BAB I
PENDAHULUAN
- Judul Buku
Buku
yang dilaporkan berjudul “Pendidikan Karakter (Solusi Yang Tepat Untuk
Membangun Bangsa)”dan Pendidikan yang patut dan menyenangkan, Penerapan Teori
DAP, judul buku ini merupakan salah satu topik kajian yang membahas tentang
perkuliahan Landasan Pendidikan yang dibimbing oleh Bapak Dr. M. Husen, M.Pd.
- Pengarang
Buku “Pendidikan
Karakter (Solusi Yang Tepat Untuk Membangun Bangsa)” dan “Pendidikan yang patut
dan menyenangkan, Penerapan Teori DAP, ini merupakan karya dari penulis Ratna
Megawangi Ph.D.
- Tahun Terbit
Buku
“Pendidikan Karakter (Solusi Yang Tepat Untuk Membangun Bangsa)” dan
“Pendidikan yang patut dan menyenangkan (Penerapan Teori DAP), kedua buku ini ditertibkan
tahun 2004.
- Alasan Pemilihan Judul
1. Buku ini merupakan bahan
materi Mata Kuliah “Landasan Pendidikan”
2. Buku ini memiliki informasi berbagai
masalah tentang Pendidikan Karakter Pembangunan SDM Secara Keseluruhan
3. Kunci sebuah keberhasilan membangun
peradaban yang berkualitas terdiri dari proses pembelajaran berkarakter di
dalamnya.
BAB II
TELAAH BUKU
Pendidikan Karakter (Solusi Yang Tepat
Untuk Membangun Bangsa)
A. Mengapa Pendidikan karakter sangat penting membangun
peradaban?
Sebuah peradaban akan menurun apabila terjadinya demoralisasi pada
masyarakat. Banyak pakar, filsuf dan orang-orang bijak yang mengatakan bahwa
faktor moral adalah yang utama yang harus dibangun terlebih dahulu agar dapat
membagun sebuah bangsa yang tertib, aman dan sejahtera. Salah satu kewajiban
utama yang harus dijalankan oleh para orang tua dan pendidik adalah
melestarikan dan mengajarkan nilai-nilai moral kepada anak-anak kita. Nilai
moral yang ditanamakan akan membentuk karakter (akhlak mulia) yang merupakan
fondasi penting bagi terbentuknya sebuah tatanan masyarakat yang beradab dan
sejatera.
1. Hubungan Antara
Kualitas Karakter dan Kemajuan Bangsa
Indonesia saat ini sedang menghapi ujian berat yang harus dilalui,
terjadinya krisis multidimensi yang berkepanjangan, krisis multidimensi ini
menurunnya kualitas moral bangsa yang telah membudaya akibat praktek KKN,
konflik multidimensi kriminalitas, menurunnya etos kerja dan masih banyak lagi
James Dale Davidson dan Rees-Mog (1997) bahwa seluruh masyarakat yang kokoh
mempunyai fondasi moral yang kokoh. Semua studi tentang sejarah pembangunan
ekonomi menunjukkan adanya hubungan yang erat antara faktor moral dan faktor
ekonomi.
Thomas Lickona ( seorang profesor pendidikan dari Cortland University).
Lickona mengatakan ada sepuluh tanda-tanda jaman yang harus diwaspadai karena
jika tanda-tanda ini sudah ada, maka itu berarti bahwa sebuah bangsa sedang
mengalami jurang kehancuran. Berikut ini tanda-tanda kehancuran suatu bangsa
:
- Meningkatnya kekerasan di kalangan
remaja
- Penggunaan bahasa dan kata kata yang
buruk
- Pengaruh per grup yang kuat dalam
tindak kekerasan
- Meningkatnya perilaku yang merusak
diri seperi narkoba, sex bebas, dan alkohol.
- Kaburnya pedoman moral baik dan buruk
- Menurunnya etos kerja
- Rendah nya rasa hormat kepada orang
tua dan guru
- Rendahnya rasa tanggung jawab baik
sebagai individu maupun warga negara.
- Membudaya Ketidakjujuran
- Adanya rasa saling curiga dan
kebencian diantara sesama.
Mengingat kekayaan alam kita yang terus dieksploitasi akan habis pada suatu
saat, dan tidak dapat diperbarui, maka penyiapan secara dini untuk membangun
karakter masyarakatnya harus dilakukan segera. Kualitas SDM yang berkarakter,
mempunyai spirit kerja yang tinggi, dan mandiri. Bekal yang membawa kejayaan
bangsa di masa depan. Spirit budaya bangsa seperti ini tidak akan pernah habis,
bahkan akan menjadi rahmat bear di masa depan.
Emile Durkheim (1961), bapak ilmu sosiologi dari Perancis, menulis sebuah
ungkapan yang sampai sekarang masih relevan untuk kondisi kekinian:
” Masyarakat harus mempunyai tujuan idela
ke arah mana harus dicapai. Sebuah masyarakat harus mempunyai beberapa
kemuliaan untuk diraih, sebuah kontribusi orisinal untuk kemanusiaan. Ketika
perilaku manusia tidak mempunyai landasan moral tempat berpijak, perilaku itu
akan berbalik melawan dirinya. Ketika kekuatan-kekuatan moral masyarakat masih
tidak bekerja, ketika kekuatan moral tersebut tidak pernah dilibatkan dalam
segenap usaha untuk mencapainya, meraka akan melenceng dari kaidah moral dan
kekutan-kekuatan itu akan dipakai dijalan yang penuh kegelapan dan berbahaya.”
2. Membangun Masyarakat Madani melalui
pembangunan karakter (akhlak): Perspektif Menurut Agama
Tulisan Nurcholish Madjid (Kompas 5/10 dan 6/10/2001) yang membahas seputar
masyarakat menyajikan beberapa hal yang menarik, bagaimana prinsip-prinsip
masyarakat madani tidak terlepas dari inti ajaran universal kemanusiaan yang
diturunkan kepada para nabi dan rasul-rasul sepanjang zaman.
Dapat diartikan bahwa faktor akhlak manusia adalah fondasi dasar dari
terbentuknya masyarakat madani. Bukankah inti ajaran seluruh agama untuk
membentuk akhlak manusia? Pembentukkaan akhlak manusia sering terlupakan dalam
wacana perbincangan masyarakat madani, karena selama ini banyak yang
beranggapan bahwa membangun sistem adalah lebih penting daripada membangun
manusia-manusianya. Di zaman Rasulullah membangun tauhid (aqidah) para
pengikutnya dan ini adalah fondasi prasarana sosial dan kultural untuk menopang
sistem kemasyarakatan yang menjadi pedoman hidup. Ayat-ayat Al Qur’an
dilibatkan pada masa ini bait bait puisi indah, yang mengajak manusia yang
mencintai ALLAH, dan senantiasa melakukan pembersihan hati.
B. Mengapa pendidikan karakter harus
dilakukan sejak usia dini?
Ada pepatah yang
mengatakan bahwa mengajarkan anak-anak kecil ibaratnya seperti menulis diatas
batu, yang akan tertulis dan berbekas sampai usia tua. Sedangkan mengajarkan
orang dewasa diibaratkan seperti menulis diatas air, yang akan cepat sirna dan
tak berbekas.
Thomas Lickona mengemukakan ”walaupun
jumlah anak-anak hanya 25% dari total julah penduduk, tetapi yang menentukan
100% masa depan. Oleh karenanya, penanaman moral melalui pendidikan karakter
sendiri mungkin kepada anak-anak adalah kunci utama dalam membangun bangsa.
1.Pentingnya Memulai
Dari Masa Kanak-Kanak
Pembentukan karakter harus dimulai dari sejak kecil, sebuah penelitian yang
dilakukan oleh Universitas Otago, New Zealand pada 1000 anak yang diteliti
selama 23 tahun dari tahun 1972. Anak-anak menjad sampel usia 3 tahun dan diamti
kepribadiannya, dan diteliti kembali pada usia 18 dan 21 tahun, dan kemudian
ketika berusia 26 tahun. Hasilnya, anak-anak yang berusia 3 tahun didiagnosis
”uncontrollable toddlers” (anak yang sulit diatur, pemarah, dan pembangkang),
ternyata pada usia 18 tahun menjadi remaja yang bermasalah, agresif, dan
mempunyai masalah bergaul, pada usia 21 tahun menjadi sulit membina sosial
dengan orang lain, dan terlibat kriminalitas. Begitu juga anak-anak ayang
berusia 3 tahun yang sehat jiwanya, ternyata setelah dewasa menjadi orang-orang
yang berhasil dan sehat jiwanya.
Berbagai pendapat dari banyak pakar pendidikan anak, dapat disimpulkan
bahwa terbentuknya karakter (kepribadian) manusia adalah ditentukan 2 faktor,
yaitu nature (faktor alami), nurture (sosialisasi pendidikan).
Sebuah hadist Qudsi digambarkan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan suci,
seperti yang diriwayatkan oleh Muslim, telah berfirman ALLAH SWT: ”Sesungguhnya
Aku telah menciptakan hamba-hambaku dalam keadaan lurus, suci, dan bersih. Kemudian
datanglah setan-setan yang menggelincirkan mereka dan menyesatkannya dari
kebenaran agama mereka. Dan setan-setan pun telah mengharamkan segala sesuatu
bagi mereka apa apa yang yang telah aAku halalkan.”
Fitrah manusia yang menurut perspektif agama adalah cendrung kepada
kebaikan ini, masih mengakui adanya pengaruh lingkungan yang dapat mengganggu
proses tumbuhnya fitrah. Hal ini memberikan pembenaran perlunya faktor nurture,
atau lingkungan budaya, pendidikan, dan nilai-nilai yang perlu disosialisasikan
kepada anak-anak.
Nurture, Faktor lingkungan , usaha memberikan pendidikan dan sosialisasi adalah
sangat berperan didalam menentukkan ”buah” seperti apa yang akan dihasilkan
nantinya dari seorang anak. Apabila masa usia 2 tahun pertama anak sudah mendapatkan
cinta, maka sangat mudah anak tersebut dibentuk menjadi manusia berakhlak
mulia. Menurut hasil penelitian, anak-anak usia 2 tahun sudah dapat diajarkan
moral , bahkan meraka sudah dapat mempunyai perasaan empati terhadap kesulitan
atau penderitaan orang lain. Anak-anak usia pra sekolah sudah dibekali dengan
kesadaran emosi.seperti rasa bersalah, malu, perasaan disakiti, bangga, dan
lain sebagainya.
C. Nilai-nilai
karakter apa yang perlu ditanamkan?
Pendidikan karakter adalah sebuah
usaha untuk mendidikan anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak
dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat
meberikan kontribusinya yang positif kepada lingkungannya. Nilai-nilai karakter
yang prelu ditanamkan kepada anak-anak adalah nilai-nilai universal yang mana
seluruh agama, tradisi, dan budaya pasti menjunjung tinggi nilai-nilai
tersebut. Nilai-nilai universal ini harus dapat menjadi perekat bagi seluruh
anggota masyarakat walaupun berbeda latar belakang budaya, suku, ras, dan
agama.
Pendiri Indonesia Heritage Foundation (IHF), Ratna Megawangi telah menyusun serangkaian
nilai-nilai yang selayaknya diajarkan kepada anak-anak, yang kemudian dirangkum
menjadi 9 pilar karakter, yaitu:
PILAR 1 (Cinta Tuhan
dan Segenap Ciptaan Nya)
Ajarkan anak mengucapkan kata pujian terhada Allah ketika melihat sesuatu
yang indah, ketika mendapatkan nikmat ucapkan “Subhanallah”dan Alhamdulillah”
ketika mendapatkan sesuatu atau ucapan kekaguman dan mencakupkan anak pada
perasaan terhadap kebesaran tuhan atas nikmat setelah diberikan kepada mereka, serta
memberi nya tanggung jawab dan merasa betap penting nya keberadaan anak dan
keluarga.
PILAR 2
(Kemandirian dan Tanggung jawab)
Tunjukkan penghargaan terhadap usaha anak, dan berikan motivasi agar anak
mencoba, minta pertimbangan anak mengenai pertanyaan. Setiap anak, jangan
mengomentari kekurangan anak pada orang lain, jangan menggunakan kalimat
negatif terhadap anak, perlunya kerjasama orang tua dan guru, jangan mematikan
harapan keinginan anak.
PILAR 3
(Kejujuran, Amanah, dan Bijaksana)
Agar pilar terlaksana dan dapat dimengerti oleh anak, berikan contoh yang
baik, ingatkan anak selalu jujur baik dalam perkataan maupun daam perbuatan. Bila
ada kejadian dikelas yang menuntut suatu kejujuran ingatkan anak tentang
kejujuran. Hargai setiap perbuatan dan perkataan anak yang bersikap jujur baik
dengan pujian maupun dengan penghargaan lainnya.
PILAR 4 (Hormat dan Santun)
- Latih dan biasakan bermain bersama dengan
rekannya
- Tumbuhkan rasa keyakinan pada anak perbuataan
yang baik seperti sikap sopan santun akan disayangi orang tua, guru, dan
teman
- Bimbing anak jika melakukan kesalahan dan
beri konsekwensi dari perbutan tersebut
- Ajak anak sesekali menonton film berkarakter
dan bimbing anak tersebut.
PILAR 5 (Dermawan,
Suka Menolong dan Gotong Royong)
- Biasakan anak untuk berbagi dengan
teman nya
- Biasakan dan kegiatan anak untuk
bekerja sama dan bergotong royong dan berikan pengertian tentang kemudahan
dan kesuksesan dalam bekerja sama dan bergotong royong dalam mencapai
suatu tujuan
- Setiap akhir kegiatan biasakan untuk
membersihkan secara gotong royong
- Berikan penghargaan kepada anak yang
bersikap dermawan, tolong menolong, dan kerjasama.
PILAR 6 (Percaya
Diri, Kreatif, dan Pekerja Keras)
- Setiap anak yang berbuat baik
berikanlah pujian karena nantinya ia akan termotivasi untuk melakukan
perbuatan yang lebih baik
- Memberikan
pujian kepada anak untuk membangkitkan rasa percaya diri pada anak
tersebut
- Jika
anak melakukan kegiatan harapkanlah pada si anak untuk melakukan dengan
sempurna
- Tunjukan kepada anak bahwa diri nya
penting dengan perlakuan yang baik
- Jangan pusatkan perhatian pada
tingkah laku yang buruk, berpendapat bahwa hal ini akan mendorong anak
akan bekerja keras, hal ini tidak benar
- Berikanlah tingkah laku yang baik dan
percaya diri kepada anak untuk membuat mereka lebih nyaman
- Anak yang percaya diri adalah anak
yang penuh dengan kecerdasan dan keyakinan tapi tetap menerima kritikan
membangun.
PILAR 7 (Kepemimpinan dan Keadilan)
- Dorong anak menjadi seorang pemimpin
- Jika anak yang selalu “ingin menjadi
pemimpin” arahkan
- Optimakan kreatifitas guru untuk
mencari metode yang menarik untuk anak.
PILAR 8 (Baik
Hati dan Rendah Diri)
- Biasakan
anak bermain bersama untuk sosialisasi
- Berikan konsekwesi dari tindakan
tersebut
- Ajaklah menonton film yang berpesan
moral
- Tumbuhkan keyakinan pada awal bahwa
orang yang baik disayangi Tuhan
PILAR 9 (Toleransi, Kedamaian dan Kesatuan)
- Biasakan anak bermain bersama
sehingga anak dapat belajar dan bermain
- Ajaklah anak dapat mengungkapkan
keebihan teman dalam bentuk permainan misalnya “temanku cerminku”. Anak
akan mencari kelebihan teman nya dan saling bercermin
- Ajarkan anak saling menyapa jikalau
bertemu dan bersalaman ketika akan berpisah.
Kesembilan karakter tersebut tersebut sesuai dengan yang diinginkan oleh
Schopenhauer dan lain-lain yang mempunyai prinsip sama. Hanya saja kecintaan
kepada Tuhan dan alam semesta beserta isinya dimasukan dan ditempatkan sebagai
pilar pertama, karena semua kebajikan harus bersumber dari pilar pertama ini. Untuk konteks Indonesia , aspek ke-Tuhan-an
ini memang sesuai dengan apa yang terdapat dalam dasar ideologi negara
(Pancasila) yang ditempatkan pada sila pertama. Diharapkan dengan menanamkan 9
pilar ini, manusia Indonesia yang berkarakter dapat terwujud. Pada tataran
pendidilan nasional terbaru, kesembilan pilar karakter yang dikembangkan IHF,
ternyata sejalan dengan niali-nilai yang ingin ditanamkan dalam konsep
Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill) melalui berbasis Luas (Broad Based
Education) yang diluncurkan oleh DepDikNas tahun 2002 berorientasi pendidikan
kecakapan hidup yang berkaitan dengan pendidikan karakter adalah untuk
mengembangkan General Life Skill anak dari jenjang pra sekolah sampai sekolah
menengah.
D. Bagaimana
menjadi pendidik karakter yang berhasil?
Bagaimana kesehatan paru-paru
anak-anak terbentuk sangat tergantung pada bagaimana mereka menghirup udara di
sekelilingnya. Kalau udara yang dihirup bagus, maka anak akan sehat. Begitu
pula dengan pembentukkan karakter anak sangat tergantung bagaimana mereka
menghirup ”udara Moral” di sekelilingnya. Seorang anak akan berada di kelas
sepanjang hari, apabila gurunya dapat memberikan udar yang penuh kasih sayang,
kebaikan, kebajikan, penghaormatan, maka karakter anak akan baik.
Para pendidik karakter adalah
seperti orang tua, seorang mentor, dan model panutan bagi murid-muridnya. Oleh
karena itu dalam mendidik karakter, seorang guru harus:
- Memperlakukan murid-muridnya dengan
kasih sayang, adil dan hormat. Anak-anak memerlukan kelekatan psikologi
dengan orang tua dan pendidiknya. Apabila murid meras sayang dan percaya
dengan gurunya, maka akan mudah bagi mereka menuruti nasehat-nasehatmoral
yang diberikan.
- Memberikan perhatian khusus secara
individual, dimana guru mengerti permasalahan setiap muridnya. Tumbuhkan
rasa percaya diri anak, dengan dorongan atau pujian yang mempunyai
sentuhan personal.
- Pendidik harus menjadi panutan moral bagi
peserta didiknya, dan senantiasa selalu memperbaiki citra dirinya.
- Mengoreksi perilaku murid-muridnya
yang salah.
Menurut Karen Bohlin, Deborah Farmer, Kevin Ryan, ada tujuh kompetensi yang
harus dimiliki oleh para pendidik atau guru karakter:
- Para pendidik harus dapat menjadikan
dirinya sebagai contoh berkarakter yang baik dan mempunyai komitmen untuk
menegakkan kebenaran.
- Para pendidik harus mampu menjadikan
tujuan pembentukan karakter muridnya sebagai salah suatu yang prioritas
dan merupakan bagian terpenting dari pekerjaan profesionalnya.
- Para pendidik harus dapat
menyampaikan secara diplomasi (bijak) mengenai posisinya pada berbagai
isu-isu etika, tanpa harus membebani mereka dengan pendapat dan opini
pribadi.
- Para pendidik harus senantiasa
mengadakan diskusi tentang isu-isu moral dengan murid-muridnya, tentang
bagaimana seharusnya menjalankan hidup, serta menjelaskan apa yang baik
dan apa yang buruk.
- Para pendidik harus dapat mengajarkan
empati terhadap orang lain, yaitu mengajak untuk keluar dari diri merek
adan melihat dari perspektif orang lain.
- Para pendidik harus dapat menciptakan
suasana kelas yang bernuansa karakter, yang menerapkan standar etika
tinggi dan penghormatan untuk semua. Para pendidik harus dapat
mempraktekkan nilai-nilai karakter di rumah, di sekolah, dan komunitas lingkungan,
agar mereka bisa tumbuh menjadi manusia peduli untuk selalu melakukan
kebajikan.
Para pendidik karakter tentunya harus pula mendapatkan pelatihan khusus,
dan menggunakan modul atau kurikulum yang sudah tersedia untuk dapat diterapkan
di sekolahnya.
1.
Guru
Sebagai Pembangun Citra Diri Positif Anak
Banyak perilaku guru ‘membunuh’ karakter anak, dengan membuat anak merasa
rendah diri. Seorang guru yang tidak pernah memberikan pujian atau kata-kata
positif, kecuali cemoohan dan kata-kata negatif, akan membuat diri anak menjadi
tidak percaya diri. Sering terjadi guru mempermalukan anak di depan kelas,
memarahi atau bahkan menghukumnya. Kita pasti sudah pernah melihat atau
mengalaminya tentang sifat guru seperti itu. Sekali anak dipermalukan, ia akan
takut gemetaran ketika harus menjawab pertanyaan yang diajukan gurunya.
Sehingga ia tidak percaya diri untuk mengungkapkan pendapatnya di depan kelas.
Hal inilah kenapa orang inilah yang mungkin menyebabkan mengapa manusia
Indonesia sering malu untuk mengungkapkan pikirannya di muka umum, dan menjadi
bangsa yang tidak percaya diri.
Sikap guru yang demikian, bukanlah kesalahan guru saja melainkan kealahan
sebuah sistem pendidikan yang berorientasi hanya mengejar semata-mata mengejar
keberhasilan akademik, yaitu sistem yang mengejar target kurikulum dengan
segenap jadwal test harian, ulangan umum, dan ujian akhir. Padahal untuk
anank-anak usia dini, yang terpenting ditanamkan adalah sikap agar anak selalu
cinta belajar, bukan semata-mata harus bisa, karena kalau harus bisa (dengan
mengadakan ulangan), suasana belajar terasa menjadi beban, sehingga otak limbik
anak tertutup, yang pada akhirnya anak tidak dapat mencapai potensi optimalnya.
2.
Guru
Sebagai Model atau Tokoh Idola
Betapa seringnya kita sebagai orang tua atau guru mengkritik atau menyalahi
perilaku anak-anak kita. Padahal perilaku seorang anak adalah hasil dari sebuah
proses sosialisasi dan pendidikan yang diberikan dari lingkungannya, terutama dari
orang tua dan gurunya. Sering dikatakan bahwa cara yng paling efektif
mengajarkan anak adalah dengan memberikan contoh konkrit, bukan dengan sekedar
nasehat atau kata-kata.
Apabila anak-anak sudah mencintai gurunya, maka segala ucapan dan tindakan
guru akan diikuti oleh muridnya. Bagaimana ciri-ciri guru yang menjadi idola
murid-muridnya?
- Anak bersemangat ke sekolah, anak
tidak sabar untuk bersekolah, dan hari-hari libur menjadi hari yang
membosankan.
- Anak akan mengatakan ’Sayang’ atau
’Suka’ kepada gurunya kalau ditanyakan apakah mereka menyenangi gurunya.
- Anak selalu merindukan gurunya.
- Anak akan mengerjakan tugas yang
diberikan, karena tidak ingin mengecewakan gurunya.
Bagaimana ampuhnya sosok panutan orangtua atau guru dalam mempengaruhi
perilaku anak-anak kita. Apabila
kita ingin menjadikan diri kita sebagai tokoh panutan, maka diri kita sendirilah
yang harus kita perbaiki dulu.
Sajak dibawah ini konon terukir di sebuah
pemakaman tua, Webminster Abbey, Inggris , 1100 M.
Hasrat Untuk Berubah
Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal
Aku bermimpi ingin mengubah dunia
Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku
Kudapati bahwa....................
Dunia tidak kunjung berubah
Maka cita-cita itu kupersempit
Lalu kuputuskan untuk mengubah negeriku
Namun nampaknya................
Hasrat itu tiada berhasil
Ketika usiaku semakin senja
Dengan semangatku yang masih tersisa
Kuputuskan untuk mengubah keluargaku
Orang-orang yang paling dekat denganku
Tetapi celakanya..................
Mereka tidak dapat diubah !
Dan kini
Sementara aku terbaring saat ajal menjelang
Tiba-tiba kusadari.....................
”Andaikan yang pertama kuubah adalah diriku
Maka dengan demikian diriku sebagai panutan
Mungkin aku bisa mengubah keluargaku.................
Lalu berkat semangat dan inspirasi keluargaku
Bisa jadi aku pun mampu memperbaiki negeriku
Kemudian siapa tahu
Aku bahkan dapat mengubah dunia ini”
3.
Mendidik
Dengan Mencelupkan Diri
Thomas Lickona mengatakan bahwa untuk membangun hubungan emosi dengan
murid-muridnya, seorang guru harus mampu menunjukkan bahwa dirinya adalah
manusia yang mempunyai perasaan. Guru dapat menceritakan bagaimana ia merasa
sedih ketika sepedanya dicuri orang, atau kawan baiknya meninggal karena
kanker. Dengan cara ini dapat membuat murid-murid terbuka kepada gurunya untuk
menceritakan masalahnya kepada gurunya.
Seorang guru yang dapat mencelupkan dirinya pada profesi sebagai guru
berkarakter, adalah seorang yang dapat berkontemplasi (merenungkan) perasaan, pikiran,
dan perilakunya secara rutin agar dapat melihat kekurangannya yang ada pada
dirinya. Seorang guru yang mengajarkan moral bukan berati dirinya harus
sempurn, tetapi diharapkan untuk dapat memperbaiki dan mengontrol terus
tindakannya agar tetap dijadikan model yang konkrit bagi murid-muridnya.
Sering tidak disadari oleh para pendidik karakter bahwa dengan memberikan
pendidikan karakter secara berkelanjutan dapat memperbaiki perilaku dirinya
sendiri. Banyak diakui oleh para pendidik karakter pada kegiatan SBB dan TK.
Karakter bahwa dengan melakukan metode pendidikan karakter Indonesia Heritage
Foundation secara terfokus dengan metode refleksi 15 sampai 20 menit sehari,
ternyata selain mengajarkan karakter kepada muridnya, juga mengingatkan diri
sendiri. Apalagi para murid yang ikut serta dalam kegiatan ini bersifat kritis
yang selalu dapat mengomentari gurunya kalau tidak sesuai dengan apa yang
diajarkannya.
BAB III
TELAAH BUKU
Pendidikan
yang patut dan menyenangkan, Penerapan Teori Developmentally Appropriate
Practice (DAP)
A. Mengapa Muncul Konsep DAP
Kurikulum sekolah di Amerika Serikat pada kurun waktu 1960-an sampai akhir
1970-an tidak sesuai dengan tahapan perkembangan anak (terutama untuk anak usia
di bawah 8 tahun), kurikulum telah gagal menghasilkan siswa/siswi yang tidak
dapat berpikir kritis dan tidak dapat menyelesaikan berbagai permasalahan dalam
kehidupan.
Awal tahun 1980-an bermunculan berbagai kritikan terhadap kurikulum sistem
lama yang dianggap mematikan semangat kecintaan anak untuk belajar. Akhirnya,
untuk mereformasikan pendidikan agar sesuai dengan konsep DAP, dan sejak tahun
1980-an sekolah di Amerika Serikat sudah melakukan perbaikan untuk menerapkan
konsep DAP.
Salah satu penyebab utama dari kesalahan mendidik
anak adalah banyaknya orang tua dan guru yang tidak menyadari dan mengetahui
cara-cara mendidik anak yang patut. Pendidikan yang patut adalah pendidikan
yang sesuai dengan umur, perkembangan psikologis, serta kebutuhan spesifik
anak. Penerapan konsep DAP dalam pendidikan anak, memungkinkan para pendidik
untuk memperlakukan anak sebagai individu yang utuh (the Whole Child) dengan
melibatkan 4 komponen dasar yang ada pada diri anak yaitu: pengetahuan
(knowledge), keterampilan (skills), sifat alamiah (dispositions), dan perasaan
(feelings). Oleh karena itu, penerapan konsep DAP dianggap dapat mempertahankan
bahkan meningkatkan gairah dan semangat anak-anak untuk belajar.
B.
Tiga dimensi Dalam Konsep DAP
1. Patut Secara Umur
Secara Umum, tahapan perkembangan anak dapat memberikan pengetahuan tentang
aktivitas, materi, pengalaman, dan interaksi sosial apa saja yang sesuai,
menarik, aman, medidik, dan menantang bagi anak.
2. Patut Menurut Lingkungan Sosial dan Budaya
Para pendidik harus mengetahui latar belakang sosial dan budaya anak karena
latar belakang sosial anak menjadi acuan guru dalam mempersiapkan materi
pelajaran yang relevan dan berarti bagi kehidupan anak.
3. Patut Menurut Anak Sebagai Individu Yang
Unik
Para pendidik harus mengerti bahwa setia anak adalah unik, mempunyai bakat,
minat, kelebihan, kekurangan, dan pengalaman yang berbeda-beda. Oleh karenanya
guru harus mampu menyesuaikan diri dengan keunikan-keunikan tersebut dalam
berinteraksi dan mengahdapai anak.

Gambar: Tiga Dimensi DAP Yang Saling Keterkaitan Gambar diambil dari Diterjemahkan situs Gary Glassenapp, http://www.tr.wou.edu/train/cdcDAP.htm#DEVEVAL
C. Prinsip Teoritis Perkembangan Anak Yang
Mendasari Konsep DAP
Bermain adalah bagian hidup yang terpenting dalam kehidupan anak.
Kesenangan dan kecintaan anak untuk bermain ini dapat digunakan sebagai
kesempatan untuk mempelajari hal-hal yang konkrit sehingga daya cipta,
imajinasi, dan kreatifitas anak dapat berkembang. Menurut Vigotsky bermain
merupakancara yang paling efektif untuk mematangkan perkembangan anak pada usia
pada usia pra-sekolah (pre-operational thinking), pada masa sekolah dasar
(concrete operational thinking), baik dibidang akademik (kognitif), maupun pada
aspek fisik dan sosial-emosi.
Teori perkembangan anak adalah penting untuk menyusun program pendidikan
yang sesuai dengan konsep DAP. Sekilas teori perkembangan anak menurut pakar:
A. Teori Piaget
(Teori Perkembangan Kognitif)
1. Contouctivism: pemahaman anak di bangun
melalui aksi
2. Asimilasi: mengetahui sesuatu karena ada
pengalaman sebelumnya
3.
Akomodasi:
proses memodifikasi apa yang diketahui sebelumnya karena menghadapi fenomena
yang baru.
B. Teori Erik
Erikson (Teori Perkembangan Emosi)
- Perkembangan emosi positif sangat
penting dalam perkembangan jiwa anak selanjut nya sehingga anak percaya
diri dan besemangat untuk belajar.
- Sangat tergantung pada peran guru dan
orang tua
C. Initiative VS Guilt (Inisiatif VS Merasa Bersalah) Pada
Usia 3,5-6 Tahun)
- Pada masa usia ini, anak
harus dapat bereksperimen, bereksplorasi, berimajinasi, berani mengambil
resiko, berani mencoba, sehingga anak kreatif dan antusias belajar
- Anak terlalu banyak dikritik dan disalahkan
akan mematikan kreatifitas, karena takut mencoba
- Memerlukan suasana belajar yang memberikan kesempatan
anak aktif, berimajinasi, bersosialisasi, dan berkreasi (bukan sebagai
objek pasif)
D. Industry VS Inferiority ( Berkarya/Etos Kerja) Pada Usia
6-Awal Pubertas
- Masa
paling kritis dalam membangun kepercayaan diri bahwa mereka mampu untuk
berkarya
- Berikan
kegiatan permainan yang membuat mereka merasa berhasil melakukannya.
- Memberikan
nilai atau rangkin yang dapat menimbulkan a sense of inferiority
E.Teori Vygotsky
(Teori Sosio-Kultural)
- Cara belajar efektif melalui preaktek
nyata (action) terutama dengan bermain
- Perkembangan intelektual anak
mencakup bagaimana mengaitkan bahasa dengan pikiran, dengan aktif
berbicara dan diskusi, anak lebih mngerti konsep berbicara
- Bahasa merupakan alat Bantu yang
efektif dalam proses belajar, bermain dan bereksplorasi, dapat membantu
perkembangan otak, berbahasa, bernalar, dan bersosialisasi.
D. Hasil Riset Otak Yang Mendukung Konsep
DAP
Manusia mempunyai kemampuan alami untuk belajar, asalakan tidak
bertentangan dengan prinsip bekerjanya struktur dan funsi otak. Sistem sekolah
traditional (kurikulum lama) sering tidak sesuai dengan prinsip alami. Berikut
adalah gambar otak ’three in One (3 dalam satu kotak)

A. Sistem limbic
Otak:
- Mengontrol kemampuan daya ingat,
kemampuan belajar manusia
- Merespon informasi yang diterima
panca indera
- Penyimpan informasi yang
berharga
B. Brain Based Learning
- Otak belajar melibatkan seluruh aspek
fisiologi manusia
- Kerja otak dipengaruhi oleh emosi
- Otak
selalu mencari makna dan arti
- Otak
bekerja secara paralel dan simultan
- Kerja
otak optimal jika diberi tantangan dan terhambat jika ada ancaman
C. Kortek
1. Otak belajar berpikir
2. Otak belajar berbahasa
3. Otak belajar merencanakan
4. Otak belajar menganalisa
5. Otak belajar mereaksi
E.
Hippocampus
1.
Otak Emosi, Seat Of Love ( tempat rasa cinta)
2. Perasaan, Ancaman, kesedihan, Takut,
Airmata, dan sebagainya
E. Hasil Studi Tentang Keberhasilan DAP
Eisner mengatakan beberapa study menunjukkan
bahwa metode DAP telah terbukti meningkatkan motivasi anak untuk
bereksploitasi, meningkatkan kreatifitas, dan rasa ingin tahu yang besar pada
anak. Penerapan DAP di kelas dapat membuat anak-anak tidak mengalami tekanan
dan strees seperti halnya pada kelas tradisional yang sering membuat anak tidak
menyenangi sekolah.
1. Dampak terhadap perkembangan sosial-emosi
Perkembangan sosial-emosi anak yang sekolahnya menerapkan konsep DAP
mempunyai tingkat kekhawatiran (anxiety) yang rendah dibandingkan dengan
sekolah tradisional (terlalu menekankan kemampuan kognitif).
Anak yang tidak menerapkan konsep DAP lebih tinggi mengalami stres
sepanjang waktu di sekolah, termasuk juga stres dalam mengerjakan kegiatan
mengisi lembar kertas kerja, dibandingkan mereka di kelas yang menerapkan
prinsip DAP.
2. Dampak terhadap perkembangan Kognitif
Anak-anak yang mendapatkan kurikulum DAP lebih kreatif daripada tidak,
termasuk lebih unggul kemampuan bahasa dan lebih percaya diri tentang kemampuan
kognitifnya daripada anak-anak yang mengikuti kelas tradisional. Anak-anak
ketika usia TK masuk ke sekolah yang menerapkan DAP mempunyai kemampuan membaca
dan matematika lebih tinggi ketika mereka di kelas 1 SD dibandingkan dengan
anak-anak yang tidak mendapatkan DAP ketika TK. hal ini berlaku juga pada
anak-anak dari kelas miskin.
F.
Komponen Terpadu Praktek DAP
1.
Komponen-komponen
terpadu dari praktek pendidikan yang patut dan tidak patut untuk anak-anak di
bawah 3 tahun
a. Cara yang Patut
Ruangan dan isinya harus menarik dan berwarna-warni untuk membangkitkan
keceriaan anak. tempat bermain harus aman dari benda-benda tajam dan mudah
pecah. selain itu, ada juga area yang ditutupi dengan bahan yang empuk seperti
kasur, matras, dan bantal kecil agar anak dapat berguling dengan bebas. ada
sofa untuk pengasuh atau orang tua, yang dapat dipakai untuk bersantai memangku
anak sambil membacakan buku cerita.
b.
Cara
yang tidak patut
Ruangan bermain kosong dari perlengkapan bermain anak atau sengaja diatur
dengan kaku agar mudah dibersihkan. Tidak ada tempat yang duduk nyaman bagi
pengasuh untuk duduk bercerita dan bersantai sambil membacakan buku cerita.
2. Komponen-komponen terpadu dari praktek
pendidikan yang patut dan tidak patut untuk anak-anak di bawah 5 sampai 8 tahun
a. Cara yang Patut
Pendidik merencanakan lingkungan belajar yang dapat merangsang inisiatif
anak melalui materi-materi yang dapat mengundang anak untuk bereksploitasi
aktif serta memberikan peluang pada anak untuk bersosialisasi dengan
kawan-kawan dan gurunya.
b. Cara yang tidak patut
Kegiatan belajar yang tidak beraturan dan sulit untuk diprediksi. Anak
berkeliaran tanpa ada tujuan yang jelas, suara sangat ribut, sehingga
mengganggu proses belajar mengajar.
3. Perkembangan Sosial dan Emosi dari
praktek pendidikan yang patut dan tidak patut untuk anak-anak di bawah 8 tahun
ke atas
a. Cara yang Patut
Guru menumbuhkan perilaku prososial, mau bekerja keras, pantang menyerah,
tekun, kreatif, produktif, dan mandiri pada diri anak dengan memberikan banyak
rangsangan melalui kegiatan yang mendukung serta mendorong anak untuk tertarik
dan melakukannya.
b.
Cara
yang tidak patut
Guru berceramah tentang pentingnya perilaku sosial yang patut dimilki oleh
anak dan memberi hukuman ketika ada anak yang mulai berjalan keliling kelas,
gelisah, bosan, dan resah didalam kelas.
Sebuah Contoh
praktek pendidikan yang patut dan tidak patut untuk anak-anak berdasarkan DAP
B. Cara yang
Tidak Patut A P E L Anak belajar menulis mengikuti apa
yang disuruh oleh guru (Menulis Huruf APEL), sedangkan guru tidak
memberikan contohnya (Gambar APEL)
a. Cara yang Patut

Anak dibiarkan bereksploitasi sendiri
dengan mencoba menulis huruf-huruf atau kata-kata yang ingin dibuat (Menulis
Huruf APEL), sedangkan guru memberikan contohnya ( Gambar APEL)
A P E L
BAB IV
PEMBAHASAN
A.
Arti Manusia Berkarakter
Teknologi
Memberi makna manusia berkarakter
teknologi haruslah didasari atas ”apakah yang dimaksud dengan teknologi?”.
Susahnya, teknologi telah diartikan secara berbeda-beda menurut perumusnya.
Dorf (1974) mengartikan teknologi sebagai aplikasi sains, sedang Snyder (1981)
mengartikan teknologi sebagai pengetahuan dan studi usaha manusia dalam
menciptakan dan menggunakan alat, teknik, sumber daya, dan sistem untuk
mengelola lingkungan alam dan lingkungan buatan manusia untuk tujuan
memperbaiki kehidupan. Goethsch dan Nelson (1987) mengartikan teknologi sebagai
kombinasi alat, sumber daya, dan proses, yang dijiwai oleh manusia untuk
memecahkan masalah atau untuk memperluas kapabilitasnya. Ahli-ahli yang lain
lagi akan mengartikan teknologi yang berbeda-beda pula. Namun, ada kesamaan
pandangan bahwa teknologi memiliki empat komponen yang karakteristik yaitu
sebagai berikut:
1. manusia berfungsi sebagai ”jiwa” teknologi
karena manusialah yang membuatnya dan karenanya tanpa sentuhan manusia,
teknologi tidak memiliki arti apa-apa.
2. alat merupakan bagian penting teknologi,
karena dari alat inilah proses teknologi akan berlangsung. Dalam
perkembangannya, alat mengalami kemajuan, dari yang sangat sederhana (misal:
pengungkit yang digerakkan tangan, bubut tangan, gergaji tangan, dsb.) hingga
sampai alat yang sangat modern (misal: CNC, mekatronik, hipercomputer, dsb.).
3. sumber daya selain manusia merupakan
komponen teknologi yang harus ada. Sumber daya yang dimaksud meliputi bahan,
energi, uang, waktu, dan informasi.
4. proses merupakan komponen vital teknologi.
Proses adalah serentetan
tahap yang menuntun ke arah hasil tertentu. Dengan kata lain, proses adalah
berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Karena sedemikian banyaknya jenis teknologi, maka
prosesnya pun juga banyak ragamnya.
Keempat komponen di atas, yang kemudian
disebut teknologi, diharapkan meningkatkan kinerja suatu organisasi yang
meliputi peningkatan kualitas, efisiensi (penurunan biaya produksi),
produktivitas, efektivitas, profitabilitas, kualitas kehidupan kerja, kandungan
nilai tambah, dan memperluas keragaman produk, yang kesemuanya itu dalam rangka
meningkatkan kesejahteraan manusia dan masyarakat.Dengan penjelasan di atas,
teknologi memiliki empat komponen yang karakteristik, yaitu manusia, alat,
sumber daya, dan proses, serta tujuannya adalah untuk meningkatkan kinerja
manusia/organisasi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan manusia dan
masyarakat, maka tidaklah sukar mengartikan manusia berkarakter teknologi.
Manusia berkarakter teknologi adalah manusia yang memiliki pengetahuan tentang
alat, sumber daya, dan proses, dimana pengetahuannya dijadikan muatan hati
nurani, dihayati, dan dipraktikkan dalam kehidupan untuk meningkatkan
kinerjanya dalam rangka meningkatkan kesejahteraan hidupnya.
B. Tujuan
Pengembangan Manusia Berkarakter Teknologi
Mengapa harus mengembangkan manusia
Indonesia berkarakter teknologi? Pertanyaan ini menyangkut kedudukan kemampuan
teknologi manusia Indonesia khususnya atau bangsa Indonesia pada umumnya
terhadap bangsa-bangsa lain. Data dari The World Competitiveness Report (1995)
menunjukkan bahwa kemampuan teknologi bangsa Indonesia berada pada urutan
33 dari 48 negara yang diteliti. Di dalam negeri sendiri jumlah tenaga kerja
yang bekerja pada teknologi tinggi, menengah, dan rendah berturut-turut
102.500, 443.800 dan 2.662.800 orang (BPS, 1990), yang dapat disimpulkan bahwa
kemampuan teknologi bangsa Indonesia masih rendah. Tidak hanya itu saja,
dukungan dana untuk "Research and Development" relatif lebih
rendah dibanding negara-negara tetangga Singapore, Malaysia, Thailand dan
Philippines). Yang paling memprihatinkan adalah rendahnya prestasi belajar
anak-anak didik kita. Nilai Matematika dan Fisika yang merupakan dasar bagi
pengembangan kemampuan teknologi, sangat rendah. Rata-rata nilai Matematika dan
Fisika pada Sekolah Menengan Umum dan Kejuruan tidak lebih dari angka 4 sampai
5 (Depdikbud, 1988) dengan skala nilai minimum 0 dan maksimum10. Dalam
kehidupan masyarakat juga belum tercermin cintanya/apresiasinya terhadap
teknologi. Terbukti teknologi-teknologi yang lahir di tanah air tercinta ini
"kurang dirawat" dan dibiarkan dicuri/diambil alih oleh bangsa lain.
Yang terakhir, tingkat melek teknologi bangsa Indonesia masih nampak
memprihatinkan. Berdasarkan sejumlah tantangan tersebut di atas, maka bangsa
Indonesia harus menghadapinya. Cara menghadapinya adalah dengan meningkatkan
daya saing terhadap kemampuan teknologi bangsa-bangsa lain. Banyak faktor
penentu daya saing teknologi, namun peningkatan kemampuan manusia di bidang
teknologi akan menentukan kemenangan bersaing, karena faktor manusia merupakan
satu-satunya sumber daya yang aktif, sedangkan sumber daya lainnya pasif. Oleh
karena itu, pengembangan manusia Indonesia berkarakter teknologi merupakan
alternatif yang paling strategis.Pada dasarnya, tujuan utama pengembangan
manusia Indonesia berkarakter teknologi adalah untuk meningkatkan kemampuan
daya saing bangsa Indonesia di bidang teknologi, sehingga bangsa Indonesia
dapat hidup sejajar (kompetitif) dengan bangsa-bangsa lain di dunia dan bahkan
dapat hidup memimpin bangsa-bangsa lain di bidang teknologi.
C. Unsur-Unsur Manusia Yang Dikembangkan Di Bidang
Teknologi
Unsur-unsur manusia apa saja yang perlu
dikembangkan di bidang teknologi ? Dimensi manusia dapat dikategorikan menjadi
tiga, yaitu daya pikir, kalbu dan pisik. Karena itu, pengembangan manusia
Indonesia berkarakter teknologi harus mencakup tiga dimensi tersebut.Pada
dimensi daya pikir, yang perlu dikembangakan adalah daya pikir tentang
dasar-dasar teknologi dan teknologi itu sendiri. Dasar-dasar teknologi tidak
lain adalah sains keras dalam arti luas, yang meliputi matematika, biologi,
fisika, dan kimia. Teknologi dapat dikategorikan ke dalam teknologi komunikasi,
transportasi, manufaktur, konstruksi, energi, bio, dan bahan (material).
Masyarakat harus melek dasar-dasar teknologi dan melek dalam teknologi itu
sendiri. Inilah kemampuan daya pikir yang perlu dimiliki oleh generasi muda
Indonesia pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.
Pengembangan daya kalbu manusia
Indonesia di bidang teknologi perlu diupayakan. Pada dasarnya, unsur daya kalbu
manusia menyentuh masalah-masalah kesanggupan diri untuk mencintai teknologi
sebagai alat bagi kehidupannya. Apresiasi, sikap positif, kesayangan, motivasi,
rasa keingintahuan, kehendak untuk lebih baik, dan kesan positif terhadap
teknologi, harus ditanamkan ke kalbu manusia sejak dini hingga sampai akhir
hayatnya. Ini penting karena betapa pun maju daya pikir teknologinya, akan
tetapi jika daya kalbunya tetap tidak berubah, maka sukar diharapkan adanya kemajuan
teknologi.
Dimensi daya pisik manusia,
keterampilan pisik khususnya merupakan bagian integral pengembangan manusia
berkarakter teknologi. Keterampilan pisik, khususnya teknologi yang berbau
"craft" merupakan kemampuan, yang kalau digarap dengan baik, dapat
memberikan nilai tambah berlipat ganda terhadap sumber daya yang diolah.
Seni-seni kriya ukir dari Bali, batik dari Yogyakarta dan Solo, ukir kayu dari
Jepara, perak dari Yogyakarta dan masih banyak contoh yang lain, merupakan
kemampuan keterampilan pisik teknologi yang dapat dijadikan komoditi unggulan
daerah yang bersangkutan.
D. Proses
Pengembangan Manusia Berkarakter Teknologi
Mengembangkan ketiga dimensi manusia agar
berkarakter teknologi seperti di atas, yaitu daya pikirnya, kalbunya, dan pisiknya,
memerlukan proses yang bertahap dan harus berkualitas tinggi. Urutan
pengembangan manusia berkarakter teknologi menurut United States Office of
Education (1972), perlu dilakukan melalui pentahapan sebagai berikut:
1 tahap kesadaran/pengetahuan,
2 tahap penjagaan/eksplorasi,
3 tahap orientasi, dan
4 tahap penyiapan.
Uraian seperlunya dapat disimak sebagai
berikut.
Tahap kesadaran, adalah tahap dimana manusia perlu diberi pengetahuan
tentang hal ihwal teknologi, baik jenis-jenisnya, manfaatnya, maupun akibatnya.
Hal ini penting untuk
dilakukan agar manusia memahami secara benar dan utuh tentang teknologi. Tahap
ini dicapai melalui pengenalan dan penyingkapan teknologi secara luas dan
kandungan nilai-nilai positif yang berkaitan dengan kebutuhan hidup manusia
sehari-hari. Strategis yang tepat untuk melakukan tahap kesadaran ini adalah
melalui penyingkapan berbagai teknologi yang ada, membuat manusia sadar tentang
kaitan dirinya dengan teknologi, memberikan dasar-dasar kemampuan untuk
mempelajari teknologi, memberikan pengertian tentang manfaat teknologi bagi
kehidupannya, dan memberikan pengertian tentang dampak teknologi pada kehidupan
dirinya. Pada tahap ini
diharapkan manusia telah menyenangi jenis teknologi tertentu. Tahap ini tepat
disampaikan kepada anak-anak Sekolah Dasar (SD) atau kepada masyarakat yang
belum melek teknologi.
Tahap penjajagan (eksplorasi), manusia diajari untuk menjajagi lebih mendalam
tentang jenis teknologi tertentu termasuk cabang-cabangnya serta menilai minat
dan kemampuannya untuk mempelajari lebih mendalam teknologi yang akan menjadi
pilihannya. Pada tahap ini pula manusia diajari untuk membuat keputusan dan
pilihan terhadap teknologi yang akan dijadikan alat bagi kehidupannya. Tahap
ini cocok untuk anak-anak Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) atau untuk
orang-orang dewasa yang telah tamat SD. Strategi yang paling cocok untuk tahap
penjajagan ini adalah kunjungan ke tempat-tempat dimana teknologi diterapkan
(misal: Industri, Bank, Rumah Sakit, Pusat Penelitian Teknologi), kontak
langsung dengan nara sumber yang bekerja di kehidupan (misal: Industri, Bank),
dan pengalaman pengamatan kerja langsung di berbagai instansi yang menerapkan
teknologi.
Tahap orientasi, manusia mulai diarahkan mempelajari jenis
teknologi tertentu melalui pengalaman kerja (magang) pada instansi yang
menggunakan teknologi pilihannya. Magang diartikan sebagai "membantu" pekerja pada instansi
tertentu yang menerapkan teknologi pilihannya. Di instansi tersebut, pemagang
mempelajari tujuan penggunaan teknologi, proses kerjanya, dan berbagai alat dan
sumber daya yang diperlukan untuk berlangsungnya proses. Tahap ini cocok untuk
siswa pada kelas awal Sekolah Menengah (Umum dan Kejuruan). Bagi masyarakat
umum, tahap ini cocok bagi mereka yang telah mengenal teknologi tertentu dan
ingin mempelajari lebih mendalam bagi kepentingan pekerjaannya/usahanya.
Tahap penyiapan, manusia mulai disiapkan mempelajari secara
mendalam pengetahuan, sikap, dan keterampilan teknologi pilihannya pada jenis
pekerjaan tertentu. Pada tahap ini manusia benar-benar mempelajari dan berlatih
dengan cara yang benar tentang penggunaan alat-alat, penggunaan sumber daya,
dan tahap-tahap proses teknologi tertentu. Tahap penyiapan dapat dilakukan
secara komplementer di sekolah dan didunia kerja yang menggunakan teknologi
tertentu. Hasil akhir dari tahap penyiapan ini adalah kesiapan kemampuan dan
kesanggupan manusia pada jenis teknologi tertentu. Artinya, siapa saja yang
telah melalui tahap ini, yang bersangkutan telah siap mengoperasikan jenis
teknologi tertentu: manufaktur, komunikasi, transportasi, konstruksi,
material/bahan, energi, dan bio.
Tahap penyiapan lebih cocok bagi siapa
saja yang menguasai tahap-tahap sebelumnya. Bagi peserta didik khususnya, tahap
ini lebih cocok untuk mereka yang duduk: di kelas akhir Sekolah Menengah Umum,
di Sekolah Menengah Kejuruan, dan di Perguruan Tinggi.
E. Jalur-Jalur Pengembangan Manusia Berkarakter
Teknologi
Pengembangan manusia berkarakter teknologi
akan lebih kondusif jika dilakukan secara komplemen dan kolaboratif antara
keluarga, sekolah dan masyarakat (Lamons, 1984; Levin, 1984). Artinya, harus
ada pembagian fungsi-fungsi dalam pengembangan manusia berkarakter teknologi
antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kejelasan fungsi tersebut sangat
penting agar terhindar dari duplikasi dan pemborosan. Karena itu, diusulkan
adanya kebijakan teknologi nasional. Selain dapat mengatur peran dari
fungsi-fungsi tertentu, juga dapat memiliki kejelasan tentang sasaran dan arah
pengembangan teknologi nasional. Berikut disampaikan peran masing-masing jalur
pengembangan manusia berkarakter teknologi.
1.
Jalur Keluarga
Keluarga
merupakan awal manusia dididik. Jika anak hidup dengan penuh kasih sayang, dia
akan belajar mencintai. Jika anak hidup penuh pujian atas keberhasilannya, dia
akan belajar merasa sukses. Jika anak hidup penuh kritikan, dia akan belajar
menyalahkan orang lain. Jika anak
hidup dengan penuh permusuhan dia akan belajar berkelahi (Nolte, 1977).
Contoh-contoh ini sekedar memberikan gambaran betapa pentingnya peran keluarga
(orangtua) dalam mempengaruhi anak. Hal ini berlaku juga bagi pengembangan
manusia Indonesia berkarakter teknologi. Peran utama orangtua dalam
mengembangkan manusia Indonesia berkarakter teknologi adalah sebagai motivator.
Sebagai motivator, orangtua sudah selayaknya memberikan dorongan yang kuat
terhadap anaknya untuk mempelajari jenis teknologi tertentu. Orangtua adalah
orang yang paling memahami karakteristik anaknya, baik dari dimensi pikirnya,
kalbunya, maupun fisiknya. Karena itu, sebagai motivator hendaknya lebih
memberikan dorongan kebebasan yang terarah. Adalah tidak tepat jika orangtua
memberikan dorongan yang mengarah kepada pemaksaan yang berakibat membunuh
kreativitas anak. Karena itu, orangtua selayaknya memberikan ruang gerak
anaknya untuk melakukan eksprimentasi-eksprimentasi yang mengarah kepada
kreativitas berpikir anak pada umumnya, dan kreativitas berpikir teknologi pada
khususnya.Dalam membentuk manusia berkarakter teknologi, orangtua agar
mendorong anaknya menyenangi ilmu-ilmu matematika, fisika, kimia dan biologi,
karena ilmu-ilmu ini merupakan dasar untuk mempelajari teknologi. Orangtua
tidak semuanya mengerti ilmu-ilmu tersebut, dan karena itu yang diperlukan
adalah dorongan. Tentu akan lebih efektif jika orangtuanya juga mengerti
tentang ilmu-ilmu dasar teknologi tersebut.
2.
Jalur Sekolah
Sekolah merupakan tempat bagi pengembangan
potensi anak setelah keluarga. Bahkan harapan orangtua terhadap sekolah sering
berlebihan, yaitu agar sekolah dapat berperan mendidik apa saja yang dianggap
bermanfaat bagi anaknya. Harapan orangtua seperti ini tentu saja tidak
dibenarkan, mengingat keterbatasan sumber daya sekolah. Meskipun dengan
keterbatasannya, sekolah diharapkan mampu melakukan proses pendidikan seperti
yang disarankan oleh samuel Smiles (1887) dalam bukunya Life and Labor,
yaitu:
" Tanamkan pemikiran, dan kamu akan memanen tindakan "
" Tanamkan tindakan, dan kamu akan memanen kebiasaan "
" Tanamkan kebiasaan, dan kamu akan meraih karakter "
" Tanamkan karakter, dan kamu akan memanen tujuan "
Saran Smiles tersebut masih relevan bagi
sekolah mana saja. Sekolah yang berkeinginan membangun manusia yang berkarakter
teknologi harus mampu memberikan pemikiran-pemikiran tentang teknologi
(pengetahuan teknologi), menanamkan tindakan konkret atas dasar pemikiran
teknologi yang telah ditanamkan kepada peserta didiknya, menanam kebiasaan
berperilaku atas dasar teknologi modern, dan menanamkan karakter yang
berorientasi pada teknologi, agar tujuan pengembangan manusia berkarakter
teknologi dapat dicapai.Proses pendidikan ini dapat berlangsung dengan baik
jika didukung oleh kesiapan sekolah, terutama gurunya (dyrenfurth, 1984). Guru
merupakan faktor strategis. Karena itu, kemampuan dan kesanggupan guru di
bidang dasar-dasar teknologi (fisika, matematika, kimia, biologi) dan di bidang
teknologi (telekomonikasi, manufaktur, konstruksi, transportasi, dsb. perlu
ditingkatkan.
3.
Jalur Masyarakat
Untuk mengembangkan manusia Indonesia yang
berkarakter teknologi, tidak lepas dari peran masyarakat. Masyarakat memiliki
karakteristik yang unik dan tidak dimiliki oleh sekolah. Berbagai nilai
kehidupan (ekonomi, teori, sosial politik, religi, seni, solidaritas, dan
teknologi) ada di masyarakat. Karena itu, sewajarnyalah jika dalam
mengembangkan manusia berkarakter teknologi bergandengan tangan dengan
masyarakat, khususnya masyarakat teknologi. Tempat di mana masyarakat teknologi
berkumpul memang beragam, namun tempat yang paling sarat teknologi adalah dunia
usaha dan industri serta pusat-pusat penelitian dan pengembangan teknologi yang
berada di berbagai organisasi/instansi/institusi.Jika jalur sekolah berperan
memberikan pengetahuan, tindakan dan kebiasaan dalam rangka membentuk karakter,
maka dunia usaha dan industri serta pusat-pusat penelitian dan pengembangan
dapat berperan memberikan pengalaman langsung yang sarat nilai pengetahuan
teknologi, sikap teknologi dan keterampilan teknologi. Itulah sebabnya,
Sekolah-sekolah Menengah Kejuruan dan Perguruan Tinggi harus menjalin kerja
sama yang erat dengan dunia usaha dan industri yang sarat teknologi.Sebagai
contoh, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), telah membina kerja sama dengan industri
melalui Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Dalam konsep PSG, siswa belajar di dua
tempat, yaitu sekolah (SMK) dan di dunia usaha/industri. Di sekolah, siswa
mempelajari teori dan praktik dasar kejuruan/teknologi. Di dunia
usaha/industri, siswa mempelajari pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja
yang sarat teknologi. Dengan jalinan yang erat antara sekolah dan dunia
usaha/industri, maka sinergi positif antara sekolah dan dunia usaha/industri
akan terjadi dalam rangka pengembangan manusia Indonesia berkarakter teknologi.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pada bagian
akhir Book Report ini, penulis mengajak semua pihak untuk mengenalkan Pendidikan
Berkarakter, dan konsep DAP dibandingkan karakter berteknologi adalah bagian
kurikulum pada semua dari TK, sekolah dasar dan sekolah lanjutan tingkat
pertama. Pendidikan teknologi dasar pada jenjang pendidikan ini sangat
strategis untuk mengembangkan Berkarakter, dan konsep DAP dibandingkan karakter
berteknologi, karena anak-anak pada jenjang pendidikan sangat amat membutuhkan
peran penting dalam pembentukan karakter demi
terciptanya masa depan yang lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar