Senin, 06 Juli 2026

PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER BAGI SISWA SEKOLAH DASAR MELALUI KEARIFAN LOKAL

 

Seiring kemajuan zaman dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang pesat, mendorong manusia untuk selalu berkembang pada berbagai sector atau bidang, tidak terkecuali sektor pendidikan. Siswa dari TK sampai dengan perguruan tinggi semakin akrab dengan           perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi utnuk menunjang proses belajar. Siswa dengan mudah menemukan informasi- informasi melalui internet, baik informasi dalam maupun luar negeri. Kecepatan informasi dan konten informasi yang didapatkan siswa tentu akan berpengaruh pada kehidupan sehari- hari siswa. Salah satu contoh, tidak sedikit siswa Sekolah Dasar yang sudah hafal dengan nama boyband atau girlband Korea yang disukainya, bahkan bisa menyanyi dan menari menirukan gaya idolanya tersebut. Selain itu, cara berpakaian yang cenderung terbuka, meniru gaya kebarat- baratan juga marak diikuti oleh anak- anak dan remaja karena menganggap gaya tersebut lebih

modern.


Di satu sisi, dampak adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut memunculkan sikap- sikap yang kurang sesuai dalam kehidupan bermasyarakat. Misal, siswa yang terlalu sering bermain gadget dikhawatiran akan memiliki sikap individualisme yang tinggi, dan kurang bersosisialisasi dengan teman dan lingkungan. Siswa akan melupakan permainan- permaianan tradisional khas bangsa Indonesia dan cenderung memilih gadget dengan berbagai kecanggihan yang ditawarkan. Saptadi dalam Mubah (2011) tentang problematika budaya lokal di era globalisasi mengemukakan bahwa Sekarang, dunia mengalami Revolusi 4T (Technology, Telecomunication, Transportation, Tourism) yang memiliki globalizing force dominan sehingga batas antarwilayah semakin kabur dan berujung pada terciptanya global village seperti yang pernah diprediksikan McLuhan.

Dalam hal ini, pendidikan sebagai  salah  satu  bidang   kehidupan

manusia, memiliki peran penting dalam


 

 


menciptakan generasi manusia yang cerdas, bijaksana, dan berkarakter. Hal ini sejalan dengan pengertian pendidikan sesuai Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 1, yaitu penddikan merupakan  usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan karakter sejalan dengan pemikirian untuk menciptakan pendidikan akhlak.

Apabila masuknya budaya asing tanpa filter dilakukan secara terus menerus, tidak menutup kemungkinan budaya bangsa Indoensia akan punah. Towaf (2014) menambahkan bahwa Guncangan globalisasi telah menimbulkan berbagai macam krisis


yang merusak citra dan rasa percaya diri bangsa. Dari segi sosial, jika siswa sejak dini sudah terbiasa tidak peduli dengan           lingkungan            sekitar, dikhawatirkan akan berimbas pada kehidupannya hingga dewasa.

Padahal            manusia adalah makhluk sosial, yang hidup berdampingan baik dengan sesama manusia, dengan alam sekitar dan berinteraksi dengan hewan- hewan di sekitar. Kegiatan konservatif terhadap kekayaan alam dan budaya setempat atau yang lazim disebut kearifan lokal perlu ditanamkan kepada anak sejak usia Sekolah Dasar. Guru dapat memberikan penguatan pendididkan karakter melalui materi yang bersumber dari aktivitas masyarakat, produk budaya, dan potensi- potensi lain di lingkungan sekitar siswa. Berikut ini akan dibahas tentang penguatan pendidikan karakter bagi siswa Sekolah dasar melalui Kearifan Lokal.


 

A.    Pembahasan

 

 


Pendidikan Karakter

Pengertian     Karakter     menurut Pusat Bahasa Depdiknas                   adalah


bawaan, hati, jiwa, dan kepribadian, budi   pekerti,   perilaku,   personalitas ,

sifat,     tabiat,     temperamen,     watak.


 

 


Adapun           berkarakter           adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak. Lickona dalam Akbar (2015) menjelaskan tentang definisi karakter yang baik (good character) sebagai menjalani kehidupan dengan kebenaran. Kebenaran itu berhubungan dengan sikap terhadap diri sendiri dan orang lain. Amri (2015) disebutkan bahwa orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut berkarakter mulia. Sejalan dengan pendapat Akbar, Sofan amri juga sependapat bahwa manusia yang berkarakter baik adalah manusia yang berusaha untuk melakukan hal- hal terbaik bagi Tuhan, dirinya, sesama lingkungan, bangsa dan negara serta dunia pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya disertai kesadaran emosi dan motivasinya.

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai- nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai- nilai tersebut. Manullang (2013) mengemukakan bahwa pendidikan karakter  terdiri  atas

pengembangan sikap positif, pola  pikir


esensial, komiten normatif, dan komponen abilitas yang berlandaskan IESQ. Adapun pendapat Yunus (2013) pembangunan karakter bangsa merupakan hal yang sangat penting karena berhubungan dengan proses membina, memperbaiki, mewarisi warga negara tentang konsep perilaku dan nilai luhur budaya Indonesia yang dijiwai oleh Pancasila dan Undang- Undang 1945. Oleh karena itu, hakikat pendidikan karakterdalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri dalam rangka membina kepribadian generasi penerus bangsa.

Pendidikan karakter bertujuan untuk            meningkatkan  mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia pada siswa secara utuh, terpadu dan seimbang yang disesuaikan dengan standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan siswa mampu secara mandiri                meningkatkan              dan menggunakan                            pengetahuannya,

mengkaji   dan   mengaplikasikan nilai-


 

 


nilai karakter dan akhlak mulia dalam perilaku sehari- hari.

Selain itu, berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat, diperoleh               hasil                 bahwa      kesuksesan seseorang                       tidak                                        ditentukan                 semata- mata       oleh       faktor             pengetahuandan kemampuan teknis (hard skill) , tetapi lebih               oleh        faktor          kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan kesuksesan adalah 20% hardskill dan 80%               soft                  skill.                                       Hal       ini   didukung pendapat Hyoscyamina (2011) bahwa kecerdasan otak barulah merupakan syarat               minimal   untuk      meraih keberhasilan, kecerdasan emosi yang sesungguhnya mengantarkan seseorang menuju puncak prestasi, bukan IQ. Hal ini  mengisyaratkan                                               mutu                bahwa pendidikan    karakter                            penting                                                untuk dikembangkan,      baik      pada      jalur pendidikan formal maupun non formal. Adapun                           beberapa       pendapat mengemukakan               tentang nilai- nilai pada pendidikatan karakter. Aeni (2014) menjelaskan 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter yang telah dirumuskan oleh Depdiknas yaitu, Religius,    Jujur,    Toleransi,  Disiplin,

Kerja      Keras,      Kreatif,      Mandiri,


Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta tanah air, Menghargai         prestasi, Bersahabat/komunikatif, Cinta Damai, Gemar membaca, Peduli lingkungan, Peduli social, Tanggung jawab. Adapun nilai- nilai karakter dikaitkan dengan kearifan lokal, seperti pendapat Asriati (2012) nilai- nilai luhur terkait kearifan lokal yaitu 1) cinta kepada Allah dan alam semesta beserta  isinya,

2) tanggung jawab, disiplin, dan mandiri, 3) jujur, 4) hormat dan santun,

5) kasih sayang dan peduli, 6) percaya diri kreatif, pantang menyerah, 7)keadilan dan kepemimpinan, 8) baik dan rendah hati, 9) toleransi dan cinta damai.

Sekolah sebagai lembaga formal penyelenggara pendidikan, memiliki tuga suntuk menanamkan pendidikan karakter bagi generasi penerus bangsa. Hidayat (2012) menjelaskan bahwa keberhasilan dalam  proses pembentukan karakter lulusan suatu satuan pendidikan, akan ditentukan bukan oleh kekuatan proses pembelajaran, tetapi akan ditentukan oleh kekuatan manajemennya, yang mengandung   pengertian   bahwa mutu

karakter             lulusan             memiliki


 

 


ketergantungan kuat terhadap kualitas manajemen sekolahnya. Hal ini disebabkan karena proses pembentukan karakter harus terintegrasi kedalam berbagai bentuk kegiatan sekolah.

 

Kearifan Lokal

Kearifan lokal adalah segala bentuk kebijaksanaan yang didasari oleh nilai–nilai kebaikan yang dipercaya, diterapkan dan senantiasa dijaga keberlangsungannya dalam kurun waktu yang cukup lama (secara turun-temurun) oleh sekelompok orang dalam lingkungan atau wilayah tertentu yang menjadi tempat tinggal mereka. Kearifan lokal memiliki hubungan yang erat dengan kebudayaan tradisional pada suatu tempat, dalam kearifan lokal tersebut banyak mengandung suatu pandangan maupun aturan agar masyarakat lebih memiliki pijakan dalam menentukan suatu tindakan seperti perilaku masyarakat sehari-hari. Pada umumnya etika dan nilai moral yang terkandung dalam kearifan lokal diajarkan turun-temurun, diwariskan dari generasi ke generasi melalui sastra lisam dan manuskrip. Kearifan  lokal   yang  diajarkan  turun-

temurun          tersebut          merupakan


kebudayaan yang patut dijaga, masing- masing wilayah memiliki kebudayaan sebagai ciri khasnya dan terdapat kearifan lokal yang terkandung di dalamnya.

Indonesia adalah negara besar yang berpenduduk lebih dari 220 juta jiwa dengan wilayah yang terdiri

13.000 pulau. Kebihnekaan yang terdiri dari 300 suku bangsa, dengan 200 bahasa          yang    berbeda. Indonesiamemang bisa dikatakan luas dan kaya, memiliki tanah yang subur dengan berbagai jenis kekayaan flora didalamnya. Belum lagi hutan dan kekayaaan bahari yang membentang luas dari Sabang sampai Merauke. Namun hal terpenting dari kekayaan , kedaulatan dan kebhinekaan bangsa Indonesia tersebut adalah pendidikan, karena pendidikan mengambil peran penting dalam membangun kehidupan berbangsa ini.

Seluruh kebudayaan lokal yang berasal dari suku- suku di Indonesia merupakan bagian integral dari kebudayaan Indonesia. Simbolisasi tersebut dapat digampabarkan melalui lagu daerah, kerajinan tangan, tarian, rumah  adat,  dan  potensi   pariwiwsata

daerah. Kekayan budaya tersebut harus


 

 


dilestarikan sebagai jalan menjadi bangsa yang berkarakter. Masing- masing kekayaan budaya tersebut menunjukkan nilai yang luhur dari setiap masyarakat. Hal ini dikarenakan setiap kesenian dipengaruhi oleh kebudayaan masyarakat di sekitarnya dan menjadi media penyebaran atau pengenalan suatu daerah. Sejalan itu, Ichwal (2011) dalam buku Restorasi Pendidikan, menyebutkan bahwa pentingnya pendidikan budaya sama pentingnya seperti membangun karakter bangsa. Hal ini juga sejalan dengan pendapat Fajarini (2014) bahwa menggali dan melestarikan berbagai unsur kearifan lokal, tradisi dan pranata lokal, termasuk norma dan adat istiadat yang bermanfaat dan dapat berfungsi efektif dalam pendidikan karakter. Berikut beberapa kesenian budaya Indonesia yang terlahir dari suku bangsa di Indonesia, khususnya Jawa Timur.

Hasil karya seni budaya asli Indonesia adalah kesenian Reog yang mengandung nilai kepribadian bangsa. Di dalamnya memuat asas-asas kepribadian     bangsa yang berketuhaanan  Yang  Maha  Esa,  nilai

kemandirian,    dan    persatuan.    Pada


dasarnya masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur sebagai pewarisan budaya yang sangat tinggi dan kaya. Reog Ponorogo berperan sebagai alat hibur pada acara- acara perayaan Nasional, dan berbagai acara adat. Selain sebagai alat hibur, Reog Ponorogo pun memiliki simbolik yang bersifat mistik bagi orang- orang yang percaya untuk penolak bala atau penolak sial.

Hasil kebudayaan selanjutnya adalah Damar Kurung dari Kota Gresik Jawa Timur. Seni lampion Damar Kurung sebagai ikon Kota Gresik nampaknya       sangat  kental menggambarkan budaya masyarakat Gresik.

Damar Kurung adalah  pelita yang dikurung dalam bangun berbentuk persegi empat. semacam lampion. Gambar-gambar yang ada di setiap sisi Damar Kurung menceritakan tentang kegiatan sehari-hari masyarakat Gresik. Selain itu juga gambar pada Damar Kurung dijadikan sebagai media dakwah dengan menceritakan ritual keagamaan seperti pasar malam, Hari Raya Idhul Fitri, Hari Raya idhul Adha, kondisi  pasar  dan  ritual.  Kesenian ini

lahir  sejak  abad  16  yang  merupakan


 

 


akulturasi budaya dari hindu islam, yang oleh Sunan Prapen dijadikan sebagai media dakwah. Festival Damar Kurung biasanya diadakan pada bulan ramadhan, dan wisatawan Kota Gresik


dapat dengan mudah menemukan Damar Kurung karena kini Damar Kurung ini ada di sepanjang  jalur utama di Kota Gresik.


Gambar 1. Seni Lampion Damar Kurung


Panjaitan,           dkk           (2014) mnyebutkan bahwa nilai budaya juga tampak pada seni sastra, baik puisi atau prosa. Misalnya perumpaan yang ada  di Jawa di: “Rawe- rawe  rantas malang- malang putung”  dan semboyan yang maknanya sama sering dikumandangkan oleh Proklamator dan Presiden Republik Indonesia yang pertama yaitu Bung Karno: “holopis kuntul baris” . Kedua ungkapan itu mengandung nilai     budaya, kekesatriaan, keberanian, kesetiaan, semangat atau spirit berani. Ungkapan dari Ki Hajar Dewantara yang dijadikan  semboyan  dalam pendidikan

Indonesia juga mengandung nilai-  nilai


karakter yang tinggi. Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani yang memiliki nilai keteladanan dan nilai motivasi atau semangat.

 

Penguatan Pendidikan Karakter melalui Kearifan Lokal

Guru memiliki peran penting dakam mengembangkan pendidikan karakter karena guru merupakan agen pembaharu dan memiliki peran sentral dan pembelajaran. Guru harus berkomitmen untuk mengembangkan karakter siswa berdasarkan nilai- nilai karakter   serta   mampu mendefiniskan

dalam    bentuk    perilaku    yang dapat


 

 


diamati dalam kehidupan sekolah sehari- hari. Namun yang paling penting tentunya guru juga harus berkarakter yang baik, mengingat guru merupakan teladan bagi siswa. Arifah (2016) mengemukakan bahwa guru yang professional dan berkarakter adalah guru yang mampu menjalankan tugasnya secara baik dan menginternalisasikan nilai-  niliai positif kepada siswanya.

Berdasarkan hakikat dari Kurikulum 2013 bahwa unsur yang paling banyak diberikan pada siswa Sekolah Dasar adalah pada aspek afektif, karena pendidikan dasar merupakan fondasi bagi siswa untuk belajar secara utuh dalam rangka menyiapkan diri menuuju kehidupan bermasyarakat, baik lokal, nasional maupun global. Untuk itu guru perlu memiliki komitmen dan konsekuensi dalam mempersipakan siswa menghadapi berbagai tantangan kehidupan global. Hal ini sejalan dengan pernytaan Semiawan (2008) bahwa konsekuensi dalam penyiapan sumber daya manusia, harus bersifat realistik karena globalisasi menjadi tantangan yang terkait dengan daya

saing dan prakarsa.


Pengembangan                    materi pembelajaran di sekolah dasar, khususnya materi bermuatan IPS dapat dikembangkan dengan memanfaatkan kearifan lokal yang ada di masyarakat. Guru dapat merencanakan kegiatan atau tugas- tugas yang  diberikan kepada siswa , yang bersumber dari kearifan lokal masyarakat sekitar. Kegiatan yang bersumber dari kearifan lokal setempat dapat diaplikasikann dengan adanya kegiatan observasi disertai tugas tentang pelaporan hasil observasi. Selain itu, jika kegiatan observasi atau studi lapangan belum memungkinkan,           guru           dapat memberikan bacaan atau teks tentang kearifan lokal yang ditunjang dengan media gambar dan video, supaya siswa dapat memiliki deskrispi yang jelas tentang kearifan lokal setempat siswa.

Salah satu contoh kearifan lokal yang dapat diintegrasikan ke dalam materi pembelajaraan di Sekolah Dasar adalah tentang usaha penyulingan minyak daun cengkeh di daerah Watulimo Kabupaten Trenggalek Jawa Timur. Usaha penyulingan ini menjadi usaha melestariakn sumber daya alam berupa  daun  cengkeh  dan  dapat  juga

dijadikan  sebagai  ladang  usaha warga


 

 


setempat. Kegiatan penyulingan daun cengkeh ini dimula sejak tahun 2008, Desa Gemaharjo merupakan daerah penghasil      cengkeh       terbesar                                 di Kabupaten  Trenggaek.                                           Awal mula membangun usaha penyulingan minyak daun cengkeh ini adalah dari daun cengkeh yang berserakan ini hanya akan menjadi sampah yang menumpuk apabila                                    tidak                dimanfaatkan       dengan baik. Daun               cengkeh                                               yang                            sudah berjatuhan ini meskipun nantinya akan menjadi                        pupuk                                      bagi            tanah    sekitar, namun tetap saja jika tidak segera lapuk, akan menimpulkan penumpukan sampah daun cengkeh di sekitar kebun. Melihat                                               situasi                                      ini,                       warga mempunyai               keinginan                                                          untuk membersihkan sampah   daun cengkeh yang     sangat                                    banyak                                                             di               kebun. Kemudian mempunyai inisiatif untuk melakukan daur ulang daun cengkeh agar berkurang jumlah sampah daun cengkeh di kebun. Selain itu, jumlah air di desa ini cukup melimpah. Sehingga menunjang keinginan untuk melakukan penyulingan minyak daun cengkeh. Selanjutnya,                terbentuklah aktivitas penyulingan daun cengkeh. Minyak cengkeh                                       yang                   dihasilkan          dapat

dimanfaatkan untuk sebagaibahan baku


obat-obatan tertentu, bahan baku sabun, bahan baku parfum, sebagai obat anti nyamuk, dan lain-lain. Selain itu, minyak hasil penyulingan tersebut diekspor hingga ke eropa.

Ada beberapa hal penting yang dapat menjadi implikasi materi kearifan lokal terhahadap pembelajaran di Sekolah Dasar dalam kaitannya dengan pendidikan karakter. Pertama, dari segi sosial, penyulingan daun cengkeh membutuhkan banyak petani dalam proses pengumpulan bahan baku utama penyulingan. Karakter baik yang ditonjolkan dari kegiatan ini adalah kerja sama, guyub rukun, saling tolong menolong. Selain itu, hubungan jual beli yang dilakukan anatar petani dengan pembeli akan memunculkan karakter saling menghargai.

Kedua, dari segi ekonomi, kegiatan penyulingan ini mampu membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. Usaha ini tidak memerlukan keahlian khusus hanya membutuhkan ketelatenan, kerja keras dan ulet. Karakter-karakter ini perlu untuk dijelaskan ke siswa, dengan ditunjukkan          gambar            proses penyulingan    minyak    cengkeh  yang

dialukan  oleh  pekerja.  Jika  observasi


 

 


langsung, siswa lebih kontekstual dan dapat merasakan karakter ulet dan siap bekerja dalam hawa panas saat  kegiatan pembakaran.

Ketiga, dari segi lingkungan daun cengkeh yang berserakan di hutan, yang awalnya dianggap  sebagai sampah yang tidak berguna ternyata mampu diolah dengan baik dan tepat. Sehinggan dengan penyulingan ini pula, maka keadaan lingkungan menjadi lebih bersih. Selain itu, untuk meningkatkan kesuburan tanaman kebun yang lain dapat digunakan limbah abu pembakaran sisa penyulingan minyak daun cengkeh. Sehingga keadaan tanah menjadi subur, dan tanaman menjadi lebih cepat subur karena mendapat asupan nutrisi dari pupuk sisa penyulingan minyak daun cengkeh. Karakter peduli lingkungan dapat ditunjukkan dalam mengkaji kegiatan penyulingan minyak cengkeh ini.

Pembelajaran melalui observasi tersebut merupakan salah satu bentuk pembelajaran kontekstual. Suprijono (2009)                          berpendapat bahwa pembelajaran kontekstual memusatkan pada bagiamana siswa mengerti makna

dan     manfaat     dari     materi     yang


dipelajari. Hal ini diperkuat pendapat Syukri (2010) yang menyatakan bahwa pembelajaran dengan pendekatan kontekstual memiliki tujuan dan komponen yang sangat mendukung bagi terlaksananya nilai- nilai karakter bangsa. Dari segi pembelajaran, kegiatan belajar outdoor ini dapat menjadikan pembelajaran lebih bermakna dan berkesan.

Nilai- nilai yang terkandung dalam kearifan lokal tesebut, tidak hanya ditanamkan secara teori di dalam kelas. Secara rutin, guru dapat mengajarkan ke siswa secara langsung untuk mempraktekkan nilai- nilai luhur tersebut dalam kehidupan sehari- hari. Pembiasaan merupakan upaya yang dapat dilakukan dalam pendidikan karakter. Apabila pembiasaan dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan, maka akan nampak kultur. Hal ini sejalan dengan pendapat Mulyasa dalam Ramdhani (2014) menyatakan bahwa pendidikan karakter dilakukan melalui penciptaan lingkungan yang kondusif salah satunya melalui pembiasaan.

Pembiasaan yang dilakukan di sekolah  tentu  tidak  luput  dari adanya

contoh   atau   teladan.      Guru sebagai


 

 


panutan harus memeberikan contoh yang baik, sehingga siswa dapat meneladani sikap atau karakter baik dari guru. Hal ini mengingat siswa sekolah Dasar ada pada tahap perkembangan sosial yang suka meniru (imitasi) dari tokoh idola. Selain itu. Gunarsa (2004) menyebutkan bahwa perkembangan anak usia sekolah dasar (6-12 tahun) memerlukan pujian dan perhatian ketika siswa tersebut mampu memuncukan kebiasaan- kebiasaan baik dan keeterampilan baru. Sehingga penting bagi guru untuk selalu menanamkan pendidikan karakter, baik melaui kegiatan belajar di kelas dan di luar kelas (outdoor).

Selain itu, guru perlu mendapatkan dukungan dari berbagai pihak untuk mengembangkan pendidikan karakter, yaitu keluarga dan


masyarakat. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wening (2012) yang salah satu hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa faktor lingkungan memberikan pengaruh positif yang signifikan pada pembentukan karakter bila pendidikan nilai dari faktor-faktor tersebut diperoleh secara bersama-sama. Adapun                        Kurniawan           (2015) menjelaskan tentang pendidikan pembentukan karakter bangsa anak usia Sekolah Dasar melalui tri pusat pendidikan merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan, karena dalam pembentukan karakter, perlu adanya pembiasaan- pembiasaan yang dilakukan secara berulang dan konsisten mulai dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.


 

B.     Simpulan

 

 


Pendidikan karakter sebagai salah satu aspek terpenting dalam menciptakan sumber daya mansuia yang berkualitas. Guru harus menanamkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar, agar siswa memiliki

pondasi   yang   kuat   dalam kehidupan


bermasyarakat. Penguatan pendidikan karakter melalui kearifan lokal perlu dilakukan oleh guru agar siswa  semakin mengenali lingkungan stempat dan semakin cinta dengan budaya bangsanya sendiri.


 

 


Dalam pengembangan materi kearifan lokal diharapkan guru harus kreatif dalam memadukan antara kearifan lokal dengan materi di  Sekolah Dasar. Materi yang bersumber dari kearifan lokal setempat siswa  dapat menjadikan pembelajaran kontekstual dan bermakna. Sehingga


perlu upaya dan komitmen terus menerus untuk menerapkan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Sehingga pada akhirnya, pendidikan di Indonesia memiliki pancaran keunggulan lokal ditengah budaya global.


 

Daftar Pustaka

 

 


Aeni, Nur Ani. 2014. Pendidikan Karakter untuk Siswa SD dalam Perspektif Islam. Mimbar  Sekolah Dasar. Jurnal Mimbar Sekolah Dasar UPI Kampus Sumedang, 1 (1), 50-58.

Akbar, Sa’dun, dkk. 2015. Pendidikan Karakter Best Practice. Malang: Universitas Negeri Malang.

Amri, Sofan, dkk. 2011. Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran. Jakarta: PT Prestasi Pustakarya.

Arifah, Fita Nur. 2016. Menjadi Guru Teladan, Kreatif, Inspiratif, Motivatif, dan Profesional. Yogyakarta: Araska.

Asriati,               Nuraini.               2012.

Mengembangkan            Karakter Peserta Didik Berbasis Kearifan Lokal Melalui Pembelajaran di Sekolah. Jurnal Pendidikan Sosiologi dan Humaniora, 3 (2).

Fajarini, Ulfah. 2014. Peranan Kearifan Lokal dalam  Pendidikan Karakter. Jurnal Sosio Didaktika, 1 (2)

Gunarsa, Singgih. 2004. Psikologi Parktis: Anak, Remaja dan


Keluarga. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Hidayat, Asep Saepul. 2012. Manajemen Sekolah Berbasis Karakter. Jurnal Inovasi dan Kewirausahaan, 1 (1) 8-22.

Hyoscyamina, Darosi Endah. 2011. Peran Keluarga dalam Membangun Karakter Anak. Jurnal Psikologi Undip, 10 (2)

144-152.

Kurniawan, Machful Indra. 2015. Tri Pusat Pendidikan  sebagai Sarana Pendidikan Karakter Anak Sekolah Dasar. Jurnal Pedagogia, 4 (1), 41-49.

Towaf, Siti Malikhah. 2014. Pendidikan Karakter pada Matapelajaran   Ilmu Pengetahuan Sosial. Jurnal Ilmu Pendidikan, 20 (1), 75-85.

Manullang, Belferik. 2013. Grand Desain Pendidikan Karakter Generasi Emas 2045. Jurnal Pendidikan Karakter, III (1), 1-

14.

Mubah, A. Safril. 2011. Strategi Meningkatkan Daya Tahan Budaya       Lokal   dalam


 

 

Menghadapi Arus Globalisasi. Jurnal Unair, 24 (4), 302-308.

Panjaitan, Ade Putra, dkk. 2014. Korelasi Kebudayaan dan Pendidikan : Membangun Pendidikan Berbasis Budaya Lokal. Jakarta: Pustaka Obor Indonesia.

Ramdhani,    Muhammad    Ali.     2014. Lingkungan                        Pendidikan     dalam Implementasi                                           Pendidikan Karakter.       Jurnal   Pendidikan Universitas Garut, 08 (1), 28-37. Semiawan, Conny R. 2008. Penerapan Pembelajaran   pada          Anak.

Jakarta: PT Indeks.

Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Syukri, M. 2010. Pendidikan Berbasis Karakter melalui Pembelajaran Kontekstual. Jurnal Cakrawala Kependidikan, 8 (1).

Tim Kreatif LKM UNJ. 2011. Restorasi Pendidikan Indonesia. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Wening, Sri. 2012. Pembentukan Karakter Bangsa melalui Pendidikan Nilai. Jurnal Pendidikan Karakter UNY Tahun II (1), 55-66.

Yunus, Rasid. 2013. Transformasi Nilai- nilai Budaya Lokal  sebagai Upaya Pembangunan Karakter Bangsa. Jurnal Penelitian Pendidikan UPI, 13 (1), 67- 79.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

argumentasi seputar perselingkuhan