Minggu, 19 Oktober 2025

Evolusi Estetika: Bagaimana Budaya Flexing dan Vibe Check di TikTok Membentuk Ulang Definisi Seni Rupa Kontemporer Generasi Z


BAB I: PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

  • Perkembangan media sosial, khususnya TikTok, sebagai panggung baru bagi ekspresi artistik visual.

  • Munculnya terminologi dan budaya spesifik (seperti flexing—pamer, dan vibe check—penilaian suasana) yang mendikte selera visual dan estetika.

  • Pergeseran cara pandang seni: dari karya yang dipamerkan di galeri menjadi konten yang bersifat instan dan viral.

  • Fokus: Mengkaji pengaruh budaya digital ini terhadap apresiasi dan penciptaan seni rupa di kalangan remaja/muda.

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana platform TikTok mengubah media penyampaian dan kecepatan apresiasi terhadap karya seni rupa?

  2. Sejauh mana budaya flexing (pamer) dan vibe check (validasi sosial) memengaruhi motivasi dan nilai estetika dalam penciptaan karya seni oleh Gen Z?

  3. Bagaimana peran algoritma media sosial dalam menentukan "nilai" atau popularitas suatu karya seni dibandingkan kritik profesional?

C. Tujuan Penulisan

  • Mendeskripsikan kaitan antara budaya visual digital dengan perubahan paradigma seni rupa.

  • Menganalisis motif di balik penciptaan dan konsumsi karya seni di platform digital.

BAB II: KAJIAN PUSTAKA DAN PEMBAHASAN

A. Seni Rupa Kontemporer di Era Digital

  1. Definisi Estetika Digital: Menjelaskan karakteristik seni rupa yang diciptakan atau didistribusikan melalui media digital (NFT Art, digital painting, augmented reality).

  2. TikTok sebagai Galeri Baru: Fungsi TikTok sebagai ruang kurasi mandiri (self-curating) yang membuka peluang bagi seniman tanpa harus melalui jalur galeri formal.

B. Analisis Budaya Flexing dan Vibe Check

  1. Flexing sebagai Bentuk Ekspresi Estetika:

    • Menganalisis konten yang menunjukkan "kemewahan" atau "keberhasilan" estetis (misalnya, art studio tour, koleksi seni mahal).

    • Kritik: Apakah flexing menggeser fokus dari nilai artistik ke nilai materi/sosial?

  2. Vibe Check dan Validasi Instan:

    • Menganalisis peran komentar, like, dan share dalam memvalidasi sebuah karya seni.

    • Dampak: Penciptaan seni yang cenderung seragam atau mengikuti tren demi mendapatkan vibe yang disukai oleh mayoritas (algoritmic aesthetic).

C. Dilema Nilai: Kualitas Artistik vs. Kualitas Viral

  1. Algoritma vs. Kritik Seni: Membandingkan penilaian karya seni berdasarkan jumlah tayangan (views) dan virality dengan penilaian berdasarkan teori dan sejarah seni.

  2. Identitas Seniman Gen Z: Bagaimana seniman muda menyeimbangkan kebutuhan untuk berekspresi secara otentik dengan tuntutan untuk menjadi relatable dan viral.

BAB III: PENUTUP

A. Kesimpulan

  • Budaya digital (TikTok) telah mendemokratisasi akses ke seni rupa, tetapi juga menciptakan estetika baru yang didorong oleh validasi sosial (vibe check) dan pameran diri (flexing).

  • Definisi seni rupa kontemporer Gen Z menjadi lebih cair, cepat berubah, dan sangat terikat pada performa digital.

B. Saran

  • Perlunya pendidikan seni yang mengajarkan Gen Z cara mengapresiasi dan mengkritik seni di ruang digital (literasi visual digital).

  • Mendorong seniman untuk memanfaatkan platform digital tanpa sepenuhnya mengorbankan kedalaman dan keaslian karya.

Makalah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)


BAB I: PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

  • Pentingnya studi sosial: IPS merupakan jembatan antara ilmu-ilmu sosial murni (seperti Geografi, Sejarah, Ekonomi, Sosiologi) dengan konteks pendidikan dasar dan menengah.

  • Tujuan utama IPS: Membentuk warga negara yang baik (good citizenship) dan melek sosial (social literacy).

  • Permasalahan: Seringkali IPS dianggap remeh atau hanya sebagai hafalan, sehingga perlu dijelaskan kembali esensi dan manfaatnya.

B. Rumusan Masalah

  1. Apa definisi dan ruang lingkup utama Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)?

  2. Bagaimana kedudukan dan fungsi IPS dalam kurikulum pendidikan di Indonesia?

  3. Apa saja tantangan dan prospek pengembangan pembelajaran IPS?

C. Tujuan Penulisan

  • Menjelaskan konsep dasar IPS dan disiplin ilmu penyusunnya.

  • Menganalisis peran IPS dalam membentuk karakter dan pengetahuan siswa.

  • Mengidentifikasi isu-isu kontemporer dalam pembelajaran IPS.


BAB II: KAJIAN TEORI DAN PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

  1. Definisi IPS:

    • IPS adalah studi tentang manusia dalam konteks sosialnya, yang memadukan berbagai disiplin ilmu sosial dan humaniora untuk tujuan pendidikan.

    • IPS berbeda dengan Ilmu-Ilmu Sosial (Social Sciences) karena IPS bersifat selektif, adaptif, dan pedagogis (dirancang untuk diajarkan di sekolah).

  2. Disiplin Ilmu Penyusun (Integrasi Ilmu Sosial):

    • Geografi: Mempelajari hubungan manusia dengan ruang dan lingkungan.

    • Sejarah: Mempelajari waktu dan kesinambungan kehidupan masyarakat.

    • Ekonomi: Mempelajari upaya manusia memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan.

    • Sosiologi & Antropologi: Mempelajari interaksi sosial, kebudayaan, dan masyarakat.

B. Ruang Lingkup dan Fungsi IPS dalam Pendidikan

  1. Fokus Kajian: Interaksi sosial, lingkungan fisik dan sosial, keberlanjutan hidup manusia, dan nilai-nilai kewarganegaraan.

  2. Fungsi dalam Kurikulum:

    • Fungsi Kognitif: Menyediakan pengetahuan tentang masyarakat, negara, dan dunia.

    • Fungsi Afektif: Mengembangkan sikap toleransi, empati, tanggung jawab, dan nasionalisme.

    • Fungsi Keterampilan: Melatih keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah sosial, dan pengambilan keputusan.

  3. Implementasi di Sekolah: Penjelasan singkat tentang materi IPS di jenjang SMP/MTs (misalnya, fokus pada interaksi, keberagaman, potensi ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat).

C. Tantangan dan Prospek Pembelajaran IPS

  1. Tantangan:

    • Kecenderungan guru mengajar secara parsial (terpisah-pisah berdasarkan disiplin ilmu, bukan terpadu).

    • Metode pembelajaran yang masih didominasi ceramah dan hafalan.

    • Keterbatasan media dan sumber belajar yang kontekstual.

  2. Prospek (Kurikulum Merdeka):

    • Mendorong pembelajaran berbasis proyek dan kontekstual.

    • Meningkatkan peran IPS dalam Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) untuk isu-isu sosial.


BAB III: PENUTUP

A. Kesimpulan

  • IPS adalah bidang studi yang esensial dalam menyiapkan siswa menjadi warga negara yang cerdas dan bertanggung jawab.

  • Esensi IPS terletak pada integrasi berbagai ilmu sosial untuk menjelaskan fenomena sosial-budaya.

B. Saran

  • Diperlukan inovasi dalam metode pengajaran IPS, seperti studi kasus, proyek, dan pemanfaatan teknologi.

  • Peningkatan kompetensi guru untuk mengajarkan materi IPS secara holistik dan terpadu.

Makalah Bahasa Aceh

 

BAB I: PENDAHULUAN

  • A. Latar Belakang Masalah

    • Pentingnya bahasa daerah sebagai identitas budaya dan aset nasional.

    • Kedudukan Bahasa Aceh sebagai bahasa ibu bagi mayoritas masyarakat Aceh.

    • Keunikan Bahasa Aceh (sebagai bagian dari rumpun bahasa Austronesia) dan penyebarannya di wilayah pesisir Aceh.

    • Tantangan yang dihadapi Bahasa Aceh di era modern (pengaruh Bahasa Indonesia, penurunan penggunaan oleh Generasi Z/muda, dan bilingualisme).

  • B. Rumusan Masalah

    • Bagaimana kedudukan dan fungsi Bahasa Aceh dalam masyarakat?

    • Apa saja ciri-ciri fonologi dan morfologi utama Bahasa Aceh?

    • Bagaimana variasi dialektis yang terdapat dalam Bahasa Aceh?

    • Apa saja faktor yang memengaruhi perubahan dan eksistensi Bahasa Aceh saat ini?

  • C. Tujuan Penulisan

    • Mendeskripsikan kedudukan dan fungsi Bahasa Aceh.

    • Menguraikan struktur dasar Bahasa Aceh (fonologi dan morfologi).

    • Mengidentifikasi ragam dan dialek Bahasa Aceh.

    • Menganalisis isu-isu seputar eksistensi dan pelestarian Bahasa Aceh.

BAB II: KAJIAN LINGUISTIK DAN SOSIOLINGUISTIK BAHASA ACEH

  • A. Kedudukan dan Fungsi Bahasa Aceh

    • Bahasa Ibu (Bahasa Pertama): Alat komunikasi utama dalam keluarga dan lingkungan lokal.

    • Bahasa Budaya: Sebagai penopang dan pengembang adat serta sastra (contoh: hikayat).

    • Fungsi Pemersatu: Alat komunikasi di antara etnis Aceh di berbagai wilayah.

  • B. Struktur Dasar Bahasa Aceh

    • 1. Fonologi (Sistem Bunyi)

      • Jumlah vokal yang banyak dan kompleks (vokal oral dan vokal nasal). Misalnya, terdapat 10 vokal oral dan 7 vokal nasal.

      • Adanya vokal rangkap (diftong).

    • 2. Morfologi (Struktur Kata)

      • Penggunaan afiksasi yang kaya (awalan/prefiks, sisipan/infiks, akhiran/sufiks).

      • Adanya awalan dan akhiran yang berfungsi sebagai kata ganti orang (pronomina).

    • 3. Sintaksis (Struktur Kalimat)

      • Anda bisa menambahkan ciri khas sintaksis Bahasa Aceh jika ada data pendukung, misalnya susunan kalimat atau penggunaan partikel tertentu.

  • C. Ragam dan Dialek Bahasa Aceh

    • Ragam Geografis: Penyebaran dialek (seperti dialek Banda, Pidie, Pase, dan Meulaboh).

    • Ciri Khas Dialek tertentu (contoh: perbedaan pelafalan vokal atau konsonan antara dialek Pidie dan Aceh Besar).

  • D. Isu Eksistensi dan Perubahan Bahasa Aceh

    • Bilingualisme: Masyarakat Aceh mayoritas bilingual (Aceh-Indonesia).

    • Perubahan Leksikal: Adanya pengaruh dan serapan kosakata dari Bahasa Indonesia.

    • Generasi Z dan Penggunaan Bahasa: Kecenderungan penggunaan Bahasa Indonesia yang lebih dominan di kalangan muda perkotaan.

    • Upaya Pelestarian: Peran kurikulum muatan lokal dan pembudayaan di lingkungan keluarga/sekolah.

BAB III: PENUTUP

  • A. Kesimpulan

    • Merangkum kekayaan struktural Bahasa Aceh dan perannya sebagai identitas budaya.

    • Menyimpulkan tantangan eksistensi Bahasa Aceh di tengah dinamika sosial.

  • B. Saran

    • Perlunya peran aktif keluarga dan institusi pendidikan dalam menjaga Bahasa Aceh.

    • Pentingnya penelitian linguistik dan sosiolinguistik yang berkelanjutan.

Makalah Pengantar Ilmu Bahasa

 

BAB I: PENDAHULUAN

  • A. Latar Belakang Masalah

    • Pentingnya bahasa dalam kehidupan manusia (sebagai alat komunikasi utama).

    • Perlunya studi ilmiah tentang bahasa (disebut Linguistik).

    • Ruang lingkup Linguistik sebagai ilmu.

  • B. Rumusan Masalah

    • Apa pengertian bahasa dan linguistik?

    • Apa saja ciri-ciri atau sifat hakiki bahasa?

    • Apa saja cabang-cabang utama ilmu bahasa (linguistik)?

    • Bagaimana kedudukan dan fungsi bahasa?

  • C. Tujuan Penulisan

    • Menjelaskan konsep dasar bahasa dan linguistik.

    • Menguraikan sifat-sifat bahasa.

    • Mengidentifikasi subdisiplin/cabang ilmu bahasa.

BAB II: KAJIAN PUSTAKA / PEMBAHASAN

  • A. Pengertian Bahasa dan Linguistik

    • Definisi bahasa (sistem lambang bunyi arbitrer yang digunakan untuk komunikasi).

    • Definisi Linguistik (ilmu yang mengkaji bahasa secara ilmiah).

  • B. Ciri-Ciri/Sifat Hakiki Bahasa

    • Bahasa adalah sistem (memiliki keteraturan).

    • Bahasa adalah lambang (mewakili sesuatu).

    • Bahasa adalah bunyi (ujaran/lisan adalah yang utama).

    • Bahasa bersifat arbitrer (tidak ada hubungan wajib antara lambang dan maknanya).

    • Bahasa bersifat produktif, unik, dinamis, dll.

  • C. Bidang-Bidang Kajian Linguistik (Cabang Ilmu Bahasa)

    • Mikrolinguistik (mengkaji struktur internal bahasa):

      • Fonologi (bunyi bahasa, mencakup Fonetik dan Fonemik).

      • Morfologi (struktur kata dan pembentukannya).

      • Sintaksis (struktur frasa, klausa, dan kalimat).

      • Semantik (makna bahasa).

    • Makrolinguistik (mengkaji bahasa dalam hubungannya dengan faktor luar):

      • Sosiolinguistik (hubungan bahasa dan masyarakat).

      • Psikolinguistik (hubungan bahasa dan mental/psikologi).

      • Antropolinguistik (hubungan bahasa dan budaya).

      • Penerjemahan, Filsafat Bahasa, dsb.

  • D. Fungsi dan Kedudukan Bahasa

    • Fungsi utama: Komunikasi, ekspresi diri.

    • Fungsi lain: Integrasi, kontrol sosial, dll.

    • Contoh: Kedudukan Bahasa Indonesia (sebagai bahasa nasional, bahasa negara, dsb.).

BAB III: PENUTUP

  • A. Kesimpulan

    • Merangkum jawaban atas rumusan masalah.

    • Menegaskan kembali pentingnya ilmu bahasa.

  • B. Saran

    • Saran untuk studi bahasa lebih lanjut atau penerapan ilmu bahasa dalam kehidupan sehari-hari.

MAKALAH PENGANTAR ILMU BIOLOGI Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Ilmu Biologi

 

BAB I

PENDAHULUAN**

1.1 Latar Belakang

Biologi merupakan ilmu yang mempelajari kehidupan dan makhluk hidup, termasuk struktur, fungsi, pertumbuhan, persebaran, evolusi, dan taksonominya. Peran biologi sangat penting dalam kehidupan manusia karena segala aspek kehidupan berhubungan erat dengan proses biologis, mulai dari kesehatan, lingkungan, pertanian, hingga teknologi modern.
Pemahaman dasar tentang biologi menjadi pondasi untuk mengembangkan ilmu-ilmu terapan lain seperti bioteknologi, kedokteran, dan ekologi yang berkontribusi besar bagi kesejahteraan manusia.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian ilmu biologi?

  2. Apa ruang lingkup biologi?

  3. Bagaimana peran biologi dalam kehidupan manusia?

  4. Bagaimana perkembangan biologi di era modern?

1.3 Tujuan Penulisan

  1. Mengetahui pengertian dan ruang lingkup biologi.

  2. Memahami cabang-cabang ilmu biologi.

  3. Menjelaskan manfaat dan penerapan biologi dalam kehidupan sehari-hari.

  4. Mengetahui perkembangan ilmu biologi di masa kini.


**BAB II

PEMBAHASAN**

2.1 Pengertian Ilmu Biologi

Kata biologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu bios (kehidupan) dan logos (ilmu). Jadi, biologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kehidupan. Biologi mencakup berbagai aspek kehidupan mulai dari tingkat molekul, sel, jaringan, organ, organisme, hingga ekosistem.

2.2 Ruang Lingkup Biologi

Ruang lingkup biologi sangat luas dan meliputi:

  • Molekul dan Sel: Struktur, fungsi, dan interaksi komponen seluler.

  • Organisme: Pertumbuhan, reproduksi, dan metabolisme.

  • Populasi dan Komunitas: Hubungan antarindividu dalam satu spesies maupun antarspesies.

  • Ekosistem: Hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungan fisik.

  • Evolusi: Perubahan makhluk hidup dari waktu ke waktu.

2.3 Cabang-Cabang Ilmu Biologi

Beberapa cabang biologi antara lain:

  • Anatomi: Mempelajari struktur tubuh makhluk hidup.

  • Fisiologi: Mempelajari fungsi organ tubuh.

  • Genetika: Mempelajari pewarisan sifat.

  • Ekologi: Mempelajari hubungan antara makhluk hidup dan lingkungannya.

  • Mikrobiologi: Mempelajari mikroorganisme.

  • Zoologi dan Botani: Mempelajari hewan dan tumbuhan.

  • Bioteknologi: Menerapkan prinsip biologi untuk menghasilkan produk yang bermanfaat.

2.4 Manfaat Biologi dalam Kehidupan

Biologi memiliki manfaat luas, antara lain:

  • Bidang Kesehatan: Penemuan vaksin, obat, dan terapi gen.

  • Bidang Pertanian: Rekayasa genetik untuk meningkatkan hasil panen.

  • Bidang Lingkungan: Pelestarian keanekaragaman hayati dan pengelolaan limbah.

  • Bidang Industri: Pemanfaatan mikroorganisme dalam produksi makanan dan energi.

2.5 Perkembangan Biologi di Era Modern

Perkembangan teknologi membawa biologi ke arah yang lebih maju, seperti:

  • Bioteknologi Modern: Pembuatan tanaman transgenik, kloning, dan DNA rekombinan.

  • Bioinformatika: Penggunaan komputer untuk menganalisis data biologis.

  • Genomika: Pemahaman tentang seluruh gen dalam suatu organisme.

  • Kedokteran Modern: Terapi gen, vaksin mRNA, dan rekayasa jaringan.


**BAB III

PENUTUP**

3.1 Kesimpulan

Biologi merupakan ilmu yang mempelajari kehidupan dalam segala bentuk dan tingkatannya. Ilmu ini berperan penting dalam memahami diri manusia, lingkungan, dan makhluk hidup lain. Melalui perkembangan bioteknologi dan sains modern, biologi memberikan kontribusi besar bagi kemajuan peradaban manusia di berbagai bidang.

3.2 Saran

Mahasiswa diharapkan dapat mempelajari biologi tidak hanya secara teoretis tetapi juga menerapkan ilmunya untuk menjaga kelestarian alam dan meningkatkan kualitas hidup manusia.


DAFTAR PUSTAKA

  1. Campbell, N. A., & Reece, J. B. (2019). Biology. Pearson Education.

  2. Nugroho, A. (2020). Pengantar Ilmu Biologi. Yogyakarta: Deepublish.

  3. Sudarsono, R. (2021). Dasar-Dasar Biologi. Jakarta: Erlangga.

Kamis, 16 Oktober 2025

MAKALAH THE STUDY OF ADMINISTRATION – WOODROW WILSON (1887) Analisis dan Relevansinya terhadap Administrasi Negara Modern

 

BAB I – PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Karya “The Study of Administration” yang ditulis oleh Woodrow Wilson pada tahun 1887 merupakan tonggak awal kelahiran ilmu administrasi publik sebagai disiplin ilmiah yang terpisah dari ilmu politik.
Sebelum Wilson menulis esai tersebut, administrasi dipandang hanya sebagai bagian dari politik atau kegiatan pemerintahan praktis. Melalui tulisannya, Wilson menegaskan pentingnya mempelajari administrasi sebagai bidang ilmiah yang memiliki teori, prinsip, dan metode tersendiri.

Gagasan Wilson lahir di masa di mana birokrasi Amerika Serikat menghadapi berbagai masalah seperti korupsi, ketidakefisienan, dan politisasi jabatan publik. Maka dari itu, Wilson berupaya memisahkan antara politik (policy making) dan administrasi (policy implementation) sebagai dua bidang yang berbeda namun saling berkaitan.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Apa isi pokok dari karya The Study of Administration?

  2. Bagaimana pemikiran Woodrow Wilson membedakan antara politik dan administrasi?

  3. Bagaimana relevansi pemikiran Wilson terhadap sistem administrasi modern?

1.3 Tujuan Penulisan

  1. Menjelaskan isi dan gagasan utama dalam The Study of Administration.

  2. Menganalisis hubungan antara politik dan administrasi menurut Wilson.

  3. Menguraikan relevansi pemikiran Wilson terhadap praktik administrasi masa kini.


BAB II – PEMBAHASAN

2.1 Sekilas Tentang Woodrow Wilson

Woodrow Wilson (1856–1924) adalah seorang ilmuwan politik dan Presiden Amerika Serikat ke-28. Sebelum menjadi presiden, ia dikenal sebagai akademisi di bidang pemerintahan dan politik publik.
Karya “The Study of Administration” diterbitkan dalam jurnal Political Science Quarterly tahun 1887 dan dianggap sebagai tonggak lahirnya Ilmu Administrasi Publik (Public Administration).

2.2 Isi Pokok The Study of Administration

Pokok pikiran utama dalam tulisan Wilson adalah bahwa administrasi publik harus dipelajari secara ilmiah, terpisah dari politik, agar pemerintahan dapat berjalan efisien, rasional, dan profesional.
Wilson mengemukakan beberapa gagasan penting, yaitu:

  1. Administrasi sebagai ilmu tersendiri – Wilson menyatakan bahwa administrasi harus dipelajari secara sistematis untuk mencari prinsip-prinsip umum yang dapat diterapkan dalam berbagai sistem pemerintahan.

  2. Pemisahan politik dan administrasi (Politics-Administration Dichotomy) – Menurutnya, politik berkaitan dengan penentuan kebijakan (policy making), sedangkan administrasi bertugas melaksanakan kebijakan tersebut secara efisien dan bebas dari pengaruh politik.

  3. Efisiensi dan netralitas – Wilson menekankan pentingnya efisiensi, disiplin, dan profesionalisme dalam birokrasi. Pegawai negeri harus bekerja berdasarkan kemampuan, bukan kedekatan politik.

  4. Adaptasi terhadap masyarakat modern – Administrasi negara harus menyesuaikan diri dengan perkembangan masyarakat yang semakin kompleks dan demokratis.

2.3 Pemisahan Politik dan Administrasi

Konsep ini menjadi inti dari teori Wilson. Ia percaya bahwa keberhasilan pemerintahan modern tergantung pada kemampuan untuk memisahkan ranah politik (kepemimpinan dan kebijakan) dengan ranah administrasi (pelaksanaan dan efisiensi kerja).
Namun, pemisahan ini tidak berarti keduanya benar-benar terpisah — melainkan bahwa masing-masing memiliki fungsi dan tanggung jawab yang berbeda.
Wilson ingin agar pegawai administrasi tidak ikut bermain dalam politik, tetapi tetap menjalankan kebijakan politik secara efektif dan profesional.

2.4 Kritik terhadap Pemikiran Wilson

Meskipun pemikiran Wilson dianggap revolusioner, beberapa tokoh kemudian mengkritiknya:

  • Dwight Waldo (1948) menilai bahwa administrasi tidak mungkin sepenuhnya bebas nilai; dalam praktiknya, keputusan administratif selalu memiliki dimensi politik dan moral.

  • Herbert Simon (1947) berpendapat bahwa keputusan administratif selalu melibatkan pertimbangan rasional dan nilai subjektif, sehingga sulit dipisahkan secara mutlak dari politik.

Meskipun begitu, ide Wilson tetap menjadi dasar penting bagi pengembangan ilmu administrasi publik modern.

2.5 Relevansi Pemikiran Woodrow Wilson di Era Modern

Pemikiran Wilson masih sangat relevan hingga saat ini, terutama dalam konteks birokrasi yang menuntut:

  1. Profesionalisme dan merit system dalam rekrutmen aparatur negara.

  2. Peningkatan efisiensi dan transparansi di lembaga pemerintahan.

  3. Pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung tata kelola yang efektif (e-government).

  4. Netralitas ASN dari kepentingan politik praktis.

Meskipun dunia modern lebih menekankan governance yang kolaboratif, gagasan dasar Wilson tentang efisiensi dan integritas birokrasi tetap menjadi fondasi bagi pembangunan administrasi yang baik (good governance).


BAB III – PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Karya “The Study of Administration” karya Woodrow Wilson menandai kelahiran ilmu administrasi publik sebagai bidang ilmiah yang berdiri sendiri. Wilson menekankan pentingnya efisiensi, profesionalisme, dan pemisahan antara politik dan administrasi agar pemerintahan dapat berjalan efektif dan bebas dari kepentingan pribadi.
Walaupun teori Wilson mendapat kritik karena dianggap terlalu menekankan netralitas nilai, gagasannya tetap menjadi pondasi utama dalam membangun sistem administrasi modern yang rasional, transparan, dan akuntabel.

3.2 Saran

Mahasiswa dan praktisi administrasi perlu memahami bahwa administrasi bukan hanya masalah teknis, tetapi juga menyangkut etika dan tanggung jawab moral. Semangat efisiensi ala Wilson hendaknya diimbangi dengan nilai-nilai keadilan, demokrasi, dan kemanusiaan.


DAFTAR PUSTAKA

  • Wilson, Woodrow. (1887). The Study of Administration. Political Science Quarterly, Vol. 2, No. 2.

  • Waldo, Dwight. (1948). The Administrative State: A Study of the Political Theory of American Public Administration. New York: Holmes & Meier.

  • Siagian, S.P. (2008). Filsafat Administrasi. Jakarta: Gunung Agung.

  • Simon, Herbert A. (1947). Administrative Behavior. New York: Free Press.

  • Thoha, Miftah. (2012). Ilmu Administrasi Publik Kontemporer. Yogyakarta: Kencana.

MAKALAH PENGANTAR ILMU FILSAFAT ADMINISTRASI “Hakikat, Tujuan, dan Relevansi Filsafat Administrasi dalam Kehidupan Modern”

 

BAB I – PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ilmu administrasi tidak hanya berkaitan dengan tata kelola organisasi secara teknis, tetapi juga memiliki dimensi filosofis yang mendalam. Filsafat administrasi membahas dasar-dasar pemikiran, nilai, dan tujuan yang melandasi proses administrasi dalam kehidupan manusia.
Filsafat administrasi berperan penting dalam menjawab pertanyaan tentang “mengapa” dan “untuk apa” administrasi dilakukan, bukan sekadar “bagaimana” administrasi berjalan. Di era modern yang penuh tantangan, seperti globalisasi, digitalisasi, dan birokrasi kompleks, pemahaman filsafat administrasi menjadi semakin penting agar setiap tindakan administrasi memiliki arah moral dan nilai kemanusiaan yang kuat.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian filsafat administrasi?

  2. Apa tujuan dan fungsi filsafat administrasi dalam pengembangan ilmu administrasi?

  3. Bagaimana relevansi filsafat administrasi di era modern saat ini?

1.3 Tujuan Penulisan

  1. Menjelaskan hakikat filsafat administrasi.

  2. Menguraikan fungsi dan manfaat filsafat administrasi bagi pengembangan organisasi dan masyarakat.

  3. Menganalisis tantangan dan relevansi filsafat administrasi di masa kini.


BAB II – PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Filsafat Administrasi

Filsafat administrasi merupakan cabang dari filsafat ilmu yang mengkaji dasar-dasar pemikiran, prinsip, dan nilai-nilai yang mendasari praktik administrasi.
Menurut Dwight Waldo (1948) dalam karyanya The Administrative State, administrasi publik tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai moral dan politik, karena pada hakikatnya administrasi merupakan aktivitas manusia yang bertujuan untuk melayani masyarakat.
Dengan demikian, filsafat administrasi bukan hanya mempelajari cara bekerja, tetapi juga menelaah makna dan tujuan dari kegiatan administrasi itu sendiri.

2.2 Hakikat Filsafat Administrasi

Hakikat filsafat administrasi adalah mencari pemahaman mendalam tentang prinsip dasar administrasi—mengapa sistem tertentu diterapkan, apa nilai yang mendasarinya, serta bagaimana keputusan administratif mempengaruhi kehidupan manusia.
Filsafat administrasi berusaha menjawab tiga pertanyaan utama:

  1. Ontologis – Apa hakikat administrasi itu sendiri?

  2. Epistemologis – Bagaimana cara kita mengetahui dan memahami administrasi?

  3. Aksiologis – Untuk apa administrasi dilakukan, dan nilai apa yang dikandungnya?

2.3 Tujuan dan Fungsi Filsafat Administrasi

Tujuan utama filsafat administrasi adalah memberikan dasar berpikir kritis dan etis bagi pelaku administrasi agar tidak hanya fokus pada efisiensi, tetapi juga pada keadilan dan kesejahteraan publik.
Fungsi filsafat administrasi antara lain:

  • Sebagai landasan etis, untuk memastikan keputusan administrasi sesuai nilai moral dan kemanusiaan.

  • Sebagai pedoman berpikir kritis, agar kebijakan administratif tidak hanya bersifat teknokratis.

  • Sebagai alat refleksi, untuk mengevaluasi apakah praktik administrasi sudah sesuai dengan tujuan kemasyarakatan dan keadilan sosial.

2.4 Tokoh dan Pandangan dalam Filsafat Administrasi

Beberapa tokoh penting yang berkontribusi terhadap pemikiran filsafat administrasi antara lain:

  1. Dwight Waldo – menekankan bahwa administrasi publik tidak netral nilai; harus berlandaskan moral dan demokrasi.

  2. Woodrow Wilson – melihat administrasi sebagai instrumen pelaksana kebijakan publik, dengan efisiensi sebagai orientasi utama.

  3. Frederick Taylor – melalui teori Scientific Management, menekankan efisiensi dan produktivitas dalam organisasi, meskipun sering dikritik karena kurang memperhatikan aspek kemanusiaan.

  4. Herbert Simon – memandang administrasi sebagai proses pengambilan keputusan yang rasional.

Dari berbagai pandangan tersebut, terlihat bahwa filsafat administrasi berfungsi sebagai refleksi untuk menyeimbangkan antara efisiensi rasional dan nilai-nilai kemanusiaan.

2.5 Relevansi Filsafat Administrasi di Era Modern

Di era digital saat ini, administrasi mengalami perubahan besar melalui otomatisasi, kecerdasan buatan, dan sistem informasi. Namun, tanpa dasar filosofis yang kuat, administrasi dapat kehilangan arah moralnya.
Filsafat administrasi memberikan panduan agar kemajuan teknologi tetap berpihak pada kemanusiaan dan keadilan sosial.
Nilai-nilai seperti transparansi, akuntabilitas, keadilan, dan etika publik menjadi bagian penting dalam praktik administrasi modern.


BAB III – PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Filsafat administrasi merupakan cabang filsafat yang mempelajari dasar-dasar pemikiran, nilai, dan tujuan dari aktivitas administrasi. Melalui pendekatan ontologis, epistemologis, dan aksiologis, filsafat administrasi membantu memahami bahwa administrasi bukan hanya sekadar kegiatan teknis, tetapi juga moral dan sosial.
Dalam konteks modern, filsafat administrasi tetap relevan sebagai panduan agar sistem administrasi berjalan tidak hanya efisien, tetapi juga adil dan manusiawi.

3.2 Saran

Mahasiswa dan praktisi administrasi hendaknya memahami dan menginternalisasi nilai-nilai filsafat administrasi dalam praktik sehari-hari, agar mampu menjalankan tugas dengan integritas, moralitas, dan tanggung jawab sosial yang tinggi.


DAFTAR PUSTAKA

  • Waldo, Dwight. (1948). The Administrative State: A Study of the Political Theory of American Public Administration. New York: Holmes & Meier.

  • Simon, Herbert A. (1947). Administrative Behavior. New York: Free Press.

  • Siagian, Sondang P. (2011). Filsafat Administrasi. Jakarta: Gunung Agung.

  • Wilson, Woodrow. (1887). The Study of Administration. Political Science Quarterly.

  • Moekijat. (2008). Pengantar Administrasi. Bandung: Mandar Maju.