Kamis, 02 Juli 2026

Bedah Buku Pendidikan Karakter (Solusi Yang Tepat Untuk Membangun Bangsa)

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Judul Buku

Buku yang dilaporkan berjudul “Pendidikan Karakter (Solusi Yang Tepat Untuk Membangun Bangsa)”dan Pendidikan yang patut dan menyenangkan, Penerapan Teori DAP, judul buku ini merupakan salah satu topik kajian yang membahas tentang perkuliahan Landasan Pendidikan yang dibimbing oleh Bapak Dr. M. Husen, M.Pd.

  1. Pengarang

Buku “Pendidikan Karakter (Solusi Yang Tepat Untuk Membangun Bangsa)” dan “Pendidikan yang patut dan menyenangkan, Penerapan Teori DAP, ini merupakan karya dari penulis Ratna Megawangi Ph.D.

  1. Tahun Terbit

Buku “Pendidikan Karakter (Solusi Yang Tepat Untuk Membangun Bangsa)” dan “Pendidikan yang patut dan menyenangkan (Penerapan Teori DAP), kedua buku ini ditertibkan tahun 2004.

  1. Alasan Pemilihan Judul

1.      Buku ini merupakan bahan materi Mata Kuliah “Landasan Pendidikan”

2.      Buku ini memiliki informasi berbagai masalah tentang Pendidikan Karakter Pembangunan SDM Secara Keseluruhan

3.      Kunci sebuah keberhasilan membangun peradaban yang berkualitas terdiri dari proses pembelajaran berkarakter di dalamnya.

BAB II

TELAAH BUKU

 

Pendidikan Karakter (Solusi Yang Tepat Untuk Membangun Bangsa)

A. Mengapa Pendidikan karakter sangat penting membangun peradaban?

Sebuah peradaban akan menurun apabila terjadinya demoralisasi pada masyarakat. Banyak pakar, filsuf dan orang-orang bijak yang mengatakan bahwa faktor moral adalah yang utama yang harus dibangun terlebih dahulu agar dapat membagun sebuah bangsa yang tertib, aman dan sejahtera. Salah satu kewajiban utama yang harus dijalankan oleh para orang tua dan pendidik adalah melestarikan dan mengajarkan nilai-nilai moral kepada anak-anak kita. Nilai moral yang ditanamakan akan membentuk karakter (akhlak mulia) yang merupakan fondasi penting bagi terbentuknya sebuah tatanan masyarakat yang beradab dan sejatera.

 

1. Hubungan Antara Kualitas Karakter dan Kemajuan Bangsa

Indonesia saat ini sedang menghapi ujian berat yang harus dilalui, terjadinya krisis multidimensi yang berkepanjangan, krisis multidimensi ini menurunnya kualitas moral bangsa yang telah membudaya akibat praktek KKN, konflik multidimensi kriminalitas, menurunnya etos kerja dan masih banyak lagi

James Dale Davidson dan Rees-Mog (1997) bahwa seluruh masyarakat yang kokoh mempunyai fondasi moral yang kokoh. Semua studi tentang sejarah pembangunan ekonomi menunjukkan adanya hubungan yang erat antara faktor moral dan faktor ekonomi.

Thomas Lickona ( seorang profesor pendidikan dari Cortland University). Lickona mengatakan ada sepuluh tanda-tanda jaman yang harus diwaspadai karena jika tanda-tanda ini sudah ada, maka itu berarti bahwa sebuah bangsa sedang mengalami jurang kehancuran. Berikut ini tanda-tanda kehancuran suatu bangsa : 

  1. Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja
  2. Penggunaan bahasa dan kata kata yang buruk
  3. Pengaruh per grup yang kuat dalam tindak kekerasan
  4. Meningkatnya perilaku yang merusak diri seperi narkoba, sex bebas, dan alkohol.
  5. Kaburnya pedoman moral baik dan buruk
  6. Menurunnya etos kerja
  7. Rendah nya rasa hormat kepada orang tua dan guru
  8. Rendahnya rasa tanggung jawab baik sebagai individu maupun warga negara.
  9. Membudaya Ketidakjujuran
  10. Adanya rasa saling curiga dan kebencian diantara sesama.

Mengingat kekayaan alam kita yang terus dieksploitasi akan habis pada suatu saat, dan tidak dapat diperbarui, maka penyiapan secara dini untuk membangun karakter masyarakatnya harus dilakukan segera. Kualitas SDM yang berkarakter, mempunyai spirit kerja yang tinggi, dan mandiri. Bekal yang membawa kejayaan bangsa di masa depan. Spirit budaya bangsa seperti ini tidak akan pernah habis, bahkan akan menjadi rahmat bear di masa depan.

Emile Durkheim (1961), bapak ilmu sosiologi dari Perancis, menulis sebuah ungkapan yang sampai sekarang masih relevan untuk kondisi kekinian:

” Masyarakat harus mempunyai tujuan idela ke arah mana harus dicapai. Sebuah masyarakat harus mempunyai beberapa kemuliaan untuk diraih, sebuah kontribusi orisinal untuk kemanusiaan. Ketika perilaku manusia tidak mempunyai landasan moral tempat berpijak, perilaku itu akan berbalik melawan dirinya. Ketika kekuatan-kekuatan moral masyarakat masih tidak bekerja, ketika kekuatan moral tersebut tidak pernah dilibatkan dalam segenap usaha untuk mencapainya, meraka akan melenceng dari kaidah moral dan kekutan-kekuatan itu akan dipakai dijalan yang penuh kegelapan dan berbahaya.”

 

2. Membangun Masyarakat Madani melalui pembangunan karakter (akhlak): Perspektif Menurut Agama

Tulisan Nurcholish Madjid (Kompas 5/10 dan 6/10/2001) yang membahas seputar masyarakat menyajikan beberapa hal yang menarik, bagaimana prinsip-prinsip masyarakat madani tidak terlepas dari inti ajaran universal kemanusiaan yang diturunkan kepada para nabi dan rasul-rasul sepanjang zaman.

Dapat diartikan bahwa faktor akhlak manusia adalah fondasi dasar dari terbentuknya masyarakat madani. Bukankah inti ajaran seluruh agama untuk membentuk akhlak manusia? Pembentukkaan akhlak manusia sering terlupakan dalam wacana perbincangan masyarakat madani, karena selama ini banyak yang beranggapan bahwa membangun sistem adalah lebih penting daripada membangun manusia-manusianya. Di zaman Rasulullah membangun tauhid (aqidah) para pengikutnya dan ini adalah fondasi prasarana sosial dan kultural untuk menopang sistem kemasyarakatan yang menjadi pedoman hidup. Ayat-ayat Al Qur’an dilibatkan pada masa ini bait bait puisi indah, yang mengajak manusia yang mencintai ALLAH, dan senantiasa melakukan pembersihan hati.     

 

B. Mengapa pendidikan karakter harus dilakukan sejak usia dini?

                Ada pepatah yang mengatakan bahwa mengajarkan anak-anak kecil ibaratnya seperti menulis diatas batu, yang akan tertulis dan berbekas sampai usia tua. Sedangkan mengajarkan orang dewasa diibaratkan seperti menulis diatas air, yang akan cepat sirna dan tak berbekas.

            Thomas Lickona mengemukakan ”walaupun jumlah anak-anak hanya 25% dari total julah penduduk, tetapi yang menentukan 100% masa depan. Oleh karenanya, penanaman moral melalui pendidikan karakter sendiri mungkin kepada anak-anak adalah kunci utama dalam membangun bangsa.

 

1.Pentingnya Memulai Dari Masa Kanak-Kanak

Pembentukan karakter harus dimulai dari sejak kecil, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Universitas Otago, New Zealand pada 1000 anak yang diteliti selama 23 tahun dari tahun 1972. Anak-anak menjad sampel usia 3 tahun dan diamti kepribadiannya, dan diteliti kembali pada usia 18 dan 21 tahun, dan kemudian ketika berusia 26 tahun. Hasilnya, anak-anak yang berusia 3 tahun didiagnosis ”uncontrollable toddlers” (anak yang sulit diatur, pemarah, dan pembangkang), ternyata pada usia 18 tahun menjadi remaja yang bermasalah, agresif, dan mempunyai masalah bergaul, pada usia 21 tahun menjadi sulit membina sosial dengan orang lain, dan terlibat kriminalitas. Begitu juga anak-anak ayang berusia 3 tahun yang sehat jiwanya, ternyata setelah dewasa menjadi orang-orang yang berhasil dan sehat jiwanya.     

Berbagai pendapat dari banyak pakar pendidikan anak, dapat disimpulkan bahwa terbentuknya karakter (kepribadian) manusia adalah ditentukan 2 faktor, yaitu nature (faktor alami), nurture (sosialisasi pendidikan).

Sebuah hadist Qudsi digambarkan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan suci, seperti yang diriwayatkan oleh Muslim, telah berfirman ALLAH SWT: ”Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hambaku dalam keadaan lurus, suci, dan bersih. Kemudian datanglah setan-setan yang menggelincirkan mereka dan menyesatkannya dari kebenaran agama mereka. Dan setan-setan pun telah mengharamkan segala sesuatu bagi mereka apa apa yang yang telah aAku halalkan.”

Fitrah manusia yang menurut perspektif agama adalah cendrung kepada kebaikan ini, masih mengakui adanya pengaruh lingkungan yang dapat mengganggu proses tumbuhnya fitrah. Hal ini memberikan pembenaran perlunya faktor nurture, atau lingkungan budaya, pendidikan, dan nilai-nilai yang perlu disosialisasikan kepada anak-anak.

Nurture, Faktor lingkungan , usaha memberikan pendidikan dan sosialisasi adalah sangat berperan didalam menentukkan ”buah” seperti apa yang akan dihasilkan nantinya dari seorang anak. Apabila masa usia 2 tahun pertama anak sudah mendapatkan cinta, maka sangat mudah anak tersebut dibentuk menjadi manusia berakhlak mulia. Menurut hasil penelitian, anak-anak usia 2 tahun sudah dapat diajarkan moral , bahkan meraka sudah dapat mempunyai perasaan empati terhadap kesulitan atau penderitaan orang lain. Anak-anak usia pra sekolah sudah dibekali dengan kesadaran emosi.seperti rasa bersalah, malu, perasaan disakiti, bangga, dan lain sebagainya.

 

C. Nilai-nilai karakter apa yang perlu ditanamkan?

            Pendidikan karakter adalah sebuah usaha untuk mendidikan anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat meberikan kontribusinya yang positif kepada lingkungannya. Nilai-nilai karakter yang prelu ditanamkan kepada anak-anak adalah nilai-nilai universal yang mana seluruh agama, tradisi, dan budaya pasti menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai universal ini harus dapat menjadi perekat bagi seluruh anggota masyarakat walaupun berbeda latar belakang budaya, suku, ras, dan agama.

Pendiri Indonesia Heritage Foundation (IHF),  Ratna Megawangi telah menyusun serangkaian nilai-nilai yang selayaknya diajarkan kepada anak-anak, yang kemudian dirangkum menjadi 9 pilar karakter, yaitu:

PILAR 1 (Cinta Tuhan dan Segenap  Ciptaan Nya)

Ajarkan anak mengucapkan kata pujian terhada Allah ketika melihat sesuatu yang indah, ketika mendapatkan nikmat ucapkan “Subhanallah”dan Alhamdulillah” ketika mendapatkan sesuatu atau ucapan kekaguman dan mencakupkan anak pada perasaan terhadap kebesaran tuhan atas nikmat setelah diberikan kepada mereka, serta memberi nya tanggung jawab dan merasa betap penting nya keberadaan anak dan keluarga.

PILAR 2 (Kemandirian dan Tanggung jawab)

Tunjukkan penghargaan terhadap usaha anak, dan berikan motivasi agar anak mencoba, minta pertimbangan anak mengenai pertanyaan. Setiap anak, jangan mengomentari kekurangan anak pada orang lain, jangan menggunakan kalimat negatif terhadap anak, perlunya kerjasama orang tua dan guru, jangan mematikan harapan keinginan anak.

PILAR 3 (Kejujuran, Amanah, dan Bijaksana)

Agar pilar terlaksana dan dapat dimengerti oleh anak, berikan contoh yang baik, ingatkan anak selalu jujur baik dalam perkataan maupun daam perbuatan. Bila ada kejadian dikelas yang menuntut suatu kejujuran ingatkan anak tentang kejujuran. Hargai setiap perbuatan dan perkataan anak yang bersikap jujur baik dengan pujian maupun dengan penghargaan lainnya.

PILAR 4 (Hormat dan Santun)

  1. Latih dan biasakan bermain bersama dengan rekannya
  2. Tumbuhkan rasa keyakinan pada anak perbuataan yang baik seperti sikap sopan santun akan disayangi orang tua, guru, dan teman
  3. Bimbing anak jika melakukan kesalahan dan beri konsekwensi dari perbutan tersebut
  4. Ajak anak sesekali menonton film berkarakter dan bimbing anak tersebut.

PILAR 5 (Dermawan, Suka Menolong dan Gotong Royong)

  1. Biasakan anak untuk berbagi dengan teman nya
  2. Biasakan dan kegiatan anak untuk bekerja sama dan bergotong royong dan berikan pengertian tentang kemudahan dan kesuksesan dalam bekerja sama dan bergotong royong dalam mencapai suatu tujuan
  3. Setiap akhir kegiatan biasakan untuk membersihkan secara gotong royong
  4. Berikan penghargaan kepada anak yang bersikap dermawan, tolong menolong, dan kerjasama.

PILAR 6 (Percaya Diri, Kreatif, dan Pekerja Keras)

  1. Setiap anak yang berbuat baik berikanlah pujian karena nantinya ia akan termotivasi untuk melakukan perbuatan yang lebih baik
  2. Memberikan pujian kepada anak untuk membangkitkan rasa percaya diri pada anak tersebut
  3. Jika anak melakukan kegiatan harapkanlah pada si anak untuk melakukan dengan sempurna
  4. Tunjukan kepada anak bahwa diri nya penting dengan perlakuan yang baik
  5. Jangan pusatkan perhatian pada tingkah laku yang buruk, berpendapat bahwa hal ini akan mendorong anak akan bekerja keras, hal ini tidak benar
  6. Berikanlah tingkah laku yang baik dan percaya diri kepada anak untuk membuat mereka lebih nyaman
  7. Anak yang percaya diri adalah anak yang penuh dengan kecerdasan dan keyakinan tapi tetap menerima kritikan membangun.

PILAR 7 (Kepemimpinan dan Keadilan)

  1. Dorong anak menjadi seorang pemimpin
  2. Jika anak yang selalu “ingin menjadi pemimpin” arahkan
  3. Optimakan kreatifitas guru untuk mencari metode yang menarik untuk anak.

PILAR 8 (Baik Hati dan Rendah Diri)

  1. Biasakan anak bermain bersama untuk sosialisasi
  2. Berikan konsekwesi dari tindakan tersebut
  3. Ajaklah menonton film yang berpesan moral
  4. Tumbuhkan keyakinan pada awal bahwa orang yang baik disayangi Tuhan

PILAR 9 (Toleransi, Kedamaian dan Kesatuan)

  1. Biasakan anak bermain bersama sehingga anak dapat belajar dan bermain
  2. Ajaklah anak dapat mengungkapkan keebihan teman dalam bentuk permainan misalnya “temanku cerminku”. Anak akan mencari kelebihan teman nya dan saling bercermin
  3. Ajarkan anak saling menyapa jikalau bertemu dan bersalaman ketika akan berpisah.

 

Kesembilan karakter tersebut tersebut sesuai dengan yang diinginkan oleh Schopenhauer dan lain-lain yang mempunyai prinsip sama. Hanya saja kecintaan kepada Tuhan dan alam semesta beserta isinya dimasukan dan ditempatkan sebagai pilar pertama, karena semua kebajikan harus bersumber dari pilar pertama ini.  Untuk konteks Indonesia , aspek ke-Tuhan-an ini memang sesuai dengan apa yang terdapat dalam dasar ideologi negara (Pancasila) yang ditempatkan pada sila pertama. Diharapkan dengan menanamkan 9 pilar ini, manusia Indonesia yang berkarakter dapat terwujud. Pada tataran pendidilan nasional terbaru, kesembilan pilar karakter yang dikembangkan IHF, ternyata sejalan dengan niali-nilai yang ingin ditanamkan dalam konsep Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill) melalui berbasis Luas (Broad Based Education) yang diluncurkan oleh DepDikNas tahun 2002 berorientasi pendidikan kecakapan hidup yang berkaitan dengan pendidikan karakter adalah untuk mengembangkan General Life Skill anak dari jenjang pra sekolah sampai sekolah menengah.

 

D. Bagaimana menjadi pendidik karakter yang berhasil?

            Bagaimana kesehatan paru-paru anak-anak terbentuk sangat tergantung pada bagaimana mereka menghirup udara di sekelilingnya. Kalau udara yang dihirup bagus, maka anak akan sehat. Begitu pula dengan pembentukkan karakter anak sangat tergantung bagaimana mereka menghirup ”udara Moral” di sekelilingnya. Seorang anak akan berada di kelas sepanjang hari, apabila gurunya dapat memberikan udar yang penuh kasih sayang, kebaikan, kebajikan, penghaormatan, maka karakter anak akan baik.

            Para pendidik karakter adalah seperti orang tua, seorang mentor, dan model panutan bagi murid-muridnya. Oleh karena itu dalam mendidik karakter, seorang guru harus:

  1. Memperlakukan murid-muridnya dengan kasih sayang, adil dan hormat. Anak-anak memerlukan kelekatan psikologi dengan orang tua dan pendidiknya. Apabila murid meras sayang dan percaya dengan gurunya, maka akan mudah bagi mereka menuruti nasehat-nasehatmoral yang diberikan.
  2. Memberikan perhatian khusus secara individual, dimana guru mengerti permasalahan setiap muridnya. Tumbuhkan rasa percaya diri anak, dengan dorongan atau pujian yang mempunyai sentuhan personal.
  3. Pendidik harus menjadi panutan moral bagi peserta didiknya, dan senantiasa selalu memperbaiki citra dirinya.
  4. Mengoreksi perilaku murid-muridnya yang salah.

 

Menurut Karen Bohlin, Deborah Farmer, Kevin Ryan, ada tujuh kompetensi yang harus dimiliki oleh para pendidik atau guru karakter:

  1. Para pendidik harus dapat menjadikan dirinya sebagai contoh berkarakter yang baik dan mempunyai komitmen untuk menegakkan kebenaran.
  2. Para pendidik harus mampu menjadikan tujuan pembentukan karakter muridnya sebagai salah suatu yang prioritas dan merupakan bagian terpenting dari pekerjaan profesionalnya.
  3. Para pendidik harus dapat menyampaikan secara diplomasi (bijak) mengenai posisinya pada berbagai isu-isu etika, tanpa harus membebani mereka dengan pendapat dan opini pribadi.
  4. Para pendidik harus senantiasa mengadakan diskusi tentang isu-isu moral dengan murid-muridnya, tentang bagaimana seharusnya menjalankan hidup, serta menjelaskan apa yang baik dan apa yang buruk.
  5. Para pendidik harus dapat mengajarkan empati terhadap orang lain, yaitu mengajak untuk keluar dari diri merek adan melihat dari perspektif orang lain.
  6. Para pendidik harus dapat menciptakan suasana kelas yang bernuansa karakter, yang menerapkan standar etika tinggi dan penghormatan untuk semua. Para pendidik harus dapat mempraktekkan nilai-nilai karakter di rumah, di sekolah, dan komunitas lingkungan, agar mereka bisa tumbuh menjadi manusia peduli untuk selalu melakukan kebajikan.

Para pendidik karakter tentunya harus pula mendapatkan pelatihan khusus, dan menggunakan modul atau kurikulum yang sudah tersedia untuk dapat diterapkan di sekolahnya.

 

1.  Guru Sebagai Pembangun Citra Diri Positif Anak

Banyak perilaku guru ‘membunuh’ karakter anak, dengan membuat anak merasa rendah diri. Seorang guru yang tidak pernah memberikan pujian atau kata-kata positif, kecuali cemoohan dan kata-kata negatif, akan membuat diri anak menjadi tidak percaya diri. Sering terjadi guru mempermalukan anak di depan kelas, memarahi atau bahkan menghukumnya. Kita pasti sudah pernah melihat atau mengalaminya tentang sifat guru seperti itu. Sekali anak dipermalukan, ia akan takut gemetaran ketika harus menjawab pertanyaan yang diajukan gurunya. Sehingga ia tidak percaya diri untuk mengungkapkan pendapatnya di depan kelas. Hal inilah kenapa orang inilah yang mungkin menyebabkan mengapa manusia Indonesia sering malu untuk mengungkapkan pikirannya di muka umum, dan menjadi bangsa yang tidak percaya diri.

Sikap guru yang demikian, bukanlah kesalahan guru saja melainkan kealahan sebuah sistem pendidikan yang berorientasi hanya mengejar semata-mata mengejar keberhasilan akademik, yaitu sistem yang mengejar target kurikulum dengan segenap jadwal test harian, ulangan umum, dan ujian akhir. Padahal untuk anank-anak usia dini, yang terpenting ditanamkan adalah sikap agar anak selalu cinta belajar, bukan semata-mata harus bisa, karena kalau harus bisa (dengan mengadakan ulangan), suasana belajar terasa menjadi beban, sehingga otak limbik anak tertutup, yang pada akhirnya anak tidak dapat mencapai potensi optimalnya.

 

2.  Guru Sebagai Model atau Tokoh Idola

Betapa seringnya kita sebagai orang tua atau guru mengkritik atau menyalahi perilaku anak-anak kita. Padahal perilaku seorang anak adalah hasil dari sebuah proses sosialisasi dan pendidikan yang diberikan dari lingkungannya, terutama dari orang tua dan gurunya. Sering dikatakan bahwa cara yng paling efektif mengajarkan anak adalah dengan memberikan contoh konkrit, bukan dengan sekedar nasehat atau kata-kata.

Apabila anak-anak sudah mencintai gurunya, maka segala ucapan dan tindakan guru akan diikuti oleh muridnya. Bagaimana ciri-ciri guru yang menjadi idola murid-muridnya?

    1. Anak bersemangat ke sekolah, anak tidak sabar untuk bersekolah, dan hari-hari libur menjadi hari yang membosankan.
    2. Anak akan mengatakan ’Sayang’ atau ’Suka’ kepada gurunya kalau ditanyakan apakah mereka menyenangi gurunya.
    3. Anak selalu merindukan gurunya.
    4. Anak akan mengerjakan tugas yang diberikan, karena tidak ingin mengecewakan gurunya.

Bagaimana ampuhnya sosok panutan orangtua atau guru dalam mempengaruhi perilaku anak-anak kita. Apabila kita ingin menjadikan diri kita sebagai tokoh panutan, maka diri kita sendirilah yang harus kita perbaiki dulu.

 

Sajak dibawah ini konon terukir di sebuah pemakaman tua, Webminster Abbey, Inggris , 1100 M.

 

Hasrat Untuk Berubah

Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal

Aku bermimpi ingin mengubah dunia

Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku

Kudapati bahwa....................

 

Dunia tidak kunjung berubah

Maka cita-cita itu kupersempit

Lalu kuputuskan untuk mengubah negeriku

Namun nampaknya................

Hasrat itu tiada berhasil

Ketika usiaku semakin senja

Dengan semangatku yang masih tersisa

Kuputuskan untuk mengubah keluargaku

Orang-orang yang paling dekat denganku

Tetapi celakanya..................

Mereka tidak dapat diubah !

 

Dan kini

Sementara aku terbaring saat ajal menjelang

Tiba-tiba kusadari.....................

 

”Andaikan yang pertama kuubah adalah diriku

Maka dengan demikian diriku sebagai panutan

Mungkin aku bisa mengubah keluargaku.................

Lalu berkat semangat dan inspirasi keluargaku

Bisa jadi aku pun mampu memperbaiki negeriku

Kemudian siapa tahu

Aku bahkan dapat mengubah dunia ini”

 

 

 

3.  Mendidik Dengan Mencelupkan Diri

Thomas Lickona mengatakan bahwa untuk membangun hubungan emosi dengan murid-muridnya, seorang guru harus mampu menunjukkan bahwa dirinya adalah manusia yang mempunyai perasaan. Guru dapat menceritakan bagaimana ia merasa sedih ketika sepedanya dicuri orang, atau kawan baiknya meninggal karena kanker. Dengan cara ini dapat membuat murid-murid terbuka kepada gurunya untuk menceritakan masalahnya kepada gurunya.

Seorang guru yang dapat mencelupkan dirinya pada profesi sebagai guru berkarakter, adalah seorang yang dapat berkontemplasi (merenungkan) perasaan, pikiran, dan perilakunya secara rutin agar dapat melihat kekurangannya yang ada pada dirinya. Seorang guru yang mengajarkan moral bukan berati dirinya harus sempurn, tetapi diharapkan untuk dapat memperbaiki dan mengontrol terus tindakannya agar tetap dijadikan model yang konkrit bagi murid-muridnya.

Sering tidak disadari oleh para pendidik karakter bahwa dengan memberikan pendidikan karakter secara berkelanjutan dapat memperbaiki perilaku dirinya sendiri. Banyak diakui oleh para pendidik karakter pada kegiatan SBB dan TK. Karakter bahwa dengan melakukan metode pendidikan karakter Indonesia Heritage Foundation secara terfokus dengan metode refleksi 15 sampai 20 menit sehari, ternyata selain mengajarkan karakter kepada muridnya, juga mengingatkan diri sendiri. Apalagi para murid yang ikut serta dalam kegiatan ini bersifat kritis yang selalu dapat mengomentari gurunya kalau tidak sesuai dengan apa yang diajarkannya.   

 

BAB III

TELAAH BUKU

 

Pendidikan yang patut dan menyenangkan, Penerapan Teori Developmentally Appropriate Practice (DAP)

A. Mengapa Muncul Konsep DAP

Kurikulum sekolah di Amerika Serikat pada kurun waktu 1960-an sampai akhir 1970-an tidak sesuai dengan tahapan perkembangan anak (terutama untuk anak usia di bawah 8 tahun), kurikulum telah gagal menghasilkan siswa/siswi yang tidak dapat berpikir kritis dan tidak dapat menyelesaikan berbagai permasalahan dalam kehidupan.

Awal tahun 1980-an bermunculan berbagai kritikan terhadap kurikulum sistem lama yang dianggap mematikan semangat kecintaan anak untuk belajar. Akhirnya, untuk mereformasikan pendidikan agar sesuai dengan konsep DAP, dan sejak tahun 1980-an sekolah di Amerika Serikat sudah melakukan perbaikan untuk menerapkan konsep DAP.

            Salah satu penyebab utama dari kesalahan mendidik anak adalah banyaknya orang tua dan guru yang tidak menyadari dan mengetahui cara-cara mendidik anak yang patut. Pendidikan yang patut adalah pendidikan yang sesuai dengan umur, perkembangan psikologis, serta kebutuhan spesifik anak. Penerapan konsep DAP dalam pendidikan anak, memungkinkan para pendidik untuk memperlakukan anak sebagai individu yang utuh (the Whole Child) dengan melibatkan 4 komponen dasar yang ada pada diri anak yaitu: pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), sifat alamiah (dispositions), dan perasaan (feelings). Oleh karena itu, penerapan konsep DAP dianggap dapat mempertahankan bahkan meningkatkan gairah dan semangat anak-anak untuk belajar.

           

B. Tiga dimensi Dalam Konsep DAP

1.  Patut Secara Umur

Secara Umum, tahapan perkembangan anak dapat memberikan pengetahuan tentang aktivitas, materi, pengalaman, dan interaksi sosial apa saja yang sesuai, menarik, aman, medidik, dan menantang bagi anak.

 

2.  Patut Menurut Lingkungan Sosial dan Budaya

Para pendidik harus mengetahui latar belakang sosial dan budaya anak karena latar belakang sosial anak menjadi acuan guru dalam mempersiapkan materi pelajaran yang relevan dan berarti bagi kehidupan anak.

 

3.  Patut Menurut Anak Sebagai Individu Yang Unik

Para pendidik harus mengerti bahwa setia anak adalah unik, mempunyai bakat, minat, kelebihan, kekurangan, dan pengalaman yang berbeda-beda. Oleh karenanya guru harus mampu menyesuaikan diri dengan keunikan-keunikan tersebut dalam berinteraksi dan mengahdapai anak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Gambar:  Tiga Dimensi DAP Yang Saling Keterkaitan

 

Gambar diambil dari Diterjemahkan situs Gary Glassenapp,

http://www.tr.wou.edu/train/cdcDAP.htm#DEVEVAL

 
 

 

 

 

 

 


C. Prinsip Teoritis Perkembangan Anak Yang Mendasari Konsep DAP

Bermain adalah bagian hidup yang terpenting dalam kehidupan anak. Kesenangan dan kecintaan anak untuk bermain ini dapat digunakan sebagai kesempatan untuk mempelajari hal-hal yang konkrit sehingga daya cipta, imajinasi, dan kreatifitas anak dapat berkembang. Menurut Vigotsky bermain merupakancara yang paling efektif untuk mematangkan perkembangan anak pada usia pada usia pra-sekolah (pre-operational thinking), pada masa sekolah dasar (concrete operational thinking), baik dibidang akademik (kognitif), maupun pada aspek fisik dan sosial-emosi.

Teori perkembangan anak adalah penting untuk menyusun program pendidikan yang sesuai dengan konsep DAP. Sekilas teori perkembangan anak menurut pakar:

A. Teori Piaget (Teori Perkembangan Kognitif)

1.  Contouctivism: pemahaman anak di bangun melalui aksi

2.  Asimilasi: mengetahui sesuatu karena ada pengalaman sebelumnya

3.  Akomodasi: proses memodifikasi apa yang diketahui sebelumnya karena menghadapi fenomena yang baru.

B. Teori Erik Erikson (Teori Perkembangan Emosi)

  1. Perkembangan emosi positif sangat penting dalam perkembangan jiwa anak selanjut nya sehingga anak percaya diri dan besemangat untuk belajar.
  2. Sangat tergantung pada peran guru dan orang tua

C. Initiative VS Guilt (Inisiatif VS Merasa Bersalah) Pada Usia 3,5-6 Tahun)

  1. Pada masa usia ini, anak harus dapat bereksperimen, bereksplorasi, berimajinasi, berani mengambil resiko, berani mencoba, sehingga anak kreatif dan antusias belajar
  2. Anak terlalu banyak dikritik dan disalahkan akan mematikan kreatifitas, karena takut mencoba
  3. Memerlukan suasana belajar yang memberikan kesempatan anak aktif, berimajinasi, bersosialisasi, dan berkreasi (bukan sebagai objek pasif)

D. Industry VS Inferiority ( Berkarya/Etos Kerja) Pada Usia 6-Awal Pubertas

  1. Masa paling kritis dalam membangun kepercayaan diri bahwa mereka mampu untuk berkarya
  2. Berikan kegiatan permainan yang membuat mereka merasa berhasil melakukannya.
  3. Memberikan nilai atau rangkin yang dapat menimbulkan a sense of inferiority

E.Teori Vygotsky (Teori Sosio-Kultural)

  1. Cara belajar efektif melalui preaktek nyata (action) terutama dengan bermain
  2. Perkembangan intelektual anak mencakup bagaimana mengaitkan bahasa dengan pikiran, dengan aktif berbicara dan diskusi, anak lebih mngerti konsep berbicara
  3. Bahasa merupakan alat Bantu yang efektif dalam proses belajar, bermain dan bereksplorasi, dapat membantu perkembangan otak, berbahasa, bernalar, dan bersosialisasi.

D. Hasil Riset Otak Yang Mendukung Konsep DAP

Manusia mempunyai kemampuan alami untuk belajar, asalakan tidak bertentangan dengan prinsip bekerjanya struktur dan funsi otak. Sistem sekolah traditional (kurikulum lama) sering tidak sesuai dengan prinsip alami. Berikut adalah gambar otak ’three in One (3 dalam satu kotak)

 

 

A. Sistem limbic Otak:

  1. Mengontrol kemampuan daya ingat, kemampuan belajar manusia
  2. Merespon informasi yang diterima panca indera
  3. Penyimpan informasi yang berharga

B. Brain Based Learning

  1. Otak belajar melibatkan seluruh aspek fisiologi manusia
  2. Kerja otak dipengaruhi oleh emosi
  3. Otak selalu mencari makna dan arti
  4. Otak bekerja secara paralel dan simultan
  5. Kerja otak optimal jika diberi tantangan dan terhambat jika ada ancaman

C. Kortek

1.      Otak belajar berpikir

2.      Otak belajar berbahasa

3.      Otak belajar merencanakan

4.      Otak belajar menganalisa

5.      Otak belajar mereaksi

E.     Hippocampus

1.      Otak Emosi, Seat Of Love ( tempat rasa cinta)

2.      Perasaan, Ancaman, kesedihan, Takut, Airmata, dan sebagainya

 

E. Hasil Studi Tentang Keberhasilan DAP

            Eisner mengatakan beberapa study menunjukkan bahwa metode DAP telah terbukti meningkatkan motivasi anak untuk bereksploitasi, meningkatkan kreatifitas, dan rasa ingin tahu yang besar pada anak. Penerapan DAP di kelas dapat membuat anak-anak tidak mengalami tekanan dan strees seperti halnya pada kelas tradisional yang sering membuat anak tidak menyenangi sekolah.

1.      Dampak terhadap perkembangan sosial-emosi

Perkembangan sosial-emosi anak yang sekolahnya menerapkan konsep DAP mempunyai tingkat kekhawatiran (anxiety) yang rendah dibandingkan dengan sekolah tradisional (terlalu menekankan kemampuan kognitif).

Anak yang tidak menerapkan konsep DAP lebih tinggi mengalami stres sepanjang waktu di sekolah, termasuk juga stres dalam mengerjakan kegiatan mengisi lembar kertas kerja, dibandingkan mereka di kelas yang menerapkan prinsip DAP.

2.      Dampak terhadap perkembangan Kognitif

Anak-anak yang mendapatkan kurikulum DAP lebih kreatif daripada tidak, termasuk lebih unggul kemampuan bahasa dan lebih percaya diri tentang kemampuan kognitifnya daripada anak-anak yang mengikuti kelas tradisional. Anak-anak ketika usia TK masuk ke sekolah yang menerapkan DAP mempunyai kemampuan membaca dan matematika lebih tinggi ketika mereka di kelas 1 SD dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mendapatkan DAP ketika TK. hal ini berlaku juga pada anak-anak dari kelas miskin.

 

F. Komponen Terpadu Praktek DAP

1.      Komponen-komponen terpadu dari praktek pendidikan yang patut dan tidak patut untuk anak-anak di bawah 3 tahun

a.       Cara yang Patut

Ruangan dan isinya harus menarik dan berwarna-warni untuk membangkitkan keceriaan anak. tempat bermain harus aman dari benda-benda tajam dan mudah pecah. selain itu, ada juga area yang ditutupi dengan bahan yang empuk seperti kasur, matras, dan bantal kecil agar anak dapat berguling dengan bebas. ada sofa untuk pengasuh atau orang tua, yang dapat dipakai untuk bersantai memangku anak sambil membacakan buku cerita.

 

 

b.      Cara yang tidak patut

Ruangan bermain kosong dari perlengkapan bermain anak atau sengaja diatur dengan kaku agar mudah dibersihkan. Tidak ada tempat yang duduk nyaman bagi pengasuh untuk duduk bercerita dan bersantai sambil membacakan buku cerita.

 

2. Komponen-komponen terpadu dari praktek pendidikan yang patut dan tidak patut untuk anak-anak di bawah 5 sampai 8 tahun

a.       Cara yang Patut

Pendidik merencanakan lingkungan belajar yang dapat merangsang inisiatif anak melalui materi-materi yang dapat mengundang anak untuk bereksploitasi aktif serta memberikan peluang pada anak untuk bersosialisasi dengan kawan-kawan dan gurunya.

b.      Cara yang tidak patut

Kegiatan belajar yang tidak beraturan dan sulit untuk diprediksi. Anak berkeliaran tanpa ada tujuan yang jelas, suara sangat ribut, sehingga mengganggu proses belajar mengajar.  

 

 

 

 

 

3. Perkembangan Sosial dan Emosi dari praktek pendidikan yang patut dan tidak patut untuk anak-anak di bawah 8 tahun ke atas

a.   Cara yang Patut

Guru menumbuhkan perilaku prososial, mau bekerja keras, pantang menyerah, tekun, kreatif, produktif, dan mandiri pada diri anak dengan memberikan banyak rangsangan melalui kegiatan yang mendukung serta mendorong anak untuk tertarik dan melakukannya.

b.  Cara yang tidak patut

Guru berceramah tentang pentingnya perilaku sosial yang patut dimilki oleh anak dan memberi hukuman ketika ada anak yang mulai berjalan keliling kelas, gelisah, bosan, dan resah didalam kelas.

 

Sebuah Contoh praktek pendidikan yang patut dan tidak patut untuk anak-anak berdasarkan DAP

B. Cara yang Tidak Patut

 

A P E L

 

Anak belajar menulis mengikuti apa yang disuruh oleh guru (Menulis Huruf APEL), sedangkan guru tidak memberikan contohnya

(Gambar APEL)

 

 
a. Cara yang Patut

Anak dibiarkan bereksploitasi sendiri dengan mencoba menulis huruf-huruf atau kata-kata yang ingin dibuat (Menulis Huruf APEL), sedangkan guru memberikan contohnya ( Gambar APEL)

 
A P E L

 

 

 

 

BAB IV

PEMBAHASAN

A. Arti Manusia Berkarakter Teknologi

Memberi makna manusia berkarakter teknologi haruslah didasari atas ”apakah yang dimaksud dengan teknologi?”. Susahnya, teknologi telah diartikan secara berbeda-beda menurut perumusnya. Dorf (1974) mengartikan teknologi sebagai aplikasi sains, sedang Snyder (1981) mengartikan teknologi sebagai pengetahuan dan studi usaha manusia dalam menciptakan dan menggunakan alat, teknik, sumber daya, dan sistem untuk mengelola lingkungan alam dan lingkungan buatan manusia untuk tujuan memperbaiki kehidupan. Goethsch dan Nelson (1987) mengartikan teknologi sebagai kombinasi alat, sumber daya, dan proses, yang dijiwai oleh manusia untuk memecahkan masalah atau untuk memperluas kapabilitasnya. Ahli-ahli yang lain lagi akan mengartikan teknologi yang berbeda-beda pula. Namun, ada kesamaan pandangan bahwa teknologi memiliki empat komponen yang karakteristik yaitu sebagai berikut:

1.      manusia berfungsi sebagai ”jiwa” teknologi karena manusialah yang membuatnya dan karenanya tanpa sentuhan manusia, teknologi tidak memiliki arti apa-apa.

2.      alat merupakan bagian penting teknologi, karena dari alat inilah proses teknologi akan berlangsung. Dalam perkembangannya, alat mengalami kemajuan, dari yang sangat sederhana (misal: pengungkit yang digerakkan tangan, bubut tangan, gergaji tangan, dsb.) hingga sampai alat yang sangat modern (misal: CNC, mekatronik, hipercomputer, dsb.).

3.      sumber daya selain manusia merupakan komponen teknologi yang harus ada. Sumber daya yang dimaksud meliputi bahan, energi, uang, waktu, dan informasi.

4.      proses merupakan komponen vital teknologi. Proses adalah serentetan tahap yang menuntun ke arah hasil tertentu. Dengan kata lain, proses adalah berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Karena sedemikian banyaknya jenis teknologi, maka prosesnya pun juga banyak ragamnya.

Keempat komponen di atas, yang kemudian disebut teknologi, diharapkan meningkatkan kinerja suatu organisasi yang meliputi peningkatan kualitas, efisiensi (penurunan biaya produksi), produktivitas, efektivitas, profitabilitas, kualitas kehidupan kerja, kandungan nilai tambah, dan memperluas keragaman produk, yang kesemuanya itu dalam rangka meningkatkan kesejahteraan manusia dan masyarakat.Dengan penjelasan di atas, teknologi memiliki empat komponen yang karakteristik, yaitu manusia, alat, sumber daya, dan proses, serta tujuannya adalah untuk meningkatkan kinerja manusia/organisasi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan manusia dan masyarakat, maka tidaklah sukar mengartikan manusia berkarakter teknologi. Manusia berkarakter teknologi adalah manusia yang memiliki pengetahuan tentang alat, sumber daya, dan proses, dimana pengetahuannya dijadikan muatan hati nurani, dihayati, dan dipraktikkan dalam kehidupan untuk meningkatkan kinerjanya dalam rangka meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

B. Tujuan Pengembangan Manusia Berkarakter Teknologi

Mengapa harus mengembangkan manusia Indonesia berkarakter teknologi? Pertanyaan ini menyangkut kedudukan kemampuan teknologi manusia Indonesia khususnya atau bangsa Indonesia pada umumnya terhadap bangsa-bangsa lain. Data dari The World Competitiveness Report (1995) menunjukkan bahwa kemampuan teknologi bangsa Indonesia berada pada urutan 33 dari 48 negara yang diteliti. Di dalam negeri sendiri jumlah tenaga kerja yang bekerja pada teknologi tinggi, menengah, dan rendah berturut-turut 102.500, 443.800 dan 2.662.800 orang (BPS, 1990), yang dapat disimpulkan bahwa kemampuan teknologi bangsa Indonesia masih rendah. Tidak hanya itu saja, dukungan dana untuk "Research and Development" relatif lebih rendah dibanding negara-negara tetangga Singapore, Malaysia, Thailand dan Philippines). Yang paling memprihatinkan adalah rendahnya prestasi belajar anak-anak didik kita. Nilai Matematika dan Fisika yang merupakan dasar bagi pengembangan kemampuan teknologi, sangat rendah. Rata-rata nilai Matematika dan Fisika pada Sekolah Menengan Umum dan Kejuruan tidak lebih dari angka 4 sampai 5 (Depdikbud, 1988) dengan skala nilai minimum 0 dan maksimum10. Dalam kehidupan masyarakat juga belum tercermin cintanya/apresiasinya terhadap teknologi. Terbukti teknologi-teknologi yang lahir di tanah air tercinta ini "kurang dirawat" dan dibiarkan dicuri/diambil alih oleh bangsa lain. Yang terakhir, tingkat melek teknologi bangsa Indonesia masih nampak memprihatinkan. Berdasarkan sejumlah tantangan tersebut di atas, maka bangsa Indonesia harus menghadapinya. Cara menghadapinya adalah dengan meningkatkan daya saing terhadap kemampuan teknologi bangsa-bangsa lain. Banyak faktor penentu daya saing teknologi, namun peningkatan kemampuan manusia di bidang teknologi akan menentukan kemenangan bersaing, karena faktor manusia merupakan satu-satunya sumber daya yang aktif, sedangkan sumber daya lainnya pasif. Oleh karena itu, pengembangan manusia Indonesia berkarakter teknologi merupakan alternatif yang paling strategis.Pada dasarnya, tujuan utama pengembangan manusia Indonesia berkarakter teknologi adalah untuk meningkatkan kemampuan daya saing bangsa Indonesia di bidang teknologi, sehingga bangsa Indonesia dapat hidup sejajar (kompetitif) dengan bangsa-bangsa lain di dunia dan bahkan dapat hidup memimpin bangsa-bangsa lain di bidang teknologi.

C. Unsur-Unsur Manusia Yang Dikembangkan Di Bidang Teknologi

Unsur-unsur manusia apa saja yang perlu dikembangkan di bidang teknologi ? Dimensi manusia dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu daya pikir, kalbu dan pisik. Karena itu, pengembangan manusia Indonesia berkarakter teknologi harus mencakup tiga dimensi tersebut.Pada dimensi daya pikir, yang perlu dikembangakan adalah daya pikir tentang dasar-dasar teknologi dan teknologi itu sendiri. Dasar-dasar teknologi tidak lain adalah sains keras dalam arti luas, yang meliputi matematika, biologi, fisika, dan kimia. Teknologi dapat dikategorikan ke dalam teknologi komunikasi, transportasi, manufaktur, konstruksi, energi, bio, dan bahan (material). Masyarakat harus melek dasar-dasar teknologi dan melek dalam teknologi itu sendiri. Inilah kemampuan daya pikir yang perlu dimiliki oleh generasi muda Indonesia pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Pengembangan daya kalbu manusia Indonesia di bidang teknologi perlu diupayakan. Pada dasarnya, unsur daya kalbu manusia menyentuh masalah-masalah kesanggupan diri untuk mencintai teknologi sebagai alat bagi kehidupannya. Apresiasi, sikap positif, kesayangan, motivasi, rasa keingintahuan, kehendak untuk lebih baik, dan kesan positif terhadap teknologi, harus ditanamkan ke kalbu manusia sejak dini hingga sampai akhir hayatnya. Ini penting karena betapa pun maju daya pikir teknologinya, akan tetapi jika daya kalbunya tetap tidak berubah, maka sukar diharapkan adanya kemajuan teknologi.

Dimensi daya pisik manusia, keterampilan pisik khususnya merupakan bagian integral pengembangan manusia berkarakter teknologi. Keterampilan pisik, khususnya teknologi yang berbau "craft" merupakan kemampuan, yang kalau digarap dengan baik, dapat memberikan nilai tambah berlipat ganda terhadap sumber daya yang diolah. Seni-seni kriya ukir dari Bali, batik dari Yogyakarta dan Solo, ukir kayu dari Jepara, perak dari Yogyakarta dan masih banyak contoh yang lain, merupakan kemampuan keterampilan pisik teknologi yang dapat dijadikan komoditi unggulan daerah yang bersangkutan.

D. Proses Pengembangan Manusia Berkarakter Teknologi

Mengembangkan ketiga dimensi manusia agar berkarakter teknologi seperti di atas, yaitu daya pikirnya, kalbunya, dan pisiknya, memerlukan proses yang bertahap dan harus berkualitas tinggi. Urutan pengembangan manusia berkarakter teknologi menurut United States Office of Education (1972), perlu dilakukan melalui pentahapan sebagai berikut:

1 tahap kesadaran/pengetahuan,

2 tahap penjagaan/eksplorasi,

3 tahap orientasi, dan

4 tahap penyiapan.

Uraian seperlunya dapat disimak sebagai berikut.

Tahap kesadaran, adalah tahap dimana manusia perlu diberi pengetahuan tentang hal ihwal teknologi, baik jenis-jenisnya, manfaatnya, maupun akibatnya. Hal ini penting untuk dilakukan agar manusia memahami secara benar dan utuh tentang teknologi. Tahap ini dicapai melalui pengenalan dan penyingkapan teknologi secara luas dan kandungan nilai-nilai positif yang berkaitan dengan kebutuhan hidup manusia sehari-hari. Strategis yang tepat untuk melakukan tahap kesadaran ini adalah melalui penyingkapan berbagai teknologi yang ada, membuat manusia sadar tentang kaitan dirinya dengan teknologi, memberikan dasar-dasar kemampuan untuk mempelajari teknologi, memberikan pengertian tentang manfaat teknologi bagi kehidupannya, dan memberikan pengertian tentang dampak teknologi pada kehidupan dirinya. Pada tahap ini diharapkan manusia telah menyenangi jenis teknologi tertentu. Tahap ini tepat disampaikan kepada anak-anak Sekolah Dasar (SD) atau kepada masyarakat yang belum melek teknologi.

Tahap penjajagan (eksplorasi), manusia diajari untuk menjajagi lebih mendalam tentang jenis teknologi tertentu termasuk cabang-cabangnya serta menilai minat dan kemampuannya untuk mempelajari lebih mendalam teknologi yang akan menjadi pilihannya. Pada tahap ini pula manusia diajari untuk membuat keputusan dan pilihan terhadap teknologi yang akan dijadikan alat bagi kehidupannya. Tahap ini cocok untuk anak-anak Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) atau untuk orang-orang dewasa yang telah tamat SD. Strategi yang paling cocok untuk tahap penjajagan ini adalah kunjungan ke tempat-tempat dimana teknologi diterapkan (misal: Industri, Bank, Rumah Sakit, Pusat Penelitian Teknologi), kontak langsung dengan nara sumber yang bekerja di kehidupan (misal: Industri, Bank), dan pengalaman pengamatan kerja langsung di berbagai instansi yang menerapkan teknologi.

Tahap orientasi, manusia mulai diarahkan mempelajari jenis teknologi tertentu melalui pengalaman kerja (magang) pada instansi yang menggunakan teknologi pilihannya. Magang diartikan sebagai "membantu" pekerja pada instansi tertentu yang menerapkan teknologi pilihannya. Di instansi tersebut, pemagang mempelajari tujuan penggunaan teknologi, proses kerjanya, dan berbagai alat dan sumber daya yang diperlukan untuk berlangsungnya proses. Tahap ini cocok untuk siswa pada kelas awal Sekolah Menengah (Umum dan Kejuruan). Bagi masyarakat umum, tahap ini cocok bagi mereka yang telah mengenal teknologi tertentu dan ingin mempelajari lebih mendalam bagi kepentingan pekerjaannya/usahanya.

Tahap penyiapan, manusia mulai disiapkan mempelajari secara mendalam pengetahuan, sikap, dan keterampilan teknologi pilihannya pada jenis pekerjaan tertentu. Pada tahap ini manusia benar-benar mempelajari dan berlatih dengan cara yang benar tentang penggunaan alat-alat, penggunaan sumber daya, dan tahap-tahap proses teknologi tertentu. Tahap penyiapan dapat dilakukan secara komplementer di sekolah dan didunia kerja yang menggunakan teknologi tertentu. Hasil akhir dari tahap penyiapan ini adalah kesiapan kemampuan dan kesanggupan manusia pada jenis teknologi tertentu. Artinya, siapa saja yang telah melalui tahap ini, yang bersangkutan telah siap mengoperasikan jenis teknologi tertentu: manufaktur, komunikasi, transportasi, konstruksi, material/bahan, energi, dan bio.

Tahap penyiapan lebih cocok bagi siapa saja yang menguasai tahap-tahap sebelumnya. Bagi peserta didik khususnya, tahap ini lebih cocok untuk mereka yang duduk: di kelas akhir Sekolah Menengah Umum, di Sekolah Menengah Kejuruan, dan di Perguruan Tinggi.

E. Jalur-Jalur Pengembangan Manusia Berkarakter Teknologi

Pengembangan manusia berkarakter teknologi akan lebih kondusif jika dilakukan secara komplemen dan kolaboratif antara keluarga, sekolah dan masyarakat (Lamons, 1984; Levin, 1984). Artinya, harus ada pembagian fungsi-fungsi dalam pengembangan manusia berkarakter teknologi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kejelasan fungsi tersebut sangat penting agar terhindar dari duplikasi dan pemborosan. Karena itu, diusulkan adanya kebijakan teknologi nasional. Selain dapat mengatur peran dari fungsi-fungsi tertentu, juga dapat memiliki kejelasan tentang sasaran dan arah pengembangan teknologi nasional. Berikut disampaikan peran masing-masing jalur pengembangan manusia berkarakter teknologi.

1.      Jalur Keluarga

Keluarga merupakan awal manusia dididik. Jika anak hidup dengan penuh kasih sayang, dia akan belajar mencintai. Jika anak hidup penuh pujian atas keberhasilannya, dia akan belajar merasa sukses. Jika anak hidup penuh kritikan, dia akan belajar menyalahkan orang lain. Jika anak hidup dengan penuh permusuhan dia akan belajar berkelahi (Nolte, 1977). Contoh-contoh ini sekedar memberikan gambaran betapa pentingnya peran keluarga (orangtua) dalam mempengaruhi anak. Hal ini berlaku juga bagi pengembangan manusia Indonesia berkarakter teknologi. Peran utama orangtua dalam mengembangkan manusia Indonesia berkarakter teknologi adalah sebagai motivator. Sebagai motivator, orangtua sudah selayaknya memberikan dorongan yang kuat terhadap anaknya untuk mempelajari jenis teknologi tertentu. Orangtua adalah orang yang paling memahami karakteristik anaknya, baik dari dimensi pikirnya, kalbunya, maupun fisiknya. Karena itu, sebagai motivator hendaknya lebih memberikan dorongan kebebasan yang terarah. Adalah tidak tepat jika orangtua memberikan dorongan yang mengarah kepada pemaksaan yang berakibat membunuh kreativitas anak. Karena itu, orangtua selayaknya memberikan ruang gerak anaknya untuk melakukan eksprimentasi-eksprimentasi yang mengarah kepada kreativitas berpikir anak pada umumnya, dan kreativitas berpikir teknologi pada khususnya.Dalam membentuk manusia berkarakter teknologi, orangtua agar mendorong anaknya menyenangi ilmu-ilmu matematika, fisika, kimia dan biologi, karena ilmu-ilmu ini merupakan dasar untuk mempelajari teknologi. Orangtua tidak semuanya mengerti ilmu-ilmu tersebut, dan karena itu yang diperlukan adalah dorongan. Tentu akan lebih efektif jika orangtuanya juga mengerti tentang ilmu-ilmu dasar teknologi tersebut.

2.      Jalur Sekolah

Sekolah merupakan tempat bagi pengembangan potensi anak setelah keluarga. Bahkan harapan orangtua terhadap sekolah sering berlebihan, yaitu agar sekolah dapat berperan mendidik apa saja yang dianggap bermanfaat bagi anaknya. Harapan orangtua seperti ini tentu saja tidak dibenarkan, mengingat keterbatasan sumber daya sekolah. Meskipun dengan keterbatasannya, sekolah diharapkan mampu melakukan proses pendidikan seperti yang disarankan oleh samuel Smiles (1887) dalam bukunya Life and Labor, yaitu:

" Tanamkan pemikiran, dan kamu akan memanen tindakan "

" Tanamkan tindakan, dan kamu akan memanen kebiasaan "

" Tanamkan kebiasaan, dan kamu akan meraih karakter "

" Tanamkan karakter, dan kamu akan memanen tujuan "

Saran Smiles tersebut masih relevan bagi sekolah mana saja. Sekolah yang berkeinginan membangun manusia yang berkarakter teknologi harus mampu memberikan pemikiran-pemikiran tentang teknologi (pengetahuan teknologi), menanamkan tindakan konkret atas dasar pemikiran teknologi yang telah ditanamkan kepada peserta didiknya, menanam kebiasaan berperilaku atas dasar teknologi modern, dan menanamkan karakter yang berorientasi pada teknologi, agar tujuan pengembangan manusia berkarakter teknologi dapat dicapai.Proses pendidikan ini dapat berlangsung dengan baik jika didukung oleh kesiapan sekolah, terutama gurunya (dyrenfurth, 1984). Guru merupakan faktor strategis. Karena itu, kemampuan dan kesanggupan guru di bidang dasar-dasar teknologi (fisika, matematika, kimia, biologi) dan di bidang teknologi (telekomonikasi, manufaktur, konstruksi, transportasi, dsb. perlu ditingkatkan.

3.      Jalur Masyarakat

Untuk mengembangkan manusia Indonesia yang berkarakter teknologi, tidak lepas dari peran masyarakat. Masyarakat memiliki karakteristik yang unik dan tidak dimiliki oleh sekolah. Berbagai nilai kehidupan (ekonomi, teori, sosial politik, religi, seni, solidaritas, dan teknologi) ada di masyarakat. Karena itu, sewajarnyalah jika dalam mengembangkan manusia berkarakter teknologi bergandengan tangan dengan masyarakat, khususnya masyarakat teknologi. Tempat di mana masyarakat teknologi berkumpul memang beragam, namun tempat yang paling sarat teknologi adalah dunia usaha dan industri serta pusat-pusat penelitian dan pengembangan teknologi yang berada di berbagai organisasi/instansi/institusi.Jika jalur sekolah berperan memberikan pengetahuan, tindakan dan kebiasaan dalam rangka membentuk karakter, maka dunia usaha dan industri serta pusat-pusat penelitian dan pengembangan dapat berperan memberikan pengalaman langsung yang sarat nilai pengetahuan teknologi, sikap teknologi dan keterampilan teknologi. Itulah sebabnya, Sekolah-sekolah Menengah Kejuruan dan Perguruan Tinggi harus menjalin kerja sama yang erat dengan dunia usaha dan industri yang sarat teknologi.Sebagai contoh, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), telah membina kerja sama dengan industri melalui Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Dalam konsep PSG, siswa belajar di dua tempat, yaitu sekolah (SMK) dan di dunia usaha/industri. Di sekolah, siswa mempelajari teori dan praktik dasar kejuruan/teknologi. Di dunia usaha/industri, siswa mempelajari pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang sarat teknologi. Dengan jalinan yang erat antara sekolah dan dunia usaha/industri, maka sinergi positif antara sekolah dan dunia usaha/industri akan terjadi dalam rangka pengembangan manusia Indonesia berkarakter teknologi.

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pada bagian akhir Book Report ini, penulis mengajak semua pihak untuk mengenalkan Pendidikan Berkarakter, dan konsep DAP dibandingkan karakter berteknologi adalah bagian kurikulum pada semua dari TK, sekolah dasar dan sekolah lanjutan tingkat pertama. Pendidikan teknologi dasar pada jenjang pendidikan ini sangat strategis untuk mengembangkan Berkarakter, dan konsep DAP dibandingkan karakter berteknologi, karena anak-anak pada jenjang pendidikan sangat amat membutuhkan peran penting dalam pembentukan karakter demi  terciptanya masa depan yang lebih baik. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar