Minggu, 12 Oktober 2025

MATERI KULIAH: FILOSOFI SENI

 

PERTEMUAN 1 – Pengantar Filsafat Seni

Pokok bahasan:

  • Pengertian filsafat, estetika, dan filsafat seni.

  • Perbedaan antara seni, estetika, dan keindahan.

  • Mengapa seni perlu dikaji secara filosofis?

Tujuan:
Mahasiswa mampu memahami ruang lingkup dan objek kajian filsafat seni.


PERTEMUAN 2 – Sejarah dan Perkembangan Estetika

Pokok bahasan:

  • Pemikiran estetika dalam sejarah filsafat Barat (Plato, Aristoteles, Kant, Hegel).

  • Pandangan Timur (Taoisme, Zen, Hindu, Islam).

  • Perubahan konsep keindahan dari klasik hingga modern.

Diskusi:
Bagaimana “keindahan” dimaknai secara berbeda dalam setiap peradaban?


PERTEMUAN 3 – Hakikat Keindahan

Pokok bahasan:

  • Ontologi keindahan: apakah keindahan itu objektif atau subjektif?

  • Teori objektivisme vs. subjektivisme estetika.

  • Contoh penerapan dalam seni rupa dan musik.


PERTEMUAN 4 – Teori-Teori Estetika

Pokok bahasan:

  • Mimesis (peniruan) – Plato, Aristoteles

  • Ekspresionisme – Tolstoy, Croce

  • Formalisme – Clive Bell

  • Instrumentalisme – John Dewey

  • Postmodernisme dalam seni


PERTEMUAN 5 – Nilai dan Fungsi Seni

Pokok bahasan:

  • Fungsi sosial, religius, moral, dan hiburan seni.

  • Seni sebagai refleksi dan kritik masyarakat.

  • Etika dalam penciptaan seni.


PERTEMUAN 6 – Pengalaman Estetis

Pokok bahasan:

  • Apa itu pengalaman estetis?

  • Peran persepsi, emosi, dan imajinasi dalam mengapresiasi seni.

  • Perbedaan antara pengalaman biasa dan estetis.

Latihan:
Analisis pengalaman estetis terhadap karya seni pilihan (lukisan, film, musik).


PERTEMUAN 7 – Seniman dan Penciptaan

Pokok bahasan:

  • Proses kreatif dari sudut pandang filsafat.

  • Inspirasi, imajinasi, dan intuisi.

  • Etika dan tanggung jawab seniman terhadap masyarakat.


PERTEMUAN 8 – Karya Seni dan Maknanya

Pokok bahasan:

  • Ontologi karya seni (apakah seni itu benda atau pengalaman?).

  • Interpretasi dan hermeneutika seni (Gadamer, Ricoeur).

  • Relasi antara pencipta, karya, dan penikmat.


PERTEMUAN 9 – Seni dan Kebenaran

Pokok bahasan:

  • Apakah seni dapat menyampaikan kebenaran?

  • Seni sebagai bentuk pengetahuan.

  • Heidegger: seni sebagai pengungkapan “ada”.


PERTEMUAN 10 – Estetika Timur vs. Barat

Pokok bahasan:

  • Pandangan estetika dalam budaya Timur (Zen, Tao, Hindu, Islam).

  • Nilai harmoni, kesederhanaan, dan spiritualitas.

  • Perbandingan dengan rasionalitas estetika Barat.


PERTEMUAN 11 – Seni, Teknologi, dan Modernitas

Pokok bahasan:

  • Seni di era digital dan media baru.

  • Apakah AI dapat menciptakan seni?

  • Dilema estetika modern: antara orisinalitas dan reproduksi (Walter Benjamin).


PERTEMUAN 12 – Estetika Postmodern

Pokok bahasan:

  • Dekonstruksi nilai-nilai keindahan klasik.

  • Relativisme dan pluralisme estetika.

  • Seni sebagai permainan tanda (Baudrillard, Derrida).


PERTEMUAN 13 – Estetika dalam Budaya Populer

Pokok bahasan:

  • Film, musik, fashion, dan desain sebagai fenomena estetika kontemporer.

  • Apresiasi dan kritik terhadap budaya populer.


PERTEMUAN 14 – Refleksi dan Ujian Akhir

Kegiatan:

  • Presentasi reflektif: “Apa arti seni bagi hidup manusia?”

  • Ujian tulis atau portofolio analisis karya seni.


📚 Referensi Utama

  1. Monroe C. Beardsley – Aesthetics: Problems in the Philosophy of Criticism

  2. Susanne K. Langer – Feeling and Form

  3. Immanuel Kant – Critique of Judgment

  4. Martin Heidegger – The Origin of the Work of Art

  5. John Dewey – Art as Experience

  6. Driyarkara – Filsafat Manusia dan Seni

  7. Jakob Sumardjo – Filsafat Seni

Senja di Jendela Bekas Kita


Aku tidak pernah membenci apapun sekuat aku membenci senja. Dulu, ia adalah palet warna favorit kita, tempat kita mengukir janji, berpelukan di bangku kayu ini. Sekarang, ia adalah cermin yang memantulkan semua yang hilang.

Sore ini, Senja datang lagi. Tidak dengan kelembutan, tapi dengan keangkuhan jingga yang terasa mengejek. Aku duduk di bangku yang sama, di teras ini, tempat kau selalu memintaku untuk tidak beranjak sebelum warna terakhir di langit menghilang. Kau bilang, "Senja itu jujur, ia tahu kapan harus pergi."

Ironis, karena kau sendiri tidak seberani senja.

Senja mulai memamerkan lukisannya di barat. Semburat oranye, merah marun, dan ungu berbaur sempurna, sama seperti hari itu. Hari di mana kita bertengkar hebat, dan kau pergi sambil membanting pintu—satu-satunya hal yang berhasil kau lakukan dengan berani.

Aku ingat sekali, aku mengejar hingga ke ambang pintu. Langit sedang terbakar oleh senja terindah yang pernah kulihat. Aku berharap keindahannya akan menahanmu, membuatmu menoleh dan melihat betapa indahnya hal-hal yang akan kau tinggalkan.

Tapi kau tidak menoleh.

Jingga itu membingkai punggungmu yang menjauh. Ia menyinari debu yang terangkat dari sepatu kulitmu. Dan saat kau menghilang di balik tikungan, warna merah marun itu terasa seperti darah, mewarnai janji-janji kita yang luruh.

Setiap lapisan warna senja sore ini terasa seperti lapisan luka yang kembali dikupas.

Kuning keemasan: Mengingatkanku pada tawa renyah kita, saat semua terasa ringan dan tak ada beban. Terlalu terang, terlalu menyilaukan.

Oranye menyala: Membakar kembali memori ciuman pertama kita di bawah langit yang sama. Hangat, tapi kini hanya menyisakan bara.

Merah marun pekat: Inilah yang paling menyakitkan. Warna ini adalah bayanganmu yang terakhir kulihat, berdiri di atas puing-puing hati yang kau jatuhkan. Ia adalah akhir yang tidak pernah kita bicarakan.

Senja, yang seharusnya damai, kini menjelma menjadi pengkhianat. Ia bersekongkol dengan waktu, datang setiap hari hanya untuk menunjukkan padaku bahwa sekali lagi, aku sendiri di tempat yang dulu adalah "kita".

Aku tahu, sebentar lagi ia akan memudar, menyerahkan panggung pada malam yang gelap dan dingin. Dan di situlah letak pelajaran yang paling pahit: Senja selalu pergi, dan ia mengajarkanku bahwa orang yang paling kita cintai pun bisa pergi tanpa mau berbalik, meninggalkan kita sendirian dengan keindahan yang sudah ternoda.

Ketika warna terakhir benar-benar hilang, hanya menyisakan kegelapan yang menenangkan, aku berbisik pada angin, "Selamat tinggal, dan jangan datang lagi dengan membawa wajahnya."

Senja tak menjawab. Ia hanya meninggalkan dingin yang menggigil, dan rasa sakit yang terasa abadi.

Luka yang Kau Cipta


Kutatapi lagi bayangan di cermin, Mencari di mana sisa senyum yang dulu. Semua tak lagi sama, terukir pedih, Sejak kau patahkan janji, dan hatiku pilu.

Berulang kau sakiti aku, berulang kumemaafkan, Menyimpan perih di sudut jiwa yang terdalam. Setiap kata tajam, bagai serpihan, Mengoyak sunyi, di antara riuh malam.

Aku tak meminta balas, hanya menghela napas, Kenapa harus ku yang selalu jadi korban? Mengapa cinta yang dulu kita ukir tanpa batas, Kini hanya meninggalkan reruntuhan dan tangisan.

Sungguh, masih belum bisa kucerna, Menyakitiku sedalam ini, apa yang kau rasa? Luka ini menganga, menanti penawar sirna, Di mana letak hatimu, yang dulu penuh mesra?

Tapi, biarlah perih ini menjadi pelajaran, Bahwa hati yang rapuh pun punya kekuatan. Untuk bangkit, meski tertatih oleh kenyataan, Menemukan kembali cahaya, setelah kegelapan.

Sabtu, 11 Oktober 2025

Air Mata yang Tersirat

 


Di sepertiga malam, wajahku adalah peta datar, Tidak ada sungai yang tumpah dari kelopak mata. Hanya sepasang senyum yang kupahat terlalu lebar, Menipu cermin bahwa semua baik-baik saja.

Namun, di lipatan bibir yang pura-pura gembira, Ada kata-kata yang mati, membeku jadi es. Di sorot mata yang dipaksa tenang dan biasa, Ada badai yang diam, sebuah epilog tanpa jeda nafas.

Air mata yang tersirat, bukan kristal bening yang jatuh, Ia adalah beban sunyi yang menekan ulu hati. Ia adalah denyut yang terlalu cepat, atau napas yang rapuh, Isyarat kecil yang tak terbaca oleh mata yang alpa meneliti.

Ia bersembunyi di balik lelah yang tak terkatakan, Pada bahu yang terlalu sering menopang langit sendiri. Pada sapaan ramah yang tak lagi punya getaran, Dan pada tawa yang nadanya terlalu tinggi, terlalu sepi.

Kau takkan menemukannya di genangan pipi, Sebab ia mengalir ke dalam, membanjiri relung jiwa. Ia adalah doa yang dipanjatkan tanpa bunyi, Kesedihan yang memilih untuk menjadi rahasia.

Dan aku, sang pemegang rahasia ini, Hanya mampu mengukir luka dalam setiap tarikan napas. Menanti fajar datang, berharap matahari Membakar habis air mata yang tersirat tanpa bekas.

Soal dan Jawaban Ilmu Rekam Medis

 

Soal Pilihan Ganda

1. Definisi Rekam Medis Dokumen yang berisi catatan dan informasi tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan, dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien disebut... A. Resume Medis B. Rekam Medis C. Laporan Anamnesa D. Visum et Repertum

2. Tujuan Utama Rekam Medis (Aspek Klinis) Tujuan utama Rekam Medis dari aspek klinis adalah... A. Dasar perhitungan biaya perawatan. B. Dasar untuk merencanakan dan melanjutkan perawatan pasien. C. Bukti otentik dalam pengadilan. D. Sumber data untuk penelitian kesehatan.

3. Sistem Penomoran Sistem penomoran rekam medis di mana pasien mendapatkan satu nomor unik seumur hidup, dan semua berkas kunjungan pasien disimpan dalam satu folder, disebut... A. Serial Numbering System (Sistem Penomoran Seri) B. Unit Numbering System (Sistem Penomoran Unit) C. Terminal Digit Filing (Penyimpanan Digit Akhir) D. Serial Unit Numbering System (Sistem Penomoran Seri Unit)

4. Penataan Berkas (Filing) Metode penataan berkas rekam medis yang memanfaatkan dua atau tiga digit tengah dari nomor rekam medis sebagai acuan utama penyusunan adalah... A. Straight Numerical Filing B. Middle Digit Filing C. Terminal Digit Filing D. Alphabetical Filing

5. Prinsip Kerahasiaan Prinsip etika yang mengharuskan Perekam Medis dan staf kesehatan untuk melindungi informasi kesehatan pasien agar tidak diakses oleh pihak yang tidak berhak adalah... A. Justice (Keadilan) B. Autonomy (Otonomi) C. Beneficence (Berbuat Baik) D. Confidentiality (Kerahasiaan)

6. Analisis Rekam Medis Kegiatan menilai kelengkapan semua formulir yang wajib ada dalam berkas rekam medis, termasuk tanda tangan, nama penulis, dan tanggal pengisian, disebut... A. Analisis Kualitatif B. Analisis Kuantitatif C. Analisis Klinis D. Audit Medis

7. Kodefikasi (ICD-10) Dalam ICD-10, kode yang digunakan untuk penyakit Appendicitis Acute (Apendisitis Akut) adalah... A. J18.9 B. I10 C. K35.9 D. N20.0

8. Masa Retensi (Penyimpanan) Menurut peraturan di Indonesia, jangka waktu minimal penyimpanan berkas rekam medis rawat inap yang sudah tidak aktif adalah... A. 1 tahun sejak tanggal kunjungan terakhir. B. 3 tahun sejak tanggal kunjungan terakhir. C. 5 tahun sejak tanggal kunjungan terakhir. D. 10 tahun sejak tanggal kunjungan terakhir.

9. Indeks Medis Indeks yang digunakan oleh Perekam Medis untuk mencari data pasien yang memiliki diagnosis tertentu (misalnya, semua pasien yang menderita Diabetes Mellitus) adalah... A. Indeks Dokter B. Indeks Operasi C. Indeks Penyakit D. Indeks Pasien

10. Kepemilikan Rekam Medis Secara hukum, kepemilikan isi/informasi dalam rekam medis adalah milik pasien, sedangkan kepemilikan fisik berkas rekam medis adalah milik... A. Dinas Kesehatan B. Dokter penanggung jawab C. Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Rumah Sakit/Klinik) D. BPJS Kesehatan

Si Kancil dan Buaya

Di sebuah hutan yang lebat, hiduplah seekor kancil yang terkenal akan kecerdikan dan sedikit kelicikannya. Namanya sudah dikenal oleh hampir seluruh penghuni hutan.

Pada suatu pagi yang cerah, Si Kancil sedang berjalan-jalan di tepi sungai. Perutnya terasa sangat lapar. Ia membayangkan betapa lezatnya mentimun yang tumbuh subur di seberang sungai itu. Masalahnya, arus sungai sangat deras dan di dalamnya berdiam banyak sekali buaya yang ganas.

Si Kancil berpikir sejenak. Ia tersenyum licik karena sebuah ide cemerlang tiba-tiba muncul di benaknya. Dengan suara lantang, ia berteriak ke arah sungai.

"Hai, Buaya! Keluarlah kalian semua!" seru Kancil.

Tak lama kemudian, muncul seekor buaya besar dari dalam air. Buaya itu membuka mulutnya yang lebar, menunjukkan giginya yang tajam.

"Ada apa, Kancil? Kau mengganggu tidurku! Apa kau datang untuk menjadi santapanku?" tanya Buaya itu dengan nada mengancam.

Si Kancil tidak gentar sedikit pun. Ia memasang wajah serius dan menjawab dengan tenang, "Aku membawa kabar gembira untuk kalian, Tuan Buaya. Aku diutus oleh Raja Hutan untuk menghitung jumlah kalian semua. Raja akan mengadakan pesta besar dan akan membagikan daging segar dalam jumlah banyak. Tapi, daging itu harus dibagi rata sesuai jumlah buaya yang ada di sungai ini."

Mata Buaya itu langsung berbinar mendengar kata "daging segar" dan "pesta besar".

"Benarkah itu, Kancil?" tanya Buaya itu dengan penuh semangat. "Kalau begitu, aku harus memanggil teman-temanku yang lain!"

Buaya itu pun segera menyelam dan tak lama kemudian, muncul kembali bersama seluruh kawanan buaya. Sungai yang tadinya sepi, kini dipenuhi oleh buaya-buaya yang berbaris rapat, berharap segera mendapatkan jatah daging.

"Nah, Tuan Buaya," kata Kancil sambil menunjuk, "agar aku mudah menghitungnya dan pembagian dagingnya adil, kalian harus berbaris rapi membentuk jembatan dari tepi sungai ini sampai ke seberang sana. Aku akan melompati punggung kalian satu per satu sambil menghitung."

Para buaya itu, karena terlalu tergiur dengan iming-iming daging segar, tanpa banyak bertanya langsung menuruti permintaan Kancil. Mereka berbaris rapat, punggung mereka membentuk jembatan di atas air.

Si Kancil tersenyum penuh kemenangan. "Baiklah, aku akan mulai menghitung!"

Lompat! "Satu!" Kancil melompat ke punggung buaya pertama. Lompat! "Dua!" Kancil melompat ke punggung buaya kedua. Lompat! "Tiga!" Kancil terus melompat dengan lincah, menghitung sambil perlahan bergerak mendekati tepi seberang. ...

Setelah akhirnya melompat dari punggung buaya terakhir dan berhasil mendarat dengan aman di seberang sungai, Si Kancil tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha! Terima kasih, Tuan Buaya! Jumlah kalian sudah aku ketahui, tapi sebenarnya aku tidak membawa daging segar apa pun! Aku hanya ingin kalian berbaris agar aku bisa menyeberang sungai ini!"

Wajah para buaya langsung merah padam karena marah. Mereka merasa sangat malu karena telah ditipu mentah-mentah oleh Si Kancil yang kecil itu.

"Dasar Kancil licik! Awas kau!" teriak Raja Buaya, namun sudah terlambat.

Si Kancil sudah berlari kencang menuju kebun mentimun, meninggalkan kawanan buaya yang hanya bisa menggerutu di dalam air. Kelicikan dan kecerdasan Kancil sekali lagi menyelamatkannya dari bahaya.

Pesan Moral: Kecerdikan dapat mengatasi kekuatan, tetapi jangan gunakan kecerdikan untuk menipu dan merugikan orang lain.

Ruang-Ruang Senja

 Di sudut sore yang mulai meredup,

aku duduk bersama bayangan sendiri.
Langit oranye perlahan memudar,
dan di antara cahaya yang pergi,
ada hatiku — ikut redup, ikut sunyi.

🌙
Ruang-ruang senja selalu tahu,
betapa sepi bisa berbicara tanpa suara.
Ia datang pelan,
menyentuh hati yang rapuh,
mengajak bicara tentang rindu yang tak tahu pulang.

Kadang aku iri pada burung-burung,
yang tahu ke mana harus kembali.
Sedang aku?
terjebak dalam ruang hampa,
antara kenangan dan kenyataan yang tak lagi sama.

🍂
Aku pernah mencintai seseorang,
dengan sederhana, tanpa banyak kata,
tapi mungkin cinta tidak cukup
untuk menahan yang ingin pergi.

Kini, aku hanya punya senja,
yang selalu datang tanpa janji,
menemaniku menua dalam diam,
mendengar detak waktu
yang pelan tapi pasti,
menghapus sisa-sisa keberanian untuk berharap lagi.

🌌
Malam pun tiba,
dan aku masih di sini —
bersandar pada bayangan sendiri,
di ruang-ruang senja
yang makin luas,
makin sepi,
makin aku.


#RuangRuangSenja #PuisiKesepian #PuisiRindu #PuisiHaru #SenjaDanSepi #PuisiMalam #PuisiSendu

Makalah_LGBT_Psikologi_Kesehatan_Mental