BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Meningkatkan mutu
pendidikan adalah sebuah keharusan, untuk membuktikannya membutuhkan adanya
upaya perbaikan di semua sektor yang mendukung dunia pendidikan itu sendiri.
Persepsi tentang posisi guru dalam dunia pendidikan adalah sebagai garda
terdepan dan sentral terlaksananya proses pembelajaran, maka berkaitan dengan
kinerja guru diperlukan adanya totalitas dan dedikasi sebagai pendidik dan
pencetak bekal-bekal sumber daya manusia yang seutuhnya.
Kegiatan belajar
mengajar merupakan proses komunikasi, yang berarti proses penyampaian pesan
dari nara sumber melalui saluran atau media tertentu kepada penerima pesan.
Maka dari itu kegiatan belajar mengajar yang diharapkan terjadi adalah proses
yang dapat mengembangkan potensi-potensi siswa secara menyeluruh dan terpadu,
oleh sebab itu dalam proses pembelajaran, guru tidak hanya dituntut
menyampaikan materi pembelajaran saja tetapi harus mampu mengaktualisasi peran
strategisnya dalam upaya membentuk watak siswa melalui pengembangan kepribadian
dan nilai-nilai yang berlaku. Belajar mengajar merupakan suatu proses yang
rumit, karena tidak hanya sekedar menyerap informasi dari guru, melainkan
melibatkan berbagai kegiatan maupun tindakan yang harus dilakukan oleh siswa
dan guru.
Pendidikan merupakan
salah satu mata pelajaran wajib yang ada di semua jenis dan jenjang pendidikan.
Penyelanggaraan Pendidikan ini bisa diperoleh melalui tiga jalur yaitu formal,
informal, dan nonformal. Pendidikan formal adalah pendidikan yang diperoleh
melalui sekolah, sedangkan pendidikan informal adalah pendidikan yang diperoleh
melalui pelatihan-pelatihan, dan pendidikan non formal merupakan pendidikan
yang diperoleh melalui keluarga dan masyarakat. Realita sekarang masih banyak
guru yang belum bisa menciptakan suasana belajar yang bervariasi, dan kondusif.
Seorang guru hanya menyampaikan materi pembelajaran dengan strategi tertentu
saja, yaitu strategi pembelajaran konvensional yang pada umumnya menggunakan
metode ceramah di dalam proses pembelajarannya. Mayoritas guru terutama guru Pendidikan
dalam menyampaikan materi yang begitu banyak, mereka hanya menekan pada ranah
kognitif saja, sedangkan ranah afektif dan psikomotorik terabaikan. Oleh karena
itu, seorang guru harus mempunyai wawasan yang luas tentang pemilihan strategi
pembelajaran, sehingga lebih mudah dalam mencapai tujuan pembelajaran karena
strategi pembelajaran merupakan sarana interaksi guru dengan siswa di dalam
kegiatan belajar mengajar.
Dalam praktek
pembelajaran di kelas, guru lebih menekankan kepada tujuan yang bersifat
material, sehingga guru berperan aktif dan siswa berperan pasif. Pola pelayanan
pembelajaran seperti ini sangat tidak efektif, karena siswa kurang diaktifkan,
selain itu siswa juga tidak dapat berkembang. Untuk itu diperlukan strategi
pembelajaran yang mampu mengimbangi perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, dalam usaha peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Sebagai
konsekuensi logis dari ketidaktepatan penggunaan strategi. pembelajaran ini
sering timbul kebosanan, kurang dipahami yang akhirnya menimbulkan
ketidaksukaan siswa terhadap mata pelajaran tersebut. Untuk menghindari hal
tersebut dan kepatuhan yang terpaksa dari siswa, guru hendaknya cukup cermat
dalam memilih dan menggunakan strategi pembelajaran terutama yang banyak
melibatkan siswa secara aktif (Zaini, 2017).
Keberhasilan siswa
dalam belajar dapat dilihat melalui tiga ranah yaitu ranah kognitif
(pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (tingkah laku). Seorang guru
perlu menciptakan suasana belajar yang bervariasi, dan kondusif salah satunya
dengan melalui penerapan strategi pembelajaran aktif. Strategi ini bila
diterapkan secara tepat memungkinkan siswa dan guru sama-sama aktif dan
kreatif, menekankan agar siswa mampu mengintegrasikan gagasan baru, dan menekan
kemampuan intelektual, informasi verbal, strategi kognitif, keterampilan
motorik, dan sikap. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dirasa
cukup penting untuk diambil sebuah judul mengenai “Strategi Peningkatan Keterampilan
dan kewirausahaan”.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud
dengan Strategi Kewirausahaan.
2.
Apa yang dimaksud
dengan Konsep Dasar Pendidikan Keterampilan.
3.
Apa yang dimaksud Hakikat
Pembelajaran.
C. Tujuan Penulisan
1.
Untuk mengetahui Strategi Kewirausahaan.
2.
Untuk mengetahui Konsep
Dasar Pendidikan Keterampilan.
3.
Untuk mengetahui Hakikat Pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Strategi Kewirausahaan
1.
Definisi Strategi
Kata strategi berasal dari bahasa Yunani “Strategos” (stratos =
militer dan ego = pemimpin) yang
berarti “generalship” atau sesuatu
yang dikerjakan oleh para jenderal perang yang membuat rencana untuk
memenangkan perang. Konsep ini relevan dengan situasi pada zaman dahulu yang
sering diwarnai perang, dimana jenderal perang yang dibutuhkan untuk memimpin
suatu angkatan perang. Dalam pengertian umum, strategi adalah cara untuk
mendapatkan kemenangan atau mecapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Sedangan difinisi lain menurut para ahli dalam buku Triton yang berjudul
manajemen strategis yaitu:
a.
Menurut Jhonson dan Scholes
strategi adalah suatu arah dan cakupan organisasi
yang secara ideal untuk jangka yang lebih panjang, serta
menyesuaikan sumber dayanya dengan lingkungan yang berubah-ubah dan secara
khusus dengan pasarnya, pelanggan dan kliennya untuk memenuhi harapan stakeholder.
b.
Menurut Chandler `starategi
merupakan penetapan tujuan dasar jangka panjang dan sasaran perusahaan,
penerapan serangkaian tindakan dan alokasi sumber daya yang penting untuk
melaksankan sasaran ini.
c.
Sedangkan menurut Amstrong ada tiga
pengertian startegi. Yang pertama, strategi
merupakan cara untuk mencapai tujuan dengan memperhatikan alokasi sumber daya
perusahaan untuk jangka panjang serta membandingkan sumber daya dan kapabilitas
dengan lingkunga eksternal, kedua, strategi
merupakan perspektif dimana faktor keberhasilan dapat dibicarakan, serta
keputusan strategis bertujuan untuk membuat dampak yang besar serta jangka
panjang kepada perilaku dan keberhasilan organisasi. Ketiga, strategi pada dasarnya adalah mengenai penetapan tujuan
strategis dan mengalokasikan atau menyesuaikan sumber daya dengan peluang
sumber daya, sehingga dapat mencapai kesesuaina strategis antara tujuan
strategis dan basis sumber dayanya
(Susanto; 2017)
Berdasarkan dari
pemaparan di atas, maka pengertian strategi dapat disimpulkan sebagai bahwa
Strategi merupakan suatu upaya bagaimana tujuan-tujuan perencanaan dapat
dicapai dengan mempergunakan sumber- sumber yang dimiliki oleh suatu lembaga
atau perusahaan, disamping diusahakan pula untuk mengatasi kesulitan- kesulitan
serta tantangan yang ada. Sedangkan strategi bisnis adalah tindakan yang
diambil oleh perusahaan atau organisasi secara terus menerus guna mencapai
tujuan perusahaan atau organisasi dan memfasilitasi perubahan yang dibutuhkan
oleh perusahaan atau organisasi guna untuk mencapai tujuan perusahaan atau
organisasi. Adapun 6 tahapan umum dalam merumuskan strategi yaitu:
a.
Seleksi yang mendasar dan kritis
terhadap permasalahan
b.
Menetapkan tujuan dasar dan sasaran strategis
c.
Menyusun perencanaan tindakan
d.
Menyusun rencana penyumberdayaan
e.
Mempertimbangan keunggulan
f.
Mempertimbangkan keberlanjutan.
2.
Bentuk-bentuk strategi
Menurut Hadari
Nawawi, terdapat beberapa bentuk- bentuk strategi yang dapat dipilih dan
ditetapkan secara teoretis ada 7 (tujuh) antara lain, sebagai berikut:
a. Strategi
Agresif
Strategi yang mengatur suatu
tindakan dengan cara mendobrak penghalang, rintangan atau ancaman untuk
mencapai keunggulan atau prestasi yang ditargetkan oleh perusahaan.
b. Strategi Konservatif
Strategi ini membuat
program-program dan mengatur tindakan (action)
dengan cara berhati-hati, disesuaikan dengan kebiasaan yang berlaku.
c. Strategi
Difensif
Strategi yang melakukan tindakan
untuk mempertahankan kondisi keunggulan prestasi yang sudah dicapai.
d. Strategi Kompetitif
Strategi yang
mengatur suatu tindakan (action)
untuk mewujudkan keunggulan yang melebihi organisasi lainnya yang sama posisi
dan jenjangnya.
e. Strategi
Inovatif
Strategi ini dilakukan dengan
membuat program-program yang bertujuan agar organisasi selalu tampil sebagai
pelopor.
f. Strategi
Diversifikasi
Strategi ini dilakukan dengan
membuat program-program dan mengatur atau tindakan (action) berbeda dari strategi biasa yang dilakukan sebelumnya.
g. Strategi
Preventif
Strategi yang dilakukan untuk
mengoreksi dan memperbaiki kekeliruan, baik yang dilakukan oleh organisasi
sendiri maupun yang diperintahkan oleh organisasi di atasnya (Djamarah; 2014).
3.
Formulasi strategi
Formulasi
strategi adalah menentukan aktivitas- aktivitas yang berhubungan dengan pencapaian
tujuan. Dalam melakukan formulasi strategi ada beberapa hal yang harus
dipertimbangkan diantaranya adalah:
a. Harus
dipahami visi, misi, dan objective perusahaan
sehingga kita akan mengetahui ke arah mana perusahaan akan dibawa serta
bagaimana caranya untuk menuju ke arah tersebut.
b. Harus
dipahami adalah tentang posisi perusahaan pada saat ini. Posisi perusahaan itu
bisa berupa pangsa yang dikuasai, posisi laba atau rugi perusahaan, dan kondisi
internal satu perusahaan.
c. Kemampuan
untuk mengdentifikasikan faktor-faktor lingkungan internal maupun eksternal
yang sedang dihadapi oleh perusahaan.
d. Mencari
alternatif solusi yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi secara
lebih efisien di masa yang akan datang.
4.
Peranan
Strategi
Dalam
lingkungan organisasi atau perusahaan, strategi memiliki peranan yang sangat
penting untuk mencapai tujuan, karena strategi memberikan arah tindakan, dan
cara bagaimana tindakan tersebut harus dilakukan agar tujuan yang diinginkan
tercapai. Strategi memiliki tiga peranan penting dalam mengisi tujuan
manajemen, yaitu:
a. Strategi
sebagai pendukung untuk pengambilan keputusan Strategi sebagai suatu elemen
untuk mencapai kesuksesan.
b. Strategi
sebagai sarana koordinasi dan komunikasi.
c. Strategi
sebagai target Konsep strategi akan digabungkan dengan visi dan misi untuk
menentukan perusahaan yang berada dalam masa yang akan datang.
2.Kewirausahaan
a. Pengertian kewirausahaan
Menurut
etimologi, kewirausahaan berasal dari kata wira dan usaha. Wira berarti
pejuang, pahlawan, manusia unggul, teladan, berbudi kuhur, gagah berani, dan
berwatak agung. Dan usaha berarti penciptaan kegiatan atau berbagai aktivitas
bisnis. Sedangkan pengertian kewirausahaan menurut para ahli sebagai berikut:
a.
menurut Instruksi Presiden RI No.4 Tahun
1995, kewirausahaan merupakan semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang
dalam menangani usaha dan kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan,
menerapkan cara kerja, teknologi, dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi
dalam rangka memberikan pelayanan yang baik dan memperoleh keuntungan yang
lebih besar.
b.
Zimmerer mendefinisikan kewirausahaan
sebagai satu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan
persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki usaha. Pendapat tersebut
mengandung maksud untuk sehingga untuk mencari atau menciptakan satu peluang
yang baru agar lebih baik dari sebelumnya
(Winardi; 2015).
c.
Menurut Suryana dalam bukunya
kewirausahaan (entreprenership) adalah
suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilai, kemampuan (ability), dan
perilaku seseorang dalam menghadapi tantangan hidup dan cara memperoleh peluang
denga berbagai risiko yang mungkin di hadapinya.
2.
Menurut Gitosardjono terdapat enam
hakikat kewirausahaan diantaranya yaitu:
1.
Kewirausahaan adalah kemampuan
menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda
2.
Kewirausahaan adalag satu nilai yang
dowujudkan dalam perilaku yang dijadikan sumber daya, tenaga penggerak, tujuan,
strategi, proses, dan hasil bisnis
3.
Kewirausahaan adalah satu proses dalam
mengerjakan sesuatu yang kreatif dan inovatif yang bermanfaat dalam memberikan
nilai lebih
4.
Kewirausahaan adalah suatu proses
penerapan kreativitas dan keinovasian dalam memecahkan persoalan dan menemukan
peluang untuk memperbaiki, serta mengembangkan kehidupan usaha
5.
Kewirausahaan adalah suatu nilai yang
dibutuhkan untuk memulai sebuah usaha dan mengembangkan usaha yang diyakini
akan sukses
6.
Kewirausahaan adalah usaha menciptakan
nilai tambah dengan jalan mengkombinasikan semua sumber daya secara kreatif dan
inovatif untuk untuk memenangkan persaingan
(Winardi; 2015).
Berdasarkan
beberapa definisi yang Telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa kewirausahaan
merupakan kamauan dan kemampuan seseorang dalam menciptakan kegiatan usaha
dengan berfikir kreatif dan inovatif dengan memanfaatkan sumber daya yang ada
serta berani mengambil risiko dan bertujuan untuk memberikan pelayanan yang
baik dan memperoleh keuntungan yang besar. Sedangkan berkewirausahaan yaitu upaya-upaya yang berkaitan dengan
penciptaan kegiatan, usaha, serta aktivitas bisnis atas dasar kemauan sendiri
dan mendirikan usaha bisnis dengan kemauan dan kemampuan sendiri.
Jadi,
kewirausahaan merupakan suatu kemapuan dalam menciptakan nilai tambah melalui
proses pengelolaan sumber daya secara kretif dan inovatif. Menurut Zimmerer (Sari;
2017), nilai tanbah tersebut diciptakan dengan cara-cara sebagai berikut:
a.
Pengembangan teknologi baru.
b.
Penemuan pengetahuan baru.
c.
Perbaikan produk dan jasa yang sudah ada.
d.
Penemuan cara-cara yang berbeda untuk menghasilkan barang dan jasa yang
lebih banyak dengan sumber daya yang lebih sedikit.
Adapun
istilah Wirausahawan yang berarti orang- orang yang mempunyai sifat
kewirausahaan dan pada umumnya memiliki keberanian dalam mengambil risiko usaha.
Terdapat hal-hal mengenai wirausaha, diantaranya:
a. Orang
yang memulai dan mengoperasikan sebuah usaha atau bisnis
b. Orang
yang dapat memenuhi kebutuhan pasar atau konsumen
c. Orang
yang berani mengambil risiko yang mampu memberikan daya dorong bagi perubahan,
inovasi dan kemajuan.
Seorang
kewirausahawan harus memiliki lemampuan yang kreatif dan inovatif dalam
menemukan dan menciptakan berbagai ide. Setiap pikiran dan langkah wirausahawan
adalah bisnis bahkan mimpi seorang pembisnis sudah merupakan ide untuk
berkreasi dalam menemukan dan menciptakan bisnis-bisnis baru.
b.
Jenis-jenis kewirausahaan
Menurut
Indriyo Gito Sudarmo ada beberapa macam jenis bisnis, untuk memudahkan
mengetahui pengelompokannya maka dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1.
Ekstraktif, yaitu bisnis yang melakukan
kegiatan dalam bidang pertambangan atau menggali bahan- bahan tambang yang
terkandung di dalam perut bumi.
2.
Agrobisnis, yaitu bisnis yang
menjalankan bisnisnya dalam bidang pertanian.
3.
Industri, yaitu bisnis yang bergerak
dalam bidang industri.
4.
Jasa, yaitu bisnis yang bergerak dalam
bidang jasa yang menghasilkan produk produk yang tidak berwujud (Sudjana; 2017)
c.
Fungsi wirausaha
Setiap wirausaha
mempunya fungsi pokok dan fungsi tambahan, diantaranya sebagai berikut:
1.
Membuat keputusan-keputusanpenting dan mengambil tujuan dan sasaran perusahaan.
2.
Memutuskan tujuan dan sasaran perusahaan
3.
Menetapkan bidang usaha dan pasar yang
akan dilayani.
4.
Menghitung skala usaha yang diinginkannya.
5.
Mengendalikan secara efektif dan efisien
6.
Menentukan permodalan yang diinginkannya
7.
Memilih dap menetapkan kriteria pegawai
dan memotivasinya
8.
Mencari dan menciptakan berbagai cara baru
9.
Mencari terobosan baru dalam mendapatkan
masukan, serta mengolahnya menjadi barang dan jasa yang menarik.
10.
Memasarkan barang dan jasa tersebut
untuk memuaskan pelanggan dan sekaligus dapat memperoleh dan mempertahankan
keuntungan maksimal.
11.
Fungsi tambahan
12.
Mengenali Iingkungan perusahaan dalam
rangka mencari dan menciptakan usaha.
13.
Mengendalikan lingkungan ke arah yang
lebih menguntungkan
14.
Menjaga lingkungan usaha agar tidak
merugikan masyarakat dan lingkungan
(Adityangga; 2015).
d.
Karakteristik kewirausahaan
Para ahli
mengemukakan karakteristik kewirausahaan dengan konsep yang berbeda-beda
Geoffrey G. Meredith mengemukakan terdapat enam karakteristik kewirausahaan
yaitu:
1.
memiliki kepercayaan diri yang kuat dan
selalu optimis
2.
berorientasi pada tugas dan hasil
3.
berani mengambil risiko dan menyukai tantangan
4.
berjiwa kepemimpinan dan mudah
beradaptasi dengan orang lain
5.
memiliki sifat inovatif, kreatif, dan fleksibel
6.
memiliki visi dan perspektif terhadap
masa depan (Adityangga; 2015).
Adapun ciri-ciri
umum kewirausahaan dapat dilihat dari berbagai aspek kepribadian seperti jiwa
watak, sikap dan lain-lain. Adapun ciri-ciri kewirausahaan yang memiliki
beberapa komponen penting, diantaranya:
a.
Percaya diri, indikatornya adalah penuh keyakinan,
optimis, berkopmitmen, disiplin dan tanggung jawab.
b.
Memiliki inisiatif, indikatornya adalah penuh energi,
ceketa dalam bertindak, dan aktif.
c.
Memiliki motif berprestasi, indikatornya bereorintasi
pada hasil dan wawasan ke depan.
d.
Memiliki jiwa kepimpinan, indikatornya adalah berarti
tampil beda, dapat dipercaya, dan tangguh dalam bertindak.
e.
Berani mengambil risiko dengan penuh perhitungan, oleh
karena itu menyukai tantangan.
Gitosardjono
mengemukakan ciri-ciri kewiraushaan dilihat dari ciri-ciri kewirwusahaan
dilihat dari kepribadian, jiwa, watak, sikap, dan perilakunya dapat dilihat
dari ciri-ciri sebagai berikut:
a. Disiplin
Dalam melaksankan kegiatan,
wirausahawan harus memiliki kedisiplinan yang tinggi, dengan ketetapan komitmen
terhadap tugas Aan pekerjaan secara menyeluruh yaitu ketetapan tyerhadap waktu
peningkatan mutu pekerjaan, penerapan sistem kerja dan sebagainya
b. Komitmen
yang tinggi
Komitmen adalah kesepakatan
mengena sesuatu hal yang di buat oleh seseorang, baik terhadap dirinya sendiri
maupun orang lain. Sabagai wirausahawan harus memiliki komitmen yang konkret,
terarah dan bersifat progresif (berorientasi pada kemajuan)
c. Jujur
Kejujuran merupakan landasan
moral bagi worausaha3wan, kejujuran dalam berperilaku dikehidupan yang bersifat
kjommplek kejujuran karakteristik produk dan jasa yang ditawarkan, dan
kejujuran dalam segala hal.
d. Kreativitas
dan inovatif
Untuk kemenakan persaingan,
sebagi wirausahawan harus memiliki daya kreativitas yang tinggi yang dilandasi
oleh cara berpikir maju dengan gagasan baru yang inovatif
e. Mandiri
Seorang wirausahawan dikatan
mandiri dengan melakukan keinginan yang baik tanpa ada ketergantungan pada
pihak lain dalam mengambil keputusan atau tindakan.
f. Realistis
Seorang wirausahawan selalu
berpikir dengan realistis kemampuan menggunakan fakta dan realita sebagai
landasan berpikir yang rasional dalam setiap mengambil keputusan maupun
tindakan.
Ciri-ciri yang
dikemukakan oleh para ahli tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa dasarnya
karakteristik seorang wirausaha ialah kreativitas dan inovatif. Oleh karena
itu, dapat dikemukakan bahwa seorang wirausaha dapat dibentuk dan dipelajari,
bukan lahir dengan sendirinya (Abdullah; 2015)
e.
Pembelajaran Kewirausahaan
Kewirausahaan
merupakan jiwa dari seseorang yang diekspresikan melalui sikap dan perilaku
yang kreatif dan inovatif untuk melakukan suatu kegiatan. Dengan demikian,
perlu ditegaskan bahwa tujuan pembelajaran kewirausahaan sebenarnya tidak hanya
diarahkan untuk menghasilkan pebisnis atau business
entrepreneur, tetapi mencakup seluruh profesi yang didasari oleh jiwa
wirausaha atau entrepreneur.
Setiap kegiatan
disadari atau tidak mempunyai tujuan, apalagi kegiatan pembelajaran
kewirausahaan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tujuan berarti arah
atau maksud. Sementara itu maksud diartikan sebagai sesuatu yang dikehendaki
sebagaimana telah disebutkan bahwa arah proses kewirausahaan dimulai dari
imitasi dan duplikasi. Sedangkan hasil akhir yang ingin dicapai dari
pembelajaran kewirausahaan ialah tertanam atau terbentuknya jiwa wirausaha pada
diri sesorang, sehingga yang bersangkutan menjadi seorang wirausaha dengan
kompetensinya. Inti dari kompetensi seorang wirausaha ialah inovatif dan
kreatif.
Dalam konteks yang
relatif lebih luas Astim (Hadari; 2015) mengemukakan; Pendidikan kewirausahaan
merupakan semacam pendidikan yang mengajarkan agar orang mampu menciptakan
kegiatan usaha sendiri. Pendidikan semacam itu ditempuh dengan cara:
1) membangun
keimanan, jiwa dan semangat
2) membangun
dan mengembangkan sikap mental dan watak wirausaha
3) mengembangkan
daya pikir dan cara berwirausaha
4) memajukan
dan mengembangkan daya penggerak diri
5) mengerti
dan menguasai teknik-teknik dalam menghadapi risiko, persaingan dan suatu
proses kerjasama
6) mengerti
dan menguasai kemampuan menjual ide
7) memiliki
kemampuan kepengurusan atau pengelolaan
8) serta
mempunyai keahlian tertentu termasuk penguasaan bahasa asing tertentu untuk
keperluan komunikasi.
Menurut Eman
Suherman (Susanto; 2016) pola pembelajaran kewirausahaan minimal mengandung
empat unsur sebagai berikut:
a) Pemikiran
yang diisi oleh pengetahuan tentang nilai-nilai, semangat, jiwa, sikap dan
perilaku, agar peserta didik memiliki pemikiran kewirausahaan.
b) Perasaan,
yang diisi oleh penanaman empatisme sosial- ekonomi, agar peserta didik dapat
merasakan suka-duka berwirausaha dan memperoleh pengalaman empiris dari para
wirausaha terdahulu.
c) Keterampilan
yang harus dimiliki oleh peserta didik untuk
berwirausaha.
d) Kesehatan
fisik, mental dan sosial. Sehubungan dengan hal ini, peserta didik hendaknya
dibekali oleh teknik- teknik antisipasi terhadap berbagai hal yang mungkin
timbul dalam berwirausaha baik berupa persoalan, masalah maupun risiko lainnya
sebagi wirausaha.
3.Pengembangan SDM
Walaupun
pelatihan dan pengembangan mempunyai kesamaan dalam metode yang digunakan dalam
pembelajaran, namun ada beberapa hal yang dapat di bedakan. Pelatihan lebih
berorientasi pada pekerjaan saat ini, fokusnya kepada pekerjaan seseorang saat
ini ditujukan untuk meningkatkan keterampilan-keterampilan tertentu dan
kemampuan untuk dapat melaksanakan pekerjaannya dengan sesegera mungkin.
Sedangkan pengembangan lebih berorientasi pada masa depan dan lebih peduli
dengna peningkatan kemampuan seseorang untuk memahami dan menginterprestasi pengetahuan bukan mengajarkan keterampilan
teknis. Dalam pembahasan tentang pengertian pengembangan sumber daya manusia
(SDM) (Human Resources Development)
tersebut, berikut ini dikemukakan beberapa pendapat dari para ahli dibidang
manajemen.
Gouzali (Susanto;
2016) mengemukakan sebagai berikut. Pengembangan SDM (Sumber Daya Manusia),
merupakan kegiatan yang harus dilaksanakan organisasi, agar pengetahuan (knowledge), kemampuan (ability), dan keterampilan (skill) mereka sesuai tuntutan pekerjaan
yang mereka lakukan. Dengan pengembangan ini diharapkan dapat memperbaiki dan
mengatasi kekurangan dalam melaksanakan pekerjaan dengan lebih baik, sesuai
dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang digunakan oleh organisasi. Dengan
demikian, pengembangan SDM merupakan sebuah cara efektif untuk menghadapi
tantangan- tantangan, termasuk ketertinggalan SDM serta keragaman SDM yang ada
dalam organisasi, perubahan teknik kegiatan yang disepakati dan perputaran SDM.
Dalam menghadapi tantangan- tantangan diatas,
Unit Kepegawaian/ personalia. SDM dapat memelihara para SDM
yang efektif dengan program pengembangan SDM. Sedangkan manajemen sumber daya
manusia adalah suatu proses yang terdiri atas perencanaan, pengorganisasian,
pemimpina, dan pengendalian kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan analisis
pekerjaan, evaluasi pekerjaan, pengadaan, pengembangan, kompensasi, promosi,
dan pemutusan hubungan kerja guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.33
Tujuan pengembangan SDM adalah untuk memastikan bahwa organisasi mempunyai
orang yang berkualitas untuk mencapai organisasi untuk meningkatkan kinerja dan
pertumbuhan. Terdapat tujuh manfaat yang dipetik melalui penyelenggaraan
pengembangan antara lain:
a.
Peningkatan produktivitas kerja
organisasi sebagai keseluruhan antara lain karena tidak terjadinya pemborosan,
karena kecermatan melaksanakan tugas, tumbuh subur nya kerjasama antara
sebagian kerja yang melaksanakan kegiatan yang berbeda yang spesifik.
b.
Terwujudnya hubungan yang serasi antara
atasan dan bawahan antara lain karena adanya pendelegasian wewenang, interaksi
yang didasarkan sikap dewasa baik secara teknikal maupun intelektual, saling
menghargai dan adanya kesempatan bagi bawahan untuk berfikir dan bertindak
secara inovatif.
c.
Terjadinya proses pengambilan keputusan
yang lebih cepat dan tepat karena melibatkan pegawai yang bertanggung jawab
menyelenggarakan kegiatan- kegiatan operasional dan tidak sekedar diperintahkan
oleh para manajer.
d.
Meningkatkan semangat kerja seluruh
tenaga kerja dalam organisasi dengan komitmen organisasional yang lebih tinggi.
e.
Mendorong sikap keterbukaan manajemen
melalui penerapan gaya manajerial praktisipatif.
f.
Mempelancar jalannya komunikasi yang
efektif yang pada gilirannnyamempelancar proses perumusan kebijaksnaann organisasi
dan operasionalisasinya.
g.
Penyelesaian konflik secara fungsional
yang dammpaknya adalah tumbuh suburnya rasa persatuan dan suasana kekeluargaan
dikalangan para anggota organisasi.
h.
Disamping manfaat bagi organisasi,
pelaksanaan program pelatihan dan pengembangan yang baik sudah barang tentu
bermanfaat pula bagi para anggota organisasi (Winardi; 2015).
B.
Konsep Dasar Pendidikan Keterampilan
1. Pengertian Pendidikan Keterampilan
Meskipun keterampilan telah
didefinisikan berbeda-beda, namun esensi pengertiannya sama. Brolin (Mutiara; 2014)
mendefinisikan keterampilan sebagai kontinum pengetahuan dan kemampuan yang
diperlukan oleh seseorang untuk berfungsi secara independen dalam kehidupan.
Pendapat lain mengatakan bahwa keterampilan adalah kecakapan sehari-hari yang
diperlukan oleh seseorang agar sukses dalam menjalankan kehidupan.
Malik Fajar (Sudjana; 2017)
mendefinisikan keterampilan sebagai kecakapan untuk bekerja selain kecakapan
untuk berorientasi ke jalur akademik. Sementara itu Tim Broad-Based
Education (Sudjana; 2017) menafsirkan keterampilan sebagai kecakapan yang
dimiliki seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan kehidupan
secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif
mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya. Meskipun
terdapat perbedaan dalam pengertian keterampilan, namun esensinya sama yaitu
bahwa keterampilan adalah kemampuan, serta kesanggupan yang diperlukan oleh
seseorang untuk menjalankan kehidupan dengan nikmat dan bahagia.
Oleh karena itu, pendidikan
keterampilan adalah, pendidikan yang memberi bekal dasar dan latihan yang
dilakukan secara benar kepada peserta didik tentang nilai-nilai kehidupan
sehari-hari agar yang bersangkutan mampu, sanggup, dan terampil menjalankan
kehidupannya, yaitu dapat menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya.
Dengan definisi tersebut, maka pendidikan keterampilan harus merefleksikan
nilai-nilai kehidupan nyata sehari-hari, baik yang bersifat preservative maupun
progresif. Pendidikan perlu diupayakan relevansinya dengan nilai-nilai
kehidupan nyata sehari-hari. Dengan cara ini, pendidikan akan lebih realistis,
lebih kontekstual. Tidak akan mencabut peserta didik dari akarnya, sehingga
pendidikan akan lebih bermakna bagi peserta didik dan akan tumbuh subur.
Seseorang dikatakan memiliki keterampilan apabila yang bersangkutan mampu,
sanggup, dan terampil menjalankan kehidupan dengan nikmat dan bahagia.
Kehidupan yang dimaksud meliputi kehidupan pribadi, kehidupan keluarga,
kehidupan tetangga, kehidupan perusahaan, kehidupan masyarakat, kehidupan
bangsa, dan kehidupan-kehidupan lainnya. Ciri kehidupan adalah perubahan dan
perubahan selalu menuntut kecakapan-kecakapan untuk menghadapinya.
2. Ruang Lingkup Pendidikan Keterampilan
Adapun yang menjadi ruang lingkup pendidikan keterampilan
adalah sebagai berikut :
A. Keterampilan Dasar
Keterampilan dasar ini terdiri dari :
1) Keterampilan belajar terus-menerus
Keterampilan belajar terus menerus (sepanjang hayat) adalah
keterampilan yang paling penting dibandingkan dengan semua keterampilan
lainnya. Pengetahuan, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan kehidupan
berubah makin cepat sehingga menuntut tamatan sekolah memiliki kemampuan untuk
belajar terus-menerus.
Keterampilan ini merupakan kunci yang dapat membuka
kesuksesan masa depan. Dengan keterampilan ini, tamatan sekolah mudah
menguasai keterampilan-keterampilan lainnya. Karena itu, tamatan sekolah
perlu diberi bekal dasar tentang strategi, metode, dan teknik belajar untuk
memperoleh dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi baru dalam
kehidupannya.
2) Keterampilan membaca, menulis,
menghitung
Tamatan Sekolah diharapkan memiliki keterampilan membaca dan
menulis secara fungsional, baik dalam bahasa Indonesia maupun salah satu bahasa
asing, misalnya bahasa Inggris, Jerman, Perancis, Arab, Jepang, Mandarin, atau
yang lain. Keterampilan membaca memahami dan menafsirkan informasi tertulis
dalam suratkabar, majalah, jurnal, dan dokumen.
Menulis mengkomunikasikan pikiran, ide-ide, informasi, dan
pesan-pesan tertulis dan membuat dokumen-dokumen seperti surat, arahan,
bimbingan, pedoman kerja, manual, laporan, grafik, dan diagram alir.
Keterampilan menghitung, kemampuan dasar menghitung dan
memecahkan masalah-masalah praktis, dengan memilih secara tepat dari
teknik-teknik matematika yang ada, dengan atau tanpa bantuan teknologi.
3) Keterampilan berkomunikasi: lisan,
tertulis, tergambar, mendengar
Manusia berinteraksi dengan manusia lain melalui komunikasi
langsung, baik secara lisan, tertulis, tergambar, dan bahkan melalui kesan pun
bisa. Mengingat manusia menggunakan sebagian besar waktunya untuk berkomunikasi
dengan orang lain, maka keterampilan berkomunikasi termasuk keterampilan
mendengar harus dimiliki oleh tamatan sekolah. Suatu studi menyimpulkan
bahwa kelemahan berkomunikasi akan menghambat pengembangan personal dan
profesional seseorang. Bahkan para pebisnis memperkirakan bahwa kelemahan
berkomunikasi akan menambah pembiayaan usahanya akibat kesalahan yang
dibuat. Mengingat era globalisasi telah bergulir, maka penguasaan salah
satu bahasa asing (Inggris, Perancis, Arab, Jepang, Jerman, Mandarin, dsb.)
oleh peserta didik merupakan keniscayaan.
4) Keterampilan berpikir
Tingkat keterampilan berpikir seseorang akan berpengaruh
terhadap kesuksesan hidupnya. Mengingat kehidupan manusia sebagian besar dipengaruhi
oleh cara berpikir, maka peserta didik perlu diberi bekal dasar dan
latihan-latihan dengan cara yang benar tentang keterampilan berpikir deduktif,
induktif, ilmiah, kritis, nalar, rasional, lateral, sistem, kreatif,
eksploratif, discovery, inventory, reasoning, pengambilan keputusan, dan
pemecahan masalah. Selain itu, peserta didik harus diberi bekal dasar
tentang kecintaan terhadap kebenaran, keterbukaan terhadap kritik dan saran,
dan berorientasi kedepan.
5) Keterampilan kalbu: iman (spiritual),
rasa dan emosi
Memiliki keterampilan kalbu yang baik, merupakan aset
kualitas batiniyah yang sangat bermanfaat bagi kehidupan bangsa.
Keterampilan kalbu yang terdiri dari iman (spiritual), rasa, dan emosi
merupakan unsur-unsur pembetuk jiwa selain akal.
Pada dasarnya, jiwa merupakan peleburan iman, rasa, emosi,
dan akal. Jiwa merupakan sumber kekuatan dan kendali bagi setiap manusia
dalam menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi. Bahkan, baik buruknya
suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh baik buruknya kalbu bangsa yang
bersangkutan. Erosi kalbu akan berpengaruh sangat dahsyat karena apapun
tingginya derajad berpikir seseorang, tetapi jika tidak dilandasi oleh moral,
spiritual dan emosional yang baik, hanya kehancuran yang terjadi. Untuk
itu, peserta didik perlu diberi bekal dasar dan latihan-latihan dengan cara
yang benar tentang keterampilan moral, emosional dan spiritual.
Integritas, kejujuran, solidaritas, kasih sayang pada orang lain, kesopanan,
disiplin diri, menghargai orang lain, hak asasi, kepedulian, toleransi, dan
tanggung jawab.
6) Keterampilan mengelola kesehatan badan
Di mana terdapat kesehatan badan, di situlah terdapat
kesehatan jiwa. Manusia diciptakan oleh-Nya dengan martabat tertinggi
sehingga yang bersangkutan harus memelihara kesehatan dirinya lebih baik dari
pada memelihara barang-barangnya. Oleh karena itu, peserta didik
sudah selayaknya diberi bekal dasar tentang pengelolaan kesehatan badan agar
yang bersangkutan memiliki kesehatan badan yang prima, bebas penyakit, dan
memiliki ketahanan badan yang kuat. Berolahraga secara teratur, makan
yang bergizi dan bervitamin, menjaga kebersihan, dan beristirahat cukup
merupakan pendidikan keterampilan mengelola kesehatan badan yang harus
diterapkan dalam kehidupan peserta didik.
7) Keterampilan merumuskan keinginan dan
upaya-upaya untuk mencapainya
Dua hal yang karakteristik sifatnya dalam kehidupan adalah:
(1) adanya keinginan baru, dan (2) upaya-upaya yang diperlukan untuk mencapai
keinginan baru tersebut. Keterampilan merumuskan dua hal yang karakteristik
ini merupakan bagian penting bagi kehidupan seseorang. Dalam kehidupan
banyak dijumpai orang-orang yang kurang mampu merumuskan tujuan hidup yang
realistik, dan kalaupun tujuan yang dirumuskan cukup realistik, tidak jarang
pula upaya-upaya yang ditempuh kurang sesuai. Keterampilan semacam ini
perlu diajarkan kepada peserta didik agar yang bersangkutan mampu menjalani
kehidupan secara realistis.
8) Keterampilan berkeluarga dan sosial
Peserta didik hidup dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan
masyarakat. Dalam keluarga, siswa tersebut berinteraksi dengan ayah, ibu,
dan saudara-saudaranya. Peserta didik harus memahami, menghayati, dan
menerapkan nilai-nilai kasih sayang, kesopanan, toleransi, kedamaian, keadilan,
respek, kecintaan, solidaritas, dan tatakrama sebagai anak terhadap kedua orang
tuanya maupun sebagai saudara terhadap saudaran-saudaranya.
Dalam sekolah, peserta didik harus memahami, menghayati, dan
menerapkan ketentuan-ketentuan yang berlaku di sekolah. Dalam masyarakat,
peserta didik harus memahami, menghayati dan menerapkan nilai-nilai sosial
sebagai berikut: menjunjung tinggi hak asasi manusia, peduli terhadap
barang-barang milik publik, kerjasama, tanggungjawab dan akuntabilitas sosial,
keterbukaan, dan apresiasi terhadap keanekaragaman. Peserta didik harus
mampu berkomunikasi, baik secara verbal maupun non-verbal.
Kelancaran berkomunikasi, selain memperbanyak kawan, juga
untuk memupuk kesehatan mental. Karena peserta didik hidup dalam
masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan, maka dia harus memiliki
kemampuan untuk memimpin dan dipimpin.
B. Keterampilan Instrumental
Keterampilan Instrumental ini terdiri dari:
1) Keterampilan memanfaatkan teknologi
dalam kehidupan
Teknologi telah merambah ke segala kehidupan dan merupakan
alat penggerak utama kehidupan. Bahkan keunggulan teknologi merupakan
salah satu faktor daya saing yang ampuh. Salah satu faktor yang membuat
negara berkembang tertinggal dengan negara maju adalah ketertinggalan teknologi. Generasi
muda harus diberi bekal agar mengapresiasi pentingnya teknologi bagi kehidupan
dan mempersiapkannya untuk mempelajari dan mengembangkan teknologi yang
ada. Mereka harus dididik bagaimana bekerja dengan jenis-jenis teknologi
dan disiapkan agar mereka memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi dalam
berbagai kehidupan (pertanian, perikanan, peternakan, kerajinan,
kerumahtanggaan, kesehatan, komunikasi, industri, perdagangan, kesenian,
pertunjukan, olah raga, konstruksi, transportasi, dan perbankan). Peserta
didik perlu dibekali cara-cara memilih teknologi, menggunakannya untuk
tugas-tugas tertentu dan cara-cara memeliharanya.
2) Keterampilan mengelola sumber daya
Peserta didik perlu diberi bekal
tentang arti, tujuan, dan cara-cara mengidentifikasi, mengorganisasi,
merencanakan, dan mengalokasikan sumber daya. Lebih spesifiknya, siswa
perlu dilatih: (1) mengelola sumber daya alam; (2) mengelola waktu; (3)
mengelola uang, dengan melatih mereka membuat rencana teknis dan anggaran,
penggunaannya, dan membuat penyesuaian-penyasuaian untuk mencapai tujuan; (4)
mengelola sumber daya ruang, (5) mengelola sumber daya sosial-budaya, (6)
mengelola peralatan dan perlengkapan, dan (7) mengelola lingkungan.
3) Keterampilan bekerjasama dengan orang lain
Kehidupan, baik perusahaan, bank,
pendidikan, maupun yang lain, yang akan dimasuki oleh tamatan sekolah kelak
pada umumnya bersifat kolektif. Tamatan Sekolah hanyalah merupakan bagian
dari kehidupan tersebut. Mereka nantinya harus bisa bekerjasama secara harmonis
dengan orang lain. Karena itu, sejak dini mereka perlu diberi bekal dan
latihan-latihan yang dilakukan secara benar tentang cara-cara bekerjasama,
menghargai hak asasi orang lain, pentingnya kebersamaan, tanggungjawab, dan
akuntabilitas perbuatan, keterbukaan, apresiasi keanekaragaman, kemauan baik
yang kreatif, kepemimpinan, manajemen negosiasi, dan masih banyak hal-hal lain
yang perlu diajarkan.
4) Keterampilan memanfaatkan informasi
Saat ini dan lebih-lebih di masa
mendatang, informasi akan mengalir secara cepat dan deras dalam berbagai
kehidupan. Siapa yang tertinggal informasi akan tertinggal pula dalam
kehidupannya. Jadi, informasi sudah merupakan salah satu faktor yang
sangat berpengaruh pada kehidupan seseorang. Untuk itu, peserta didik perlu
dibekali cara-cara mendapatkan dan memanfaatkan aneka ragam informasi yang
ada. Mereka harus dididik cara-cara mendapatkan dan mengevaluasi
informasi, mengorganisasi dan memelihara informasi, menafsirkan dan
mengkomunikasikan informasi, dan menggunakan komputer untuk mengolah data agar
menjadi informasi.
5) Keterampilan menggunakan sistem dalam
kehidupan
Kehidupan diciptakan oleh-Nya
dalam serba sistem. Oleh karenanya, jika ingin mengenali hakikat
(kebenaran seutuhnya) segala yang ada dalam kehidupan, harus mengenali sampai
pada sistemnya. Mengenali sampai pada sistemnya ditempuh melalui
perbuatan berpikir sistem. Berpikir sistem adalah berpikir membangun
keberadaan hal menurut kriteria sistem. Sistem adalah kumpulan proses berstruktur
hirarkis yang terikat pada tujuan. Peserta didik perlu memahami,
menghayati, dan menerapkan sistem dalam kehidupannya. Mereka perlu diberi
bekal dasar tentang cara berpikir, cara mengelola, dan cara menganalisis
kehidupan sebagai sistem. Mereka harus memahami cara kerja sistem-sistem
kehidupan seperti misalnya bank, perusahaan, sekolah, pertanian, peternakan,
dan keluarga. Bahkan, dirinya sebagai sistem harus dikenalinya secara
baik.
6) Keterampilan
berwirausaha
Keterampilan berwirausaha adalah
keterampilan memobilisasi sumber daya yang ada di sekitarnya, untuk mencapai
tujuan organisasinya atau untuk keuntungan ekonomi. Siswa harus dibekali
keterampilan berwirausaha. Kewirausahaan memiliki ciri-ciri: (1) bersikap dan
berpikir mandiri, (2) memiliki sikap berani menanggung resiko, (3) tidak suka
mencari kambing hitam, (4) selalu berusaha menciptakan dan meningkatkan nilai
sumber daya, (5) terbuka terhadap umpan balik, (6) selalu ingin perubahan yang
lebih baik, (7) tidak pernah merasa puas, terus menerus melakukan inovasi dan
improvisasi demi perbaikan selanjutnya, dan (8) memiliki tanggung jawab moral
yang baik.
7) Keterampilan
kejuruan, termasuk olahraga dan seni (cita rasa)
Tidak semua peserta didik
menyukai keterampilan berpikir, sebagian dari mereka menyukai
keterampilan-keterampilan kejuruan seperti misalnya pertanian, peternakan,
kerajinan, bisnis, boga, busana, industri, olahraga, dan kesenian (seni kriya,
seni musik, seni tari, seni lukis, seni suara, seni pertunjukan, dan sebagainya).
Juga, tidak semua peserta didik melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi dan
karenanya perlu diberi bekal keterampilan kejuruan agar mereka memiliki
kemampuan untuk mencari nafkah. Lebih-lebih bagi peserta didik yang
berasal dari kalangan marginal secara ekonomi-sosial, maka dapat dipastikan
bahwa mereka tidak akan melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi dan mereka
akan terjun dalam kehidupan. Untuk itu, mereka jelas membutuhkan
keterampilan kejuruan yang secara praktis dapat digunakan untuk mencari nafkah.
8) Keterampilan memilih, menyiapkan dan
mengembangkan karir
Setiap tamatan Sekolah kelak
berharap memiliki karir yang sesuai dengan potensi dirinya dan sesuai dengan
peluang yang ada. Selain itu, karir yang dimiliki diharapkan dapat
memberikan penghargaan yang layak. Untuk sampai pada harapan tersebut,
peserta didik perlu dikenalkan tentang potensi dirinya, jenis-jenis karir yang
ada dalam kehidupan, persyaratan untuk memasuki jenis karir tertentu, dan
disiapkan agar kelak setelah lulus sekolah mampu memilih, menyiapkan, dan
mengembangkan karir yang sesuai dengan potensi dirinya.
9) Keterampilan menjaga harmoni dengan
lingkungan
Peserta didik hidup dalam lingkungan nyata dan lingkungan
maya sekaligus. Lingkungan nyata berupa fisik yang dapat dirasakan oleh
panca indera, seperti tanah, air, dan udara. Terhadap lingkungan fisik,
peserta didik harus mampu menjaga kesehatan dirinya (kebersihan, ketegaran
badan) dan keharmonisan dengan alam sekitarnya (memelihara lingkungan).
Lingkungan maya, adalah suasana sosial yang dapat ditangkap oleh otak dan
dirasakan oleh hati. Terhadap lingkungan maya, peserta didik harus mampu
menjaga keharmonisan dengan masyarakat di sekitarnya.
10) Keterampilan menyatukan bangsa berdasarkan
nilai-nilai Pancasila
Negara Kesatuan Repuplik
Indonesia terdiri dari keanekaragaman / kebhinekaan dalam suku, agama, ras, dan
asal-usul tetapi harus tetap menjadi satu (bhineka tunggal ika). Untuk
mencapai bhineka tunggal ika diperlukan upaya-upaya nyata. Peserta didik
perlu diberi bekal kemampuan mengintegrasikan kebhinekaan bangsa berdasarkan
nilai-nilai Pancasila.
3. Tujuan Dan Manfaat Pendidikan Keterampilan
A. Tujuan pendidikan keterampilan
Seperti juga pada pengertian keterampilan,
tujuan pendidikan keterampilan juga bervariasi sesuai dengan kepentingan yang
akan dipenuhi. Naval Air Station Antlanta menuliskan bahwa tujuan
pendidikan keterampilan adalah:
To promote family strength and growth through education; to
teach concepts and principles relevant to family living, to explore personal
attitudes and values, and help members understand and accept the attitudes and
values of others; to develop interpersonal skills which contribute to family
well-being; to reduce marriage and family conflict and thereby enhance service member
productivity; and to encourage on-base delivery of family education program and
referral as appropriate to community programs.
Untuk meningkatkan jumlah anggota
dan perkembangan melalui pendidikan; dan untuk mengajarkan konsep-konsep dan
prinsip-prinsip yang relevan pada kehidupan keluarga; dan untuk meneliti sikap
dan nilai-nilai pribadi, dan membantu anggota mengerti dan menerima nilai dan
sikap tersebut satu sama lain; dan untuk mengembangkan kemampuan antar pribadi
yang mengkonstribusikan pada kesejahteraan keluarga, dengan cara demikian, hal
itu meningkatkan pelayanan produktivitas anggota; dan untuk mendorong angka
kelahiran yang berdasarkan program pendidikan keluarga; dan semestinya program
tersebut mengacu kepada komunitas.
Sementara itu, Tim Broad-Based Education Depdiknas
mengemukakan secara umum pendidikan yang berorientasi pada keterampilan
bertujuan memfungsikan pendidikan sesuai dengan fitrahnya, yaitu mengembangkan
potensi manusiawi peserta didik untuk menghadapi perannya dimasa yang akan
datang, secara khusus pendidikan yang berorientasi pada keterampilan bertujuan
untuk:
a)
Mengaktualisasikan potensi peserta didik sehingga dapat
digunakan untuk memecahkan problema yang dihadapi
b)
Memberikan kesempatan kepada sekolah untuk
mengembangkan pembelajaran yang fleksibel, sesuai dengan prinsip pendidikan
berbasis luas, dan
c)
Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya di lingkungan
sekolah, dengan memberi peluang pemanfaatan sumber daya yang ada di masyarakat,
sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah.
Dari hasil rumusan tujuan pendidikan keterampilan, yang
ditulis oleh Naval Air Station Antlanta dan Tim Broad Based Education
Depdiknass, lebih spesifik Slamet PH merumuskan tujuan pendidikan keterampilan,
dapat dikemukakan sebagai berikut.
a)
Memberdayakan aset kualitas batiniyah, sikap, dan
perbuatan lahiriyah peserta didik melalui pengenalan (logos),
penghayatan (etos), dan pengamalan (patos) nilai-nilai kehidupan
sehari-hari sehingga dapat digunakan untuk menjaga kelangsungan hidup dan
perkembangannya.
b)
Memberikan wawasan yang luas tentang pengembangan
karir, yang dimulai dari pengenalan diri, eksplorasi karir, orientasi karir,
dan penyiapan karir.
c)
Memberikan bekal dasar dan latihan-latihan yang
dilakukan secara benar mengenai nilai-nilai kehidupan sehari-hari yang dapat
memampukan peserta didik untuk berfungsi menghadapi kehidupan masa depan yang
sarat kompetisi dan kolaborasi sekaligus.
d)
Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya sekolah melalui
pendekatan manajemen berbasis sekolah dengan mendorong peningkatan kemandirian
sekolah, partisipasi stakeholders, dan fleksibilitas pengelolaan
sumber daya sekolah.
e)
Memfasilitasi peserta didik dalam memecahkan
permasalahan kehidupan yang dihadapi sehari-hari, misalnya kesehatan mental dan
fisik, kemiskinan, kriminal, pengangguran, lingkungan sosial dan fisik,
narkoba, kekerasan, dan kemajuan ipteks.
Meskipun sangat bervariasi dalam menyatakan tujuan
pendidikan keterampilan, namun dari pernyataan tersebut, konvergensinya sudah
begitu jelas bahwa tujuan utama pendidikan keterampilan adalah menyiapkan
peserta didik agar yang bersangkutan mampu, sanggup, dan terampil menjaga
kelangsungan hidup dan perkembangannya di masa datang, serta esensi dari
pendidikan keterampilan adalah untuk meningkatkan relevansi pendidikan dengan
nilai-nilai kehidupan nyata, baik preservatif maupun progresif.
B. Manfaat pendidikan keterampilan
Secara umum manfaat pedidikan
berorientasi keterampilan bagi peserta didik adalah sebagai bekal dalam
menghadapi dan memecahkan problem hidup dan kehidupan, baik sebagai pribadi
yang mandiri, warga masyrakat, maupun sebagai sebagai warga Negara.
Lebih jauh lagi Slamet PH
memberikan diskripsi tentang memfaat dari pendidikan yang berorientasi kepada
keterampilan sebagai berikut. Pertama, peserta didik memiliki aset
kualitas batiniyah, sikap, dan perbuatan lahiriyah yang siap untuk menghadapi
kehidupan masa depan sehingga yang bersangkutan mampu dan sanggup menjaga
kelangsungan hidup dan perkembangannya. Kedua, peserta didik
memiliki wawasan luas tentang pengembangan karir dalam dunia kerja yang sarat
perubahan yaitu yang mampu memilih, memasuki, bersaing, dan maju dalam karir. Ketiga, peserta
didik memiliki kemampuan berlatih untuk hidup dengan cara yang benar, yang
memungkinan peserta didik berlatih tanpa bimbingan
lagi. Keempat, peserta didik memiliki tingkat kemandirian,
keterbukaan, kerjasama, dan akuntabilitas yang diperlukan untuk menjaga
kelangsungan hidup dan perkembangannya. Kelima, peserta didik
memiliki kemampuan dan kesanggupan untuk mengatasi berbagai permasalahan hidup
yang dihadapi.
Dari berbagi rumusuan di atas,
baik yang dideskripsikan oleh Tim Broad Based Education
Depdiknas maupun dari Slamet Ph, esensi dari Pendidikan keterampilan,
mampu memberikan manfaat pribadi peserta didik dan manfaat sosial bagi
masyarakat. Bagi peserta didik, pendidikan keterampilan dapat
meningkatkan kualitas berpikir, kualitas kalbu, dan kualitas fisik.
Peningkatan kualitas tersebut pada gilirannya akan dapat meningkatkan
pilihan-pilihan dalam kehidupan individu, misalnya karir, penghasilan,
pengaruh, prestise, kesehatan jasmani dan rohani, peluang, pengembangan diri,
kemampuan kompetitif, dan kesejahteraan pribadi. Bagi masyarakat,
pendidikan keterampilan dapat meningkatkan kehidupan yang maju dan madani dengan
indikator-indikator yang ada: peningkatan kesejahteraan sosial, pengurangan
perilaku destruksif sehingga dapat mereduksi masalah-masalah sosial, dan
pengembangan masyarakat yang secara harmonis mampu memadukan nilai-nilai
religi, teori, solidaritas, ekonomi, kuasa dan seni.
Pendidikan keterampilan memang
bukan sesuatu yang baru. Yang benar-benar baru adalah bahwa kita mulai
sadar dan berfikir bahwa relevansi antara pendidikan dengan nilai-nilai
kehidupan nyata perlu ditingkatkan intensitas dan efektivitasnya. Karena
itu, yang diperlukan adalah membawa sekolah sebagai bagian dari masyarakat dan
bukannya menempatkan sekolah sebagai sesuatu yang berada di masyarakat.
Pendidikan harus merefleksikan nilai-nilai kehidupan sehari-hari, baik yang
bersifat preservatif dan progresif. Sekolah harus menyatu dengan
nilai-nilai kehidupan nyata yang ada di lingkungannyadan mendidik peserta didik
sesuai dengan tuntutan nilai-nilai kehidupan yang sedang berlaku. Ini
menuntut proses belajar mengajar dan masukan instrumental sekolah seperti
misalnya kurikulum, guru, metodologi pembelajaran, alat bantu pendidikan, dan
evaluasi pembelajaran benar-benar realistik, kontekstual, dan bukannya
artifisial. Jika hal itu dapat dicapai, maka faktor ketergantungan pada
lapangan pekerjaan yang sudah ada, sebagai akibat dari banyaknya pengangguran,
dapat diturunkan, yang berarti produktivitas nasional akan meningkat secara
bertahap.
C.
Hakikat Pembelajaran
1.
Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran merupakan suatu proses
interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan berbagai sumber belajar yang
ada di lingkungan belajar tersebut. Menurut aliran behavioristik dalam Hamdani
mengatakan bahwa pembelajaran adalah usaha guru membentuk tingkah laku yang
diinginkan dengan menyediakan lingkungan atau stimulus. Selanjutnya menurut
Gagne, dkk dalam Warsita mengatakan bahwa pembelajaran adalah suatu sistem yang
bertujuan untuk membantu proses belajar peserta didik, yang berisi serangkaian
peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan
mendukung terjadinya proses belajar peserta didik yang bersifat internal. menurut Dimyati dan Mudjiono dalam buku karya Sagala,
bahwasanya pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain
instruksional, untuk membuat belajar secara aktif, yang menekankan pada
penyediaan sumber belajar.
Lebih lanjut Warsita menjelaskan
bahwa ada lima prinsip yang menjadi landasan pengertian pembelajaran yaitu:
a.
Pembelajaran sebagai usaha untuk
memperoleh perubahan perilaku. Prinsip ini mengandung makna bahwa ciri utama
proses pembelajaran itu adalah adanya perubahan perilaku dalam diri peserta didik.
b.
Hasil pembelajaran ditandai dengan
perubahan perilaku secara keseluruhan. Prinsip ini mengandung makna bahwa perilaku sebagai hasil pembelajaran meliputi
semua aspek perilaku dan bukan hanya satu atau dua aspek saja.
c.
Pembelajaran merupakan suatu proses.
Prinsip ini mengandung makna bahwa pembelajaran itu merupakan suatu aktivitas
yang berkesinambungan, di dalam aktivitas itu terjadi adanya tahapan- tahapan
aktivitas yang sistematis dan terarah.
d.
Proses pembelajaran terjadi karena
adanya sesuatu yang mendorong dan adanya suatu tujuan yang akan dicapai.
e.
Pembelajaran merupakan bentuk pengalaman.
Berdasarkan pendapat tersebut di
atas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah suatu usaha yang dilakukan oleh pendidik dalam membelajarkan peserta didik
sehingga terjadi perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik (Dimyati dan Mudjiono; 2014).
2.
Ciri-Ciri Pembelajaran
Darsono dalam Hamdani berpendapat
bahwa ciri-ciri pembelajaran adalah sebagai berikut:
a. Pembelajaran
dilakukan secara sadar dan direncanakan dengan sistematis.
b. Pembelajaran
dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar.
c. Pembelajaran
dapat menyediakan bahan belajar yang menarik perhatian dan menantang siswa.
d. Pembelajaran
dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menarik.
e. Pembelajaran
dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan bagi siawa.
f. Pembelajaran
dapat membuat siswa siap menerima pelajaran, baik secara fisik maupun secara psikologi.
g. Pembelajaran
menekankan keaktifan siswa.
h. Pembelajaran
dilakukan secara sadar dan sengaja.
Oleh karena itu, pembelajaran pasti
mempunyai tujuan yaitu membantu siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan
dengan pengalaman itu, tingkah laku siswa bertambah, baik kuantitas maupun
kualitasnya. Tingkah laku ini meliputi pengetahuan, keterampilan dan nilai atau
norma yang berfungsi pengendali sikap dan perilaku siswa.
3.
Komponen-Komponen Pembelajaran
Pembelajaran merupakan suatu proses,
maka dalam proses pembelajaran ada beberapa komponen yang saling berinteraksi
satu dengan yang lain sehingga disebut sebagai sistem. Sebagai suatu sistem,
proses belajar itu saling berkaitan dan bekerja sama untuk mencapai tujuan yang
ingin dicapainya.
Komponen-komponen proses pembelajaran adalah:
a.
Tujuan
Tujuan adalah suatu harapan atau cita-cita yang ingin
dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tidak ada suatu kegiatan pembelajaran
yang tidak mempunyai tujuan, dan hal ini telah dipersiapkan oleh seorang guru
sebelum kegiatan pembelajaran yang tertera dalam rencana pembelajaran yang
dirumuskan melalui tujuan pembelajaran khusus.
b.
Bahan Pembelajaran
Bahan pembelajaran merupakan substansi yang akan
disajikan dalam kegiatan pembelajaran. Tanpa materi pembelajaran program
pembelajaran tidak akan berjalan. Karena itu, guru yang akan mengajar harus
memiliki dan menguasai materi pelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik.7
c.
Pendekatan,
Model, Strategi, Metode, Teknik
Komponen yang ketiga ini mempunyai fungsi yang sangat
menentukan. Keberhasilan pencapaian tujuan sangat ditentukan oleh komponen ini.
Bagaimanapun lengkap dan jelasnya komponen lain, tanpa dapat diimplementasikan
melalui strategi yang tepat, maka komponen-komponen tersebut tidak akan
memiliki makna dalam proses pencapaian tujuan.
d.
Media Pembelajaran
Merupakan alat atau wahana yang digunakan guru dalam
proses pembelajaran untuk membantu penyampaian pesan pembelajaran. Media
pembelajaran berfungsi meningkatkan peranan strategi pembelajaran.
e.
Evaluasi
Evaluasi bukan saja berfungsi untuk melihat
keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran, tetapi juga berfungsi sebagai
umpan balik bagi guru atas kinerjanya dalam pengelolaan pembelajaran. Melalui
evaluasi kita dapat melihat kekurangan dalam pemanfaatan berbagai komponen
sistem pembelajaran.
B.
Tinjauan
tentang Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, dan Model Pembelajaran
Dalam proses pembelajaran dikenal
beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa
bingung untuk membedakannya.
Istilah-istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi
pembelajaran, (3) metode pembelajaran; (4) teknik pembelajaran; dan (5) model
pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan
harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.
1.
Pendekatan Pembelajaran
Para ahli
memandang pendekatan (approach) pembelajaran
sebagai seperangkat asumsi yang paling berkaitan dan bersangkutan dengan
hakikat belajar, hakikat mengajar, dan hakikat disiplin ilmu yang dipelajari.
Lebih lanjut, pendekatan bisa diartikan sebagai cara pandang filosofis terhadap
sebuah objek tertentu yang dipercayai tanpa harus dibuktikan lagi kebenarannya.
Pendekatan
dalam konsep pembelajaran dapat dipandang sebagai a way of beginning something „cara memulai sesuatu‟. Berdasarkan
pengertian ini, pendekatan pembelajaran berfungsi sebagai panduan dasar tentang
mengajarkan sesuatu dan bagaimana sesuatu itu dapat dipelajari lebih mudah.
Pendekatan pembelajaran akan menjadi pedoman bagi proses pembelajaran sekaligus
akan memberikan melahirkan sejumlah tahapan belajar mengajar yang semestinya
dilakukan agar pembelajaran dapat mencapai tujuan yang dikehendaki. Guna
membedakan pendekatan dengan istilah lain dalam konteks pembelajaran, dapat
dikemukakan ciri khas pendekatan pembelajaran sebagai berikut.
a. Pendekatan
bersifat aksiomatis.
b. Lahir
dari sejumlah asumsi, teori, ataupun prinsip
tertentu.
c. Pendekatan
akan melahirkan sejumlah metode pembelajaran.
d. Memberikan
pedoman terhadap metode pembelajaran khususnya dalam proses pembelajaran.
Bertema
dengan uraian di atas, jelaslah bahwa dalam suatu proses pembelajaran
pendekatan itu sangat penting. Pendekatan berfungsi sebagai pedoman umum dan
langsung bagi metode pembelajaran yang akan digunakan. Lebih lanjut lagi,
pendekatan akan menurunkan berbagai metode pembelajaran dan teknik pembelajaran
yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran.
2.
Strategi
Pembelajaran
Secara umum strategi mempunyai
pengertian suatu garis-garis besar haluan
untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa
diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk
mencapai tujuan yang telah digariskan.12 Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008)
mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran
yang harus dikerjakan
guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan
efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008)
menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan.
Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang
keputusan-keputusan yang akan diambil
dalam suatu pelaksanaan pembelajaran.
(Wahab; 2014) dalam Martinis Yamin mengemukakan bahwa strategi pembelajaran
merupakan keseluruhan perencanaan untuk mengajar pelajaran tertentu yang
memuatkan metode dan urutan langkah- langkah yang diikuti untuk melaksanakan
kegiatan belajar. Strategi pembelajaran merupakan prinsip-prinsip dalam
pemilihan urutan pengulangan belajar dalam suatu proses pembelajaran. Lebih lanjut
dikemukakan bahwa strategi pembelajaran berkaitan erat dengan situasi belajar
yang sering digambarkan sebagai model pembelajaran.
Menurut Rowntree dalam Wina
Sanjaya, Strategi Pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu:
a.
Strategi Pembelajaran Penyampaian
Penemuan (Exposition Discovery Learning)
b.
Strategi Pembelajaran Kelompok dan
Individual (Group Individual Learning)
Jadi disimpulkan bahwa strategi
pembelajaran adalah perpaduan dari urutan kegiatan, cara pengorganisasian
materi, metode dan teknik pembelajaran, media pembelajaran serta waktu yang
digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan yang ditentukan.
Dengan kata lain strategi pembelajaran adalah berkenaan dengan pendekatan
pembelajaran sebagai suatu cara yang sistematik dalam mengkomunikasikan isi
pelajaran kepada pembelajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Strategi pengajaran terdiri atas
metode dan teknik atau prosedur yang menjamin siswa sampai tujuan. Strategi
pengajaran lebih luas daripada metode atau teknik pengajaran. Dengan kata lain,
metode atau teknik pengajaran merupakan bagian dari strategi pengajaran.
3.
Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran adalah cara
yang digunakan guru untuk menyampaikan pelajaran kepada siswa. Metode
pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dipergunakan oleh guru dalam
mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Dengan
demikian, metode pembelajaran merupakan alat untuk menciptakan proses belajar
mengajar.
Metode Pembelajaran merupakan
cara guru melakukan atau menyajikan, menguraikan, memberi contoh, dan memberi
latihan isi pelajaran kepada peserta didik untuk mencapai tujuan tertentu.19
Metode cara guru menjelaskan konsep, fakta, dan prinsip kepada peserta didik
dengan cara pendekatan pembelajaran berpusat pada guru (Teacher Oriented) dan Pembelajaran berpusat pada peserta didik (Student Oriented).
Setiap metode pembelajaran
mempunyai keunggulan dan kelemahan masing-masing. Tidak ada suatu metode
pembelajaran pun yang dianggap ampuh untuk segala situasi. Suatu metode
pembelajaran dapat dipandang ampuh untuk suatu situasi, tapi tidak ampuh untuk
situasi lain. Oleh karena itu, sering terjadi pembelajaran dilakukan dengan
menggunakan berbagai metode pembelajaran secara bervariasi. Akan tetapi, dapat
pula suatu metode pembelajaran dilaksanakan secara berdiri sendiri. Hal ini
bergantung pada pertimbangan situasi belajar mengajar yang relevan.
Jadi, dapat disimpulkan
bahwasanya metode pembelajaran adalah suatu cara guru dalam melaksanakan
prosedur untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk
mencapai tujuan pembelajaran.
Metode merupakan langkah
operasional dari strategi pembelajaran yang dipilih dalam mencapai tujuan
belajar, sehingga bagi sumber belajar dalam menggunakan suatu metode
pembelajaran harus disesuaikan dengan jenis strategi yang digunakan. Ketepatan
penggunaan suatu metode akan menunjukkan fungsionalnya strategi dalam kegiatan
pembelajaran.
Strategi pembelajaran sifatnya
masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode
pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something”
sedangkan metode adalah “a way in
achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat
diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang
sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk
mengimplementasikan strategi pembelajaran
4.
Teknik Pembelajaran
Teknik pembelajaran menurut Yunus
Abidin adalah berbagai cara yang secara langsung diterapkan guru untuk
menyampaikan materi kepada siswanya selama proses pembelajaran terjadi di dalam
kelas. Cara ini mencakup aktivitas kelas, tugas, dan pengujian dalam kelas yang
dilakukan guru ketika melangsungkan proses pembelajaran. Dengan demikian,
teknik pembelajaran berkenaan langsung dengan implementasi kegiatan belajar
mengajar. Teknik ini mengacu pada cara guru melaksanakan belajar mengajar, baik
di dalam maupun di luar kelas.22
Karakteristik teknik pembelajaran
yang dikemukakan oleh Brown , Richards dan Rodgers (Melvin; 2016) adalah
sebagai berikut:
a.
Bersifat Implementasional yakni cara
langsung yang dipakai guru dalam menyampaikan materi pembelajaran di dalam kelas.
b.
Hanya ditujukan pada satu tahapan
pembelajaran yakni pada tahap inti pembelajaran
c.
Teknik pembelajaran digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran khusus tertentu
Teknik pembelajaran dapat diatikan
sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode
secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah
siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara
teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah
siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan
teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya
tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif.
Dalam hal ini, guru pun dapat
berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.
5.
Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah suatu
perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan
pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan
perangkat- perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film,
computer, kurikulum, dan lain-lain.
Menurut Soekamto, dkk dalam Trianto
mengemukakan maksud dari model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang
melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar
untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para
perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.
Model mengajar adalah suatu rencana
atau pola yang digunakan untuk menyusun kurikulum, mengatur materi
pembelajaran, dan memberikan petunjuk kepada pengajar di dalam kelas berkenaan
dengan proses belajar mengajar yang akan dilaksanakan. Dalam sebuah model wajib
mengandung empat komponen dasar model yakni: (1) orientation to the model (yang pada dasarnya dapat disejajarkan
dengan pendekatan); (2) the model of
teaching; (3) application; (4) instructional and naturant effect yakni
tujuan pembelajaran.
Berdasarkan uraian di atas, model
pembelajaran menggambarkan tingkat terluas dari praktik pembelajaran dan
berisikan orientasi filosofi pembelajaran, yang digunakan untuk menyeleksi dan
menyusun rencana atau pola yang digunakan untuk melaksanakan kurikulum,
mengatur materi pembelajaran, dan memberikan petunjuk kepada guru di dalam
kelas berkenaan dengan proses belajar mengajar yang dilaksanakannya. Jadi, model
pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari
awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model
pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan,
metode, dan teknik pembelajaran. Posisi model dalam pembelajaran yakni
digambarkan seperti di bawah ini.

Gambar 1
Sebagai akhir pembahasan bagian
ini, keterhubungan antara pendekatan, strategi, metode, teknik, dan model
pembelajaran dapat digambar dalam bagan di bawah ini.

Gambar 2
Berdasarkan gambar di atas dapat
dikemukakan bahwa model pembelajaran berada pada wilayah terluar atau bingkai
dari semua komponen karena model pembelajaran kerangka konseptual yang
melukiskan prosedur secara sistematis dari awal sampai akhir yang dibangun atas
pendekatan. Pendekatan pembelajaran akan menghasilkan strategi atau procedural
dalam mencapai tujuan. Selanjutnya dari strategi akan menghasilkan banyak
metode pembelajaran yang relevan sebagai implementasi dari prosedur dalam
strategi.
Demikian pula metode akan
melahirkan sejumlah teknik pembelajaran yang bersesuaian dengan metode. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa antara kelima dimensi pembelajaran yang telah
diuraikan di muka sebenarnya memiliki hubungan yang sistematik dan sistematis.
Oleh sebab itu, agar dapat melaksanakan pembelajaran yang baik guru harus mampu
memilih dan menerapkan model, pendekatan, strategi, metode, dan teknik
pembelajaran yang tepat.
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Pendidikan keterampilan adalah
pendidikan kemampuan, serta kesanggupan yang diperlukan oleh seseorang untuk
menjalankan kehidupan dengan nikmat dan bahagia. Pada dasamya, pendidikan
keterampilan adalah pendidikan yang memberi bekal dasar dan latihan yang dilakukan
secara benar kepada peserta didik tentang nilai-nilai kehidupan sehari-hari
agar yang bersangkutan mampu, sanggup dan terampil menjalankan kehidupannya
yaitu dapat menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya. Keterampilan dapat
dipilah menjadi dua kategori, yaitu kecakalpan hidup yang bersifat dasar dan
instrumental. Kecakapan dasar bersifat universal dan berlaku sepanjang zaman,
dan kecakapan instrumental bersifat relative, kondisional, dan dapat
berubah-ubah sesuai dengan perubahan ruang, waktu, dan situasi.
B.Saran
Pendidikan keterampilan
memang bukan sesuatu yang baru. Yang benar-benar baru adalah bahwa kita mulai
sadar dan berfikir bahwa relevansi antara pendidikan dengan nilai-nilai
kehidupan nyata perlu ditingkatkan intensitas dan efektivitasnya. Karena itu,
yang diperlukan adalah membawa sekolah sebagai bagian dari masyarakat dan
bukannya menempatkan sekolah sebagai sesuatu yang berada dimasyarakat.
Pendidikan harus merefleksikan nilai-nilai kehidupan sehari-hari, baik yang
bersifat preservatif dan progresif. Sekolah harus menyatu dengan nilai-nilai
kehidupan nyata yang ada di lingkungannya dan mendidik peserta didik sesuai
dengan tuntutan nilai-nilai kehidupan yang sedang berlaku. Ini menuntut proses
belajar mengajar dan masukan instrumental sekolah seperti misalnya kurikulum,
guru. Metodologi pembelajaran, alat bantu pendidikan, dan evaluasi pembelajaran
benar-benar realistik, kontekstual, dan bukannya artifisial.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Ma’ruf.M. 2015, Wirausaha Berbasis Syari’ah. Banjarmasin: Antasi Press.
Adityangga, Krishna. 2015. Membangun Perusahaan Islam dengan Manajemen Budaya Perusahaan Islami.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Dimyati dan Mudjiono. (2014). Belajar
dan Pembelajaran. Jakarta. Proyek Pembinaan dan Pengembangan Mutu Tenaga
Kependidikan, Depdikbud.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2014. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Hadari Nawawi, 2015, Manajemen Strategik Organisasi Non
Profit Bidang Pemerintahan dengan Ilustrasi Bidang Pendidikan. UGM Press,
Yogyakarta.
Mutiara S. Panggabean. 2014. Manajemen Sumber Daya Manusia,
Bogor: Ghalia Indonesia
Melvin L. Silberman, 2016. Active Learning. Bandung: Nuansa Cendekia,. cet. ke-VIII
Sari, Eka Setianingsih. 2017. Perkembangan Peserta Didik.
Semarang.
Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai. 2017. Teknologi
Pengajaran. Bandung:
Susanto, A.B. 2016. Leadpreneurship
Pendekatan Strategic Management Dalam Kewirausahaan. Jakarta: Esensi
Erlangga Group
Wahab, H.S, Abd &
Uminarso, 2014. Kepemimpinan Pendidikan
Dan Kecerdasan Spiritual, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Winardi,J. 2015. Entrepreneur
& Interpreneurship. Jakarta: Prenada Media.
Zaini, Hisyam, et al, 2017. Strategi Pembelajaran Aktif,. Yogyakarta: CTSD.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar