Bulan Ramadhan identik dengan puasa, tarawih, dan tadarus Al-Qur'an. Namun di luar amalan-amalan populer tersebut, ternyata ada sejumlah sunnah Nabi Muhammad SAW selama Ramadhan yang kerap terlewat karena kurang dikenal luas. Padahal, amalan-amalan ini memiliki keutamaan besar dan mudah dipraktikkan dalam keseharian. Berikut tujuh di antaranya.
1. Menyegerakan Berbuka Puasa (Ta'jil)
Banyak yang tahu anjuran berbuka dengan yang manis, namun esensi sunnah sebenarnya terletak pada menyegerakan waktu berbuka begitu azan Maghrib berkumandang, bukan menunda-nundanya. Rasulullah SAW bersabda bahwa umatnya akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa. Sunnah ini mengajarkan kesederhanaan sekaligus kepatuhan pada waktu yang telah ditetapkan syariat, tanpa berlebih-lebihan menunggu momen tertentu.
2. Berdoa di Saat Berbuka Puasa
Waktu berbuka adalah salah satu momen mustajab untuk berdoa, namun sering dilewatkan karena orang lebih fokus menyantap hidangan. Sebelum menyantap makanan, dianjurkan membaca doa berbuka puasa. Momen ini sejatinya sangat berharga karena doa orang yang berpuasa saat berbuka termasuk yang tidak tertolak.
3. Memberi Makan Orang yang Berpuasa
Sunnah ini memiliki keutamaan luar biasa namun sering dianggap hanya relevan bagi mereka yang mampu secara finansial. Padahal, memberi makan untuk berbuka tidak harus berupa hidangan mewah—cukup sebutir kurma atau seteguk air pun sudah bernilai pahala. Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sendiri.
4. Mengakhirkan Sahur
Selain dianjurkan bersahur, ada sunnah spesifik yang jarang diperhatikan yaitu mengakhirkan waktu sahur hingga mendekati waktu Subuh (namun tetap sebelum imsak/fajar). Kebiasaan ini berbeda dengan sebagian orang yang justru sahur terlalu dini lalu tidur kembali. Mengakhirkan sahur memberi jarak waktu yang lebih pendek antara sahur dan puasa, sehingga tubuh lebih siap menjalani ibadah puasa seharian.
5. Memperbanyak Sedekah, Terutama di Sepuluh Hari Terakhir
Rasulullah SAW dikenal sangat dermawan sepanjang tahun, namun kedermawanan beliau meningkat pesat saat Ramadhan tiba, bahkan digambarkan lebih cepat dari angin yang berhembus. Banyak orang fokus bersedekah di awal Ramadhan atau menjelang Lebaran untuk zakat fitrah, padahal momentum sedekah terbaik justru terus meningkat hingga sepuluh hari terakhir, sejalan dengan datangnya malam Lailatul Qadar.
6. I'tikaf di Sepuluh Hari Terakhir
I'tikaf—berdiam diri di masjid untuk fokus beribadah—adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) yang dilakukan Rasulullah SAW setiap sepuluh hari terakhir Ramadhan. Sayangnya, amalan ini semakin jarang dipraktikkan karena dianggap sulit di tengah kesibukan modern. Padahal i'tikaf tidak harus dilakukan sepuluh hari penuh; beri'tikaf walau sejenak dengan niat yang benar tetap bernilai ibadah, dan menjadi sarana efektif untuk mengejar keutamaan Lailatul Qadar.
7. Membaca Doa-Doa Khusus di Setiap Sepertiga Malam
Selain qiyamul lail (shalat malam) yang sudah umum diketahui, terdapat sunnah memperbanyak doa dan istighfar khususnya di waktu sahur atau sepertiga malam terakhir. Ini adalah waktu ketika langit dunia disebutkan "lebih dekat" dengan ampunan dan pengabulan doa. Momen ini sering terlewat karena banyak orang sibuk mempersiapkan santap sahur ketimbang menyisihkan waktu khusus untuk bermunajat kepada Allah.
Menghidupkan Sunnah yang Terlupakan
Ketujuh amalan di atas menunjukkan bahwa Ramadhan menyimpan banyak peluang pahala yang kerap tidak disadari. Menghidupkan sunnah-sunnah yang jarang diketahui ini tidak memerlukan usaha besar, hanya kesadaran dan kemauan untuk mempelajarinya kembali. Dengan mempraktikkannya, ibadah Ramadhan pun menjadi lebih utuh dan bermakna, sejalan dengan teladan yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar