Berikut adalah bedah
argumentasi seputar perselingkuhan dari berbagai perspektif:
1. Argumentasi / Rasionalisasi
yang Sering Digunakan Pelaku
Orang yang berselingkuh sering
kali menggunakan serangkaian alasan psikologis untuk membenarkan tindakan
mereka, baik kepada diri sendiri maupun kepada pasangannya. Beberapa argumen
yang paling umum meliputi:
- Kebutuhan yang Tidak Terpenuhi: "Pasangan saya tidak lagi memenuhi kebutuhan
emosional/seksual saya." Pelaku berargumen bahwa mereka dipaksa
mencari di luar karena merasa diabaikan, kesepian, atau tidak dihargai di
dalam hubungan.
- Pemisahan antara Cinta dan Seks: "Saya tetap mencintai pasangan saya, ini hanya fisik dan
tidak berarti apa-apa." Pelaku mencoba memisahkan tindakan fisik
dari komitmen emosional, dengan argumen bahwa selama mereka tidak jatuh
cinta pada selingkuhan, mereka tidak benar-benar "mengkhianati"
pasangannya.
- Faktor Situasional dan Kelemahan Sesaat: "Saya sedang mabuk, stres berat, atau ada kesempatan
dan saya khilaf." Argumen ini memposisikan perselingkuhan sebagai
"kesalahan" atau "kecelakaan", bukan keputusan yang
direncanakan.
- Pencarian Jati Diri (Konsep Esther Perel): Psikoterapis Esther Perel mencatat bahwa banyak orang
berselingkuh bukan karena mereka tidak mencintai pasangannya, tetapi
karena mereka merasa kehilangan diri mereka sendiri. Mereka mencari versi
lain dari diri mereka yang lebih muda, lebih bebas, atau lebih bersemangat
melalui orang baru.
- Pembalasan Dendam: "Pasangan saya pernah menyakiti saya / berselingkuh lebih
dulu." Perselingkuhan digunakan sebagai alat untuk menghukum
pasangan atau menyeimbangkan "skor" dalam hubungan.
2. Sanggahan terhadap
Argumentasi Tersebut (Mengapa Tidak Dapat Dibenarkan)
Meskipun alasan-alasan di atas
mungkin menjelaskan mengapa seseorang berselingkuh, argumen-argumen
tersebut gagal secara etis dan moral untuk membenarkan tindakan
tersebut. Berikut adalah sanggahannya:
- Selingkuh adalah Pilihan, Bukan Keadaan: Jika kebutuhan dalam hubungan tidak terpenuhi, seseorang
memiliki pilihan lain yang etis: berkomunikasi, pergi ke konselor
pernikahan, atau mengakhiri hubungan secara baik-baik. Selingkuh adalah
pilihan untuk mendapatkan kebutuhan tanpa harus menghadapi konflik atau
keberanian untuk berkomitmen/berpisah.
- Pelanggaran Kesepakatan (Konsensus): Hubungan monogami dibangun di atas kesepakatan eksplisit
maupun implisit. Perselingkuhan adalah pelanggaran terhadap kepercayaan
dan kontrak hubungan tersebut. Tidak peduli seberapa "kosong"
sebuah hubungan, berbohong dan mengkhianati kesepakatan adalah tindakan
manipulatif.
- Menghindari Tanggung Jawab: Menggunakan alasan "khilaf" atau "mabuk" adalah
bentuk infantilisme (kekanak-kanakan). Orang dewasa yang sehat mampu
mengendalikan impuls dan memikirkan konsekuensi jangka panjang dari
tindakan mereka.
- *Ilusi "Tidak Berarti Apa-apa": Bagi banyak orang,
seks dan keintiman fisik sangat terikat dengan emosi. Mengatakan "itu
tidak berarti apa-apa" sering kali merupakan mekanisme pertahanan
diri (denial) pelaku untuk mengurangi rasa bersalah mereka.
3. Dampak Psikologis
Perselingkuhan
Argumen terkuat melawan
perselingkuhan terletak pada dampak destruktifnya. Perselingkuhan bukan sekadar
"kesalahan" biasa, melainkan sebuah Trauma Pengkhianatan (Betrayal
Trauma).
- Kehancuran Realitas: Pasangan yang diselingkuhi sering kali mengalami guncangan psikologis
berat. Mereka tidak hanya kehilangan kepercayaan pada pasangannya, tetapi
juga mempertanyakan realitas masa lalu mereka ("Apakah semua kenangan
kita bohong?").
- Dampak Kesehatan Mental: Korban perselingkuhan sering mengalami kecemasan parah, depresi,
gangguan stres pascatrauma (PTSD), dan penurunan harga diri yang drastis.
- Dampak pada Anak dan Keluarga: Jika ada anak yang terlibat, perselingkuhan yang berujung pada
perceraian atau lingkungan rumah tangga yang toxic dapat memberikan
dampak psikologis jangka panjang bagi perkembangan anak.
4. Perspektif Sosiologis dan
Modern
Di era modern, muncul juga
argumen yang menantang konsep monogami tradisional.
- Monogami Seumur Hidup Tidak Alami: Beberapa orang berargumen bahwa manusia secara biologis tidak dirancang
untuk monogami seumur hidup, dan tingkat perceraian yang tinggi adalah
bukti bahwa institusi monogami tradisional sedang gagal.
- Solusi Etis:
Argumen ini tidak membenarkan perselingkuhan, melainkan mendorong pada Ethical
Non-Monogamy (ENM) atau Polyamory. Dalam hubungan terbuka atau
poliamori, semua pihak tahu dan menyetujui (konsensual) bahwa mereka boleh
memiliki pasangan lebih dari satu. Kuncinya adalah kejujuran dan
transparansi, bukan pengkhianatan.
Kesimpulan
Secara psikologis, perselingkuhan
dapat "dipahami" sebagai gejala dari masalah yang lebih dalam dalam
sebuah hubungan atau krisis identitas pribadi. Namun, secara etika dan moral, perselingkuhan
tidak dapat dibenarkan.
Cara paling sehat dan
berintegritas untuk menangani hubungan yang bermasalah bukanlah dengan mencari
pelarian di luar, melainkan dengan:
- Berani melakukan komunikasi yang jujur dan rentan dengan pasangan.
- Mencari bantuan profesional (konselor hubungan).
- Jika hubungan sudah tidak bisa dipertahankan, memiliki keberanian
moral untuk mengakhirinya secara terhormat sebelum memulai hubungan dengan
orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar