dilihat dari berbagai aspek kepribadian seperti jiwa watak, sikap dan lain-lain. Adapun ciri-ciri kewirausahaan yang memiliki beberapa komponen penting, diantaranya:

a.       Percaya diri, indikatornya adalah penuh keyakinan, optimis, berkopmitmen, disiplin dan tanggung jawab.

b.      Memiliki inisiatif, indikatornya adalah penuh energi, ceketa dalam bertindak, dan aktif.

c.       Memiliki motif berprestasi, indikatornya bereorintasi pada hasil dan wawasan ke depan.

d.      Memiliki jiwa kepimpinan, indikatornya adalah berarti tampil beda, dapat dipercaya, dan tangguh dalam bertindak.

e.       Berani mengambil risiko dengan penuh perhitungan, oleh karena itu menyukai tantangan.

Gitosardjono mengemukakan ciri-ciri kewiraushaan dilihat dari ciri-ciri kewirwusahaan dilihat dari kepribadian, jiwa, watak, sikap, dan perilakunya dapat dilihat dari ciri-ciri sebagai berikut:

a.       Disiplin

Dalam melaksankan kegiatan, wirausahawan harus memiliki kedisiplinan yang tinggi, dengan ketetapan komitmen terhadap tugas Aan pekerjaan secara menyeluruh yaitu ketetapan tyerhadap waktu peningkatan mutu pekerjaan, penerapan sistem kerja dan sebagainya

b.      Komitmen yang tinggi

Komitmen adalah kesepakatan mengena sesuatu hal yang di buat oleh seseorang, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Sabagai wirausahawan harus memiliki komitmen yang konkret, terarah dan bersifat progresif (berorientasi pada kemajuan)

c.       Jujur

Kejujuran merupakan landasan moral bagi worausaha3wan, kejujuran dalam berperilaku dikehidupan yang bersifat kjommplek kejujuran karakteristik produk dan jasa yang ditawarkan, dan kejujuran dalam segala hal.

d.      Kreativitas dan inovatif

Untuk kemenakan persaingan, sebagi wirausahawan harus memiliki daya kreativitas yang tinggi yang dilandasi oleh cara berpikir maju dengan gagasan baru yang inovatif

e.       Mandiri

Seorang wirausahawan dikatan mandiri dengan melakukan keinginan yang baik tanpa ada ketergantungan pada pihak lain dalam mengambil keputusan atau tindakan.

f.       Realistis

Seorang wirausahawan selalu berpikir dengan realistis kemampuan menggunakan fakta dan realita sebagai landasan berpikir yang rasional dalam setiap mengambil keputusan maupun tindakan.

Ciri-ciri yang dikemukakan oleh para ahli tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa dasarnya karakteristik seorang wirausaha ialah kreativitas dan inovatif. Oleh karena itu, dapat dikemukakan bahwa seorang wirausaha dapat dibentuk dan dipelajari, bukan lahir dengan sendirinya (Abdullah; 2015)

 

e.       Pembelajaran Kewirausahaan

Kewirausahaan merupakan jiwa dari seseorang yang diekspresikan melalui sikap dan perilaku yang kreatif dan inovatif untuk melakukan suatu kegiatan. Dengan demikian, perlu ditegaskan bahwa tujuan pembelajaran kewirausahaan sebenarnya tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan pebisnis atau business entrepreneur, tetapi mencakup seluruh profesi yang didasari oleh jiwa wirausaha atau entrepreneur.

Setiap kegiatan disadari atau tidak mempunyai tujuan, apalagi kegiatan pembelajaran kewirausahaan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tujuan berarti arah atau maksud. Sementara itu maksud diartikan sebagai sesuatu yang dikehendaki sebagaimana telah disebutkan bahwa arah proses kewirausahaan dimulai dari imitasi dan duplikasi. Sedangkan hasil akhir yang ingin dicapai dari pembelajaran kewirausahaan ialah tertanam atau terbentuknya jiwa wirausaha pada diri sesorang, sehingga yang bersangkutan menjadi seorang wirausaha dengan kompetensinya. Inti dari kompetensi seorang wirausaha ialah inovatif dan kreatif.

Dalam konteks yang relatif lebih luas Astim (Hadari; 2015) mengemukakan; Pendidikan kewirausahaan merupakan semacam pendidikan yang mengajarkan agar orang mampu menciptakan kegiatan usaha sendiri. Pendidikan semacam itu ditempuh dengan cara:

1)   membangun keimanan, jiwa dan semangat

2)   membangun dan mengembangkan sikap mental dan watak wirausaha

3)   mengembangkan daya pikir dan cara berwirausaha

4)   memajukan dan mengembangkan daya penggerak diri

5)   mengerti dan menguasai teknik-teknik dalam menghadapi risiko, persaingan dan suatu proses kerjasama

6)   mengerti dan menguasai kemampuan menjual ide

7)   memiliki kemampuan kepengurusan atau pengelolaan

8)   serta mempunyai keahlian tertentu termasuk penguasaan bahasa asing tertentu untuk keperluan komunikasi.

Menurut Eman Suherman (Susanto; 2016) pola pembelajaran kewirausahaan minimal mengandung empat unsur sebagai berikut:

a)      Pemikiran yang diisi oleh pengetahuan tentang nilai-nilai, semangat, jiwa, sikap dan perilaku, agar peserta didik memiliki pemikiran kewirausahaan.

b)      Perasaan, yang diisi oleh penanaman empatisme sosial- ekonomi, agar peserta didik dapat merasakan suka-duka berwirausaha dan memperoleh pengalaman empiris dari para wirausaha terdahulu.

c)      Keterampilan yang harus dimiliki oleh peserta didik untuk berwirausaha.

d)      Kesehatan fisik, mental dan sosial. Sehubungan dengan hal ini, peserta didik hendaknya dibekali oleh teknik- teknik antisipasi terhadap berbagai hal yang mungkin timbul dalam berwirausaha baik berupa persoalan, masalah maupun risiko lainnya sebagi wirausaha.

 

3.Pengembangan SDM

Walaupun pelatihan dan pengembangan mempunyai kesamaan dalam metode yang digunakan dalam pembelajaran, namun ada beberapa hal yang dapat di bedakan. Pelatihan lebih berorientasi pada pekerjaan saat ini, fokusnya kepada pekerjaan seseorang saat ini ditujukan untuk meningkatkan keterampilan-keterampilan tertentu dan kemampuan untuk dapat melaksanakan pekerjaannya dengan sesegera mungkin. Sedangkan pengembangan lebih berorientasi pada masa depan dan lebih peduli dengna peningkatan kemampuan seseorang untuk memahami dan menginterprestasi pengetahuan bukan mengajarkan keterampilan teknis. Dalam pembahasan tentang pengertian pengembangan sumber daya manusia (SDM) (Human Resources Development) tersebut, berikut ini dikemukakan beberapa pendapat dari para ahli dibidang manajemen.

Gouzali (Susanto; 2016) mengemukakan sebagai berikut. Pengembangan SDM (Sumber Daya Manusia), merupakan kegiatan yang harus dilaksanakan organisasi, agar pengetahuan (knowledge), kemampuan (ability), dan keterampilan (skill) mereka sesuai tuntutan pekerjaan yang mereka lakukan. Dengan pengembangan ini diharapkan dapat memperbaiki dan mengatasi kekurangan dalam melaksanakan pekerjaan dengan lebih baik, sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang digunakan oleh organisasi. Dengan demikian, pengembangan SDM merupakan sebuah cara efektif untuk menghadapi tantangan- tantangan, termasuk ketertinggalan SDM serta keragaman SDM yang ada dalam organisasi, perubahan teknik kegiatan yang disepakati dan perputaran SDM. Dalam menghadapi tantangan- tantangan diatas, Unit Kepegawaian/ personalia. SDM dapat memelihara para SDM yang efektif dengan program pengembangan SDM. Sedangkan manajemen sumber daya manusia adalah suatu proses yang terdiri atas perencanaan, pengorganisasian, pemimpina, dan pengendalian kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan analisis pekerjaan, evaluasi pekerjaan, pengadaan, pengembangan, kompensasi, promosi, dan pemutusan hubungan kerja guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.33 Tujuan pengembangan SDM adalah untuk memastikan bahwa organisasi mempunyai orang yang berkualitas untuk mencapai organisasi untuk meningkatkan kinerja dan pertumbuhan. Terdapat tujuh manfaat yang dipetik melalui penyelenggaraan pengembangan antara lain:

a.              Peningkatan produktivitas kerja organisasi sebagai keseluruhan antara lain karena tidak terjadinya pemborosan, karena kecermatan melaksanakan tugas, tumbuh subur nya kerjasama antara sebagian kerja yang melaksanakan kegiatan yang berbeda yang spesifik.

b.             Terwujudnya hubungan yang serasi antara atasan dan bawahan antara lain karena adanya pendelegasian wewenang, interaksi yang didasarkan sikap dewasa baik secara teknikal maupun intelektual, saling menghargai dan adanya kesempatan bagi bawahan untuk berfikir dan bertindak secara inovatif.

c.              Terjadinya proses pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat karena melibatkan pegawai yang bertanggung jawab menyelenggarakan kegiatan- kegiatan operasional dan tidak sekedar diperintahkan oleh para manajer.

d.             Meningkatkan semangat kerja seluruh tenaga kerja dalam organisasi dengan komitmen organisasional yang lebih tinggi.

e.              Mendorong sikap keterbukaan manajemen melalui penerapan gaya manajerial praktisipatif.

f.              Mempelancar jalannya komunikasi yang efektif yang pada gilirannnyamempelancar proses perumusan kebijaksnaann organisasi dan operasionalisasinya.

g.              Penyelesaian konflik secara fungsional yang dammpaknya adalah tumbuh suburnya rasa persatuan dan suasana kekeluargaan dikalangan para anggota organisasi.

h.             Disamping manfaat bagi organisasi, pelaksanaan program pelatihan dan pengembangan yang baik sudah barang tentu bermanfaat pula bagi para anggota organisasi (Winardi; 2015).

 

B.     Konsep Dasar Pendidikan Keterampilan

1.      Pengertian Pendidikan Keterampilan

Meskipun keterampilan telah didefinisikan berbeda-beda, namun esensi pengertiannya sama. Brolin (Mutiara; 2014) mendefinisikan keterampilan sebagai kontinum pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan oleh seseorang untuk berfungsi secara independen dalam kehidupan. Pendapat lain mengatakan bahwa keterampilan adalah kecakapan sehari-hari yang diperlukan oleh seseorang agar sukses dalam menjalankan kehidupan.

Malik Fajar (Sudjana; 2017) mendefinisikan keterampilan sebagai kecakapan untuk bekerja selain kecakapan untuk berorientasi ke jalur akademik. Sementara itu Tim Broad-Based Education (Sudjana; 2017) menafsirkan keterampilan sebagai kecakapan yang dimiliki seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya. Meskipun terdapat perbedaan dalam pengertian keterampilan, namun esensinya sama yaitu bahwa keterampilan adalah kemampuan, serta kesanggupan yang diperlukan oleh seseorang untuk menjalankan kehidupan dengan nikmat dan bahagia.

Oleh karena itu, pendidikan keterampilan adalah, pendidikan yang memberi bekal dasar dan latihan yang dilakukan secara benar kepada peserta didik tentang nilai-nilai kehidupan sehari-hari agar yang bersangkutan mampu, sanggup, dan terampil menjalankan kehidupannya, yaitu dapat menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya. Dengan definisi tersebut, maka pendidikan keterampilan harus merefleksikan nilai-nilai kehidupan nyata sehari-hari, baik yang bersifat preservative maupun progresif. Pendidikan perlu diupayakan relevansinya dengan nilai-nilai kehidupan nyata sehari-hari. Dengan cara ini, pendidikan akan lebih realistis, lebih kontekstual. Tidak akan mencabut peserta didik dari akarnya, sehingga pendidikan akan lebih bermakna bagi peserta didik dan akan tumbuh subur. Seseorang dikatakan memiliki keterampilan apabila yang bersangkutan mampu, sanggup, dan terampil menjalankan kehidupan dengan nikmat dan bahagia. Kehidupan yang dimaksud meliputi kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, kehidupan tetangga, kehidupan perusahaan, kehidupan masyarakat, kehidupan bangsa, dan kehidupan-kehidupan lainnya. Ciri kehidupan adalah perubahan dan perubahan selalu menuntut kecakapan-kecakapan untuk menghadapinya.

 

 

2.  Ruang Lingkup Pendidikan Keterampilan

Adapun yang menjadi ruang lingkup pendidikan keterampilan adalah sebagai berikut :

A.   Keterampilan Dasar

Keterampilan dasar ini terdiri dari :

1)   Keterampilan belajar terus-menerus

Keterampilan belajar terus menerus (sepanjang hayat) adalah keterampilan yang paling penting dibandingkan dengan semua keterampilan lainnya.  Pengetahuan, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan kehidupan berubah makin cepat sehingga menuntut tamatan sekolah memiliki kemampuan untuk belajar terus-menerus. 

Keterampilan ini merupakan kunci yang dapat membuka kesuksesan masa depan.  Dengan keterampilan ini, tamatan sekolah mudah menguasai keterampilan-keterampilan lainnya.  Karena itu, tamatan sekolah perlu diberi bekal dasar tentang strategi, metode, dan teknik belajar untuk memperoleh dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi baru dalam kehidupannya.

2)   Keterampilan membaca, menulis, menghitung

Tamatan Sekolah diharapkan memiliki keterampilan membaca dan menulis secara fungsional, baik dalam bahasa Indonesia maupun salah satu bahasa asing, misalnya bahasa Inggris, Jerman, Perancis, Arab, Jepang, Mandarin, atau yang lain. Keterampilan membaca memahami dan menafsirkan informasi tertulis dalam suratkabar, majalah, jurnal, dan dokumen. 

Menulis mengkomunikasikan pikiran, ide-ide, informasi, dan pesan-pesan tertulis dan membuat dokumen-dokumen seperti surat, arahan, bimbingan, pedoman kerja, manual, laporan, grafik, dan diagram alir. 

Keterampilan menghitung, kemampuan dasar menghitung dan memecahkan masalah-masalah praktis, dengan memilih secara tepat dari teknik-teknik matematika yang ada, dengan atau tanpa bantuan teknologi.

3)   Keterampilan berkomunikasi: lisan, tertulis, tergambar, mendengar

Manusia berinteraksi dengan manusia lain melalui komunikasi langsung, baik secara lisan, tertulis, tergambar, dan bahkan melalui kesan pun bisa. Mengingat manusia menggunakan sebagian besar waktunya untuk berkomunikasi dengan orang lain, maka keterampilan berkomunikasi termasuk keterampilan mendengar harus dimiliki oleh tamatan sekolah. Suatu studi menyimpulkan bahwa kelemahan berkomunikasi akan menghambat pengembangan personal dan profesional seseorang.  Bahkan para pebisnis memperkirakan bahwa kelemahan berkomunikasi akan menambah pembiayaan usahanya akibat kesalahan yang dibuat.  Mengingat era globalisasi telah bergulir, maka penguasaan salah satu bahasa asing (Inggris, Perancis, Arab, Jepang, Jerman, Mandarin, dsb.) oleh peserta didik merupakan keniscayaan.

4)  Keterampilan berpikir

Tingkat keterampilan berpikir seseorang akan berpengaruh terhadap kesuksesan hidupnya.  Mengingat kehidupan manusia sebagian besar dipengaruhi oleh cara berpikir, maka peserta didik perlu diberi bekal dasar dan latihan-latihan dengan cara yang benar tentang keterampilan berpikir deduktif, induktif, ilmiah, kritis, nalar, rasional, lateral, sistem, kreatif, eksploratif, discovery, inventory, reasoning, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah.  Selain itu, peserta didik harus diberi bekal dasar tentang kecintaan terhadap kebenaran, keterbukaan terhadap kritik dan saran, dan berorientasi kedepan. 

 

5)   Keterampilan kalbu: iman (spiritual), rasa dan emosi

Memiliki keterampilan kalbu yang baik, merupakan aset kualitas batiniyah yang sangat bermanfaat bagi kehidupan bangsa.  Keterampilan kalbu yang terdiri dari iman (spiritual), rasa, dan emosi merupakan unsur-unsur pembetuk jiwa selain akal.  

Pada dasarnya, jiwa merupakan peleburan iman, rasa, emosi, dan akal.  Jiwa merupakan sumber kekuatan dan kendali bagi setiap manusia dalam menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi.  Bahkan, baik buruknya suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh baik buruknya kalbu bangsa yang bersangkutan.  Erosi kalbu akan berpengaruh sangat dahsyat karena apapun tingginya derajad berpikir seseorang, tetapi jika tidak dilandasi oleh moral, spiritual dan emosional yang baik, hanya kehancuran yang terjadi.  Untuk itu, peserta didik perlu diberi bekal dasar dan latihan-latihan dengan cara yang benar tentang keterampilan moral, emosional dan spiritual.  Integritas, kejujuran, solidaritas, kasih sayang pada orang lain, kesopanan, disiplin diri, menghargai orang lain, hak asasi, kepedulian, toleransi, dan tanggung jawab.

6)   Keterampilan mengelola kesehatan badan

Di mana terdapat kesehatan badan, di situlah terdapat kesehatan jiwa.  Manusia diciptakan oleh-Nya dengan martabat tertinggi sehingga yang bersangkutan harus memelihara kesehatan dirinya lebih baik dari pada memelihara barang-barangnya.   Oleh karena itu, peserta didik sudah selayaknya diberi bekal dasar tentang pengelolaan kesehatan badan agar yang bersangkutan memiliki kesehatan badan yang prima, bebas penyakit, dan memiliki ketahanan badan yang kuat.  Berolahraga secara teratur, makan yang bergizi dan bervitamin, menjaga kebersihan, dan beristirahat cukup merupakan pendidikan keterampilan mengelola kesehatan badan yang harus diterapkan dalam kehidupan peserta didik.

7)  Keterampilan merumuskan keinginan dan upaya-upaya untuk mencapainya

Dua hal yang karakteristik sifatnya dalam kehidupan adalah: (1) adanya keinginan baru, dan (2) upaya-upaya yang diperlukan untuk mencapai keinginan baru tersebut.  Keterampilan merumuskan dua hal yang karakteristik ini merupakan bagian penting bagi kehidupan seseorang.  Dalam kehidupan banyak dijumpai orang-orang yang kurang mampu merumuskan tujuan hidup yang realistik, dan kalaupun tujuan yang dirumuskan cukup realistik, tidak jarang pula upaya-upaya yang ditempuh kurang sesuai.  Keterampilan semacam ini perlu diajarkan kepada peserta didik agar yang bersangkutan mampu menjalani kehidupan secara realistis. 

8)  Keterampilan berkeluarga dan sosial

Peserta didik hidup dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.  Dalam keluarga, siswa tersebut berinteraksi dengan ayah, ibu, dan saudara-saudaranya.  Peserta didik harus memahami, menghayati, dan menerapkan nilai-nilai kasih sayang, kesopanan, toleransi, kedamaian, keadilan, respek, kecintaan, solidaritas, dan tatakrama sebagai anak terhadap kedua orang tuanya maupun sebagai saudara terhadap saudaran-saudaranya. 

Dalam sekolah, peserta didik harus memahami, menghayati, dan menerapkan ketentuan-ketentuan yang berlaku di sekolah. Dalam masyarakat, peserta didik harus memahami, menghayati dan menerapkan nilai-nilai sosial sebagai berikut: menjunjung tinggi hak asasi manusia, peduli terhadap barang-barang milik publik, kerjasama, tanggungjawab dan akuntabilitas sosial, keterbukaan, dan apresiasi terhadap keanekaragaman.  Peserta didik harus mampu berkomunikasi, baik secara verbal maupun non-verbal. 

Kelancaran berkomunikasi, selain memperbanyak kawan, juga untuk memupuk kesehatan mental.  Karena peserta didik hidup dalam masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan, maka dia harus memiliki kemampuan untuk memimpin dan dipimpin.

 

B.  Keterampilan Instrumental

Keterampilan Instrumental ini terdiri dari:

1)   Keterampilan memanfaatkan teknologi dalam kehidupan

Teknologi telah merambah ke segala kehidupan dan merupakan alat penggerak utama kehidupan.  Bahkan keunggulan teknologi merupakan salah satu faktor daya saing yang ampuh.  Salah satu faktor yang membuat negara berkembang tertinggal dengan negara maju adalah ketertinggalan teknologi. Generasi muda harus diberi bekal agar mengapresiasi pentingnya teknologi bagi kehidupan dan mempersiapkannya untuk mempelajari dan mengembangkan teknologi yang ada.  Mereka harus dididik bagaimana bekerja dengan jenis-jenis teknologi dan disiapkan agar mereka memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi dalam berbagai kehidupan (pertanian, perikanan, peternakan, kerajinan, kerumahtanggaan, kesehatan, komunikasi, industri, perdagangan, kesenian, pertunjukan, olah raga, konstruksi, transportasi, dan perbankan).  Peserta didik perlu dibekali cara-cara memilih teknologi, menggunakannya untuk tugas-tugas tertentu dan cara-cara memeliharanya.   

2)    Keterampilan mengelola sumber daya

Peserta didik perlu diberi bekal tentang arti, tujuan, dan cara-cara mengidentifikasi, mengorganisasi, merencanakan, dan mengalokasikan sumber daya. Lebih spesifiknya, siswa perlu dilatih: (1) mengelola sumber daya alam; (2) mengelola waktu; (3) mengelola uang, dengan melatih mereka membuat rencana teknis dan anggaran, penggunaannya, dan membuat penyesuaian-penyasuaian untuk mencapai tujuan; (4) mengelola sumber daya ruang, (5) mengelola sumber daya sosial-budaya, (6) mengelola peralatan dan perlengkapan, dan (7) mengelola lingkungan. 

3)  Keterampilan bekerjasama dengan orang lain

Kehidupan, baik perusahaan, bank, pendidikan, maupun yang lain, yang akan dimasuki oleh tamatan sekolah kelak pada umumnya bersifat kolektif.  Tamatan Sekolah hanyalah merupakan bagian dari kehidupan tersebut.  Mereka nantinya harus bisa bekerjasama secara harmonis dengan orang lain.  Karena itu, sejak dini mereka perlu diberi bekal dan latihan-latihan yang dilakukan secara benar tentang cara-cara bekerjasama, menghargai hak asasi orang lain, pentingnya kebersamaan, tanggungjawab, dan akuntabilitas perbuatan, keterbukaan, apresiasi keanekaragaman, kemauan baik yang kreatif, kepemimpinan, manajemen negosiasi, dan masih banyak hal-hal lain yang perlu diajarkan.

4)  Keterampilan memanfaatkan informasi

Saat ini dan lebih-lebih di masa mendatang, informasi akan mengalir secara cepat dan deras dalam berbagai kehidupan.  Siapa yang tertinggal informasi akan tertinggal pula dalam kehidupannya.  Jadi, informasi sudah merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh pada kehidupan seseorang.  Untuk itu, peserta didik perlu dibekali cara-cara mendapatkan dan memanfaatkan aneka ragam informasi yang ada.  Mereka harus dididik cara-cara mendapatkan dan mengevaluasi informasi, mengorganisasi dan memelihara informasi, menafsirkan dan mengkomunikasikan informasi, dan menggunakan komputer untuk mengolah data agar menjadi informasi. 

5)   Keterampilan menggunakan sistem dalam kehidupan

Kehidupan diciptakan oleh-Nya dalam serba sistem.  Oleh karenanya, jika ingin mengenali hakikat (kebenaran seutuhnya) segala yang ada dalam kehidupan, harus mengenali sampai pada sistemnya.  Mengenali sampai pada sistemnya ditempuh melalui perbuatan berpikir sistem.  Berpikir sistem adalah berpikir membangun keberadaan hal menurut kriteria sistem.  Sistem adalah kumpulan proses berstruktur hirarkis yang terikat pada tujuan.  Peserta didik perlu memahami, menghayati, dan menerapkan sistem dalam kehidupannya.  Mereka perlu diberi bekal dasar tentang cara berpikir, cara mengelola, dan cara menganalisis kehidupan sebagai sistem.  Mereka harus memahami cara kerja sistem-sistem kehidupan seperti misalnya bank, perusahaan, sekolah, pertanian, peternakan, dan keluarga.  Bahkan, dirinya sebagai sistem harus dikenalinya secara baik.

6)        Keterampilan berwirausaha

Keterampilan berwirausaha adalah keterampilan memobilisasi sumber daya yang ada di sekitarnya, untuk mencapai tujuan organisasinya atau untuk keuntungan ekonomi.  Siswa harus dibekali keterampilan berwirausaha. Kewirausahaan memiliki ciri-ciri: (1) bersikap dan berpikir mandiri, (2) memiliki sikap berani menanggung resiko, (3) tidak suka mencari kambing hitam, (4) selalu berusaha menciptakan dan meningkatkan nilai sumber daya, (5) terbuka terhadap umpan balik, (6) selalu ingin perubahan yang lebih baik, (7) tidak pernah merasa puas, terus menerus melakukan inovasi dan improvisasi demi perbaikan selanjutnya, dan (8) memiliki tanggung jawab moral yang baik. 

7)        Keterampilan kejuruan, termasuk olahraga dan seni (cita rasa)

Tidak semua peserta didik menyukai keterampilan berpikir, sebagian dari mereka menyukai keterampilan-keterampilan kejuruan seperti misalnya pertanian, peternakan, kerajinan, bisnis, boga, busana, industri, olahraga, dan kesenian (seni kriya, seni musik, seni tari, seni lukis, seni suara, seni pertunjukan, dan sebagainya).  Juga, tidak semua peserta didik melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi dan karenanya perlu diberi bekal keterampilan kejuruan agar mereka memiliki kemampuan untuk mencari nafkah.  Lebih-lebih bagi peserta didik yang berasal dari kalangan marginal secara ekonomi-sosial, maka dapat dipastikan bahwa mereka tidak akan melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi dan mereka akan terjun dalam kehidupan.  Untuk itu, mereka jelas membutuhkan keterampilan kejuruan yang secara praktis dapat digunakan untuk mencari nafkah.

8)   Keterampilan memilih, menyiapkan dan mengembangkan karir

Setiap tamatan Sekolah kelak berharap memiliki karir yang sesuai dengan potensi dirinya dan sesuai dengan peluang yang ada.  Selain itu, karir yang dimiliki diharapkan dapat memberikan penghargaan yang layak.  Untuk sampai pada harapan tersebut, peserta didik perlu dikenalkan tentang potensi dirinya, jenis-jenis karir yang ada dalam kehidupan, persyaratan untuk memasuki jenis karir tertentu, dan disiapkan agar kelak setelah lulus sekolah mampu memilih, menyiapkan, dan mengembangkan karir yang sesuai dengan potensi dirinya. 

9)   Keterampilan menjaga harmoni dengan lingkungan

Peserta didik hidup dalam lingkungan nyata dan lingkungan maya sekaligus.  Lingkungan nyata berupa fisik yang dapat dirasakan oleh panca indera, seperti tanah, air, dan udara.  Terhadap lingkungan fisik, peserta didik harus mampu menjaga kesehatan dirinya (kebersihan, ketegaran badan) dan keharmonisan dengan alam sekitarnya (memelihara lingkungan).  Lingkungan maya, adalah suasana sosial yang dapat ditangkap oleh otak dan dirasakan oleh hati.  Terhadap lingkungan maya, peserta didik harus mampu menjaga keharmonisan dengan masyarakat di sekitarnya.

10)    Keterampilan menyatukan bangsa berdasarkan nilai-nilai Pancasila

Negara Kesatuan Repuplik Indonesia terdiri dari keanekaragaman / kebhinekaan dalam suku, agama, ras, dan asal-usul tetapi harus tetap menjadi satu (bhineka tunggal ika).  Untuk mencapai bhineka tunggal ika diperlukan upaya-upaya nyata.  Peserta didik perlu diberi bekal kemampuan mengintegrasikan kebhinekaan bangsa berdasarkan nilai-nilai Pancasila. 

 

3.  Tujuan Dan Manfaat Pendidikan Keterampilan

A.   Tujuan pendidikan keterampilan

Seperti juga pada pengertian keterampilan, tujuan pendidikan keterampilan juga bervariasi sesuai dengan kepentingan yang akan dipenuhi.  Naval Air Station Antlanta menuliskan bahwa tujuan pendidikan keterampilan adalah:

To promote family strength and growth through education; to teach concepts and principles relevant to family living, to explore personal attitudes and values, and help members understand and accept the attitudes and values of others; to develop interpersonal skills which contribute to family well-being; to reduce marriage and family conflict and thereby enhance service member productivity; and to encourage on-base delivery of family education program and referral as appropriate to community programs.

Untuk meningkatkan jumlah anggota dan perkembangan melalui pendidikan; dan untuk mengajarkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang relevan pada kehidupan keluarga; dan untuk meneliti sikap dan nilai-nilai pribadi, dan membantu anggota mengerti dan menerima nilai dan sikap tersebut satu sama lain; dan untuk mengembangkan kemampuan antar pribadi yang mengkonstribusikan pada kesejahteraan keluarga, dengan cara demikian, hal itu meningkatkan pelayanan produktivitas anggota; dan untuk mendorong angka kelahiran yang berdasarkan program pendidikan keluarga; dan semestinya program tersebut mengacu kepada komunitas.   

Sementara itu, Tim Broad-Based Education Depdiknas mengemukakan secara umum pendidikan yang berorientasi pada keterampilan bertujuan memfungsikan pendidikan sesuai dengan fitrahnya, yaitu mengembangkan potensi manusiawi peserta didik untuk menghadapi perannya dimasa yang akan datang, secara khusus pendidikan yang berorientasi pada keterampilan bertujuan untuk:

a)    Mengaktualisasikan potensi peserta didik sehingga dapat digunakan untuk memecahkan problema yang dihadapi

b)   Memberikan kesempatan kepada sekolah untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel, sesuai dengan prinsip pendidikan berbasis luas, dan

c)    Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya di lingkungan sekolah, dengan memberi peluang pemanfaatan sumber daya yang ada di masyarakat, sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah.

Dari hasil rumusan tujuan pendidikan keterampilan, yang ditulis oleh Naval Air Station Antlanta dan Tim Broad Based Education Depdiknass, lebih spesifik Slamet PH merumuskan tujuan pendidikan keterampilan, dapat dikemukakan sebagai berikut. 

a)      Memberdayakan aset kualitas batiniyah, sikap, dan perbuatan lahiriyah peserta didik melalui pengenalan (logos), penghayatan (etos), dan pengamalan (patos) nilai-nilai kehidupan sehari-hari sehingga dapat digunakan untuk menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya. 

b)      Memberikan wawasan yang luas tentang pengembangan karir, yang dimulai dari pengenalan diri, eksplorasi karir, orientasi karir, dan penyiapan karir. 

c)      Memberikan bekal dasar dan latihan-latihan yang dilakukan secara benar mengenai nilai-nilai kehidupan sehari-hari yang dapat memampukan peserta didik untuk berfungsi menghadapi kehidupan masa depan yang sarat kompetisi dan kolaborasi sekaligus.

d)     Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya sekolah melalui pendekatan manajemen berbasis sekolah dengan mendorong peningkatan kemandirian sekolah, partisipasi stakeholders, dan fleksibilitas pengelolaan sumber daya sekolah. 

e)      Memfasilitasi peserta didik dalam memecahkan permasalahan kehidupan yang dihadapi sehari-hari, misalnya kesehatan mental dan fisik, kemiskinan, kriminal, pengangguran, lingkungan sosial dan fisik, narkoba, kekerasan, dan kemajuan ipteks.

Meskipun sangat bervariasi dalam menyatakan tujuan pendidikan keterampilan, namun dari pernyataan tersebut, konvergensinya sudah begitu jelas bahwa tujuan utama pendidikan keterampilan adalah menyiapkan peserta didik agar yang bersangkutan mampu, sanggup, dan terampil menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya di masa datang, serta esensi dari pendidikan keterampilan adalah untuk meningkatkan relevansi pendidikan dengan nilai-nilai kehidupan nyata, baik preservatif maupun progresif. 

 

B. Manfaat pendidikan keterampilan

Secara umum manfaat pedidikan berorientasi keterampilan bagi peserta didik adalah sebagai bekal dalam menghadapi dan memecahkan problem hidup dan kehidupan, baik sebagai pribadi yang mandiri, warga masyrakat, maupun sebagai sebagai warga Negara.

Lebih jauh lagi Slamet PH memberikan diskripsi tentang memfaat dari pendidikan yang berorientasi kepada keterampilan sebagai berikut.  Pertama, peserta didik memiliki aset kualitas batiniyah, sikap, dan perbuatan lahiriyah yang siap untuk menghadapi kehidupan masa depan sehingga yang bersangkutan mampu dan sanggup menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya.  Kedua, peserta didik memiliki wawasan luas tentang pengembangan karir dalam dunia kerja yang sarat perubahan yaitu yang mampu memilih, memasuki, bersaing, dan maju dalam karir.  Ketiga, peserta didik memiliki kemampuan berlatih untuk hidup dengan cara yang benar, yang memungkinan peserta didik berlatih tanpa bimbingan lagi.  Keempat, peserta didik memiliki tingkat kemandirian, keterbukaan, kerjasama, dan akuntabilitas yang diperlukan untuk menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya. Kelima, peserta didik memiliki kemampuan dan kesanggupan untuk mengatasi berbagai permasalahan hidup yang dihadapi.

Dari berbagi rumusuan di atas, baik yang dideskripsikan oleh Tim Broad Based Education Depdiknas maupun dari Slamet Ph, esensi dari Pendidikan keterampilan, mampu memberikan manfaat pribadi peserta didik dan manfaat sosial bagi masyarakat.  Bagi peserta didik, pendidikan keterampilan dapat meningkatkan kualitas berpikir, kualitas kalbu, dan kualitas fisik.  Peningkatan kualitas tersebut pada gilirannya akan dapat meningkatkan pilihan-pilihan dalam kehidupan individu, misalnya karir, penghasilan, pengaruh, prestise, kesehatan jasmani dan rohani, peluang, pengembangan diri, kemampuan kompetitif, dan kesejahteraan pribadi.  Bagi masyarakat, pendidikan keterampilan dapat meningkatkan kehidupan yang maju dan madani dengan indikator-indikator yang ada: peningkatan kesejahteraan sosial, pengurangan perilaku destruksif sehingga dapat mereduksi masalah-masalah sosial, dan pengembangan masyarakat yang secara harmonis mampu memadukan nilai-nilai religi, teori, solidaritas, ekonomi, kuasa dan seni.

Pendidikan keterampilan memang bukan sesuatu yang baru.  Yang benar-benar baru adalah bahwa kita mulai sadar dan berfikir bahwa relevansi antara pendidikan dengan nilai-nilai kehidupan nyata perlu ditingkatkan intensitas dan efektivitasnya.  Karena itu, yang diperlukan adalah membawa sekolah sebagai bagian dari masyarakat dan bukannya menempatkan sekolah sebagai sesuatu yang berada di masyarakat.  Pendidikan harus merefleksikan nilai-nilai kehidupan sehari-hari, baik yang bersifat preservatif dan progresif.  Sekolah harus menyatu dengan nilai-nilai kehidupan nyata yang ada di lingkungannyadan mendidik peserta didik sesuai dengan tuntutan nilai-nilai kehidupan yang sedang berlaku.  Ini menuntut proses belajar mengajar dan masukan instrumental sekolah seperti misalnya kurikulum, guru, metodologi pembelajaran, alat bantu pendidikan, dan evaluasi pembelajaran benar-benar realistik, kontekstual, dan bukannya artifisial. Jika hal itu dapat dicapai, maka faktor ketergantungan pada lapangan pekerjaan yang sudah ada, sebagai akibat dari banyaknya pengangguran, dapat diturunkan, yang berarti produktivitas nasional akan meningkat secara bertahap. 

 

C.     Hakikat Pembelajaran

1.        Pengertian Pembelajaran

 

Pembelajaran merupakan suatu proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan berbagai sumber belajar yang ada di lingkungan belajar tersebut. Menurut aliran behavioristik dalam Hamdani mengatakan bahwa pembelajaran adalah usaha guru membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan atau stimulus. Selanjutnya menurut Gagne, dkk dalam Warsita mengatakan bahwa pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar peserta didik, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar peserta didik yang bersifat internal. menurut Dimyati dan Mudjiono dalam buku karya Sagala, bahwasanya pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar.

Lebih lanjut Warsita menjelaskan bahwa ada lima prinsip yang menjadi landasan pengertian pembelajaran yaitu:

a.        Pembelajaran sebagai usaha untuk memperoleh perubahan perilaku. Prinsip ini mengandung makna bahwa ciri utama proses pembelajaran itu adalah adanya perubahan perilaku dalam diri peserta didik.

b.        Hasil pembelajaran ditandai dengan perubahan perilaku secara keseluruhan. Prinsip ini mengandung makna bahwa perilaku sebagai hasil pembelajaran meliputi semua aspek perilaku dan bukan hanya satu atau dua aspek saja.

c.        Pembelajaran merupakan suatu proses. Prinsip ini mengandung makna bahwa pembelajaran itu merupakan suatu aktivitas yang berkesinambungan, di dalam aktivitas itu terjadi adanya tahapan- tahapan aktivitas yang sistematis dan terarah.

d.        Proses pembelajaran terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong dan adanya suatu tujuan yang akan dicapai.

e.        Pembelajaran merupakan bentuk pengalaman.

Berdasarkan pendapat tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah suatu usaha yang dilakukan oleh pendidik dalam membelajarkan peserta didik sehingga terjadi perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik (Dimyati dan Mudjiono; 2014). 

2.        Ciri-Ciri Pembelajaran

 

Darsono dalam Hamdani berpendapat bahwa ciri-ciri pembelajaran adalah sebagai berikut:

a.      Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan dengan sistematis.

b.     Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar.

c.      Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik perhatian dan menantang siswa.

d.     Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menarik.

e.      Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan bagi siawa.

f.      Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran, baik secara fisik maupun secara psikologi.

g.     Pembelajaran menekankan keaktifan siswa.

h.     Pembelajaran dilakukan secara sadar dan sengaja.

Oleh karena itu, pembelajaran pasti mempunyai tujuan yaitu membantu siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu, tingkah laku siswa bertambah, baik kuantitas maupun kualitasnya. Tingkah laku ini meliputi pengetahuan, keterampilan dan nilai atau norma yang berfungsi pengendali sikap dan perilaku siswa.

3.        Komponen-Komponen Pembelajaran

 

Pembelajaran merupakan suatu proses, maka dalam proses pembelajaran ada beberapa komponen yang saling berinteraksi satu dengan yang lain sehingga disebut sebagai sistem. Sebagai suatu sistem, proses belajar itu saling berkaitan dan bekerja sama untuk mencapai tujuan yang ingin dicapainya.

Komponen-komponen proses pembelajaran adalah:

a.        Tujuan

 

Tujuan adalah suatu harapan atau cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tidak ada suatu kegiatan pembelajaran yang tidak mempunyai tujuan, dan hal ini telah dipersiapkan oleh seorang guru sebelum kegiatan pembelajaran yang tertera dalam rencana pembelajaran yang dirumuskan melalui tujuan pembelajaran khusus.

b.        Bahan Pembelajaran

 

Bahan pembelajaran merupakan substansi yang akan disajikan dalam kegiatan pembelajaran. Tanpa materi pembelajaran program pembelajaran tidak akan berjalan. Karena itu, guru yang akan mengajar harus memiliki dan menguasai materi pelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik.7

c.        Pendekatan, Model, Strategi, Metode, Teknik

 

Komponen yang ketiga ini mempunyai fungsi yang sangat menentukan. Keberhasilan pencapaian tujuan sangat ditentukan oleh komponen ini. Bagaimanapun lengkap dan jelasnya komponen lain, tanpa dapat diimplementasikan melalui strategi yang tepat, maka komponen-komponen tersebut tidak akan memiliki makna dalam proses pencapaian tujuan.

d.        Media Pembelajaran

 

Merupakan alat atau wahana yang digunakan guru dalam proses pembelajaran untuk membantu penyampaian pesan pembelajaran. Media pembelajaran berfungsi meningkatkan peranan strategi pembelajaran.

e.        Evaluasi

 

Evaluasi bukan saja berfungsi untuk melihat keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran, tetapi juga berfungsi sebagai umpan balik bagi guru atas kinerjanya dalam pengelolaan pembelajaran. Melalui evaluasi kita dapat melihat kekurangan dalam pemanfaatan berbagai komponen sistem pembelajaran.

 

 

 

B.         Tinjauan tentang Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, dan Model Pembelajaran

Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran; (4) teknik pembelajaran; dan (5) model pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.

1.        Pendekatan Pembelajaran

 

Para ahli memandang pendekatan (approach) pembelajaran sebagai seperangkat asumsi yang paling berkaitan dan bersangkutan dengan hakikat belajar, hakikat mengajar, dan hakikat disiplin ilmu yang dipelajari. Lebih lanjut, pendekatan bisa diartikan sebagai cara pandang filosofis terhadap sebuah objek tertentu yang dipercayai tanpa harus dibuktikan lagi kebenarannya.

Pendekatan dalam konsep pembelajaran dapat dipandang sebagai a way of beginning something „cara memulai sesuatu‟. Berdasarkan pengertian ini, pendekatan pembelajaran berfungsi sebagai panduan dasar tentang mengajarkan sesuatu dan bagaimana sesuatu itu dapat dipelajari lebih mudah. Pendekatan pembelajaran akan menjadi pedoman bagi proses pembelajaran sekaligus akan memberikan melahirkan sejumlah tahapan belajar mengajar yang semestinya dilakukan agar pembelajaran dapat mencapai tujuan yang dikehendaki. Guna membedakan pendekatan dengan istilah lain dalam konteks pembelajaran, dapat dikemukakan ciri khas pendekatan pembelajaran sebagai berikut.

a.      Pendekatan bersifat aksiomatis.

b.     Lahir dari sejumlah asumsi, teori, ataupun prinsip tertentu.

c.      Pendekatan akan melahirkan sejumlah metode pembelajaran.

d.     Memberikan pedoman terhadap metode pembelajaran khususnya dalam proses pembelajaran.

Bertema dengan uraian di atas, jelaslah bahwa dalam suatu proses pembelajaran pendekatan itu sangat penting. Pendekatan berfungsi sebagai pedoman umum dan langsung bagi metode pembelajaran yang akan digunakan. Lebih lanjut lagi, pendekatan akan menurunkan berbagai metode pembelajaran dan teknik pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran.

2.        Strategi Pembelajaran

 

Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.12 Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. (Wahab; 2014) dalam Martinis Yamin mengemukakan bahwa strategi pembelajaran merupakan keseluruhan perencanaan untuk mengajar pelajaran tertentu yang memuatkan metode dan urutan langkah- langkah yang diikuti untuk melaksanakan kegiatan belajar. Strategi pembelajaran merupakan prinsip-prinsip dalam pemilihan urutan pengulangan belajar dalam suatu proses pembelajaran. Lebih lanjut dikemukakan bahwa strategi pembelajaran berkaitan erat dengan situasi belajar yang sering digambarkan sebagai model pembelajaran.

Menurut Rowntree dalam Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu:

a.        Strategi Pembelajaran Penyampaian Penemuan (Exposition Discovery Learning)

b.        Strategi Pembelajaran Kelompok dan Individual (Group Individual Learning)

Jadi disimpulkan bahwa strategi pembelajaran adalah perpaduan dari urutan kegiatan, cara pengorganisasian materi, metode dan teknik pembelajaran, media pembelajaran serta waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan yang ditentukan. Dengan kata lain strategi pembelajaran adalah berkenaan dengan pendekatan pembelajaran sebagai suatu cara yang sistematik dalam mengkomunikasikan isi pelajaran kepada pembelajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Strategi pengajaran terdiri atas metode dan teknik atau prosedur yang menjamin siswa sampai tujuan. Strategi pengajaran lebih luas daripada metode atau teknik pengajaran. Dengan kata lain, metode atau teknik pengajaran merupakan bagian dari strategi pengajaran.

 

3.        Metode Pembelajaran

 

Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan guru untuk menyampaikan pelajaran kepada siswa. Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dipergunakan oleh guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Dengan demikian, metode pembelajaran merupakan alat untuk menciptakan proses belajar mengajar.

Metode Pembelajaran merupakan cara guru melakukan atau menyajikan, menguraikan, memberi contoh, dan memberi latihan isi pelajaran kepada peserta didik untuk mencapai tujuan tertentu.19 Metode cara guru menjelaskan konsep, fakta, dan prinsip kepada peserta didik dengan cara pendekatan pembelajaran berpusat pada guru (Teacher Oriented) dan Pembelajaran berpusat pada peserta didik (Student Oriented).

Setiap metode pembelajaran mempunyai keunggulan dan kelemahan masing-masing. Tidak ada suatu metode pembelajaran pun yang dianggap ampuh untuk segala situasi. Suatu metode pembelajaran dapat dipandang ampuh untuk suatu situasi, tapi tidak ampuh untuk situasi lain. Oleh karena itu, sering terjadi pembelajaran dilakukan dengan menggunakan berbagai metode pembelajaran secara bervariasi. Akan tetapi, dapat pula suatu metode pembelajaran dilaksanakan secara berdiri sendiri. Hal ini bergantung pada pertimbangan situasi belajar mengajar yang relevan.

Jadi, dapat disimpulkan bahwasanya metode pembelajaran adalah suatu cara guru dalam melaksanakan prosedur untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Metode merupakan langkah operasional dari strategi pembelajaran yang dipilih dalam mencapai tujuan belajar, sehingga bagi sumber belajar dalam menggunakan suatu metode pembelajaran harus disesuaikan dengan jenis strategi yang digunakan. Ketepatan penggunaan suatu metode akan menunjukkan fungsionalnya strategi dalam kegiatan pembelajaran.

Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran

4.        Teknik Pembelajaran

 

Teknik pembelajaran menurut Yunus Abidin adalah berbagai cara yang secara langsung diterapkan guru untuk menyampaikan materi kepada siswanya selama proses pembelajaran terjadi di dalam kelas. Cara ini mencakup aktivitas kelas, tugas, dan pengujian dalam kelas yang dilakukan guru ketika melangsungkan proses pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran berkenaan langsung dengan implementasi kegiatan belajar mengajar. Teknik ini mengacu pada cara guru melaksanakan belajar mengajar, baik di dalam maupun di luar kelas.22

Karakteristik teknik pembelajaran yang dikemukakan oleh Brown , Richards dan Rodgers (Melvin; 2016) adalah sebagai berikut:

a.        Bersifat Implementasional yakni cara langsung yang dipakai guru dalam menyampaikan materi pembelajaran di dalam kelas.

b.        Hanya ditujukan pada satu tahapan pembelajaran yakni pada tahap inti pembelajaran

c.        Teknik        pembelajaran   digunakan       untuk   mencapai         tujuan pembelajaran khusus tertentu

Teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif.

Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.

5.        Model Pembelajaran

 

Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat- perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, computer, kurikulum, dan lain-lain.

Menurut Soekamto, dkk dalam Trianto mengemukakan maksud dari model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.

Model mengajar adalah suatu rencana atau pola yang digunakan untuk menyusun kurikulum, mengatur materi pembelajaran, dan memberikan petunjuk kepada pengajar di dalam kelas berkenaan dengan proses belajar mengajar yang akan dilaksanakan. Dalam sebuah model wajib mengandung empat komponen dasar model yakni: (1) orientation to the model (yang pada dasarnya dapat disejajarkan dengan pendekatan); (2) the model of teaching; (3) application; (4) instructional and naturant effect yakni tujuan pembelajaran.

Berdasarkan uraian di atas, model pembelajaran menggambarkan tingkat terluas dari praktik pembelajaran dan berisikan orientasi filosofi pembelajaran, yang digunakan untuk menyeleksi dan menyusun rencana atau pola yang digunakan untuk melaksanakan kurikulum, mengatur materi pembelajaran, dan memberikan petunjuk kepada guru di dalam kelas berkenaan dengan proses belajar mengajar yang dilaksanakannya. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Posisi model dalam pembelajaran yakni digambarkan seperti di bawah ini.

 

 

 

 

 

Gambar 1

 

Sebagai akhir pembahasan bagian ini, keterhubungan antara pendekatan, strategi, metode, teknik, dan model pembelajaran dapat digambar dalam bagan di bawah ini.


 

 

Gambar 2

Berdasarkan gambar di atas dapat dikemukakan bahwa model pembelajaran berada pada wilayah terluar atau bingkai dari semua komponen karena model pembelajaran kerangka konseptual yang melukiskan prosedur secara sistematis dari awal sampai akhir yang dibangun atas pendekatan. Pendekatan pembelajaran akan menghasilkan strategi atau procedural dalam mencapai tujuan. Selanjutnya dari strategi akan menghasilkan banyak metode pembelajaran yang relevan sebagai implementasi dari prosedur dalam strategi.

Demikian pula metode akan melahirkan sejumlah teknik pembelajaran yang bersesuaian dengan metode. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa antara kelima dimensi pembelajaran yang telah diuraikan di muka sebenarnya memiliki hubungan yang sistematik dan sistematis. Oleh sebab itu, agar dapat melaksanakan pembelajaran yang baik guru harus mampu memilih dan menerapkan model, pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang tepat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A.Kesimpulan

 

Pendidikan keterampilan adalah pendidikan kemampuan, serta kesanggupan yang diperlukan oleh seseorang untuk menjalankan kehidupan dengan nikmat dan bahagia. Pada dasamya, pendidikan keterampilan adalah pendidikan yang memberi bekal dasar dan latihan yang dilakukan secara benar kepada peserta didik tentang nilai-nilai kehidupan sehari-hari agar yang bersangkutan mampu, sanggup dan terampil menjalankan kehidupannya yaitu dapat menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya. Keterampilan dapat dipilah menjadi dua kategori, yaitu kecakalpan hidup yang bersifat dasar dan instrumental. Kecakapan dasar bersifat universal dan berlaku sepanjang zaman, dan kecakapan instrumental bersifat relative, kondisional, dan dapat berubah-ubah sesuai dengan perubahan ruang, waktu, dan situasi.

 

 

 

 

 

 

B.Saran

 

Pendidikan keterampilan memang bukan sesuatu yang baru. Yang benar-benar baru adalah bahwa kita mulai sadar dan berfikir bahwa relevansi antara pendidikan dengan nilai-nilai kehidupan nyata perlu ditingkatkan intensitas dan efektivitasnya. Karena itu, yang diperlukan adalah membawa sekolah sebagai bagian dari masyarakat dan bukannya menempatkan sekolah sebagai sesuatu yang berada dimasyarakat. Pendidikan harus merefleksikan nilai-nilai kehidupan sehari-hari, baik yang bersifat preservatif dan progresif. Sekolah harus menyatu dengan nilai-nilai kehidupan nyata yang ada di lingkungannya dan mendidik peserta didik sesuai dengan tuntutan nilai-nilai kehidupan yang sedang berlaku. Ini menuntut proses belajar mengajar dan masukan instrumental sekolah seperti misalnya kurikulum, guru. Metodologi pembelajaran, alat bantu pendidikan, dan evaluasi pembelajaran benar-benar realistik, kontekstual, dan bukannya artifisial.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdullah, Ma’ruf.M. 2015, Wirausaha Berbasis Syari’ah. Banjarmasin: Antasi Press.

 

Adityangga, Krishna. 2015. Membangun Perusahaan Islam dengan Manajemen Budaya Perusahaan Islami. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

 

Dimyati dan Mudjiono. (2014). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta. Proyek Pembinaan dan Pengembangan Mutu Tenaga Kependidikan, Depdikbud.

 

Djamarah, Syaiful Bahri. 2014. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

 

Hadari Nawawi, 2015, Manajemen Strategik Organisasi Non Profit Bidang Pemerintahan dengan Ilustrasi Bidang Pendidikan. UGM Press, Yogyakarta.

 

Mutiara S. Panggabean. 2014. Manajemen Sumber Daya Manusia, Bogor: Ghalia Indonesia

 

Melvin L. Silberman, 2016. Active Learning. Bandung: Nuansa Cendekia,. cet. ke-VIII

 

Sari, Eka Setianingsih. 2017. Perkembangan Peserta Didik. Semarang.

 

Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai. 2017. Teknologi Pengajaran. Bandung:

 

Susanto, A.B. 2016. Leadpreneurship Pendekatan Strategic Management Dalam Kewirausahaan. Jakarta: Esensi Erlangga Group

 

Wahab, H.S, Abd & Uminarso, 2014. Kepemimpinan Pendidikan Dan Kecerdasan Spiritual, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

 

Winardi,J. 2015. Entrepreneur & Interpreneurship. Jakarta: Prenada Media.

 

Zaini, Hisyam, et al, 2017. Strategi Pembelajaran Aktif,. Yogyakarta: CTSD.

 

 

argumentasi seputar perselingkuhan